LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 30 Khawatir dan Merindumu



**HAPPY READING ☺️**


**WARNING!! Ada sedikit adegan 18++**


Keduanya tertegun sesaat, saling menatap dalam dan mengunci pandangan. Wajah Bian semakin mendekat dan segalanya terjadi begitu saja. Bibir lelaki itu menyentuh bibir cantik gadis yang dikungkungnya. Memagutnya pelan penuh kelembutan. Sementara Renata tanpa ia sadari memejamkan kedua netranya, menikmati sensasi bibir kekasihnya yang bergerak perlahan menyapu bibir cantiknya. Hingga tiba-tiba bayangan kedua orang tuanya dan mantan kekasihnya hadir begitu saja dalam benaknya. Menatapnya dalam penuh kekhawatiran.


Renata membuka matanya, kedua tangannya mendorong keras tubuh Bian agar menjauh. Bian tersentak dengan napas tersengal. Sementara Renata yang berhasil lepas dari tubuh lelaki itu, segera bangkit dari duduknya dan berlari masuk ke dalam kamar.


Bian yang masih mengatur napasnya terpaku di tempat sembari menatap Renata yang berlari menghilang dibalik pintu kamar gadis itu.


Dibalik pintu kamarnya, tubuh Renata memerosot. Ia terduduk lemas bersandar pada pintu kamarnya dengan kedua tangan memeluk kedua lututnya yang ditekuk. Ia menarik napasnya panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Mama ...." lirihnya, bulir bening di kedua netranya pun lolos membasahi paras manisnya. Ia terisak pelan.


"Hun ... Sayang!" Suara Bian memanggil diikuti suara ketukan di pintu kamarnya.


Renata bergeming dengan isakannya yang lirih. Gadis itu berusaha untuk menghentikan tangisnya, menyeka wajahnya yang basah dengan jemari lentiknya.


"Ata ... I'm sorry about that. Please, open the door," ucap Bian dengan suara lembut.


Renata tetap bergeming, masih dengan posisi yang sama. Ia menghela napasnya panjang sebelum akhirnya berdiri dengan perlahan dan berbalik badan hendak membuka pintu kamarnya.


"Sayang ... Are you ok?" tanya Bian begitu pintu kamar terbuka dan mendapati kekasihnya dengan wajah memerah, begitu pula dengan kedua netranya. Jejak air mata terlihat di sana.


Bian berjalan mendekat pada gadis itu yang masih bergeming di ambang pintu dengan wajah sayu dan sendu. Perlahan ia meraih bahu kekasihnya, lalu membawanya ke dalam dekapannya. Mengusap perlahan punggung gadis itu dengan gerakan naik turun.


"It's ok! Sorry about that, ok?" ucapnya sekali lagi, penuh penyesalan. Tak ada suara dari gadis dalam dekapannya itu. Namun, sesaat setelahnya, sebuah anggukan gadis itu berikan sebagai balasan dari ucapan yang Bian lontarkan. Detik berikutnya, Bian dapat merasakan pergerakan kedua lengan gadis itu yang merangsek membalas pelukannya. Bian menghela dalam napasnya diikuti senyum yang dikulumnya dengan manis.


***


Sebuah bingkai foto di atas meja konsul bergambar gadis belia dengan rambut ekor kudanya yang sedang duduk di atas sepeda terus dipandangi wanita paruh baya yang biasa disapa Bu Nia itu. Tatapan kedua netranya sendu dan sayu dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan dan kerinduan dibalut kekhawatiran.


"Kamu baik-baik aja, kan, Nak? Tolong segeralah beri kabar pada Mama, Ata." Bu Nia berkata lirih dengan kedua tangan memegang bingkai foto putrinya yang kala itu masih berusia 17 tahun.


Dering telepon membuat ibu dua orang anak itu segera mengalihkan perhatiannya pada pesawat telepon yang terletak di meja yang sama dengan bingkai foto putrinya. Gagang telepon berwarna putih gading itu ia angkat.


"Assalamualaikum." Bu Nia mengerutkan keningnya karena tak mendengar suara dari seberang sana.


"Halo?" ucap Bu Nia, memastikan jika orang di seberang sana mendengar suaranya.


Masih hening, tak ada suara yang terdengar sedikit pun. Bu Nia memindahkan gagang telepon ke telinga kirinya sebelum kembali berbicara.


"Maaf, siapa, ya?" tanyanya kebingungan. Namun, tiba-tiba saja ia teringat dengan putrinya.


"Ata? Ini kamu, kan? Renata? Ini Mama, Sayang! Ata?" cerocos Bu Nia. Wanita paruh baya itu terlihat sangat antusias dan berharap jika yang menelepon adalah putrinya.


"Ata? Halo? Halo, Ata! Ata!" Bu Nia menatap gagang telepon di tangan kirinya. Kali ini telinganya mendengar bunyi telepon terputus. Seketika bahu wanita itu memerosot dengan raut kecewa diikuti tangannya yang meletakkan gagang telepon pada tempatnya dengan perlahan. Sesaat kemudian, wanita itu duduk di kursi yang berada di samping meja. Setetes air mata jatuh perlahan dari netranya. Wanita paruh baya itu pun terisak.


"Mama tahu itu kamu, Ata ... Itu pasti kamu!" gumam Bu Nia sembari terisak. Wanita itu menelungkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya yang basah karena air mata.


"Ibu!" seru Bibi, asisten rumah tangga Bu Nia.


"Ibu kenapa? Ada apa, Bu?" cecar Bibi dengan raut kebingungan. Asisten rumah tangga itu mengusap-usap bahu majikannya perlahan, berusaha menenangkannya.


"Ata, Bi! Ata barusan menelepon!" racau Bu Nia dengan isak tangis tersedu-sedu.


"Ma!"


"Rakha! Kakak kamu, Kha!" seru Bu Nia kala melihat kedatangan putranya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan menghambur memeluk sang Putra yang baru saja datang dari latihan basket.


"Mama tenang, ya," ucap Rakha lembut, menenangkan sang Mama. Anak lelaki itu menuntun sang Mama untuk duduk di sofa ruang keluarga. Sementara Bu Nia masih terlihat sesenggukan dan kedua netra yang sembab.


Rakha meletakkan tas punggungnya di sisi sofa yang kosong. Lalu menggenggam kedua tangan sang Mama sembari menatap wanita paruh baya yang sangat dicintainya itu dengan tatapan lembut.


"Ma ...." Rakha menjeda ucapannya.


Bu Nia menatap Rakha, putranya, dengan tatapan nanar. Wanita itu menarik napasnya dalam, lalu mengembuskannya perlahan.


Rakha tersenyum memandang wajah sang Mama dengan kedua netra yang terlihat sembab.


"Udah tenang?" tanya Rakha.


Bu Nia mengangguk pelan, sebelum akhirnya membuka suaranya.


"Tadi selepas salat Maghrib, ada telepon ...." Bu Nia menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang kering sebelum melanjutkan bicaranya. Sementara Rakha dengan sabar menunggu sang Mama melanjutkan ceritanya.


"Mama angkat teleponnya, tapi nggak ada suara. Berulangkali Mama bilang halo, tapi nggak ada sahutan. Mama yakin itu pasti kakak kamu!" terang Bu Nia dengan seulas senyum dan kedua netra berbinar penuh harapan.


Rakha menarik kedua sudut bibirnya menatap sang Mama penuh sayang. Sedemikian rindu dan khawatirnya sang Mama pada kakak perempuannya, hingga ia selalu berharap jika setiap telepon berdering, sang Kakak-lah yang menelepon. Dalam hatinya, Rakha mengumpat dan mencerca kakak perempuannya itu. Begitu tega membuat sang Mama teramat sedih dan khawatir seperti ini.


"Kamu sependapat dengan Mama, kan? Yang nelpon tadi kakak kamu? Ya, kan, Kha?" cecar Bu Nia dengan netra yang tak lepas pandang dari wajah putranya. Sementara tangannya mencengkeram lengan berotot putra satu-satunya itu.


Rakha tergagap dan sedikit tersentak dengan apa yang dilakukan Mamanya.


"I-iya, Ma. Mungkin itu Kak Ata ... Mungkin ponsel Kak Ata kehabisan baterai, jadi terputus teleponnya. Udah, Mama tenang dulu. Mama udah makan?" Rakha berusaha membuat sang Mama tenang.


Bu Nia menggeleng sembari menyeka sisa-sisa air mata di kedua netranya.


Rakha melirik jam di pergelangan tangan kanannya. Hampir pukul 7 malam. Sebentar lagi sang Papa pulang dari kerjanya.


"Bi, udah siapin makan malam?" tanya Rakha pada si Bibi yang sedari tadi berdiri terdiam di belakang sofa tempat ibu dan anak itu duduk.


"Udah, Mas. Tadi saya mau bilang Ibu kalau makan malam udah siap untuk ditata di meja makan. Eh, malah melihat Ibu duduk menangis di situ. Maaf, saya tadi juga samar denger Ibu bicara di telepon," beber si Bibi polos.


"Ya udah, Bi. Tolong disiapin dan ditata dulu di meja makan, ya, sambil nunggu Papa," perintah Rakha dengan senyum tipis di bibirnya.


"Baik, Mas. Saya permisi, Bu," pamit Bibi dengan kepala sedikit menunduk.


Rakha dan Bu Nia mengangguk bersamaan sebelum si Bibi beranjak dengan sedikit terburu-buru.


"Nggak usah buru-buru, Bi. Awas, jatuh!" ujar Rakha mengingatkan.


Asisten rumah tangganya itu pun menoleh sekilas dan tersenyum kikuk sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mereka.


***


"Aku di depan rumah kamu."


Belum juga orang yang di teleponnya memberikan balasan, Prasta sudah mematikan panggilan teleponnya. Lelaki dengan rambut sebahunya itu terkekeh sambil menggeleng dan berdecak.


Ia tahu sebenarnya tidak selayaknya ia bertamu pada dini hari seperti sekarang. Namun, saat ini ia sedang membutuhkan teman bicara. Pikirannya benar-benar suntuk hari ini. Oh, tidak! Bukan hanya pikiran, hidupnya serasa kacau sejak mengetahui Renata pergi jauh ke luar kota tanpa izin orang tuanya dan tanpa kabar hingga saat ini. Nomor ponselnya masih aktif, tetapi tidak ada respons dari gadis itu sejak kepergiannya. Bahkan gadis itu tak merespons panggilan telepon atau pun pesan dari orang tua dan adiknya sendiri. Aneh. Benar-benar aneh.


Prasta beranjak dari motornya saat indera pendengarannya menangkap suara pintu dibuka dari dalam rumah sahabatnya. Kini ia berdiri di samping motornya dan mengembuskan asap dari isapan terakhir benda ber-nikotin di tangannya. Tepat saat ia menginjak puntung rokok dengan sepatu gunungnya, pintu pagar rumah itu terbuka dengan Saka yang muncul hanya mengenakan kaus dalam tanpa lengan dan celana boxer-nya.


Prasta tersenyum smirk pada sahabatnya itu.


"Kamu gila, ya! Nggak lihat, jam berapa ini?" omel Saka setengah berbisik tanpa basa-basi pada Prasta.


Suasana jalanan di kompleks rumah Saka telah sepi, waktu sudah beranjak dini hari. Udara dan angin yang berembus cukup dingin menerpa kulit. Hal itu dirasakan Saka yang hanya memakai kaus dalam tanpa lengan dan celana boxer.


"Sorry, Bro!" ucap Prasta memohon. "Boleh aku masuk?" tanyanya kemudian.


Saka mengusap wajahnya dan menghela napasnya panjang. Lalu ia mempersilakan sahabatnya itu masuk. Prasta masuk bersama dengan motor sport-nya.


"Kamu dari mana?" tanya Saka menatap Prasta tajam.


"Dari kantor, dong! Habis deadline!" jawab Prasta, matanya menatap penampilan Saka dari ujung kaki hingga kepala. Lalu ia terkekeh.


"Apa, sih? Ngelihatin sampe begitu!" sungut Saka, risih dengan tatapan Prasta. Ia berjalan masuk ke dalam rumah.


Prasta masih terkekeh. "Jangan bilang kamu lagi ...."


"Ck! Emang iya! Udah tahu, kan? Lihat jam dong, kalau datang! Jam berapa ini?" tukas Saka kesal, membenarkan apa yang dipikirkan Prasta, sahabat tengilnya itu.


"Sorry, sorry, Bro! Aku lagi suntuk, butuh teman!" sahut Prasta sembari duduk di sofa ruang tamu.


"Waktunya nggak tepat, tahu! Ck!" decak Saka, berdiri sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah Prasta.


"Jadi belum kelar? Ya udah, lanjutin lagi sana! Aku bisa nunggu, kok!" ujar Prasta dengan santainya.


Saka mengambil bantal kecil yang ada di single sofa di dekat tempatnya berdiri, dilemparkannya ke arah Prasta tanpa berkata-kata. Lalu lelaki itu beranjak meninggalkan Prasta yang duduk di sofa dengan gelak tawanya.


"Ambil minum sendiri di dapur! Kamu tunggu di teras belakang!" seru Saka sembari berjalan menaiki anak tangga satu per satu menuju ke kamarnya.


"Thanks!" sahut Prasta terkekeh pelan dengan seruan sahabatnya.


***


Prasta meneguk air mineral dingin yang diambilnya dari dalam lemari pendingin yang ada di dapur milik tuan rumah. Menatap langit malam dengan beberapa bintang yang bersinar kecil di atas sana. Sesekali ia menghela napasnya.


Sementara sang tuan rumah, Saka, duduk di sampingnya sambil menyesap kopi hitam yang dibuatnya sendiri. Keduanya tampak terdiam setelah beberapa saat lalu terlibat obrolan. Sudah satu jam mereka duduk di karpet di teras belakang rumah Saka.


"So, what's your planning?" tanya Saka akhirnya.


Prasta mengedikkan bahu. Bibirnya mencebik. "Aku nggak tahu," jawabnya singkat.


"Aku udah benar-benar kehilangan dia. Itu berarti harapanku pun udah nggak ada. Sekarang dia benar-benar nggak mau aku hubungi. Panggilan telponku aja nggak pernah diangkatnya. Pesan apalagi!" oceh Prasta dengan senyum getir di bibirnya.


"Udah coba bertanya pada keluarganya?" tanya Saka.


Prasta menoleh pada Saka di sampingnya. "Kamu tahu? Orang tuanya sendiri bahkan tidak tahu di mana dia tinggal di sana. Mereka sedang mencari tahu lewat saudara dan kenalan Papanya. Mereka memintaku untuk bersabar," terang Prasta.


Saka menghela napasnya panjang. Lalu menepuk bahu sahabatnya. "Mungkin memang itu yang harus kamu lakukan sekarang ini. Bersabar," saran Saka.


Prasta mengusap wajahnya. "Sebegitu bencinya dia sama aku, hingga dia menyiksa aku dengan cara seperti ini," lirihnya. "Padahal akhir-akhir ini hubungan kami sudah membaik. Itu seperti memberiku harapan baru. Tapi ternyata ... Malah sebaliknya. We ended up! Selesai sudah!" imbuhnya.


Saka tersenyum tipis. Ia ikut prihatin pada apa yang saat ini dialami sahabatnya. Ia teringat dirinya saat mengetahui ada lelaki lain yang dicintai Danisha saat itu. Betapa kacaunya dirinya. Marah, benci, bahkan ada perasaan ingin mati saat itu karena tidak bisa memiliki gadis yang dicintainya. Beruntung ia masih punya stok sabar walaupun hanya sedikit saja. Lebih beruntung lagi, akalnya masih bekerja dengan sangat baik. Tidak bertindak yang bisa merugikan dirinya sendiri dan juga orang-orang yang disayanginya. Terbukti dengan sisa sabar dalam dirinya dan akal sehat yang tetap selalu mengingat Sang Pencipta dengan selalu bersyukur padaNya, ia bisa melewati semuanya. Bahkan ia tak henti menyebut nama Danisha di setiap doanya. Dan Allah sungguh mendengar doanya, memberikan Danisha padanya.


"Wooiii! Kok jadi kamu yang melamun!" seru Prasta mengagetkan Saka.


Saka tersenyum. "Sorry! Bersabarlah, Bro! Terus ucapkan namanya dalam setiap doamu. Insya Allah semua yang menjadi harapanmu akan kembali," tutur Saka.


Prasta mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku percaya sama kamu. Kamu udah melewati segala hal selama ini. Segala rasa udah pernah kamu rasakan, Bro. Aku salut sama kamu. Kamu hebat bisa menghadapi dan melewati segala hal yang mungkin membuat sebagian atau bahkan mungkin, hampir semua orang terutama lelaki, akan menyerah dan kalah. Tapi tidak dirimu. Kamu begitu kuat, kokoh dan tidak pernah menyerah. Selelah dan sesakit apa pun itu. Bantu aku ya, Bro. Bantu aku untuk tetap selalu di sampingku, mengingatkanku untuk selalu bersabar dengan segala hal yang kuhadapi. Sesungguhnya aku takut. Aku takut aku menyerah, khilaf lalu hilang akal," ungkap Prasta penuh kesungguhan.


Saka menatap Prasta dengan senyum simpulnya. Ia meraih bahu sahabatnya, dirangkulnya erat sahabat yang telah bersamanya sejak di bangku SMA itu.


"Kita kenal bukan baru sehari dua hari, Bro. I know you so well. Aku bisa melewati semuanya juga karena ada kamu dan kalian semua yang tak henti memberikan support pada kami. Kalian selalu di sampingku. Aku yakin kamu juga bisa menghadapi semua ini. Tentu saja kita akan saling menolong dan menjaga tanpa diminta sekalipun. Tapi jangan pernah memintaku untuk selalu di sampingmu. Danisha-ku bagaimana?" balas Saka diselingi gurauan kecilnya.


"Kampret!" umpat Prasta yang terlihat serius menyimak perkataan Saka. Namun seketika tergelak dengan kalimat terakhir sahabatnya itu.


"Thank you so much!" ucap Prasta membalas rangkulan sahabatnya.


"Anytime, Bro!" sahut Saka. "Udah hampir jam 3 pagi. Istirahat di sini aja," imbuhnya.


"Boleh?"


"Ck! Dah kepalang tanggung kamu gangguin aku dan Danisha, sekalian aja! Gayamu pakai nanya!" gerutu Saka sembari bangkit dari duduknya.


Prasta kembali tergelak mendengar gerutuan sahabatnya. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Saka meninggalkan teras belakang rumahnya.


Saka membuka pintu kamar tamu rumahnya dan mempersilakan Prasta untuk tidur di sana.


"Handuk ada di laci itu. Istirahatlah!" ujar Saka, tangannya menunjuk laci di samping lemari pakaian di kamar itu.


Prasta mengangguk.


"Thanks again," ucapnya sekali lagi.


Saka pun mengangguk.


"Udah kabari Ibu kalau kamu di sini?" tanya Saka mengingatkan.


"Beres!" sahut Prasta dengan senyum simpulnya.


"Ok, aku tinggal ya. Tidur, jangan begadang!" tukas Saka sembari berlalu meninggalkan Prasta.


"Siap!" balas Prasta, menutup pintu kamar dan menguncinya. Setelahnya, ia mengambil handuk dari dalam laci yang tadi ditunjukkan oleh Saka. Lalu bergegas membersihkan dirinya di bawah shower. Pikirannya kembali pada Renata, gadis yang masih selalu di hatinya, yang kini telah pergi jauh ke lain kota meninggalkannya.


TBC


**Hai, Cinta ❤️❤️ Hampir 2500 kata 🤭


Hmm ... Prasta belum bisa move on ternyata ya ... Apa kabar Olly & Jo? Next ketemu mereka, ya ☺️


Sehat2 selalu buat kalian, selalu jaga kesehatan, ya ... Libur Natal & Tahun Baru mending di rumah aja. Be safe, Genks 🤗🤗


Many thanks & love you 🤗😘💕**