LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 38 Kondisi Prasta



HAPPY READING ☺️


❤️


❤️


Bagaimana bisa aku berdiam diri


Ketika melihat air mata dan tatapan sakit dari kedua netra indahmu


Aku tak suka melihatmu sedih dan menangis, apalagi terluka dan tersakiti


Jika kamu izinkan, aku ingin menjadi penyembuh lukamu


Menjadi penawar rasa sakitmu


Hingga tak ada lagi air mata kesedihan dan kesakitan dalam hidupmu


-Prasta-


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menyusuri jalanan kota yang mulai padat pada jam kerja menjelang siang itu dengan motor sport-nya. Prasta sengaja melajukannya santai dan tidak terburu-buru. Ia ingin menikmati berkendara santai pada hari liburnya. Langit membiru cerah ditemani awan seputih kapas. Cuaca Surabaya sedang bersahabat hari ini, cerah berawan, tidak terlalu panas seperti biasanya.


Saat tengah asyik menikmati perjalanannya di tengah lalu lalang kendaraan dan orang-orang, netranya tidak sengaja menangkap sosok gadis yang sejak kemarin mengisi kepalanya. Gadis yang kemarin ditemuinya di gedung apartemen tempat tinggal Joanna kala dirinya akan pulang dari unit apartemen rekan kerjanya itu.


Prasta mengernyitkan keningnya hingga kedua alis hitam tebalnya hampir bertautan. Perlahan ia menepikan motornya, tepat di depan sebuah warung kopi sederhana yang belum banyak pengunjung. Tempat itu terletak di seberang jalan gedung apartemen yang cukup mewah. Memang tidak tepat di seberang gedung apartemen itu, hanya berjarak sekitar 50 meter.


Dari posisinya saat itu, Prasta masih bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di depan pintu masuk area gedung apartemen itu. Sebuah perselisihan yang terjadi antara dua orang gadis dan seorang pria. Sialnya, selain gadis itu yang sangat dikenalnya, ia juga mengenali lelaki dan gadis satunya. Ada apa? Apa yang terjadi?


No! Ini nggak bagus! Aku bisa melihatnya! Aku bisa melihat dia, oh please, dia menangis! Dan dia ... Terluka! Apa yang telah mereka perbuat padamu, Ata?


Prasta mendengkus keras diikuti kedua tangan yang mengusap wajahnya gusar. Pandangan tajam tak lepas sedikit pun dari ketiga orang di seberangnya. Ia menatap tajam penuh kebencian pada lelaki yang berusaha menahan tangan Renata. Sementara gadis satunya berteriak memaki-maki penuh emosi pada Renata, gadis yang tak pernah bisa dilupakannya hingga detik ini. Hingga ia menangkap pergerakan tubuh Renata yang berbalik dan berlari cepat menyeberang jalan tanpa melihat kondisi jalan raya yang cukup ramai oleh lalu lalang kendaraan pada saat itu. Prasta terkesiap, tubuhnya menegang dengan kedua netra membeliak melihat tubuh Renata yang berlari menyeberang jalan tanpa peduli dengan kondisi jalan di sekitarnya. Detik itu juga, tubuhnya melesat, berlari sekencang-kencangnya ke arah Renata ketika sebuah minibus dengan bunyi klakson yang memekakkan telinga datang menyongsong tubuh Renata diikuti teriakan orang-orang di sekitar tempat itu yang sepertinya tidak didengar oleh gadis itu.


Sekuat tenaga, Prasta berhasil meraih tubuh Renata dan mendorongnya keras dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya untuk menyelamatkan gadis itu dari minibus yang melaju kencang ke arahnya, tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Lalu ....


Brak! Ciiiittttttt!


Ia bisa merasakan tubuhnya dihantam benda keras dan terpental beberapa meter ke depan. Namun, kedua netranya masih bisa melihat dengan samar, tubuh gadis yang masih dicintainya itu terdorong dan jatuh terjerembab di trotoar. Gadisnya selamat! Detik berikutnya kedua netranya terpejam, tetapi pendengarannya menangkap suara-suara orang di sekitarnya. Ia juga bisa merasakan sesuatu yang hangat keluar dari bagian tubuhnya disertai bau khas menyerupai besi yang anyir tercium dari hidungnya.


Dalam sisa kesadarannya, Prasta merasakan tubuh tak berdayanya direngkuh seseorang. Ia berusaha keras membuka kedua netranya, bersusah payah mengambil pasokan oksigen agar bisa merasakan lembutnya tangan yang merengkuhnya. Pun agar bisa melihat paras manis gadis yang sejatinya tidak pernah benar-benar pergi dari hati dan hidupnya. Ia tak ingin melewatkan kesempatannya kali ini, yang mungkin saja ini kesempatan terakhirnya melihat gadis itu. Ya, kesempatan terakhir. Sesak sekali dadanya, napasnya satu-satu. Sepertinya semesta benar-benar memberikan pilihan terakhirnya saat ini. Bertemu kembali dengan gadis yang hingga saat ini masih sangat dicintainya dengan kondisi seperti ini. Antara hidup dan mati.


Namun, Prasta tak menyerah. Ia masih berusaha keras untuk tetap tersadar. Perlahan kedua netranya mengerjap lemah, ingin menatap paras manis gadisnya untuk terakhir kali. Ia juga berusaha keras menarik bibirnya untuk memberikan senyum, yang mungkin juga menjadi senyum terakhirnya untuk gadis itu. Tangannya yang tak berdaya berhasil menggenggam lemah tangan gadis itu. Hangat dan lembut. Sungguh, ia ingin mengatakan banyak hal pada gadis itu, tetapi ia sudah tak sanggup. Ia hanya menatap nanar paras manis yang pucat dan sembab di hadapannya untuk beberapa detik, sebelum akhirnya kedua netranya menutup perlahan. Ia kehilangan kesadarannya.


***


"Renata!"


Refleks Renata menoleh ketika ada yang memanggil namanya.


"Danish! Danish!" seru Renata histeris, berlari menyongsong Danisha yang berjalan ke arahnya dan memeluk wanita berhijab itu secara tiba-tiba.


"Prasta, Danish! Aku-aku ... Dia-dia ...." Gadis itu meracau tak tentu dengan isak tangis sembari memeluk Danisha yang masih terpaku berdiri dengan raut cemas.


Mendengar tangisan dan racauan Renata yang begitu histeris membuatnya membalas pelukan gadis itu. Ia mengusap pelan punggung teman semasa siaran di radio, penuh kelembutan, berusaha menenangkannya. Meskipun dirinya sendiri merasakan kecemasan yang sama terhadap kondisi sahabatnya.


Sementara Saka yang berdiri di samping Danisha dengan menggandeng Barra, putra kecilnya, menghela napas berat sembari mengusap-usap punggung istrinya.


Ya, Renata yang panik dengan kondisi Prasta, menghubungi sepasang suami istri yang juga sahabat baik lelaki itu. Entah bagaimana, di tengah kepanikan dan ketakutannya, terlintas begitu saja kedua orang sahabat Prasta itu. Sebelum akhirnya ia menghubungi kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Prasta. Gadis itu juga telah membereskan urusan administrasi rumah sakit agar Prasta segera ditangani oleh pihak rumah sakit. Meskipun, ia harus memberikan kartu debitnya sebagai jaminan.


"Om Pras, kenapa?" Suara bocah kecil itu membuat Saka mengalihkan perhatiannya dari sang Istri dan Renata.


Saka tersenyum menatap bocah kecil dalam gandengan tangannya.


"Om Pras sakit. Barra doa-in Om Pras ya, biar lekas sembuh," tutur Saka, menjawab pertanyaan yang dilontarkan Barra, putra kecilnya. Bocah kecil itu dengan cepat menganggukkan kepalanya.


Danisha mengurai pelukannya. Lalu menatap Renata yang masih terisak dengan derai air mata yang tak berhenti. Wanita berlesung pipi itu mengulurkan tangannya dan menghapus air mata yang membasahi kedua pipi gadis itu.


"Udah, Ta. Prasta akan baik-baik aja. Udah, berhenti nangisnya. Kita berdoa, ya!" ucap Danisha menenangkan Renata.


"Ata!"


Renata mengerjap dan sontak kedua netranya melihat kedatangan sang Mama beserta Papa dan adiknya.


"Mama!" Gadis itu berlari menghambur memeluk sang Mama dengan tangis yang semakin kencang.


"Prasta, Ma! Semuanya karena Ata! Ata takut, Ma!" Gadis itu meracau tak tentu dengan air mata yang terus berderai tanpa permisi.


"Ssstttt ...! Udah, Sayang. Kamu tenang dulu. Semua pasti baik-baik aja." Bu Nia mengusap-usap punggung anak gadisnya penuh sayang.


Pak Danny mendekati Saka dan Danisha.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Pak Danny.


Saka menghela napas panjang.


Pak Danny menghela panjang napasnya, lantas mengangguk-angguk mendengar penuturan Saka.


"Prasta masih ditangani dokter di ruang IGD. Semoga tidak terjadi hal yang serius," imbuh Saka, tangannya merangkul bahu Danisha. Sementara Danisha merangkul tubuh putra kecilnya yang menatap tak berkedip ke arah Renata yang menangis dalam pelukan sang Mama


Bu Nia melepas pelukannya. Wanita paruh baya itu mengusap wajah basah putrinya dengan sapu tangan yang digenggamnya.


"Duduk dulu, Tante, Om." Danisha mempersilakan kedua orang tua Renata untuk duduk di bangku ruang tunggu.


Bu Nia tersenyum dan mengangguk. Wanita paruh baya itu menuntun putrinya untuk duduk bersama mereka.


"Bee, sebentar. Itu Ibu dan Bapak udah datang. Aku temui mereka, kamu di sini dulu," bisik Saka yang melihat kedatangan kedua orang tua Prasta di pintu masuk IGD.


Danisha mengangguk. Ia mendekap tubuh putra kecilnya sembari sesekali mengecup puncak kepala bocah kecil itu. Sungguh, ia gugup dan sangat mencemaskan kondisi Prasta, sahabat baiknya.


Ya Allah, semoga semuanya baik-baik saja atas izin dan kehendak-Mu.


Danisha mengucap doa dalam batinnya.


"Saka! Gimana, Prasta? Dia ... Baik-baik saja, kan, Nak?" Bu Ranti mencecar Saka begitu sahabat putranya menghampiri mereka.


Saka mencium punggung tangan Bu Ranti dan Pak Yusuf sebelum menjawab pertanyaan wanita paruh baya yang biasa dipanggilnya Ibu itu.


"Semoga, Bu. Masih ditangani dokter di dalam. Kita tunggu di sana ya, Bu. Duduk di sana. Mari," ajak Saka, menggiring orang tua Prasta ke bangku ruang tunggu di mana Danisha beserta keluarga Renata duduk menunggu.


Pak Yusuf mengangguk. Pria paruh baya itu menuntun istrinya menuju bangku ruang tunggu di mana Renata dan kedua orang tuanya juga menunggu di sana.


Renata yang melihat kehadiran kedua orang tua Prasta sontak berdiri dan berlari menghambur memeluk Bu Ranti erat dengan tangis yang kembali pecah.


"Ibu! Maafin Ata, Bu! Ini salah Ata! Ini semua karena Ata!" jerit Renata menumpahkan tangis dan apa yang dirasakannya pada Bu Ranti, ibu Prasta.


Untuk beberapa saat Bu Ranti terpaku saat Renata memeluknya erat sembari menangis tersedu. Perlahan, Bu Ranti membalas pelukan gadis itu dan mengusap kepala gadis yang dicintai putra sulungnya tanpa berkata-kata.


"Keluarga saudara Prastawan Nugroho!"


Bu Ranti dan Renata mengurai pelukan mendengar nama Prasta disebut. Demikian pula semua orang, mereka mengalihkan perhatian ke arah ruangan IGD. Seorang pria berkacamata dengan snelli dan stetoskop di lehernya berdiri di depan pintu ruang IGD.


"Saya orang tuanya, Dok!" sahut Pak Yusuf menghampiri dokter tersebut yang diikuti oleh Bu Ranti dan Renata, juga yang lainnya.


"Gimana keadaannya, Dokter? Dia baik-baik aja, kan?" cecar Renata sembari menghapus air matanya.


Bu Nia yang sudah berdiri di samping putrinya, mencoba menenangkan dengan merangkul bahu anak gadisnya.


Dokter itu menghela napas singkat sebelum berbicara.


"Berdasarkan kondisi pasien saat tiba di sini dan laporan medis dari petugas kami yang menjemput di tempat kejadian kecelakaan, kami tidak menemukan cedera kepala yang serius, hanya beberapa luka sobek di pelipis dan wajah. Tulang leher agak bergeser sedikit serta ada patah tulang di kakinya." terang dokter itu.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk anak kami, Dokter," pinta Pak Yusuf.


Dokter itu tersenyum dan mengangguk. "Pertolongan pertama sudah kami lakukan. Saran kami, sebaiknya dilakukan pemeriksaan keseluruhan melalui rontgen untuk mengetahui hasil yang maksimal sehingga kami bisa menentukan jenis pengobatan untuk penyembuhan pasien. Saat ini pasien masih belum sadar karena pengaruh obat dan anestesi. Selanjutnya, pasien bisa dipindahkan ke kamar rawat inap. Bapak ibu silakan ke bagian administrasi untuk masalah kamar rawat inap dan segala sesuatunya." Dokter itu melanjutkan penjelasannya sebelum berpamitan masuk kembali ke dalam ruangan IGD untuk kembali bertugas.


"Baik. Terima kasih, Dokter," ucap Pak Yusuf dan Bu Ranti bersamaan.


"Maaf, Pak. Biar saya yang mengurus semuanya." Pak Danny tiba-tiba berkata kepada Pak Yusuf. Pria itu merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Prasta. Anak gadisnya tadi sempat bercerita, walaupun belum tuntas, bahwa kecelakaan yang terjadi karena Prasta yang menyelamatkannya. Jika tidak ada Prasta, sudah dipastikan gadis itu yang akan tergeletak di rumah sakit.


Pak Yusuf mengulas senyuman


"Terima kasih. Tapi Prasta adalah putra kami. Sudah sewajarnya kami yang bertanggung jawab," tutur Pak Yusuf dengan seulas senyum tulus mengembang dari bibirnya.


"Prasta sudah seperti anak saya sendiri, Pak. Maafkan Ata, anak kami. Semua terjadi karena kecerobohan anak kami. Jika dia berhati-hati, hal ini pasti tidak akan terjadi," ungkap Pak Danny dengan raut serius.


"Renata juga sudah seperti anak kami, Pak. Yang terjadi pada anak-anak kita memang sudah kehendak Allah. Tidak ada yang salah di sini. Allah menghendaki mereka harus melewati peristiwa seperti ini, pasti ada sesuatu hal dibaliknya. Seberapa sabar dan ikhlas kita bisa menerima ujian ini," tutur Bu Ranti, senyum tulus ia berikan pada Pak Danny dan Bu Nia. Sementara salah satu tangannya mengusap pipi Renata yang lengket karena air mata.


"Nggak apa-apa, Ata. Anak Ibu kuat. Kamu denger kan, kata dokter tadi. Nggak ada yang serius. Dia akan segera sembuh. Terima kasih udah membawanya ke sini dengan cepat. Terima kasih kamu ada di sampingnya pada saat seperti ini. Udah, jangan nangis lagi. Dia nggak suka lihat kamu nangis. Katanya bikin hatinya sakit," lanjut Bu Ranti diikuti kedua sudut bibir yang terangkat menatap Renata.


Seketika Renata memeluk wanita paruh baya yang selalu membuat hatinya menghangat itu. Bu Ranti membalas pelukan gadis manis yang membuat putranya tak bisa berpaling pada gadis lainnya. Senyuman tulus terbit di raut wanita yang berprofesi sebagai guru itu.


"Makasih, Bu. Maafin Ata," ucap Renata lirih dengan wajah yang tenggelam dalam pelukan Bu Ranti.


Bu Nia mengusap punggung putrinya sembari menghela napas singkat. Seulas senyum terbit di bibir wanita paruh baya itu, setelah mengucapkan terima kasih kepada Bu Ranti.


"Terima kasih, Bu."


"Sama-sama," balas Bu Ranti.


Sementara itu, Danisha dan Saka ikut tersenyum lega mengetahui kondisi Prasta yang telah ditangani oleh dokter dan akan segera dipindahkan ke kamar rawat inap. Sesungguhnya sepasang suami istri itu masih ingin tetap tinggal sampai Prasta menempati kamar rawat inapnya. Namun, mereka harus pulang mengingat Barra yang ikut bersama mereka sudah merengek meminta pulang karena capek.


Kedua sahabat baik Prasta itu akhirnya berpamitan kepada bapak dan ibu Prasta serta Renata dan kedua orang tuanya. Mereka berjanji akan kembali mengunjungi Prasta keesokan harinya.


TBC


**Hai, Cinta ❤️❤️ Seperti biasa, like & komen ya ☺️🙏


Thank you so much & love you 🤗😘💕💕**