LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 39 Rasa yang Sama



HAPPY READING ☺️


❤️


❤️


Wahai hati, bertahanlah


Jangan menyerah


Mungkin sekarang bukan saatnya


Kita nanti saja kapan waktunya


Hanya perlu bersabar dan berjuang bersama doa


Insya Allah akan tiba bahagia untuk kita


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah melalui beberapa proses dan prosedur rumah sakit, akhirnya Prasta dipindahkan ke kamar rawat inap. Orang tua lelaki itu memutuskan untuk mengikuti saran dokter, melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh putranya dengan rontgen sinar-X dan beberapa tes lainnya seperti MRI dan CT scan untuk mencari tahu bagian mana yang mengalami cedera sehingga bisa segera dilakukan pertolongan dan penanganan yang benar dan tepat.


Sejak dipindahkan ke kamar rawat inap, Renata tak beranjak sedetik pun dari sisi brankar tempat tidur Prasta. Sebelumnya, gadis itu dipaksa untuk membersihkan diri dan berganti pakaian karena penampilan yang sangat kacau dengan pakaian yang terkena noda darah dan tanah.


Sebelum pulang, Danisha juga ikut membujuk dan memaksa gadis itu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian agar nanti saat Prasta bangun, gadis itu terlihat segar.


Sang Adik, Rakha-lah yang mengambilkan pakaian dari rumah atas perintah orang tuanya.


Renata menatap wajah pucat yang terbaring tenang dengan kedua netra yang terpejam rapat. Posisi berbaringnya sedikit tegak karena kondisi tulang lehernya yang patah dan sedikit bergeser dari tempat seharusnya, sehingga dokter memasangkan neck brace atau penyangga leher untuk mencegah pergerakan pada leher selama masa penyembuhan. Perban terbalut di kepalanya yang terluka. Tampak beberapa goresan luka menghiasi wajah rupawannya. Renata tersenyum tipis, rambut sebahu Prasta yang sangat disukainya terpaksa harus dipangkas lebih pendek untuk memudahkannya menjalani tes dan mengobati cederanya. Meskipun begitu, baginya lelaki yang dirindukannya itu masih tampak menawan dan rupawan dengan rambut pendeknya.


Sementara gips membungkus kaki kirinya sebagai salah satu pencegahan dan penyembuhan patah tulang akibat benturan dengan benda keras. Kaki kanan dan kedua tangannya pun tidak luput dari kecelakaan itu. Beberapa luka sobek yang telah ditutup perban tampak di sana selain luka gores. Beruntung kedua tangannya tidak mengalami patah tulang.


Renata menghela napas berat. Gadis itu meringis ngilu menyaksikan tubuh lelaki yang telah menyelamatkannya dari insiden kecelakaan menjelang tengah hari itu. Jika saja tidak ada lelaki bernama Prasta yang tengah terbaring tak berdaya di hadapannya itu, mungkin dirinyalah yang sekarang terbaring di ranjang rumah sakit itu. Air matanya meluncur perlahan membasahi paras manisnya yang terlihat lelah dan pucat.


Sudah hampir 5 jam sejak Prasta dipindahkan ke kamar rawat inap setelah melalui beberapa tes pemeriksaan dan penanganan cederanya, tetapi lelaki itu belum juga membuka matanya. Padahal dokter yang menanganinya mengatakan jika Prasta akan sadar dalam waktu kurang dari 3 jam. Renata sempat menanyakan kepada dokter kenapa Prasta belum juga tersadar dan dokter telah memeriksanya beberapa menit lalu untuk memastikan kondisi lelaki itu. Tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Semua normal. Mereka diminta untuk sabar menunggu.


Renata menggenggam tangan kanan Prasta yang bebas infus sembari mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya.


"Tolong segeralah bangun. Aku di sini menunggumu. Maaf telah membuatmu kesakitan seperti ini. Tolong jangan membuatku dan semua orang yang menyayangimu khawatir. Aku akan menebus semuanya. Menebus semua yang terjadi di antara kita. Aku ingin meluruskan semuanya. Kita harus bicara. Jadi, segeralah buka matamu. Aku janji aku tak akan membuatmu kecewa dan kesakitan lagi."


Lirih Renata berkata-kata dengan air mata yang luruh karena sudah tidak bisa lagi menahannya. Lantas, perlahan ia mencium punggung tangan lelaki itu sebelum akhirnya memejamkan kedua netranya karena lelah sembari menelungkupkan wajah dan tangannya yang menggenggam tangan Prasta yang bebas infus.


***


Cukup lama lelaki dengan penyangga leher yang terbaring setengah duduk itu mengamati paras manis yang terlihat sembab dan lelah. Memandanginya dengan pandangan dan gerakan terbatas karena penyangga lehernya, juga karena kakinya yang dibalut gips. Ia juga membiarkan tangannya digenggam tangan gadis yang siang tadi berhasil didorongnya agar tidak tertabrak minibus yang melaju tak terkendali karena kaget dengan kehadiran gadis itu yang tiba-tiba menyeberang jalan.


Ia menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum kecil. Hatinya berdesir hangat. Tangannya yang terpasang jarum infus perlahan meraba dadanya. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya.


Lelaki itu meringis merasakan ngilu pada seluruh tubuhnya. Ia menelan salivanya kelat kala kedua netranya menatap kaki kirinya yang terbalut gips. Tangannya meraba bagian lehernya hingga menyentuh ujung rambutnya yang terasa berbeda.


"Astaga!" umpatnya lirih. Refleks, tangannya yang bebas infus yang sedari tadi dibiarkannya digenggam Renata, ia tarik untuk menyentuh bagian leher, kepala hingga ujung rambutnya. Hingga membuat gadis yang tertidur sembari menggenggam tangannya tersentak dan terbangun.


Renata mengerjap-ngerjapkan kedua netranya mencoba mendapatkan kesadarannya. Saat ia telah mendapatkan kesadarannya kembali, kedua netranya bertatapan dengan kedua netra lelaki yang terbaring setengah duduk di hadapannya. Pandangan keduanya saling mengunci untuk beberapa saat.


"Auwww!" jerit Prasta pelan dengan raut meringis memegang tangan kirinya yang tertancap jarum infus. Tak sengaja ia menarik terlalu kencang tangannya itu.


"Eh! Hati-hati!" seru Renata sembari berdiri dan berjalan memutar ke sisi sebelah kiri dan memegang tangan kiri Prasta yang diinfus. Dengan hati-hati, gadis itu memeriksa tangan kiri Prasta dan membetulkan letak jarum infus yang sepertinya sedikit bergeser, ada sedikit darah terlihat di pangkal selang infusnya. Prasta meringis dan mendesis pelan, ada rasa perih dan ngilu saat Renata membetulkan posisi jarum dan selang infus yang menancap di punggung tangannya.


"Sorry! Sakit, ya?" Renata menatap Prasta dengan raut meringis saat mendengar Prasta yang mendesis dan mendapati ringisan di paras rupawan lelaki itu.


Prasta mengangguk lemah meskipun susah dan mengerjapkan kedua netranya perlahan.


"Uummm ... Aku panggilin perawat aja, ya. Biar mereka yang cek," ucap Renata kemudian.


"Nggak, nggak perlu. It's ok. Aku nggak apa-apa," sahut Prasta lirih dan suara sedikit serak, sebelum Renata melangkah pergi memanggil perawat.


Renata kembali menatap Prasta.


"Are you sure?" tanyanya lagi memastikan jika lelaki itu benar-benar baik-baik saja.


Bibir Prasta melengkung. "Sure!" jawabnya singkat dengan suara serak tertahan.


Renata mengulum senyum, berjalan mendekat ke sisi kanan ranjang tempat Prasta terbaring.


"Mau minum?" tawar Renata.


Prasta mengangguk lagi, setelah berusaha menelan salivanya. Tenggorokannya memang terasa kering, haus.


Renata mengambilkan gelas dan mengisinya dengan air mineral yang masih penuh di dalam botolnya. Lalu ia mengambil sedotan dan membantu Prasta minum menggunakan alat itu karena lelaki itu masih belum bisa bergerak dengan bebas akibat cedera tulang lehernya.


"Cukup?" tanya Renata ketika Prasta melepas sedotan dari mulutnya.


Prasta mengangguk samar, masih dengan gerakan yang terbatas disertai sebuah senyuman.


"Thank you," lirihnya sembari menatap intens kedua manik bening Renata.


"No need to thanks! Harusnya aku yang bilang terima kasih. You saved me, thank you. Aku ... Sorry, udah bikin kamu seperti ini," ucap Renata sedikit gugup, pandangannya nanar menatap Prasta karena cairan bening yang mulai memenuhi pelupuk netranya.


"Ssssstttt ... It's ok. Aku senang kamu baik-baik aja. Don't cry, please ...." Prasta mengulurkan tangannya hati-hati, mengusap pipi Renata dengan ibu jarinya. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyuman yang ditujukannya untuk gadis itu.


"Maaf, udah mendorongmu dengan keras. Pasti kamu kesakitan," sesal Prasta. Netranya memindai tubuh Renata hingga ia menemukan siku gadis itu yang terbalut perban dan beberapa plester yang menutupi luka pada kulit putih nan bersih gadis itu.


"Not at all. Ini bukan apa-apa bila dibanding dengan luka-lukamu. Maaf!" timpal Renata dengan nada penuh sesal.


Prasta ingin menggeleng keras, tetapi cedera pada tulang lehernya membuatnya tak mampu melakukan itu. Yang dilakukannya hanya tersenyum dan menatap sendu gadis berparas manis yang sangat dirindukannya itu.


"It's nothing much," sahut Prasta akhirnya, masih menatap intens gadis itu. Senyum tersungging di bibirnya tanpa henti.


"Sejak kapan kamu bangun? Udah lama?" cecar Renata selanjutnya.


"Hmm ... Ya, cukup lamalah ... Bisa melihat pulasnya kamu tidur," ucapnya dengan senyum jailnya.


Prasta tertawa. Namun, tawanya tiba-tiba terhenti. Ia menatap lekat kedua manik bening yang selalu dirindukannya. Manik bening milik mantan kekasihnya. Oh, ya! Mantan! Rasa nyeri hinggap di dadanya kala mengingat kata itu, mantan.


Renata merasa terkunci dengan tatapan teduh lelaki yang pernah menjadi kekasihnya. Keduanya saling menatap lekat, tanpa berkata-kata.


Setelah sekian purnama, akhirnya keduanya dipertemukan kembali. Meskipun dengan kondisi yang tidak baik. Namun, masih dengan rasa yang sama. Masih ada gelenyar indah dalam hati keduanya dan jantung yang berdetak lebih cepat seperti dulu, terlebih ketika posisi keduanya yang berdekatan dan saling menatap lekat. Tak bisa dipungkiri, ada rasa bahagia di hati masing-masing saat ini.


Bunyi ponsel milik Renata mengurai keheningan di antara kedua insan yang kini berstatus mantan itu. Sesaat keduanya tersentak, lalu Renata berjalan untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja sofa.


"Aku keluar sebentar, ya," ucap Renata pada Prasta saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Lantas ia berjalan menuju pintu untuk keluar sembari menyapa si Penelepon.


"Ya, Bang. Selamat siang."


Prasta menghela pelan napasnya. Dalam hatinya bertanya-tanya siapa yang menelepon Renata.


***


Sementara itu, di luar kamar rawat inap Prasta, Renata duduk di bangku tunggu yang tersedia di depan kamar rawat inap lelaki itu dengan ponsel yang menempel di telinga kanannya.


"Saya minta maaf ya, Bang. Saya belum bisa ke kantor besok. Mungkin Bang Andro mau berubah pikiran, it's ok, Bang. Saya nggak masalah, kalau seandainya ada orang lain yang available dan ready menggantikan saya."


"Hei! Aku menelepon kamu bukan mau bicara soal itu, Renata. Aku meneleponmu ingin tahu keadaanmu. Gimana keadaanmu? Nggak ada yang serius menimpamu, kan?"


Renata tersenyum kecil. "Saya baik, Bang. Nggak ada luka yang serius. Hanya ... Teman saya yang mendapat luka yang cukup serius dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Jadi, saya minta izin sampai 2 hari ke depan untuk menemani teman saya yang dirawat di rumah sakit. Itu kalau Bang Andro mengizinkan."


Gadis itu memberikan penjelasan kepada Bang Andro, mantan atasannya di Jakarta yang beberapa hari lalu memintanya untuk ikut bergabung di stasiun televisi sebagai kontributor liputan di Surabaya.


"Syukurlah kamu baik-baik aja. Masalah izin, nggak masalah, Renata. Take your time, sampai kondisi kamu dan tentu saja teman kamu membaik. Aku tunggu, ya! Salam buat teman kamu, semoga lekas membaik. Bye, Renata!"


"Thank you, Bang! Bye ...."


Panggilan berakhir. Renata menghela napas lega. Ia tersenyum semringah. Bang Andro tidak mempermasalahkan izinnya mengingat situasi dan kondisi yang tengah dihadapinya saat ini. Sore tadi, dirinya mengabarkan pada Bang Andro mengenai kejadian yang menimpanya. Ia yang seharusnya siap bekerja besok, harus menundanya karena insiden siang tadi.


Renata beranjak dari duduknya bersamaan dengan Bu Ranti yang berjalan ke arahnya. Senyum semringah ia layangkan pada wanita paruh baya itu.


"Bu, Prasta udah bangun," ujar Renata sembari tersenyum semringah.


Seketika raut Bu Ranti berbinar, senyum semringah terbit di bibir ibu beranak dua itu.


"Alhamdulillah, syukurlah. Ayo masuk!" ajak Bu Ranti sambil membuka pintu kamar.


Bu Ranti tersenyum lebar mendapati anak sulungnya yang terbaring dengan tangan memegang remote televisi. Anak lelakinya itu sedang menonton sebuah acara musik di salah satu channel TV kabel.


Menyadari kedatangan sang Ibu, Prasta tersenyum lebar.


"Ibu!" serunya.


Kedua sudut bibir wanita yang melahirkannya itu tertarik membentuk senyuman.


"Udah puas tidurnya? Atau emang sengaja maunya ditinggal ibu baru mau bangun?" ledek Bu Ranti sembari memegang puncak kepala Prasta, mengacak pelan rambut putra sulungnya.


"Apaan sih, Bu?" sahut Prasta dengan bibir mengerucut.


"Dih, nggak usah pura-pura gitu!" sindir Bu Ranti. "Seneng kan, ada yang nungguin?" goda Bu Ranti, berbisik di telinga putranya.


"Ibu, ih!" gerutu Prasta. Ekor matanya mencuri pandang Renata yang berdiri di ujung ranjang dengan senyum simpulnya.


"Bapak ke mana, Bu?" tanya Prasta, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Bapak pulang. Besok kan, harus kerja," jawab Bu Ranti sembari duduk di kursi yang ada di samping ranjang.


"Ini makanan kenapa masih utuh?" tanya Bu Ranti menunjuk nampan berisi makanan yang disiapkan pihak rumah sakit sebelum pukul 6 sore tadi.


"Maaf! Ata lupa, Bu," ucap Renata. Gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri menuju ke meja di samping ranjang. Ia mengambil nampan berisi makanan tersebut.


"Kamu makan, ya? Uummm ... Tapi ini udah dingin. Nggak apa-apa, kan? Atau kamu mau aku pesankan makanan yang fresh?" cerocos Renata menatap Prasta.


Prasta berdeham pelan. "Nggak, nggak perlu. Makan itu aja nggak masalah," sahut Prasta.


Bu Ranti tersenyum memperhatikan interaksi kedua anak muda di hadapannya.


"Ibu istirahat aja. Biar Ata yang suapi Prasta," lontar Renata.


Bu Ranti menghela napasnya singkat disertai seulas senyum kecilnya.


"Ya, ya. Anak Ibu pasti seneng nih, ada yang nyuapin," kelakar Bu Ranti lagi.


"Ibu, ih! Apaan lagi, sih?" protes Prasta. ia tersenyum kikuk.


Renata hanya tersenyum tipis dengan raut merona. Keduanya saling pandang dengan senyuman malu-malu yang terbit di bibir kedua insan yang sekian purnama tak bertemu. Ada gelenyar rasa indah mendarat di hati gadis itu. Demikian pula yang dirasakan Prasta. Hatinya berdesir indah dengan degup jantung yang bertalu-talu karena perhatian gadis itu. Sungguh, saat ini ia bahagia bisa sedekat ini dengan gadis yang telah sekian lama tak ditemuinya.


TBC


Penampilan terbaru Prasta ☺️



Renata saat Prasta menjailinya



**Hai, Cinta ❤️❤️❤️


Maaf banget banget ya, up nya selalu mundur dan lama. Kesibukan RL sangat menyitaku 🙏🙏🙏


Jangan lupa LIKE & KOMENNYA, ya.


Thank you so much, Cinta2ku ❤️❤️


Tetap jaga kesehatan ya, Cinta 🤗😘💕💕💕