LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 45 Berjalan Bersisian Bersamamu



HAPPY READING ☺️


❤️


❤️


"First flight besok, kan?" tanya Prasta menatap layar ponselnya. Ia sedang melakukan video call dengan Renata yang saat ini masih di Jakarta mengikuti pertemuan seluruh wartawan kontributor stasiun televisi tempatnya bekerja.


"Nggak sepertinya," jawab Renata sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah setelah mandi. Gadis itu baru saja kembali ke kamar hotel tempatnya menginap setelah seharian mengikuti pertemuan dan pelatihan yang diadakan oleh pihak stasiun televisi tempatnya bekerja. Beruntung acara diadakan di hotel yang sama sehingga lebih efisien dan sedikit menghemat tenaga, tidak terlalu capek mondar-mandir terlalu jauh dari tempat menginap ke tempat pertemuan.


"Ck!" Decak Prasta, raut kecewa tercetak jelas di wajah rupawannya.


"Tapi bukan flight siang juga. Masih pagi, kok. Jam 06.45 pagi. Sampai Surabaya jam 07.45 masih pagi, kan?" terang Renata tersenyum simpul.


"Ya, kalau ada flight lebih pagi kenapa nggak ambil yang lebih pagi?" gerutu Prasta.


"Flight paling pagi itu jam 5. Nggak beda jauh, lah. Lagian aku nggak dapat tiket di situ, udah full booked," papar Renata yang kini duduk bersila di atas ranjang, tersenyum menatap intens pada layar ponsel yang dipenuhi oleh wajah Prasta, lelaki yang kini kembali resmi menjadi kekasihnya sejak pembicaraan serius mereka di kafe beberapa hari lalu setelah dari rumah sakit.


"Kamu sengaja kali, bookingnya bukan di first flight," gerutu Prasta lagi.


Renata menghela napas panjang, lalu memutar kedua manik netranya malas.


"Ya, udah! Aku change booking ke first flight buat lusa? Gitu aja, ya?" tawar gadis itu pada Prasta karena sikap kekasihnya yang menurutnya menjengkelkan.


Seketika Prasta melotot. "Apa? Nggak-nggak! Kok gitu?" protesnya.


"Habisnya kamu juga gitu ngomongnya! Bikin kesel!" Renata mencebik.


"Ya ... Karena aku kangen, Ay ... Pengen segera ketemu kamu. Nggak peka amat!" Prasta merajuk.


"Lagian besok aku mau nemuin papa kamu," imbuh Prasta.


"Hah? Ngapain mau ketemu papa?" cecar Renata, kedua netranya membulat.


"Mau ngajak papa kamu main PS!" sahut Prasta sambil merotasikan kedua manik hitamnya.


"Serius, Ay!"


"Ck! Ya, nggak, lah!" jawab Prasta gemas.


"Trus ngapain?"


"Mau ngobrol soal kita," jawab Prasta, kali ini raut wajahnya serius.


"Emang mau ngobrol soal kita, soal apaan?"


"Soal matematika!" Prasta kembali menjawab asal.


"Ay! Serius, dong!" Netra Renata melotot menatap layar ponselnya. Sementara bibirnya mengerucut, menandakan ia sedang kesal.


Prasta menghela napas panjang sembari menarik kedua sudut bibirnya.


"Tolong itu bibirnya nggak usah begitu, Ay!" selorohnya.


"Tuh, kan! Aku matiin nih, teleponnya!" ancam Renata.


"Eits! Jangan dong, Sayang! Aku masih kangen, lho!" rengek Prasta.


"Pokoknya besok aku jemput kamu, trus antar kamu pulang sekalian ketemu Papa. Aku mau ngomong soal hubungan kita," tutur Prasta menatap lekat paras manis di layar ponselnya dengan hati yang membuncah penuh rindu dan bahagia.


Renata bergeming. Pandangannya nanar menatap sendu wajah kekasihnya


"Ay ...." Lirih Prasta memanggil Renata. Tiba-tiba kilatan bayangan kejadian masa lalu muncul di kepalanya. Kejadian yang membuat hubungannya dengan gadis itu berakhir.


Prasta menelan salivanya kelat. Tiba-tiba ia merasa sangat takut. Takut kejadian yang sama terulang kembali.


"Ok, aku batalin aja. Nggak usah ketemu papa kamu. Next time aja, masih banyak waktu," ucap Prasta lirih dengan senyum yang dipaksakan.


"Kenapa?" tanya Renata akhirnya. Ada rasa kecewa dibalik pertanyaan gadis itu. Tatapan lekat menuntut jawaban ia berikan pada lelaki dalam layar ponselnya yang kini posisinya berubah dari rebahan menjadi duduk bersandar di kepala ranjang tidurnya.


Senyum tipis terbit di bibir Prasta, lantas ia menggeleng. "Nggak apa-apa. Oh, ya! Minggu depan aku udah masuk kerja lagi," ujar Prasta.


"Kok udah masuk kerja? Kaki kamu belum dibuka gips-nya, lho! Emang harus minggu depan? Atasan kamu yang suruh masuk kerja? Apa nggak ...."


"Eh-eh! Ssssstttt ... Aku nggak apa-apa! Aku bisa jalan pakai kruk, hm? I'm fine, Ay!"


"Nggak-nggak! Nggak bisa! Coba deh, bilang ke atasan kamu. Masuk kerjanya tunggu gips-nya dibuka aja," tukas Renata.


"Ay, aku nggak enak kelamaan nggak kerja. Makan gaji buta. Kasihan teman-temanku juga," ungkap Prasta.


"Kasihan sama teman kamu yang mana? Joanna?"


"Come on, Ay!"


"Kamu pengen buru-buru masuk kerja karena Joanna? Ya-ya, aku lupa. Dia kan senior kamu. Ya, udah! Aku capek mau tidur! Besok habis subuh langsung ke bandara. Assalamu'alaikum!"


"Lho! Ay ...."


Terlambat, Renata sudah mengakhiri panggilan video mereka.


"Aduh!" Prasta menggeram, tangannya memukul guling yang ada di sampingnya.


"Kenapa jadi bawa-bawa Joanna, sih!" Geramnya sekali lagi.


Prasta membuang napasnya kasar sambil mencoba menghubungi Renata kembali. Namun, tak ada respon dari kekasihnya yang sedang merajuk itu.


Ya, pada akhirnya Prasta menceritakan pada Renata tentang Joanna dan hubungannya dengan gadis yang menjadi seniornya di kantor itu. Tentu saja setelah Renata menyinggung tentang gadis itu sesaat setelah Prasta mengungkapkan kembali perasaan lelaki itu kepadanya. Pada saat itu, di kafe itu, keduanya saling terbuka tentang perasaan dan kehidupan pribadi mereka setelah perpisahan keduanya hampir tiga tahun yang lalu.


***


Prasta melepaskan helm yang dipakainya, lantas menyerahkannya pada Arga, adiknya.


"Mas yakin nggak mau aku temani masuk di terminal kedatangan?" tanya Arga pada sang Kakak.


"Nggak usah! Nanti kamu telat latihannya," jawab Prasta, netranya melirik jam tangannya, jam 07.15.


"Lagian, Mas aneh! Pesawat Kak Ata aja baru take off dari Jakarta, Mas udah di sini mau jemput!" cibir Arga sembari bersiap untuk pergi. Kebetulan hari ini sekolah masih libur semester, jadi ia bisa mengantar kakaknya. Namun, ia tetap pergi ke sekolah untuk latihan pencak silat jam 9 pagi ini. Turnamen pencak silat antar sekolah sudah semakin mendekati hari H. Ia ditunjuk untuk mewakili sekolahnya di ajang turnamen tersebut bersama beberapa orang temannya. Arga memang jago pencak silat sejak SMP.


Prasta mendengus. "Suka-suka aku, dong! Pacar, pacar aku juga, wee!" sahut Prasta sambil menjulurkan lidahnya.


Setelahnya Arga berdecak keras. "Ck! Dasar bucin! Aku pergi, deh! Assalamu'alaikum!" pamit Arga, segera melajukan motornya meninggalkan kakak satu-satunya di lobi bandara.


"Wa'alaikumsalam," sahut Prasta, yang lantas berjalan perlahan menggunakan satu kruk di tangan kirinya.


Tiba di tempat yang dituju, di depan pintu kedatangan, Prasta melihat layar besar yang ada di depan pintu. Netranya memindai satu per satu nomor penerbangan yang terpampang di sana. Kemudian ia melangkah menuju deretan kursi tunggu yang tak jauh dari pintu kedatangan. Lantas ia duduk di salah satu kursi tunggu tersebut. Ia tersenyum tipis. Semoga Renata tak marah lagi dengannya.


Sikap Renata semalam membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Apa dia cemburu? Ah! Sepertinya nggak mungkin dia cemburu! Toh, aku udah cerita semua tentang Joanna.


Sejak semalam Prasta mengirim pesan permintaan maaf pada Renata, tentu saja disertai dengan penjelasan dan pesan rayuan. Namun, hingga detik ini, masih belum ada pesan balasan dari Renata. Status pesannya hanya dibaca oleh gadis itu. Sekarang, ia akan kembali mengirim pesan kepada gadisnya itu. Ia tak peduli sudah berapa banyak pesan yang dikirimnya kepada gadis itu, meskipun tak ada satu pun pesannya yang dibalas.


***


"Kakak kamu emang aneh dan keterlaluan, Rakha!" gerutu Bu Nia pada putranya. Ya, mereka adalah Bu Nia dan Rakha. Ibu dan adik Renata, yang akan menjemput gadis itu.


Rakha tertawa kecil. "Mama juga aneh! Masa nggak hapal sama sifat Kak Ata," tukas Rakha.


Seketika sebuah pukulan mendarat di lengan pemuda bertopi dengan jaket varsity membalut tubuh atletisnya.


"Aduh! Mama, ih!" ringis Rakha.


"Mama serius! Bisa-bisanya dia ngebiarin Prasta jemput ke sini. Kakinya masih sakit begitu! Keterlaluan banget kakak kamu!" omel Bu Nia.


"Ma! Kak Ata kan, udah bilang, itu kemauan Kak Prasta sendiri," ujar Rakha.


Keduanya kini berdiri di depan pintu kedatangan. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari keberadaaan Prasta sesuai pesan dari Renata.


Ya, gadis itu memberitahu sang Mama dan adiknya bahwa Prasta juga menjemputnya, sesaat sebelum pesawat yang ditumpanginya lepas landas. Renata meminta sang Mama dan adiknya untuk mencari keberadaan Prasta di terminal kedatangan. Awalnya, ia tak memedulikan kekasihnya itu menjemputnya dengan kondisi kaki yang masih terbalut gips. Namun, tak urung ia merasa khawatir juga. Karenanya, ia menelepon sang Mama yang kala itu sedang dalam perjalanan menjemputnya bersama Rakha, untuk mencari keberadaan Prasta jika sudah sampai di bandara.


"Tante?"


Bu Nia menoleh cepat ke arah sumber suara yang juga diikuti oleh Rakha.


"Astaghfirullah, Prasta!" seru Bu Nia. Wanita berusia awal lima puluh itu segera mendekat ke tempat Prasta berdiri dengan kruknya dan Rakha mengikuti sang Mama.


"Kak! Jadi bener Kakak jemput Kak Ata? Ke sini sama siapa, trus naik apa?" cecar Rakha.


Prasta tersenyum. "Diantar Arga tadi," jawab Prasta santai.


"Kaki kamu masih belum sembuh, Pras. Kamu nekat banget, sih!" Bu Nia berujar dengan nada khawatir. Raut khawatir juga tampak jelas di wajahnya.


"Nggak apa-apa, Tante. Ini juga sambil latihan jalan." Prasta berujar dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Udah kangen banget ya, Kak! Sakit pun lewat!" olok Rakha sembari tertawa.


Prasta terkekeh. "Kelihatan banget, ya!" sahut Prasta seolah membenarkan. Ia menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


Bu Nia tersenyum-senyum kecil mendengar kelakar putra dan kekasih putrinya.


"Bener begitu, Pras?" tanya Bu Nia sedikit menggoda.


Prasta mengangguk dengan bibir mengulum senyum.


"Udah tahu kangen. Eh, anak Tante semalam pakai ngambek segala! Jadi makin kepikiran, deh!" kesah Prasta. Membuat ibu dan anak yang berdiri di hadapannya spontan tergelak.


"Dia nggak ngambek, cuma lagi merajuk aja!" tutur Bu Nia.


"Yah, Tante! Apa bedanya coba!" protes Prasta.


Senyum kecil terbit di bibir Bu Nia.


"Sabar, Kak. Dia cuma pura-pura ngambeknya. Percaya, deh!" timpal Rakha, yang segera mendapat anggukan dari Bu Nia.


"Ya, semoga aja emang begitu!" ucap Prasta sambil menarik kedua sudut bibirnya. Ia tak akan sanggup bila Renata nantinya benar-benar marah padanya.


"Kamu udah ngomong sama Ata?" tanya Bu Nia setelahnya.


"Ngomong apa, Tan?" tanya balik Prasta bingung dengan pertanyaan calon ibu mertuanya.


"Rencana kamu? Yang kemarin kamu bilang waktu papanya Ata nelpon kamu?" papar Bu Nia mengingatkan.


"Oh, yang itu!" cetus Prasta yang segera mengingat apa yang dimaksud Bu Nia.


Bu Nia mengangguk-angguk disertai kedua alis terangkat.


"Belum semua. Ata keburu ngambek dan matiin teleponnya!" Prasta mengadu diakhiri helaan napas berat.


"Siapa yang ngambek?" Sebuah suara mengagetkan ketiga orang yang tengah berbincang tak jauh dari pintu kedatangan. Ketiganya serempak menoleh ke arah pemilik suara yang sangat mereka kenali.


"Hei!" Prasta tersenyum lebar, lalu berjalan menggunakan kruknya menghampiri gadis yang telah memorakporandakan hatinya. Ia meraih tangan gadis itu yang memegang kopernya untuk mengambil alih membawakannya.


"Biar aku aja yang bawa, Kak!" sela Rakha, yang langsung mengambil alih koper dari tangan sang Kakak.


Sementara Prasta hanya bisa melihat koper milik Renata berpindah ke tangan Rakha dengan helaan napas pelan.


"Udah, biar Rakha yang bawa. Kakak gandeng Kak Ata aja!" cetus Rakha sembari mengedipkan salah satu netranya.


Sontak Renata mendaratkan sebuah cubitan di pinggang adiknya.


"Sakit tahu, Kak!" jerit Rakha, wajahnya meringis kesakitan.


"Udah, ayo kita jalan!" ajak Bu Nia akhirnya.


"Udah nggak ngambek, kan?" bisik Prasta ke telinga Renata, membuat gadis itu sedikit meremang mendengar bisikan Prasta. "Kangen," imbuh lelaki itu, yang berjalan bersisian dengan Renata.


Gadis itu bisa merasakan embusan napas Prasta yang begitu dekat dengan wajahnya. Renata menghela napasnya pelan. Lantas tangannya meraih lengan Prasta, ia melingkarkan tangannya pada lengan lelaki itu dengan manja. Senyum manis terukir di bibirnya.


"Aku nggak ngambek. Cuma kesel aja sama kamu. Susah dibilangin," keluh Renata. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh lelaki tinggi yang berjalan perlahan di sisinya.


Prasta memalingkan wajahnya, sedikit menunduk untuk menatap wajah Renata dengan menarik kedua sudut bibirnya. "Gitu, ya? Kirain kamu cemburu," ujarnya kemudian.


"Ish! Siapa yang cemburu?"


"Ya, kamu!"


"Nggak, ih!"


"Ngaku aja, lah!"


Renata menghentikan langkahnya membuat Prasta melakukan hal yang sama. Gadis itu melipat keningnya menatap Prasta.


"Apa?" Prasta balas menatap Renata dengan menahan senyumnya.


"Nggak!" sangkal Renata sembari menggeleng keras dan hendak melanjutkan langkahnya menyusul mama dan adiknya. Namun, Prasta berhasil menahan lengan gadis itu.


"Ck! Tega ninggalin aku jalan sendiri?" decak Prasta.


Renata mendengus pelan sebelum akhirnya membalikkan tubuh menghadap lelaki yang menatapnya sendu dengan raut memohon. Meskipun senyum tipis masih terukir di bibirnya dan tangan kanan terulur ke arahnya.


Renata mencebik sembari meraih tangan kanan lelaki yang dicintainya. Prasta maju selangkah dan segera menggenggam erat tangan pujaan hatinya. Menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari gadis itu.


"Aku nggak mau berjalan sendiri. Tolong, jangan pernah membiarkan aku sendiri berjalan tanpa kamu di sisiku. Tanpa jemari tangan kamu yang bertaut dengan jemariku. Jangan tinggalin aku lagi, Renata," tutur Prasta lirih.


Detak jantung Renata sontak bekerja melebihi batas normal. Berdetak tak beraturan, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Hatinya berdesir indah mendengar penuturan lelaki yang berprofesi pewarta foto itu. Ia benar-benar dibuat terkesima dengan segala tingkah dan perkataan lelaki itu yang membuatnya berbunga-bunga dan jatuh cinta untuk ke sekian kalinya.


"I know! Aku juga nggak mau jalan sendiri menjemput impian kita. Aku mau kamu di sisiku selalu. Membimbingku, menjadi imamku," balas Renata dengan tatapan penuh binar kebahagiaan.


Bibir Prasta melengkung sempurna dengan kedua netra berbinar bahagia menatap kekasih hatinya. Lantas keduanya melanjutkan langkah mereka, meskipun perlahan, mengikuti langkah Bu Nia dan Rakha yang telah berjalan terlebih dulu menuju tempat parkir mobil.


TBC