LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 13 Mengikhlaskan



Pak Danny menatap putrinya yang sedang mengolesi roti tawar dengan selai coklat untuk sarapan. Menghela napasnya pelan sebelum memulai berbicara.


" Kuliah kamu gimana, Ta ? " tanya Pak Danny pada putrinya yang sedang asyik mengunyah roti tawar berlapis coklat yang dibuatnya tadi.


" Baik ! " jawab Renata singkat, masih dengan mulut yang mengunyah roti tawar berlapis coklat.


Bu Nia menatap putrinya dengan tatapan cemas. Begitu pula dengan Rakha, menatap sang kakak dengan raut khawatir.


Renata berubah. Tidak lagi ceria, tidak ada lagi terdengar tawanya. Ia menjadi gadis pendiam. Sering mengurung diri di kamar.


Setelah selesai menghabiskan sarapan roti dan minum susunya, Renata beranjak dari duduknya.


" Ata berangkat dulu, " pamit Renata menghampiri Papa dan Mama nya untuk mencium tangan keduanya.


" Rakha antar ya, Kak, " ucap Rakha tiba-tiba.


" Ga usah, kakak berangkat sendiri aja. Katanya kamu ada latihan basket, " sahut Renata.


" Biar Rakha antar kamu, sayang, " timpal Bu Nia.


" Latihan masih jam 8, Kak. Ini baru jam 6.30 juga, " ucap Rakha.


Ya, hari ini hari Sabtu. Sekolah Rakha libur, tetapi ada latihan basket di sekolahnya.


Pak Danny menatap putrinya yang hendak berjalan meninggalkan ruang makan. Sebagai orang tua yang dekat dengan kedua anaknya, ia sangat paham dengan apa yang sedang dialami oleh putri satu-satunya. Sudah dua kali putrinya mengalami problema cinta. Tanpa bercerita pun, Pak Danny memahami apa yang dirasakan oleh putrinya. Demikian halnya dengan Bu Nia, sang Mama, yang memang sangat dekat dengan putrinya.


Bu Nia meletakkan sendok dan garpunya, hendak beranjak menyusul putrinya yang berjalan pergi untuk berangkat siaran. Namun, Pak Danny menahan Bu Nia untuk menyusul putrinya.


" Biarin dulu, Ma. Biarkan dia seperti yang dia mau. Beri dia waktu, " kata Pak Danny.


Bu Nia menghela napas dalam, tidak tega melihat putrinya yang benar-benar berubah. Tidak ada semangat dalam hidupnya. Bu Nia seolah de javu, kejadian masa lalu terulang kembali. Namun yang terjadi saat ini, lebih parah daripada kejadian yang lalu.


" Apa yang harus kita lakukan, Pa ? Kita ga bisa biarin dia terpuruk lagi. Papa liat, kan... Tiga minggu ini dia jadi pendiam. Pergi kuliah, siaran, pulang ke rumah, masuk kamar ga keluar sampai pagi. Paginya, pergi siaran lagi, kuliah, pulang ke rumah dan masuk kamar. Seperti itu tiap hari. Hanya itu yang dia lakukan. Tak ada suaranya terdengar di rumah ini. Jika ada pun, hanya sepotong-sepotong. Mama pernah dengar dia menangis di tengah malam, Pa. Kita harus mengajaknya bicara, " ujar Bu Nia prihatin. Suaranya sedikit bergetar menahan emosi dan isak tangis.


" Iya, pasti kita akan mengajaknya bicara. Tapi tidak sekarang. Coba nanti agak siang Mama telpon dia. Kalau udah ga ada yang dikerjakan di luar, minta dia segera pulang, " tutur Pak Danny.


Bu Nia mengerutkan dahinya, menatap suaminya dengan tatapan heran.


" Papa kan libur, Ma... Kita pergi jalan nanti kalau Ata dan Rakha udah selesai dengan urusan masing-masing, " jelas Pak Danny dengan bibir yang menyunggingkan sebuah senyuman.


Bu Nia balas tersenyum pada suaminya. Senang mendengar ucapan suaminya. Sudah lama mereka tidak pernah pergi bersama walau hanya sekedar jalan-jalan mencari udara segar atau untuk sekedar makan malam di malam minggu seperti saat ini.


*******


Memandang amplop putih yang ada di atas meja di hadapannya, Prasta menghela napas dalam. Duduk di sebuah cafe sembari menghisap rokoknya, ia menunggu kedatangan sahabat-sahabatnya. Sudah 2 batang rokok dihisapnya dan yang dihisapnya saat ini adalah batang rokok ketiga.


Hari ini Prasta free of duty, tidak ada tugas dari kantor tempatnya magang. Ia bebas tugas dari jam 1 siang tadi.


Sudah hampir satu jam ia menunggu sahabat-sahabatnya di cafe tempat mereka biasa nongkrong.


Pikirannya mengembara pada kejadian semalam. Ibunya menanyakan hubungannya dengan Renata. Selama ini, Ibunya tidak mengetahui hal sebenarnya tentang hubungannya dengan Renata yang telah berakhir. Karena memang Prasta tidak pernah bercerita pada Ibunya. Dan semalam ia harus mengatakan pada Ibunya jika dirinya dan Renata sudah tidak lagi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


Ibunya terlihat kecewa. Prasta sangat paham, Ibunya sangat menyayangi Renata. Namun, ia bisa apa. Gadis itu tidak mengharapkannya. Gadis itu tidak ingin bersamanya, dia lebih memilih laki-laki yang sudah benar-benar mapan hidupnya. Apalah dirinya ini, seorang mahasiswa yang belum lulus dengan pekerjaan yang serabutan.


Kembali ia menatap amplop putih di atas meja, diambilnya lalu dibukanya perlahan. Tersenyum tipis menatap tulisan yang tertera di selembar kertas yang diambilnya dari dalam amplop tadi.


" Apa itu, Pras ? " suara lembut itu mengagetkan Prasta yang sedang melamun. Sontak ia mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum simpul pada gadis berlesung pipi yang sudah duduk di hadapannya bersama laki-laki pasangannya.


" Sorry, Brader ! Tadi padat banget jalanan, " ucap Saka.


" It's ok ! " Prasta tersenyum sembari menyisir rambut gondrongnya dengan tangannya ke belakang.


Prasta melambaikan tangannya ke arah pelayan cafe. Tak lama pelayan itu datang menghampiri mereka dengan membawa buku menu di tangannya. Mereka pun memesan makanan dan minuman. Dan pelayan cafe itu pergi setelah membacakan ulang pesanan mereka.


" Ini rokok kamu ? " tanya Danisha melihat tiga puntung rokok dalam asbak di atas meja.


Prasta hanya tersenyum tipis. Akhir-akhir ini dirinya memang tidak bisa mengontrol keinginannya untuk merokok. Dalam sehari dia bisa menghabiskan separuh lebih sebungkus rokok.


" Kamu makin jadi ya merokoknya. Kenapa sih, Pras ? Kamu udah mulai addicted keknya. " Danisha mulai mencecar Prasta.


" Coba berhenti, Pras. Aku tau kamu pun udah paham soal rokok merokok. Ga perlu juga kita jelasin, " timpal Saka.


Prasta kembali tersenyum tipis. Dirinya sendiri pun tak tahu kenapa ia sekarang tak bisa lepas dari benda yang satu itu. Mungkin benar yang dikatakan Danisha, ia sudah mulai addicted sama benda itu.


" Distha kemana, sih ? Ponselnya ga bisa dihubungi, " ujar Danisha sambil mencoba menghubungi Distha dengan ponselnya.


" Apa ini ? " tanya Saka sembari meraih secarik kertas di atas meja.


Saka tersenyum lebar usai membaca tulisan dalam kertas tersebut.


" Gila ! You did, Bro ! Congratz ya.... " seru Saka gembira. Prasta hanya tersenyum tipis.


Danisha mengerutkan dahinya.


" Ada apa, sih ? " tanya Danisha.


Saka menyodorkan secarik kertas tadi pada Danisha. Lalu Danisha pun membacanya, senyum sumringah tiba-tiba menghias wajahnya yang berlesung pipi.


" Pras ! Ish, hebat kamu ! Congratz ya, Bro ! " seru Danisha gembira.


" Apaan sih, kalian ! Thank you by the way, " ucap Prasta dengan sumringah.


" Jadi lanjut nih ? " tanya Saka kemudian.


Prasta menunduk terdiam, menghela napas pelan. Lalu menatap kedua sahabatnya dengan raut bimbang.


" Menurut kalian ? " tanya Prasta, matanya melirik kepada kedua sahabatnya.


Saka dan Danisha saling berpandangan, merasa aneh dengan pertanyaan Prasta.


Lalu keduanya menatap Prasta dengan pandangan heran.


" Kok malah tanya ke kami, sih ? Jangan bilang kamu ragu dan menolak tawaran bagus ini, Pras ! " tukas Danisha menatap Prasta tajam.


" Begitukah, Bro ? " tanya Saka, menatap lekat sahabatnya. Ia bisa melihat kebimbangan yang dalam di wajah sahabatnya.


Danisha menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin mendengar Prasta mengatakan jika ia menolak tawaran pekerjaan yang diberikan kantor tempatnya magang.


" Ini yang kamu impikan, Pras. Kamu ingin banget kan kerja di sini. Yang kamu inginkan udah ada di depan mata. Lalu apalagi ? Tangkap itu ! Jangan kamu lepas ! " seru Danisha bersemangat memberikan saran pada sahabatnya.


" Pras ! " Distha muncul tiba-tiba, berjalan mendekati tempat duduk Prasta.


" Apa-apaan sih, kamu ?! " Distha berdiri di hadapan Prasta, terlihat wajahnya sedikit tegang.


Saka pun berdiri, demikian halnya Danisha.


Prasta memandang mereka satu per satu. Ia sudah memprediksi ini yang bakal terjadi. Ketiga sahabatnya pasti akan memprotesnya jika ia menolak tawaran pekerjaan itu.


" Sebenarnya kamu kenapa sih, Pras ? Aku tuh ga ngerti deh ! Kamu berubah, tau ga ? Kamu bukan lagi Prastawan Nugroho yang aku kenal baik, " tutur Distha sedikit emosi.


" Tunggu ! Pras, maksud kamu apa pergi dari sini ? " tanya Danisha menekankan kalimat terakhirnya.


Prasta terdiam memandang ketiga sahabatnya.


" Pras ? " Saka memanggil sahabatnya, meminta penjelasan.


Prasta tertunduk diam sesaat.


" Dia mau pergi ke luar kota, " sahut Distha.


" Apa ? " pekik Danisha dan Saka serempak.


Prasta masih terdiam, kembali ia menatap ketiga sahabatnya satu per satu dengan senyuman miringnya.


" Ngapain coba ? Kamu udah mendapatkan impian dan keinginanmu, udah pasti. Di depan mata, Pras ! Apalagi ? " Saka benar-benar heran dibuatnya.


Danisha menghela napasnya dalam, sembari duduk di kursinya. Ditatapnya Prasta yang duduk bersandar di tempat duduknya. Prasta memang berubah. Semuanya berubah. Kenapa ia baru menyadari perubahan sahabatnya ?


" Pras, sebenarnya ada apa ? " tanya Danisha lembut. Sejenak terdiam sebelum kemudian ia melanjutkan bicaranya.


" Benar yang Distha bilang. Kamu berubah. Kami tak mengenalimu lagi. Apa semua ini karena Renata ? " Danisha menatap Prasta mencoba mengajaknya berbicara dari hati ke hati.


Saka menghembuskan napasnya pelan. Menatap lekat Prasta yang duduk dengan raut penuh kebimbangan. Ia pun menanti Prasta bicara.


" Mungkin.... " Prasta menggantung perkataannya. Ia tak tahu harus bicara apa dan bagaimana. Yang ia rasakan saat ini, ia ingin pergi jauh dari kota ini. Ia ingin melupakan semua hal tentang Renata, melepaskan rasa cintanya pada gadis itu. Ia baru menyadari jika ia telah mencintai gadis itu sangat dalam.


" Sebenarnya kamu hanya butuh bicara dengan Renata. Tapi kamu selalu menghindarinya. Boleh aku bicara yang sebenarnya tentang Renata ? " Danisha berbicara dengan nada lembut sembari tersenyum tipis pada Prasta.


" Bicara apa ? Soal Renata dengan pacarnya yang kaya ? Ck, basi ! " ucap Prasta sarkastis seraya memalingkan wajahnya ke arah luar jendela cafe.


" Renata mencintai kamu, Pras ! " sahut Danisha lantang.


" Kamu tuh egois ! " timpal Distha yang duduk di samping Prasta.


" Mungkin ! " tukas Prasta singkat.


" Mau kamu bagaimana ? " Saka yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.


Prasta terdiam memainkan korek api di tangannya. Pikirannya kalut, hatinya bimbang. Ibunya juga tidak menyetujui keinginannya untuk pergi ke luar kota. Sahabatnya pun demikian. Ia mengusap wajahnya.


" Aku akan pikirkan lagi, " ucap Prasta kemudian.


*******


Saka menyodorkan sebotol air mineral dingin pada Prasta. Saat ini mereka berdua sedang berada di balkon kamar Saka.


Prasta menatap langit malam sembari duduk di lantai balkon. Tak banyak bintang di atas sana. Kembali ia teringat dengan Renata dan segala kenangan bersama gadis itu. Dadanya terasa nyeri dan sesak.


" Begitu yang aku rasakan dulu saat tau gadis yang aku cintai memilih laki-laki lain untuk bersamanya, " ucap Saka memecah keheningan di antara mereka.


Prasta menghela napasnya dalam, ingin menghilangkan rasa sesak di dadanya. Ditenggaknya air mineral pemberian sahabatnya.


" Cobalah untuk mengikhlaskannya. Biarkan semua berjalan apa adanya, Pras. Semua akan baik-baik aja. Yang dikatakan Danisha benar, Renata mencintai kamu. " Saka menenggak air mineralnya, menatap Prasta yang duduk tertunduk diam.


" Kalau dia mencintaiku, dia tidak akan menolak untuk aku lamar. Juga tidak akan pergi bersama laki-laki lain, " sahut Prasta datar.


" Karena kamu meninggalkannya. Kamu yang pergi, kan ? Kamu ga memberinya kesempatan dan pilihan. Jangankan berbicara, pesannya pun tak pernah kau hiraukan. Panggilan telponnya apalagi. Kau mengabaikannya. Ada kalanya kita lelah dengan segala usaha yang telah kita lakukan untuk mempertahankan apa yang kita miliki. Sementara yang coba kita pertahankan selalu mengabaikan dan bersikap acuh. "


Saka terdiam sesaat sembari menatap sahabatnya yang terduduk lesu di sampingnya.


" Pernahkah kamu bertanya pada Renata, dia bersedia atau tidak dilamar kamu ? Pernahkah juga kamu bertanya, apa alasan dia jika tidak bersedia kamu lamar ? " tanya Saka kemudian.


Prasta menghela napasnya panjang. Ucapan dan pertanyaan Saka benar-benar membuatnya berpikir dan mengingat kembali semua yang telah terjadi antara dirinya dan Renata.


Kemudian, ia menatap Saka sembari menggelengkan kepalanya.


" Jadi ? " Saka mengerutkan dahinya balas menatap Prasta.


Saka berdecak dan menatap Prasta dengan tatapan kesal. Sejenak kemudian ia berdiri dan berjalan mendekati pagar balkon. Ia tak habis pikir dengan segala yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Namun ia juga paham, Prasta sedang diliputi emosi pada saat itu. Ia merasa harga dirinya jatuh ketika Renata tidak ingin dilamarnya. Ditambah pula dengan rasa cemburu melihat kekasihnya bersama laki-laki lain. Saka kembali berdecak dan menatap Prasta yang masih terduduk lesu.


" Saranku, temui Renata dan bicarakan masalah kalian baik-baik. Jangan hanya diam dengan pikiran kalian masing-masing. Kamu masih cinta dia kan, Pras ? "


Prasta menautkan kedua telapak tangannya. Ia pun teringat pertemuannya dengan Pak Danny, Papanya Renata. Dirinya tak menyangka jika orang tua Renata sangat mengharapkan dirinya bisa kembali bersama anak gadisnya. Namun, baginya semua tak ada artinya jika ia memaksa Renata untuk kembali bersamanya jika hal itu tidak diinginkan Renata. Ia tahu, Renata telah memilih bersama laki-laki itu. Laki-laki dari masa lalunya yang telah kembali. Diam-diam Prasta memang mencari tahu siapa laki-laki bernama Bian, pemilik cafe yang juga teman dari Kak Mitha.


" Ga perlu, Ka. Biarkan dia bahagia bersama laki-laki yang dipilihnya. Aku akan baik-baik aja, " ujar Prasta yang sudah berdiri di samping Saka. Menatap langit malam


Seketika Saka menengok dan menatap Prasta yang berdiri di sampingnya. Kembali ia tak mengerti dengan sikap sahabatnya. Kenapa jalan pikiran sahabatnya ini begitu rumit menurutnya.


" Kamu menyerah ? Ga mau berjuang ? Ya Allah, Pras ! Aku bingung sama jalan pikiranmu, " cetus Saka.


Prasta menggeleng pelan dan berkata, " Seperti katamu, aku akan mencoba mengikhlaskan. Membiarkan semuanya berjalan apa adanya. "


Tbc



***Hellooww Cinta 💗💗


Masih edisi galau 🤭


Prasta galau malah dikeroyok ketiga sahabatnya, sabar ya Prasta 🤗 Emank gitu kan, namanya juga sahabat, pasti pengen yg terbaik buat sahabatnya. Btw, Saka so wise yaa... 😘


Baiklah, semoga tetap setia di sini ya Cinta 💗💗


Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat kalian semua 🤗😘💞💞**