
**Hai, Cinta ❤️ Aku kembaliii hehehe ... setelah sekian purnama 🤭 Maafkan ya, Cintaku 🤗🙏
Buat mulai lanjut cerita ini, aku tuh baca-baca lagi eps-eps sebelumnya hehehe ... mengingat dan ngumpulin lagi gimana alur kelanjutan ceritanya. Imoet masih terbayang DanSa soalnya nih! Kalian gimana? Don't worry, kalian masih bisa ketemu DanSa lagi di sini, kok. Yaa meskipun hanya sekilas-sekilas ya..
Semoga eps lanjutan ini masih bisa diterima dan gak melenceng dari alur cerita sebelumnya ya 😁
OK, HAPPY READING 🤗🙏
##########
"Aku mencintaimu, Renata. Please, maafkan aku. Aku memang salah udah berbuat kasar sama kamu. Aku ingin kita kembali seperti dulu, Ta," ucap Bian terus memohon pada Renata untuk memaafkannya.
Renata masih terdiam. Ia masih teringat perlakuan kasar Bian beberapa waktu yang lalu. Ia sungguh tidak menyangka Bian yang dikenalnya dulu sangat sopan, sabar dan penuh kasih sayang bisa berubah sangat kasar.
"Hun, mau kan maafin aku? Please, jangan diemin aku kayak gini terus," mohon Bian sekali lagi.
Renata memalingkan wajahnya, menatap Bian. Lelaki itu masih duduk bersimpuh di lantai dengan kedua tangan bertumpu di meja, menatapnya lekat dengan wajah sendu dan penuh penyesalan.
"Kamu juga berubah, Bi. Kamu bukan Bian yang aku kenal dulu," ucap Renata datar.
"Maafin aku, Hun. Aku khilaf. Aku hanya nggak suka didiemin, aku nggak suka diabaikan. Tolong kamu ngerti. Aku hanya ingin kita selayaknya sepasang kekasih," Bian mencoba menjelaskan keinginannya pada Renata.
"Tapi nggak harus berbuat kasar seperti itu, kan?" sanggah Renata.
Bian terdiam. Ia menarik napasnya berat.
"Ya, maafkan aku. Aku salah," aku Bian, tertunduk sesaat lalu berdiri mendekati Renata yang duduk di sofa tepat di seberangnya.
Bian duduk bersimpuh di hadapan Renata. Menggenggam tangan Renata, menatap gadis manis itu dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Maaf, ya," ucapnya sembari mencium sekilas tangan Renata.
Ia tatap kedua netra lelaki di hadapannya. Terlihat penuh penyesalan. Entah mengapa, hatinya langsung melunak. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Kamu maafin aku, kan? Bisa kita mulai lagi kebersamaan kita?" cecar Bian masih menggenggam kedua tangan Renata.
Renata menghela panjang napasnya, menatap Bian intens.
"Asal kamu tidak berbuat kasar lagi," pinta Renata.
"I promise!" ucap Bian, kedua jarinya membentuk huruf V di hadapan Renata.
********
Hari telah beranjak sore saat Prasta baru saja keluar dari sebuah gedung pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota dengan mengendarai motor sport-nya. Dengan santai ia melajukan motor, hendak menuju kantornya. Langit tampak cerah dengan warna birunya. Namun tidak dengan hatinya. Di dalam pusat perbelanjaan tadi, ia melihat Renata berjalan mesra dengan Bian. Hatinya kembali merasakan perih bak tergores sembilu yang benar-benar tajam.
Kenapa sesulit ini untuk bisa menerima keadaan yang tidak diinginkan? Bagaimana aku harus menjalani semua ini bila hatiku terlalu sakit hanya dengan mengingatnya, apalagi melihatnya? Ternyata tak semudah mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Tiiiiinnn ...!
Bunyi klakson mobil membuatnya tersentak kaget hingga ia sedikit oleng mengendarai motornya. Beruntung ia bisa menguasai keadaan, hingga ia menghentikan motornya mendadak di tepi jalan raya yang lumayan ramai. Ia menghembuskan napasnya panjang untuk menetralisir keadaan yang baru saja dialaminya.
Masya Allah, hampir aja!
Gumam Prasta dalam hati sembari mengusap kasar wajahnya. Sesaat kemudian ia menghidupkan mesin motor dan melajukannya menuju tempat kerjanya.
Sesampainya di kantor, ia terkejut mendapati Olly yang duduk di ruang tunggu.
"Olly?"
Olly mendongak, mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya. "Hai!" sapa Olly dengan riangnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman yang membuat gadis itu terlihat ... cantik! Ya, Prasta mengakui, teman masa kecilnya itu sangat cantik dengan wajah perpaduan Australia dan Jawa.
"Ada apa?" tanya Prasta dengan dahi mengernyit.
"Aku mampir. Ini buat kamu, aku yang bikin sendiri," ucap gadis yang berprofesi sebagai model itu sembari mengulurkan sebuah kotak makan berwarna hijau toska. Senyumnya belum hilang menghiasi wajahnya.
Prasta menatap kotak makan di tangan Olly dengan wajah datar. Dengan ragu, tangannya terulur meraih kotak makan itu. "Apa ini?" tanyanya lagi.
"Almond cheese cake, kesukaan kamu. Masih suka sama cake itu, kan?" balas Olly. Gadis itu tak pernah lupa jika sewaktu kecil, Prasta sangat menyukai almond cheese cake.
Perlahan Prasta membuka kotak makan pemberian Olly. Wangi khas kue berbahan campuran tepung almond dan keju itu, menguar menyapa indera penciumannya. Pandangannya tertuju pada beberapa potong kue kesukaannya yang berjajar rapi di dalam kotak makan itu. Wanginyaaa ... batin Prasta, tanpa disadari bibirnya mengulum senyuman.
Olly terkekeh geli melihat raut wajah Prasta. "Udah, ya! Aku permisi dulu, udah hampir telat, nih!" celetuk Olly yang seketika menyadarkan Prasta yang tertegun dengan penampilan cantik kue kesukaannya.
"Eh! Kok buru-buru? Kamu udah dari tadi?" cecar Prasta, sementara tangannya menutup kembali kotak makan berisi kue kesukaannya.
"Lumayan, sih! Udah, ya! Aku udah ditunggu. Cobain kuenya, ya. Kalau kamu suka, besok aku buatkan lagi," celoteh Olly dengan wajah semringah.
Prasta tersenyum menatap teman kecilnya yang tidak pernah berubah, penuh perhatian. "Makasih ya, Ly. Aku coba nanti, ya. Kamu jam berapa pulang?"
"Biasanya sih, jam 7 malam. Tapi belum tau juga, sih. Kenapa?" tanya Olly.
"Kalau kamu nggak ada acara, kita pulang bareng. Tapi kemungkinan aku selesai jam 8-an. Itu pun kalau kamu mau menunggu. Dan ... naik motor bukan mobil, ya," ujar Prasta terkekeh.
"Boleh! Nggak apa-apa jam 8. Ish! Kamu kok, gitu! Aku bukan cewek matre, Pras! Kayak baru kenal aku aja, deh!" jawab Olly disertai gerutuan.
Prasta tertawa lebar menanggapi gerutuan gadis blasteran di hadapannya. "Ya ... siapa tau kamu berubah setelah tinggal di Aussie sana. Ketemu banyak orang dan juga kanguru sama koala," lontar Prasta asal.
"Apaan sih, Pras! Udah, ah! Aku telat! Jam 8, ya! See ya, Pras!" seru Olly berpamitan. Gadis itu pun bergegas pergi dengan senyum riangnya.
"Thanks, Olly! See ya!" balas Prasta disertai gelengan kepala dan senyum simpulnya.
"Asyiiik! Ada yang lagi bahagia!" seru Angga.
"Sialan! Ngagetin aja, tau! Apaan, sih?" umpat Prasta.
"Kuenya bagi, dong!" seru Angga lagi, tatapannya tertuju pada kotak makan milik Olly dengan kedua alis yang dinaikturunkan.
"Big no! Nggak bakalan, ya! Permisi ...." sungut Prasta, berlalu meninggalkan teman seprofesinya dengan senyum smirk-nya.
Prasta menghempaskan pantat pada kursi kerjanya begitu sampai di meja kerja yang masih tampak tertata rapi. Kotak makan pemberian Olly diletakkannya di laci mejanya paling bawah. Namun, sedetik kemudian ia kembali membuka laci mejanya dan mengambil kembali kotak makan berisi kue kesukaannya. Ia penasaran. Dibukanya kotak makan itu, lalu diambil satu potong almond cheese cake. Gigi putihnya menggigit pelan kue itu, lalu dikunyahnya. Lidahnya bisa merasakan jika kue itu sangatlah lembut dan enak. No! Teramat sangat enak! Prasta melebarkan matanya merasakan kue yang sangat enak dan lembut di lidah. Mirip buatan ibunya. Tanpa menunggu lama, ia sudah menghabiskan dua potong kue almond keju itu.
"Pras! Woi!" suara Angga yang memekik di telinganya membuatnya hampir tersedak. Segera diraihnya tumbler di sudut mejanya dan langsung ditenggaknya hingga tersisa setengah.
"Sorry, Bro! Sorry!" seru Angga sembari menepuk pelan punggung Prasta.
"Wah! Keterlaluan bener, nih! Kamu mau aku mati tersedak, ya!" maki Prasta, tatapan tajam ia layangkan pada teman seprofesinya yang duduk bersebelahan dengannya.
Angga tergelak. Namun ia segera menahan tawanya ketika Prasta menatap tajam padanya.
"Sorry, Bro! Nggak sengaja, habisnya kamu dipanggil berlagak tuli, gitu!" tukas Angga.
"Mana hasil jalan-jalannya tadi. Buruan, ditunggu jam 6 sama Mas Bekti," tutur Angga serius.
"Harus sekarang? Biasanya jam 7, kan?" berondong Prasta.
"Si Bos mau ada acara di Balai Kota jam 7. Makanya kita diminta setor secepatnya," terang Angga. "Kenapa?" lanjut Angga.
"Nggak apa-apa, sih! Udah beres, kok!" sahut Prasta, tangannya terangkat menunjukkan flash disk yang berisi hasil jepretannya.
"Ya udah, buruan disetor," ujar Angga.
Prasta meraih tumbler, air yang tinggal setengah itu ia tenggak hingga tak bersisa. Setelahnya, ia segera bangkit dan berjalan menuju ruangan pimpinannya.
*******
"Jadi, gimana skripsi kamu?" Olly menatap teman masa kecilnya yang sedang asyik menikmati kentang goreng sembari sesekali menyeruput iced coffee brown sugar float yang dipesannya tadi. Mereka kini berada di restoran siap saji yang berada di pusat kota, mengambil tempat duduk di ruangan terbuka. Keduanya memutuskan untuk mencari tempat mengobrol sebelum pulang ke rumah. Mereka memesan kentang goreng porsi jumbo dan chicken wrap sebagai teman mereka ngobrol sekaligus makan malam keduanya. Olly menyeruput chocolate float-nya, menunggu respon Prasta.
"Udah mau kelar. Bab terakhir. Kamu sendiri?" sahut Prasta santai.
"Belum-lah, Pras! Insya Allah tahun depan," jawab Olly, menghela napas dalam.
Prasta menatap Olly yang menghela napas. Wajah gadis itu terlihat lelah.
"Banyak job?" tanya Prasta.
Olly mengedikkan bahu dengan kedua pipi mengembung, lalu menghembuskan napasnya. Menyiratkan jika gadis itu lelah.
"Kalau capek nggak perlu maksain diri, Ly," saran Prasta. "Sejak kapan sih, kamu terjun ke dunia model?" lanjut Prasta.
Olly menyuapkan kentang goreng dengan saus sambal ke dalam mulutnya. "Sejak pindah ke sini. Awalnya diajak pemilik butik langganan tante aku buat jadi model gaun pengantin rancangannya. Terus berlanjut, sampai akhirnya ditawari sama salah satu staf pengajar di sekolah modelling itu buat gabung. Ya, udah! Lanjut sampai sekarang. Lumayan juga, sih, bisa buat bayar kuliah. Papa awalnya keberatan karena takut aku nggak fokus kuliah. Tapi lambat laun, Papa paham. Katanya, dari pada waktu luangku terbuang percuma mending dipakai untuk hal-hal yang positif, menghasilkan pula. Cuma, si Papa berkali-kali berpesan agar menghindari gemerlap dunia modelling dan hiburan. Menjaga diri dan berhati-hati. Jangan sampai terjerumus dan ikut-ikutan teman yang hobi berfoya-foya dan sering menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak baik," tutur Olly dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Papa kamu benar, kok. Kamu pasti juga paham kan, apa yang dimaksud Papa kamu. Nggak gampang terjun dan bergulat dengan pekerjaan kamu sekarang ini. Banyak godaan bersamaan dengan semakin melejitnya karier kamu," ujar Prasta membenarkan pendapat dari Papa gadis blasteran di hadapannya.
"Sejauh ini, kamu sendiri, gimana?" tanya Prasta sembari menghisap rokok yang baru saja dinyalakannya.
"Aku? Maksudnya, gimana?" Olly menunjuk dirinya sendiri dan bertanya balik pada Prasta, kurang paham maksud pertanyaan laki-laki teman masa kecilnya.
"Yaa ... selama kamu jadi model gimana pergaulan kamu dan teman-temanmu? Apa kamu juga suka nongkrong di cafe dan club? Menghadiri pesta-pesta para pelaku entertainment?" tanya Prasta, raut wajahnya terlihat serius.
Olly menatap Prasta. "Menurutmu?"
"Ayolah, jangan malah balik nanya sementara pertanyaanku belum kamu jawab. Kamu terlihat sangat menikmati dunia kamu, Ly. Benar?" tebak Prasta.
Olly mendengus dan mencebikkan bibirnya. "Jujur, iya! Sometimes aku datang ke pesta yang mereka adakan. Tapi tidak sering. Nongkrong di cafe? Sama-lah kayak kamu, lumayan sering. Tapi kalau club, aku menghindari. Papa nggak ngijinin. Meskipun bagi Papa, club adalah hal biasa di negara asalnya, tapi no excuse for me, his daughter. Mungkin terdengar aneh ya, masa iya seorang bule melarang anaknya nongkrong di club atau pesta-pesta. But yeah ... that's my Dad. Dia nggak mau anaknya mengikuti kebiasaan di negara asalnya yang menurutnya banyak buruknya," ungkap Olly panjang lebar diakhiri dengan kedua bahu yang terangkat. Senyum lebar menghiasi wajah bule-nya.
Prasta tersenyum mendengarkan Olly bercerita. Gadis itu masih belum berubah, tetap ceriwis. Bicaranya banyak kalau sudah mulai bercerita seperti ini. Ollyandra Acacia Collin, nama lengkap gadis bule di hadapannya ini.
"Lama nggak ketemu Papa dan Mama kamu. Mereka sehat, kan?" tanya Prasta penuh perhatian.
"Sure! Mereka baik!" sahut Olly semringah.
"Syukurlah!" Prasta tersenyum sembari menghisap benda bernikotin di tangannya.
"Kak Prasta!"
Kepala Prasta refleks menoleh pada sumber suara. "Rakha? Hai!" Prasta bangkit dari duduknya, mematikan bara pada batang rokok yang dihisapnya. Lalu menghampiri adik Renata yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk bersama Olly.
Rakha menatap Prasta dengan wajah datar, sesekali pandangannya tertuju pada gadis yang duduk bersama Prasta.
"Sendirian?" tanya Prasta saat sudah berdiri persis di hadapan Rakha.
"Sama teman-teman," jawab Rakha sembari menunjuk beberapa temannya yang baru saja masuk ke dalam gerai restoran siap saji itu.
Prasta tersenyum dan mengangguk. "Kamu apa kabar? Papa dan Mama sehat?"
"Aku baik! Papa Mama sehat, alhamdulillah!" jawab Rakha. Kembali netranya menatap Olly.
Prasta baru menyadari jika Rakha memperhatikan Olly. "Itu teman kakak." Prasta merangkul bahu Rakha, mengajaknya menghampiri tempat duduknya.
"Namanya Olly, kenalin. Ini Rakha, adiknya Renata, Ly," ujar Prasta dengan seulas senyum di bibirnya.
"Hai! Aku Olly," ucap Olly menjulurkan tangannya untuk bersalaman, senyum merekah di bibirnya.
Rakha menyambut uluran tangan Olly. "Rakha!" ucapnya datar. Pandangannya beralih pada Prasta yang tersenyum padanya.
"Aku nungguin kakak di rumah beberapa waktu lalu. Tapi Kakak nggak muncul," ujar Rakha dengan raut kecewa.
"Ah, iya! Maaf ya, kakak lagi sibuk banget waktu itu. Maaf juga nggak kasih kabar ke kamu," jelas Prasta menyesal. "Lusa kakak ada waktu, sore. Gimana?" tawar Prasta.
Rakha tersenyum tipis. "Boleh! Tapi janji ya, Kakak pasti datang," pinta Rakha yang mendapat anggukan dari Prasta.
"Ya, tentu!" jawab Prasta yakin.
Sebuah senyuman terbit di wajah Rakha. Lalu ia permisi untuk menyusul teman-temannya. Namun langkahnya terhenti saat Prasta memanggilnya kembali dan menghampirinya.
"Kamu udah pamit sama Papa dan Mama pergi keluar jam segini?" tanya Prasta.
"Udah. Tapi Papa dan Mama lagi nggak di rumah. Pergi ke Semarang," jawab Rakha.
"Tapi kamu pamit sama mereka kan, kalau saat ini kamu keluar rumah sama teman-teman kamu? Jangan sampai membuat mereka khawatir ya, Kha. Dan jangan berbohong," tutur Prasta mengingatkan.
"Tentu, Kak! Kami ke sini hanya akan makan, setelah itu langsung pulang. Kami baru saja selesai latihan basket. Kakak ngga perlu khawatir," jelas Rakha tersenyum simpul. "Makasih, Kak. Sampai ketemu lusa," imbuhnya.
"Ok, hati-hati, ya! Kakak juga mau pulang." Prasta menepuk bahu adik mantan kekasihnya. Tersenyum dan mengangguk pada anak lelaki itu.
Rakha mengangguk dengan sebuah senyuman di bibirnya, lalu beranjak pergi menyusul teman-temannya.
Prasta menghela napasnya panjang menatap kepergian Rakha. Dadanya kembali berkecamuk dengan rasa perih.
Bagaimana aku bisa melupakan dan merelakanmu? Bukan hanya dirimu. Adikmu, kedua orang tuamu dan semua tentangmu seperti tak mau pergi dari diriku.
Tbc