
Rakha melambaikan tangannya saat melihat Prasta yang baru saja masuk ke dalam kafe di lantai bawah gedung perkantoran tempat Prasta bekerja. Prasta pun tersenyum dan membalas lambaian tangan Rakha. Namun sebelum ia menuju ke tempat di mana Rakha duduk, ia berjalan ke arah meja kasir. Rupanya ia melihat Olly di sana.
"Olly!" sapanya pada gadis yang sedang berdiri di depan meja kasir.
"Hai! Mau kopi juga? Sekalian nih, aku pesankan," balas gadis itu dengan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.
Prasta pun tertawa, mengacak pelan rambut gadis teman kecilnya. "Kamu ngopi? Nggak makan?" cecar Prasta.
"Lagi pengen kopi. Jam 10.00 tadi baru aja makan," jawab Olly, tersenyum lagi.
"Jangan biasakan kopi sebelum makan, Ly. Nggak baik buat perut kamu. Jangan diet berlebihan, ya!" tutur Prasta.
"Eh? Apaan coba, pakai nasihatin segala! Kamu tuh, yang harus berhenti merokok!" cibir Olly.
"Dibilangin jangan diet berlebihan. Kamu tuh jelek kalau kurus!" sahut Prasta dengan gelak tawa dan tangannya kembali mengacak rambut Olly, membuat gadis itu mendengus kesal.
"Dasar!" sungut Olly dengan bibir mencebik.
Prasta terkekeh, lalu mendekat pada kasir di kafe itu. "Mbak, meja yang itu udah pesan?" tanyanya.
"Udah, Kak!" jawab si Kasir.
"Nanti tolong antarkan ke sana, satu americano dan satu french fries yang large, ya!" lanjut Prasta.
"Baik, Kak. Ada tambahan lain?" tanya si Kasir.
"Sementara cukup. Thanks, ya!" sahut Prasta.
Olly menatap Prasta dengan kening yang berkerut dan bibir yang masih mencebik.
Prasta tertawa kecil melihat raut kesal Olly. Lalu ia mendekat dan berbisik. "Kamu seksi kalau bibir kamu begitu!"
Setelah mengatakan hal itu, Prasta segera beranjak dari tempat itu. Dengan langkah lebar dan gelak tawa, ia meninggalkan Olly dengan wajah yang merona dan menatapnya kesal.
Rakha memperhatikan interaksi Prasta dan Olly. Gadis itu lagi, batinnya. Rakha menyesap cappucino nya perlahan dengan mata yang tak lepas dari dua sosok manusia yang berdiri di depan kasir.
"Sorry ya, udah nunggu. Menyapa teman dulu," ujar Prasta sembari melempar pandangannya pada Olly yang sedang berbicara dengan si Kasir. Kemudian ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Rakha.
"Jadi ... Ada apa?" tanya Prasta menatap adik satu-satunya Renata.
Rakha tersenyum menatap Prasta. Ia terdiam sesaat, bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Sebenarnya ini bukan urusan Rakha. Lebih tepatnya Rakha nggak berhak ikut campur. Maaf sebelumnya, Kak," ucap Rakha akhirnya.
Prasta menatap Rakha dengan tatapan bingung dan kedua alis hitamnya yang hampir bertaut. Lalu tersenyum kecil pada Rakha. "Hei! Ada apa ini? Kakak nggak paham, Kha! Kita nggak ada masalah, kan?" tanya Prasta bingung.
Rakha menghela napasnya singkat dan terkekeh. "Aku sendiri pun bingung, Kak. Tapi aku merasa harus membicarakan ini dengan Kakak," ujar Rakha ragu.
"Membicarakan apa? Sepertinya serius benar, ya!" Prasta semakin bingung dan penasaran dengan arah pembicaraan Rakha.
"Baiklah! Sebelumnya Rakha minta maaf. Seharusnya ini bukan urusan Rakha. Tapi Rakha tidak bisa diam saja jika menyangkut saudara perempuan Rakha satu-satunya," papar Rakha serius.
Seketika Prasta menegakkan duduknya. Menatap Rakha dengan tatapan serius. "Menyangkut saudara perempuan kamu?" tanyanya dengan raut wajah yang benar-benar serius. Ada apa lagi ini? Batinnya.
"Maaf sekali lagi, Kak. Rakha hanya ingin tahu bagaimana hubungan Kakak dengan Kak Ata?" tanya Rakha dengan ragu.
Prasta terkekeh sesaat. Ia menundukkan kepalanya sambil menahan tawanya. Seorang pelayan mengantarkan pesanan Prasta, membuatnya urung tertawa. Prasta mendongak, mengucapkan terima kasih pada si Pelayan itu. Si Pelayan pun segera berlalu meninggalkan kedua lelaki muda itu.
Prasta menghela napas panjang sebelum melanjutkan bicaranya. "Kami sudah lama berakhir. Kamu tau itu, kan?"
"Tapi apa memang benar-benar berakhir? Tidak bisa kah kalian perbaiki?" cecar Rakha.
Prasta mengusap wajahnya pelan, lalu menatap Rakha diikuti gelengan kepala. "Maaf!" lirihnya.
"Kenapa?" tanya Rakha lagi, tidak puas dengan jawaban Prasta, lelaki yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri.
"Kakak kamu tidak ingin bersamaku," jawab Prasta, sesak dadanya mengatakan hal itu. "Sudah ada ... siapa itu ... Bian! Iya, Bian!" lanjutnya. "Pilihan kakak kamu benar, Rakha! Masa depannya akan lebih baik jika bersama Bian. Aku? Cuma seorang wartawan foto receh. Nggak ada bagusnya!" imbuhnya lagi dengan tergelak, tetapi hatinya meringis sakit.
"Kak! Kak Ata bukan orang yang seperti itu. Papa dan Mama juga nggak pernah melihat Kakak dari segi materi atau pekerjaan. Mereka ...."
"Aku tau, aku paham. Keluarga kamu keluarga baik-baik. Aku sangat menghormati orang tua kamu. Mereka terlalu baik. Tapi kakak kamu nggak mau bersamaku. Aku tidak akan memaksa dan aku tidak marah dia lebih memilih Bian. It's ok! Memang kami tidak berjodoh," sela Prasta.
"Uummm ... Pras! Eh, maaf mengganggu. Aku naik dulu. Nanti aku telpon kamu, ya." Tiba-tiba Olly datang dan menyela obrolan mereka.
Prasta berdiri dan tersenyum menatap Olly. "Udah? Jam berapa selesai?" tanya Prasta.
"Jam 5 sore mungkin," jawab Olly, matanya melirik Rakha sekilas.
"Ok, aku tunggu!" sahut Prasta, tangannya mengacak pelan puncak kepala Olly. Olly pun tersenyum kikuk. Lalu berpamitan pada Prasta dan Rakha, meninggalkan kafe itu.
"Dia ... pacar kakak?" tanya Rakha ragu.
Prasta tersenyum tipis. "Kenapa?"
"Aku sepertinya nggak asing dengan wajahnya," cetus Rakha, mengingat-ingat wajah Olly yang familiar.
Prasta terkekeh. "Dia seorang model," sahut Prasta singkat.
"Ah, iya! Dia sering jadi model di acara-acara peragaan busana pengantin, bukan?" celetuk Rakha setelah mengingatnya. Prasta tertawa dan mengangguk.
"Jadi dia pacar kakak?" tanya Rakha tak menyerah.
"Kalau pacar, kenapa? Kalau bukan, kenapa juga?" tanya balik Prasta dengan mengangkat kedua alis hitamnya.
Prasta menghela napas dalam. "Emang apa yang kalian harapkan dari aku? Aku bukan siapa-siapa," ucapnya datar.
"Maaf ya, Kak! Bukan maksud Rakha mencampuri privasi Kakak. Papa sangat mengharapkan Kak Prasta. Kalau Kakak udah punya pacar, Rakha bisa bilang sama Papa jika hubungan Kak Prasta dan Kak Ata memang udah benar-benar berakhir dan tidak bisa diperbaiki lagi," jelas Rakha.
Prasta mengambil satu batang rokok dan menyulutnya. "Baiklah. Bilang saja begitu sama Papa. Sampaikan maafku pada Papa dan Mama, maaf karena Kak Prasta tidak mampu untuk memenuhi harapannya. Meskipun kedua orang tuamu mendukung, tapi yang bersangkutan tidak ingin, untuk apa? Nanti hanya akan saling menyakiti. Kamu paham, kan? Maafkan, Kakak," papar Prasta sembari menghisap rokoknya.
"Oh, ya! Satu permintaan Kakak. Jaga baik-baik kakak kamu," imbuh Prasta.
Rakha tersenyum dan mengangguk paham. "Tentu, Kak. Begini-begini dari dulu aku selalu menjaganya. Dia kakakku satu-satunya," tegas Rakha.
Prasta pun mengangguk. "Good! Emang seharusnya begitu, karena kamu laki-laki. Menjaga dan melindungi saudara perempuan adalah tugas saudara laki-laki," sahut Prasta. Lalu ia mengambil kentang goreng dan mengunyahnya.
Keduanya pun menikmati kopi dan kentang goreng dengan sesekali berdiskusi tentang fotografi, hingga tak terasa hampir 2 jam mereka mengobrol. Prasta pun harus kembali ke ruangan kantornya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Rakha, ia sedang menunggu temannya yang berjanji akan datang menemuinya di kafe itu.
********
Renata berjalan keluar dari perpustakaan kampus. Ia akan menemui Dosen Pembimbing untuk konsultasi skripsinya di bab selanjutnya. Tinggal 2 bab lagi selesai, batinnya. Di depan ruangan dosen, ponselnya berbunyi. Gadis itu segera menggeser tombol hijau di ponselnya untuk menjawab panggilan video dari kekasihnya.
"Hai!" sapanya dengan lambaian tangan pada layar ponselnya. Nampak wajah Bian sedang menatapnya.
"Hai, Hun! Masih di kampus?" tanya Bian semringah sambil menyugar rambut hitamnya.
"Seperti yang kamu lihat," Renata mengarahkan layar ponselnya ke sekelilingnya agar kekasihnya bisa melihat latar belakang posisinya saat itu.
"Mau bimbingan dulu. Doa-in lancar, ya!" pintanya.
"Tentu, Hun! Berapa lama bimbingannya?" Bian menatap gadisnya dengan tatapan sendu.
"Paling lama satu jam. Kenapa?"
"I just landed. I miss you, Hun! Ok, I'm on my way to pick you up," ucap Bian melempar senyuman dan kiss bye pada Renata.
Renata pun balas tersenyum. "Ok! Aku ketemu dosen dulu, ya. See you!"
Lalu panggilan video pun berakhir. Renata memasukkan ponselnya ke dalam tas sebelum masuk ke dalam ruangan dosen pembimbingnya.
Sementara itu, Prasta berjalan setengah berlari setelah keluar dari lift yang membawanya turun dari ruangan kantornya ke lantai satu gedung perkantoran tempatnya bekerja. Ia pun bergegas berjalan menuju basement tempat parkir motor. Beberapa saat yang lalu, Distha meneleponnya. Sahabatnya itu mengabarkan kalau saat ini dirinya sudah berada di rumah sakit mengunjungi Danisha yang masih terbaring koma setelah menjalani operasi pengambilan tumor di kepalanya. Beruntung hari ini ia tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Pagi-pagi sekali ia sudah memulai pekerjaannya dan menyelesaikannya dengan cepat. Kemudian ia pergi ke kampus untuk menanyakan mengenai sidang skripsi Saka yang seharusnya dilakukan pada awal minggu ini, tetapi dibatalkan oleh sahabat baiknya itu. Saka tidak ingin maju sidang skripsi karena istrinya terbaring koma setelah operasi pengambilan tumor di kepalanya. Dia tidak ingin meninggalkan istrinya. Dia ingin tetap di sisi istrinya dan menjadi orang pertama yang dilihat istrinya ketika membuka mata.
Pukul 13.20 saat Prasta tiba di rumah sakit. Berjalan sedikit tergesa menyusuri koridor rumah sakit yang siang itu terlihat tidak begitu banyak pengunjung karena memang bukan jam untuk berkunjung. Sesekali Prasta menghela napasnya sambil menyeka pelipisnya yang berpeluh. Demi kedua sahabat baiknya yang saat ini sedang dalam kondisi tidak baik, ia rela mondar-mandir dari rumah ke kantor, lalu ke kampus dan kembali lagi ke kantor. Kini, ia sudah berada di rumah sakit untuk menemui dan menemani mereka, tentu saja untuk memberi dukungan pada keduanya, terutama Saka.
Prasta semakin mempercepat langkahnya ketika hampir sampai di ruangan ICU tempat Danisha terbaring koma. Saat akan memasuki pintu ruangan itu, ia melihat Distha sedang menatap ke dalam kamar Danisha melalui jendela kaca dengan kedua tangan terlipat di dadanya dan sesekali tangannya mengusap kedua matanya. Ia menghela napas dalam, lalu melangkah menghampiri sahabatnya. Sepertinya Distha belum menyadari kedatangan dirinya yang sudah berdiri di belakang gadis itu. Melalui jendela kaca kamar di depannya, Prasta melihat Saka yang sedang mengajak berbicara Danisha yang terbaring lemah tak bergerak dengan kedua mata yang terpejam rapat.
Ia merasakan perih dan sesak di dadanya melihat pemandangan di hadapannya. Sungguh membuatnya terenyuh dan prihatin. Sekali lagi ia menghela napasnya untuk menghalau sesak dan perih yang dirasakannya. Sesaat kemudian, pandangannya beralih pada Distha yang berdiri di depannya. Perlahan ia menepuk bahu gadis itu, yang sontak membuat si pemilik bahu kaget.
"Pras," ucap Distha lirih.
"Jangan perlihatkan air matamu di depan Saka, Sist," ujar Prasta mengingatkan Distha.
Dengan segera, Distha menghapus air mata yang membasahi pipi dan matanya.
"Ayah dan Bunda kemana?" tanya Prasta.
"Ayah dan Bunda pulang, nanti sore kembali lagi," jawab Distha dengan sedikit sesenggukan.
"Bang Ardhy lagi tugas?" tanya Prasta lagi.
Distha mengangguk pelan dan mengalihkan pandangannya ke dalam kamar Danisha.
"Nanti tolong bantu buat meyakinkan Saka, ya, Pras. Supaya dia mau maju sidang skripsinya dalam waktu dekat. Ini permintaan Danish," tutur Distha, menahan isakannya.
"Aku udah menghubungi pihak kampus tadi, sebelum ke sini. Bang Ardhy dan Bunda pagi-pagi tadi meneleponku dan menceritakan semuanya," terang Prasta.
"Terus?"
"Pihak kampus bilang, Saka masih bisa ikut schedule minggu ini untuk maju sidang," lanjut Prasta.
Distha mengangguk beberapa kali mendengar perkataan Prasta.
"Ya, kabar baik. Tinggal kita bicara sama Saka. Semoga dia mau," harap Distha yang diikuti anggukan Prasta.
"Kamu udah makan?" tanya Prasta kemudian.
"Belum, sih! Mau nunggu Bang Ardhy, sebentar lagi waktunya dia break," ujar Distha sembari melihat jam tangan Fossil yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
"Ya, udah! Kita tunggu Bang Ardhy aja," sahut Prasta, matanya kembali menatap ke dalam kamar ICU. Di dalam sana, tampak Saka masih terus mengajak berbicara Danisha. Meskipun tidak melihat dari dekat, tetapi Prasta bisa melihat wajah sahabatnya itu sangat lelah dengan senyum semringah yang terlihat kaku dan dipaksakan. Ia sangat paham, kondisi sahabatnya sedang sangat tidak baik. Dia sedih dan lelah, tapi tidak ingin terlihat lemah. Dia harus kuat bagaimanapun kondisinya, agar bisa memperjuangkan wanita yang sangat dicintainya.
Lalu apa kabar dengan dirinya? Kenapa ia tak bisa seperti Saka? Memperjuangkan wanita yang dicintainya? Tidak! Apa yang aku alami berbeda dengan yang dialami Saka. Wanita yang kucintai memilih laki-laki lain. Dia tidak ingin bersamaku. Aku belum resmi melamarnya saja, dia sudah menunjukkan penolakannya.
Prasta bermonolog dalam hatinya sembari menyugar rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya. Pandangannya masih belum beralih dari Saka yang berada di dalam kamar menemani Danisha. Lalu ia teringat pertemuannya dengan Rakha dan pembicaraan mereka yang terjadi siang kemarin. Ia pun tersenyum getir.
Tbc
**Hai, Cinta ❤️❤️ Maaf baru up ☺️🙏 Lagi fokus sama RL, udah musim sekolah lagi. Daring dan PTM bergantian di sekolah tempatku tinggal. Di tempat kalian bagaimana? Sama juga kah?
Jangan lupa follow IG aku ya, @imoet.enra untuk ikuti perkembangan karya2ku 🤗
Thanks masih setia menanti kelanjutan kisah mereka. Semoga kalian selalu dalam kondisi yang sehat dan tetap semangat.
Semoga Bumi segera membaik 🤗❤️❤️