
Langit sore itu tampak cerah dengan warna biru dan putih yang mendominasi. Berdiri bersandar di sebuah pilar rumah sakit, Prasta mengisap rokok dan mengembuskan asapnya ke udara. Ia memilih keluar dari kamar rawat Danisha setelah beberapa saat teman-teman Danisha dari radio tempatnya bekerja berdatangan, termasuk Renata, mantan kekasihnya.
Lima hari yang lalu, Danisha tersadar dari tidur panjangnya bertepatan saat Saka selesai menjalani ujian skripsinya. Saat itu, Saka dan Prasta dalam perjalanan kembali ke rumah sakit. Dokter Ardhy mengabarkan jika Danisha telah membuka matanya, tersadar dari koma-nya.
"Iya, Bi. Nanti aku kabari kalau udah mau pulang, ya. Iya, bye!"
Prasta sedikit terkejut mendengar suara di belakangnya. Renata.
"Hai!" sapanya. "Kok di sini?"
Prasta menoleh dan tersenyum tipis. Lalu menunjukkan jemarinya yang menjepit benda ber-nikotin pada gadis itu.
Renata mengangguk dan membalasnya dengan seulas senyuman. Seketika suasana menjadi canggung. Gadis itu berdiri tak jauh dari Prasta, bersandar di pilar yang lain di samping kanan lelaki itu. Prasta bergeming dan masih asyik menikmati rokoknya yang hampir habis.
"Apa kabar?" tanya Renata memecah keheningan di antara keduanya.
Prasta menunduk sesaat, lalu kepalanya menengadah dan mengembuskan asap rokoknya di sisi kirinya. Ia tahu, Renata tak suka dengan bau asap rokok seperti halnya Danisha, yang selalu mengomel bila mendapati seseorang yang merokok di tempat umum.
"Aku ... baik! Seperti yang kamu lihat!" Prasta mengalihkan pandangannya pada Renata dengan bibir sedikit melengkung.
Renata menangkap kedua manik hitam Prasta, sudut hatinya berdenyut. Ia rindu manik hitam di hadapannya.
"Kamu ... baik, kan? Om dan Tante juga baik?" tanya Prasta canggung.
Renata tersadar dari lamunannya saat Prasta menanyakan keadaannya dan kedua orang tuanya.
"Ya, kami baik! Ibu dan Ayah sehat, kan?" Renata balik bertanya.
Prasta mengangguk dengan mengulum senyuman. "Tentu, mereka baik," sahut Prasta. Ia membuang puntung rokok di tempat sampah berbahan stainless di samping kirinya.
"Mau pulang?" tanya Prasta lagi.
"Belum. Tunggu yang lain. Seneng banget Danisha udah sadar. Semoga kondisinya lekas pulih," cetus Renata, kedua netranya menatap taman di hadapannya dengan senyum semringah.
"Ya! Syukur alhamdulillah, semuanya atas izin Allah," timpal Prasta, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana jeans hitam-nya. Sekilas ia melirik Renata dengan sudut netranya. Dadanya bergemuruh. Setelah sekian lama, ia kembali berbicara dengan gadis itu, mantan kekasihnya.
"Skripsi kamu, gimana?" tanya Renata, ia mengubah posisinya. Kini tubuhnya menghadap pada Prasta, masih bersandar pada pilar yang sama.
Prasta menarik napas panjang, lalu memutar tubuhnya untuk menghadap gadis yang masih menghuni ruang hatinya. Mereka saling menatap lekat. Ia menyelisik kedua manik bening gadis manis di hadapannya, mencari rasa yang pernah mereka miliki. Sebagian sisi hatinya ingin meneriakkan cinta pada gadis itu.
"Woi! Asyik bener, ya!"
Seketika kedua insan yang baru saja melepas kecanggungan itu tersentak oleh suara bariton yang sangat mereka kenal.
Prasta berdeham dan ia mengumpat di dalam hatinya. Kampret! Ganggu aja nih, Bang Hendra!
Renata tersipu, merasa tertangkap basah oleh Bang Hendra sedang berduaan dengan Prasta. Di belakang Bang Hendra, teman-temannya pun bersorak dan ikut mengolok pasangan yang kini berstatus mantan itu.
"Bisa dilanjut nanti atau kapan gitu! Janjian dulu, gih!" olok Yoga dengan kedua alis yang naik turun.
"Ish! Apa coba, kalian!" sungut Renata, bibir indahnya mengerucut.
****! Lagi-lagi Prasta mengumpat dalam hatinya ketika melihat bibir indah mantan kekasihnya itu mengerucut, menggemaskan.
"Udah, yuk! Kita balik dulu, ya! Pras, kamu dipanggil Danisha, tuh!" tukas Kak Ella.
"Ada apa?" tanya Prasta heran.
Kak Ella mengedikkan bahunya. "Kurang tahu! Masuk aja dulu," sahut Kak Ella dengan mengulum senyuman.
"Ok! Aku masuk dulu. Kalian hati-hati, ya!" ucap Prasta, mengangkat kedua ibu jarinya. "Makasih udah ke sini," lanjutnya.
Mereka pun mengangguk dan tertawa kecil sembari mengangkat ibu jari masing-masing. Lalu Prasta melenggang masuk ke dalam kamar rawat Danisha.
****
"Hati-hati kesambet, Bro! Bengong aja!"
Prasta mengalihkan pandangannya mendengar suara yang dikenalnya.
"Hai, Dok!" sapanya pada Dokter Ardhy dengan senyum yang dikulum sambil mematikan sisa bara rokoknya pada butiran pasir putih yang ada di atas tempat sampah berbahan stainless tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Melamun mulu! Udah habis berapa batang?" cetus Dokter Ardhy, berdiri di samping Prasta yang menghela napasnya panjang.
"Baru juga sebatang!" sahut Prasta santai.
Dokter Ardhy menggeleng dengan helaan napas yang dalam.
"Gimana setelah ketemu Renata?" selidik Dokter Ardhy.
Prasta berdecak dan memalingkan wajahnya. Cepat sekali dokter ini mengetahui berita dirinya dan Renata sore tadi. Ia tidak heran, siapa lagi tersangka utamanya kalau bukan Distha. Lisan sahabatnya itu memang doyan bergosip.
"Kenapa?" tanya Dokter Ardhy penasaran.
"Nggak gimana-gimana, Bang!" jawab Prasta santai.
"Tapi udah bicara sama dia, kan?" Dokter Ardhy semakin penasaran.
"Bicara apa? Nggak ada yang perlu dibicarakan. Udah end, kan?" ujar Prasta. Senyum tipis terbit di bibirnya.
"Yakin?" tanya Dokter Ardhy, menatap Prasta penuh selidik.
Prasta tersenyum sambil mengangguk tegas.
"Tapi aku kok nggak yakin, ya?" timpal dokter calon suami Distha.
Prasta berdecak untuk kedua kalinya, kedua tangannya menyisir rambut sebahunya. "Ck! Jangan kepo! Dokter kepo-nya cukup soal penyakit aja!" sahut Prasta kemudian.
Pintu kamar rawat Danisha terbuka. Muncul Distha dari balik pintu tersebut.
"Bang! Udah dari tadi?" tanya Distha, berjalan mendekati kedua lelaki berbeda usia itu.
"Lumayan lihat dia melamun dan mengisap racun. Untung dia masih baik-baik aja!" sahut Dokter Ardhy, tersenyum miring.
"Ish! Apaan sih, Bang!" tukas Distha, tangannya memukul lengan calon suaminya.
"Sakit, Sayang!" Dokter Ardhy meringis sambil mengusap lengannya.
"Masuk, yuk!" ajak Distha. "Danisha pengen ngobrol sama kita," lanjut gadis bertubuh semampai itu.
"Ada apa?" tanya Prasta.
Distha mengangkat kedua bahunya. Prasta tersenyum dan mengangguk yang diikuti oleh
Distha dan Dokter Ardhy. Ketiganya segera beranjak masuk ke dalam kamar rawat Danisha.
"Pras ...." Suara Danisha lirih memanggil Prasta ketika lelaki itu masuk ke dalam kamar rawatnya bersama Distha dan Dokter Ardhy.
Prasta mengalihkan pandangannya pada ranjang tempat Danisha terbaring, lalu tersenyum lebar ketika mendapati sahabat baiknya itu tersenyum padanya. Saka baru saja keluar dari kamar mandi kala Prasta berjalan mendekati Danisha di sisi ranjang sebelah kanannya.
"Siap, Sist! Ada yang bisa aku bantu?" cetus Prasta, masih dengan gayanya yang santai.
Saka memutar kedua bola matanya mendengar ucapan sahabatnya. Ia menghampiri Danisha yang terbaring di ranjang.
Danisha menggeleng menatap suaminya yang duduk di tepi ranjang dengan senyum manisnya. Lalu tangannya yang bebas infus meraih tangan suaminya dan menggenggam penuh kelembutan.
"Ini kita disuruh nonton pertunjukan romantis kalian, begitu?" celetuk Prasta sesukanya.
Sontak Saka menatap tajam Prasta yang berdiri di seberangnya. "Ngiri?" cibir Saka.
"Gini ini kalau kelamaan galau dan kebanyakan racun!" timpal Dokter Ardhy yang sedari tadi duduk di sofa bersama Distha di sampingnya. Distha terkekeh.
"Yang habis ketemu mantan, gak kuat lihat yang romantis-romantis," olok Distha. Sontak lelaki yang menjadi bahan olokan menampilkan wajah merengut.
Sementara Danisha tersenyum simpul, pandangannya beralih pada Prasta.
"Pras. Ma-sih be-lum sele-sai?" Danisha bertanya dengan terbata, wanita itu menelan salivanya untuk menjeda ucapannya. "Ka-mu sama Re-nata?" lanjutnya. Bicara Danisha masih terbata, ia masih dalam masa pemulihan pada saraf otak dan anggota tubuh lainnya.
"Hei! Udah selesai, kan? Kamu tahu sebelum kamu operasi kami udah selesai, Sist! It's ok, nggak usah dibahas, ya!" sahut Prasta, menjelaskan dengan pelan pada Danisha masalah antara dirinya dan Renata. Ia melirik pada Saka dan kedua temannya yang duduk di sofa.
"Udah malam. Kamu istirahat, Bee. Ingat Dokter Aldi bilang, kamu harus banyak istirahat biar kondisi kamu cepat pulih dan bisa cepat pulang. Nggak usah mikirin macam-macam, ya. Just relax, hm?" tutur Saka mengusap tangan istrinya, lalu mengecup keningnya penuh cinta.
"Waktunya istirahat, Danish. Ngobrolnya kita lanjut besok." Dokter Ardhy berkata sembari bangkit dari duduknya.
"Kamu harus banyak istirahat. Rileks, besok kita ngobrol lagi. Ok?" timpal Prasta dengan mengedipkan sebelah matanya pada Danisha.
Bibir pucat Danisha melengkung, lalu mengangguk pelan. Saka membetulkan selimut Danisha, lalu mengecup kening istrinya sekali lagi.
"Love you," bisik Saka dengan senyum terbaiknya.
Danisha menatap sendu paras suaminya yang begitu dekat dengannya. Tangannya mengusap rahang tegas Saka yang sedikit kasar karena bulu-bulu halus yang mulai tumbuh.
"Ma-ka-sih," bisik Danisha terbata. Lalu tersenyum manis pada Saka sebelum memejamkan kedua netranya untuk tidur.
*****
"Pras, jangan lupa besok malam, ya! Undangan udah aku taruh di mejamu. Kamu bisa, kan?"
Suara Joanna yang memohon dari seberang sana membuat Prasta menghela napas berat dan memijat pangkal hidungnya sembari bersandar di dinding rest room di lantai 1 gedung perkantoran tempatnya bekerja.
"Jo, aku nggak bisa. Kenapa nggak kamu kasih ke Derry atau Bisma aja, sih? Kenapa aku? Mereka berdua lebih expert, lho!" tolak Prasta halus.
"I trust you, Prasta! Mas Bekti pun menyarankan kamu yang gantiin aku."
"Tapi Jo ...."
"Kasih aku satu alasan kenapa kamu menolak?"
Prasta memijat tengkuknya yang mendadak terasa kaku ketika gadis bernama Joanna itu memotong perkataannya, meminta alasan atas penolakannya. Bagaimana pun, gadis itu adalah seniornya di kantor, yang tetap harus dihormatinya walaupun usia mereka sama.
"Yang jelas aku benar-benar nggak bisa, Jo. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku nggak bisa bilang apa itu. Sorry, it's a privacy." Prasta menegaskan. "Next time, ok?" imbuh Prasta.
Terdengar helaan napas berat di ujung sana. Hening sesaat, lalu terdengar suara dehaman Joanna.
"Padahal aku sangat mengharapkan kamu yang gantiin tugasku. Beneran kamu nggak bisa?" tanya gadis itu lagi, berusaha membujuknya.
Prasta tertawa kecil. "Aku akan berkata ya, kalau aku bisa, Jo ... Sayangnya aku nggak bisa. Kamu juga kenapa pakai acara sakit segala, sih! Ck!"
"Eh! Siapa juga yang mau sakit, Kampret! Songong ini anak!"
Prasta sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar umpatan Joanna yang lepas sambil tergelak.
"Ya, sorry, Jo!" ucap Prasta kemudian.
"Baiklah kalau begitu. Mungkin aku serahkan ke Mas Bekti aja buat mutusin siapa yang akan gantiin aku."
Kembali terdengar helaan napas panjang Joanna.
"Sekali lagi sorry, Jo! Kamu lekas sembuh, ya!" ucap Prasta penuh sesal.
"Thanks. Bye, Pras!"
Joanna mengakhiri panggilan telepon.
Prasta menghela napasnya singkat. Sebenarnya ia merasa tak enak hati menolak permintaan Joanna yang sudah memberikan kepercayaan padanya. Namun, ia juga tidak bisa menerimanya. Selain ia tak enak hati dengan para seniornya yang lebih berhak untuk melakukan pekerjaan itu, ia juga sudah berjanji pada Saka untuk datang di hari syukuran kepulangan Danisha dari rumah sakit setelah tersadar dari koma-nya.
Joanna. Gadis teman kerja Prasta. Pewarta foto seniornya, lebih tepatnya. Akhir-akhir ini ia memang dekat dengan gadis itu. Mas Bekti, atasannya, seringkali memintanya untuk menemani Joanna dalam tugasnya. Menurut Mas Bekti, supaya dirinya bisa banyak belajar dari gadis itu. Dan memang benar, dirinya banyak belajar dari gadis itu. Ia mengakui, Joanna pantas mendapat tempat layak di kantornya sebagai pewarta foto yang andal karena sangat menguasai bidangnya. Banyak teman-teman di kantornya yang mengatakan jika dirinya dan Joanna cocok sebagai sepasang kekasih. Kekasih? Mungkinkah? Prasta tersenyum tipis sembari menggeleng, lalu beranjak pergi dari rest room lantai 1 menuju basement tempat parkir motor.
*****
"Aku mau lebih, Ata! Aku mau kamu, please!"
"No, Bi!"
"Why? I love you, Ata! You don't trust me?"
Berbaring terlentang di ranjang dengan pandangan yang menerawang ke langit-langit kamarnya, Renata mengingat kejadian dan percakapannya dengan Bian siang tadi di apartemen lelaki itu. Ia menggeleng sembari menutup kedua telinga dengan kedua tangannya. Lalu kedua tangannya beralih menutup wajahnya.
Apa sih, mau kamu? Ya, Tuhan! Kamu berubah, Bian! Kamu bukan Bian yang dulu.
Jerit Renata dalam hati.
Ia bangkit dari baringnya dan duduk di tepi ranjang.
Do I love him? Do I love Bian?
Kembali hatinya berperang. Gadis itu berjalan menuju balkon. Berdiri di tepi pagar balkon sambil menatap rinai hujan yang belum juga berhenti membasahi bumi, mengantarkan sejuk dan dingin menyatu dengan malam yang semakin pekat.
Hampir tengah malam, tetapi gadis itu belum juga dapat memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya. Terlintas dalam benaknya pertemuan dan percakapannya dengan Prasta di rumah sakit beberapa hari lalu. Hubungannya dengan lelaki tampan itu sepertinya sudah benar-benar berakhir. Meskipun sekarang ia kembali menjalin hubungan dengan Bian, cinta lamanya, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia masih memiliki perasaan cinta untuk lelaki pewarta foto itu.
Semua problem berawal dan berakhir ketika peristiwa makan malam waktu itu. Kedua orang tuanya menginginkan hubungannya dengan Prasta diresmikan ke jenjang yang lebih serius dan lelaki itu dengan santainya dan tanpa beban mengatakan akan siap melamarnya. Hal itu membuatnya sangat terkejut. Ia masih belum bisa mengikuti keinginan mereka. Masih banyak yang ingin ia raih. Ia masih ingin mengejar mimpi dan meraih cita-citanya. Bukan seperti itu planning hidupnya. Seharusnya Prasta paham keinginannya karena mereka telah membicarakan hal itu sebelumnya.
Jujur, rasa indah ini masih milikmu
Bersemayam selalu tak ingin menjauh
Mungkinkah Tuhan ingin memberi ruang sejenak untuk kita
Agar bisa kembali mengejar mimpi dan meraih cita bersama
TBC
**Hai, Cinta β€οΈβ€οΈ
Sorry ya, very slow update π Banyak yg harus aku kerjakan di real life βΊοΈ
Tp jgn khawatir, pasti aku usahakan untuk update dan buat cerita ini complete di sini bukan di tempat lain.
Enjoy ya, jgn lupa LIKE & KOMENNYA π€
Sehat2 selalu untuk kalian semua, be happy & banyak2 bersyukur π€πππ