LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 6 Ternyata



Renata benar-benar tidak percaya dengan kehadiran laki-laki bertubuh atletis di hadapannya. Laki-laki yang pernah mengisi hari-hari nya 2 tahun yang lalu. Debaran jantungnya membuat ia salah tingkah.


" Hey, kok bengong ! Kamu apa kabar, Ata ? " tanya Bian sedikit menunduk dan mendekat ke wajah Renata.


Sontak Renata sedikit menjauhkan wajahnya.


" Hah ! Eh, A... Aku baik ! " jawab Renata gugup. Ia tersenyum salah tingkah sambil melirik ke arah teman-temannya.


" Ren, keknya mending kalian berdua duduk deh, daripada berdiri gitu. Ga capek ? " celetuk Kak Ella terkekeh pelan yang diikuti oleh Dian dan Mala.


Laki-laki bernama Bian pun ikut terkekeh.


" Oh ya, maaf udah mengganggu keasyikan kalian, " ucap Bian.


" Ah it's ok, no problem. Silahkan kalo mau lanjut sama Renata, " cetus Kak Ella.


Seketika Renata menatap Kak Ella, matanya membeliak. " Apaan sih ! " bisik Renata menahan suaranya.


Kak Ella dan kedua temannya pun menahan tawanya.


" Udah, sana ambil tempat duduk berdua di sana tuh ! " kelakar Dian sambil sedikit mendorong tubuh Renata.


" Ish, Dian. Apaan coba ! " gerutu Renata.


" Boleh, ya ? Aku bawa Renata nya ? " tanya Bian pada teman-teman Renata.


" Owh... boleh banget ! Bawa aja ! " cetus Kak Ella yang membuat Dian dan Mala cekikikan.


" Kak Ella, ih ! " kesal Renata.


" Jadi ga mau duduk sama aku di kursi sebelah sana ? " tanya Bian, tangan kokohnya menunjuk tempat duduk yang terletak di ujung ruangan restoran itu.


" Udah, Ren. Ga apa-apa, kita paham kok, " sahut Mala.


" Baiklah, terima kasih. Aku pinjam Renata dulu ya, " tukas Bian yang langsung menggamit tangan Renata dan berjalan sedikit memaksa gadis itu bersamanya duduk di meja dan kursi terpisah dari teman-temannya.


" Bian, apaan sih ! Lepasin ! " sungut Renata.


Sesampainya di meja di ujung ruangan restoran itu, Bian mengambilkan kursi dan meminta Renata untuk duduk.


Renata tak ada pilihan selain mengikuti kemauan Bian. Ia pun duduk. Ia menoleh ke arah tempat duduk teman-temannya dengan tatapan tajam. Ketiga temannya menutup mulut menahan tawa mereka.


" Kamu makin dewasa, Ata, " suara Bian mengagetkannya.


Renata berusaha menetralkan degup jantungnya. Bian, laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya. Yang pernah membuat hidupnya berwarna. Laki-laki bertubuh atletis yang membuatnya suka dengan olah raga basket. Dan laki-laki ini yang sempat membuat hidupnya tak tahu arah karena tiba-tiba pergi tanpa berpamitan padanya secara langsung. Hanya sebuah surat pendek yang ditinggalkannya untuknya. Dan itu cukup membuat dirinya terpukul. Selama kurang lebih 2 tahun ia berusaha untuk bangkit. Kedua orang tuanya tak henti memberikan dukungan dan nasihat supaya ia bisa melupakan semuanya yang berkaitan laki-laki ini.


Lalu tiba-tiba sekarang, laki-laki ini muncul di hadapannya tanpa merasa bersalah. Seolah semuanya masih sama seperti dulu. Seolah tak peduli dengan hatinya yang sudah terkoyak.


" Kok melamun ? " tanya Bian menatap wajah gadis di hadapannya.


" Hah ? Ga, ga melamun kok ! " ujar Renata gugup.


" Kaget ya, liat aku di sini ? " tanya Bian lagi.


" Uummm... iya sih ! Kaget banget ! " jawab Renata canggung, menarik napasnya panjang. Kedua tangannya diusap-usapkan di kedua pahanya. Ia mencoba bersikap tenang.


" Papa dan Mama apa kabar ? " Bian bertanya pada Renata lagi, kali ini menanyakan kedua orang tuanya.


" Baik. Kami semua baik, kok ! " sahut Renata tersenyum tipis.


Lalu tiba-tiba Bian terkekeh.


" Ga nyangka kita bisa ketemu lagi. Dan kamu, makin terlihat dewasa dan... makin manis, " ucap Bian, pandangannya tak lepas dari wajah bersih Renata.


Renata semakin dibuat salah tingkah. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela. Sepertinya hujan. Jendela kaca mall itu basah oleh titik-titik air hujan. Tiba-tiba ia teringat semuanya. Dadanya bergemuruh dan sesak. Ia ingin menangis, tetapi sekuat tenaga ia bertahan.


*******


Prasta baru saja memasuki pelataran parkir sebuah mall saat rintik hujan turun, sedikit membasahi dirinya.


Dikibas-kibaskannya tetesan air hujan yang sempat jatuh membasahi tubuhnya sesaat setelah memarkirkan motornya. Pakaiannya sedikit basah, mungkin nanti ia akan mengganti pakaiannya di toilet mall karena ia akan bertemu klien dengan Kak Mitha.


Masih ada waktu sekitar 10 menit. Ia pun bergegas masuk ke dalam mall. Mencari toilet dan mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian lain yang ia bawa di dalam tasnya. Prasta memang selalu prepare akan kebutuhan dirinya.


Ponsel Prasta berbunyi tanda pesan masuk. Pesan dari Kak Mitha yang mengatakan ia sudah di restoran tempat mereka membuat janji. Prasta pun membalas pesan Kak Mitha jika ia juga sedang menuju ke sana.


Kak Mitha terlihat melambaikan tangan ke arahnya, saat Prasta sudah berada di depan sebuah restoran masakan Western. Ia pun masuk ke dalam yang disambut oleh seorang pelayan. Setelah Prasta mengatakan akan menemui seseorang dengan menunjuk ke meja Kak Mitha, pelayan itu pun mempersilahkannya menuju ke meja yang ia tunjuk.


" Kehujanan ya ? " tanya Kak Mitha.


" Sedikit. Hujannya pas mau masuk mall tadi. Jadi ga terlalu basah juga. Untung bawa pakaian ganti. Hehehe.... " jawab Prasta terkekeh pelan.


Prasta melihat sekeliling. Ia mengamati desain ruangan restoran itu.


" Kamu mau pesan apa, Pras ? " tanya Kak Mitha membuatnya segera mengalihkan pandangan pada Kak Mitha.


" Ngikut Kakak aja lah ! " ujar Prasta dengan senyum simpulnya.


" Aku cuma pesan veggie salad lho ! Kamu mau juga ? Ga mau steak ? " tanya Kak Mitha lagi.


Prasta tersenyum lebar.


" Iya, Kak. Veggie salad enak juga kok. Sama jus alpukat aja. Itu cukup mengenyangkan, Kak, " ucap Prasta.


" Ok. Mbak, 2 veggie salad, 1 jus alpukat dan 1 jus melon ya. Oh ya, french fries nya 1 ya, Mbak, " pesan Kak Mitha pada pelayan restoran itu.


Pelayan itu mengangguk dan sebelum ia beranjak, ia mengulang kembali pesanan Kak Mitha. Setelah Kak Mitha mengangguk, pelayan itu pun pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.


" Jadi ini restoran punya teman kata Mitha ? " tanya Prasta.


" Punya orang tuanya tepatnya, Pras. Teman kakak hanya membantu mengelolanya. Denger-denger sih, memang mau diwariskan ke dia. Tapi kakak juga kurang tau sih, bener ga nya, " jelas Kak Mitha.


" Owh gitu... aku sering ke mall ini tapi baru kali ini masuk restoran ini. Emang ini restoran udah lama ya, Kak ? " tanya Prasta lagi.


" Keknya udah 2 - 3 tahunan lah, " jawab Kak Mitha.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Dan pelayan itu juga mengatakan kalo Boss nya sedikit terlambat datang karena masih ada keperluan.


Kak Mitha pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


" Kita makan dulu aja, Pras, " ujar Kak Mitha.


" Iya lah, Kak. Masa makanan udah datang kita anggurin, nunggu teman Kak Mitha datang dulu. Nanti ga enak, lagian perut juga udah minta diisi. Hehehe.... " kelakar Prasta yang disambut dengan kekehan Kak Mitha.


" Mulai deh, cengengesan, " kata Kak Mitha.


Prasta tertawa pelan.


Kemudian mereka menyantap makanan pesanan mereka.


Saat mereka sudah menghabiskan makanan mereka, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara yang memanggil nama Kak Mitha.


" Mitha ! " seorang laki-laki muda bertubuh atletis menghampiri tempat mereka duduk.


" Hai ! Lho, kamu udah pulang ? Ga betah di sana ? " seru Kak Mitha pada laki-laki muda itu.


" Yaaa begitulah... Eh, ga begitu juga kali ! Betah ga betah, Mitha. Sorry buat kamu nunggu. Si Ryan nih yang keterlaluan, bikin janji selalu mbleset, ck, " lelaki muda itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


" Kalo ga begitu bukan kakak kamu, Bi, " Kak Mitha tertawa diikuti oleh lelaki itu.


Prasta hanya terdiam dan tersenyum tipis, melihat dan mendengarkan obrolan mereka.


" Eh, ya. Sorry, Pras. Kenalin, ini adik teman kakak, " kata Kak Mitha kemudian.


" Bukannya adek kamu cewek ya ? "


" Owh, sorry. Ini Prasta, dia teman adek aku yang bantuin aku ngurusin EO, " jelas Kak Mitha.


Lelaki muda itu manggut-manggut.


Prasta berdiri dan tersenyum, ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


" Prasta. "


" Bian, " ujar lelaki itu menyambut tangan Prasta.


Keduanya tersenyum.


******


Prasta dan Kak Mitha berpamitan setelah lebih dari satu jam mereka bertiga berdiskusi mengenai acara pembukaan cafe milik lelaki muda yang bernama Bian itu. Sementara teman Kak Mitha, Ryan, yang ternyata kakak dari Bian, tidak bisa datang karena ada suatu keperluan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Karena memang sesungguhnya acaranya untuk cafe milik Bian, maka memang seharusnya Bian lah yang lebih berkepentingan untuk meeting tersebut.


" Jadi Bian itu adek dari teman kakak yang bernama Ryan itu, " ujar Prasta ketika mereka sudah meninggalkan tempat itu.


Kak Mitha mengangguk.


" Itu anak emang agak kurang ajar, manggil kakak dengan nama doang dari dulu. Apalagi dia tinggal di Swiss buat kuliah 2 tahun ini, " kata Kak Mitha tersenyum lebar.


" Kamu bisa aja sih, Pras. Ini aku langsung pulang ya. Kamu masih mau jalan ? " tanya Kak Mitha.


" Uummm... keknya langsung pulang ya. Tadi ditelpon Ibu suruh antar ke rumah saudara, Kak, " jawab Prasta.


" Ok, aku duluan ya... Besok ke kantor ya, Pras. Kita bikin konsep acara cafe nya Bian, " kata Kak Mitha semangat.


" Pasti, Kak. Besok kebetulan ga ada jadwal kuliah, jam 9 pagi aku langsung ke kantor, " sahut Prasta yang juga nampak bersemangat.


" Good ! Sampai ketemu besok, ya.... "


" See ya, Kak ! "


Mereka pun berpisah. Kak Ella menuju tempat parkir mobilnya sedangkan Prasta menuju tempat parkir motor yang berada di basement. Namun sebelum itu, ia pergi ke toilet. Keluar dari toilet, ponselnya berdering.


Panggilan telepon dari Saka.


" Ya, Bro. "


" Pras, kamu sibuk ? "


" Baru selesai meeting. Bagaimana, Danish ? " tanya Prasta berharap sahabatnya mengatakan semua baik-baik saja dan ga ada yang perlu dikhawatirkan.


" Danish... Kamu jadi ke sini ? "


" Ka, Danish kenapa ? Aku mungkin baru bisa ke sana malam ya. Aku antar Ibu dulu ke rumah saudara. Setelah itu baru ke rumah sakit. "


" Menginap ? "


" Insya Allah, Bro. "


" Danisha butuh kita. Aku harap kamu dan Distha bisa ke sini. Menemani dan menghiburnya. "


" Bro, everything are ok ? " tanya Prasta cemas mendengar kalimat yang diucapkan Saka.


" Aku akan cerita setelah kamu di sini. Bye, Pras. Assalamualaikum.... "


" Waalaikumsalam.... " jawab Prasta lalu menekan tombol merah dalam layar ponselnya.


Ponselnya ia masukkan kembali ke dalam saku celananya.


Saat ia sedang berjalan menuruni eskalator, matanya menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Wait ! Prasta memicingkan matanya, sepertinya ia juga tidak asing dengan laki-laki itu.


Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika ia mengingat siapa laki-laki itu. Matanya tak berhenti menatap dua orang berlainan jenis itu yang berada di depan sebuah butik.


Mereka berbicara begitu asyik, sesekali tertawa lepas.


" Jadi ini sebabnya kamu menolak untuk aku ajak lebih serius ? " batin Prasta. Dadanya sesak, hatinya sakit. Ia menghela napas nya kasar.


" Baiklah, Renata Eka Andara. Jika memang begitu, lebih baik kita sudahi semuanya, " monolog Prasta dalam hatinya.


Prasta bergegas menuju tempat parkir di lantai basement mall tersebut tanpa memperhatikan kedua orang itu. Dadanya bergemuruh. Ia mencoba menenangkan dirinya ketika ia sudah sampai di tempat motornya diparkir.


Ia mengatur napasnya yang tak beraturan. Hatinya perih.


Teringat jelas di pikirannya, bayangan kedua orang itu yang terlihat sangat dekat dan akrab. Sempat pula tadi ia melihat Bian mengacak rambut Renata.


" Karena inikah, Ay ? " batin Prasta.


Terjawab sudah rasa kecewanya waktu itu. Dan saat ini, rasa kecewanya semakin bertambah ketika melihat kejadian tadi.


Prasta akan segera mengakhiri semuanya. Setelah semua urusannya selesai, ia pun akan menyelesaikan urusannya dengan Renata.


*******


Renata tertawa lepas ketika Bian mengajaknya bernostalgia mengingat masa-masa sekolah di SMA. Mereka bersekolah di SMA yang sama. Bian adalah kakak kelas Renata.


Mereka berdua sedang menunggu ketiga teman Renata yang sedang memburu diskon di sebuah gerai pakaian dan aksesoris.


Sebenarnya Renata ingin segera pulang, tetapi teman-teman nya masih asyik berbelanja di gerai tersebut.


" Kenapa ? Kamu kok gelisah begitu ? " tanya Bian.


" Ga, ga kenapa-kenapa kok. Capek aja. Lagian udah sore nih. Mereka kalo udah kelihatan diskon pada lupa segalanya, " ujar Renata, mulutnya mencebik.


Bian tertawa dan spontan mengacak rambut Renata.


" Masih suka begitu ya ? " tawa Bian membuat Renata makin mencebikkan mulutnya.


Bia semakin tergelak melihat sikap Renata.


" Ta, minggu depan datang ya di acara pembukaan cafe ku, " kata Bian.


" Cafe ? Kamu buka cafe ? Yang bener ? " cecar Renata, matanya seketika membuka lebar.


" Eh ! Kok melotot begitu ? Kenapa emangnya kalo aku buka cafe ? "


" Kek bukan kamu deh ! " cetus Renata.


Terang aja Renata heran karena ia tahu betul, Bian suka olah raga terutama basket dan dia tidak menyukai hal yang berhubungan dengan masak memasak.


Bian tersenyum, apa yang dikatakan Renata benar adanya.


" Orang bisa berubah, Ata, " ujar Bian, kali ini nadanya sedikit serius.


Renata menautkan kedua alisnya.


" Kenapa ? Aku udah berubah, Ta. Aneh ya ?Tapi aku tetap suka basket. Kapan kita tanding lagi ? " Bian terkekeh.


" Sejak kapan ? " tanya Renata.


" Sejak aku di Swiss. Hidup sendiri di sana membuatku mau tak mau melakukan semuanya sendiri. Awalnya sih kacau, tapi beruntungnya aku, ada teman yang mengajari aku memasak dan membantuku bagaimana cara bertahan hidup di sana, " kembali Bian bercerita sembari terkekeh.


Renata tersenyum. Ya, Bian anak yang terbilang manja. Kedua orang tuanya termasuk orang yang punya segalanya. Apapun yang ia minta, jarang sekali orang tuanya tidak mengabulkannya.


" Syukurlah ! " ucap Renata singkat, terukir senyuman manis dari bibir mungilnya.


Renata melihat ketiga temannya keluar dari gerai berdiskon. Ia tersenyum senang.


" Udah kelar, kan ? Kita pulang sekarang deh ! " tukas Renata.


" Eh nanti dulu lah, kita belum jalan ke sana loh ! " sahut ketiganya bersamaan.


Renata melotot.


" Bisa ya, kalian.... " cetus Renata kesal.


" Ren, kamu balik dulu ga apa-apa deh ! " ujar Kak Ella mengedipkan sebelah matanya.


" Hu um, keknya lebih baik gitu. Kamu balik dulu aja ga apa-apa, " timpal Mala.


" What ? Eh, La. Tadi sapa sih yang ngotot ngajakin aku jalan. Ish ! " Renata memutar kedua bola matanya.


Ketiga temannya tertawa. Kak Ella mendekat ke telinga Renata dan berbisik, " Sumpah ! Cakep lho, Ren ! Udah pulang ma dia aja ! "


" Kak Ella, ish ! " Renata hendak mencubit Kak Ella, tapi atasan di kantornya itu keburu menghindar.


" Daaaah, Ren...! " Ketiga temannya pun bergegas pergi melambaikan tangannya dan tertawa tergelak.


" Dasaaarrrr ! Ish ! Sebel banget kalo gini ! " Renata benar-benar kesal.


Bian tertawa lebar melihat kejadian di hadapannya. Apalagi melihat Renata yang kesal, raut wajahnya cemberut dengan bibir yang dimajukan.


" See ! Mereka paham lho, Hun. "


Dahi Renata mengernyit. Ia tak salah dengar, kan ? Apa tadi Bian bilang, Hun ?


Tbc


Bian





***Hello Cintaaaa 💗💗💗


Aku lempar ya visual si Bian... tetap jaga jarak aman anda Cintaaaa 🤧


Happy banget bisa up lagi 🤗


Thank you buat yang setia menanti story ini 🤗😘


Love you as always Cintaaa 😘😘💗💗💗***