
**HAPPY READING**
Keheningan dan ketegangan melingkupi suasana makan malam di rumah Pak Danny. Tidak seperti hari-hari biasanya, ketika momen makan atau sarapan bersama keluarga itu yang selalu diwarnai keceriaan dengan obrolan santai dan sesekali gurauan yang menimbulkan tawa, terdengar dan terlihat hangat dalam satu keluarga bahagia tanpa ketegangan dan konflik.
Pak Danny memasang raut datar saat itu. Sebelum makan malam, pria paruh baya itu sudah mendengar cerita dari istrinya. Sementara istrinya terlihat berusaha bersikap sewajarnya saat makan malam itu.
Renata terlihat canggung dengan raut yang sedikit menegang. Ia menundukkan wajah berusaha menikmati makan malamnya yang terasa hambar di lidahnya. Tentu saja semua karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia meraih gelas minumnya, menyesap sedikit air mineral di dalamnya yang tersisa setengah gelas.
"Rakha udah selesai. Rakha naik dulu ya, Pa, Ma. Ada yang harus Rakha kerjakan," pamit Rakha setelah mengusap mulutnya dengan selembar tisu.
Pak Danny mengangguk setelah meletakkan gelas minumnya.
"Gimana kuliah kamu sejauh ini, Kha? Udah bisa menyesuaikan?" tanya Pak Danny pada putra bungsunya.
"So far so good sih, Pa." Rakha tersenyum simpul menjawab pertanyaan sang Papa.
"Sebentar lagi mid semester, kan?" tanya Bu Nia turut nimbrung dalam percakapan antara suami dan putranya.
"Iya, Ma. Kalau nggak salah, dua minggu lagi," jawab Rakha. Lalu anak lelaki satu-satunya di keluarga itu berdiri. "Rakha ke atas ya, Ma, Pa," pamitnya setelah menggeser kursi dan merapatkannya pada meja makan. Kedua orang tuanya menyambut dengan sebuah anggukan dan senyuman.
Setelah Rakha meninggalkan ruang makan, pandangan Pak Danny beralih pada putrinya yang saat itu sedang menyesap air minumnya.
"Dari tadi Mama lihat, kamu ambil makanan dikit banget, Ta. Belum tambah lagi sejak tadi. Tumben ... Ini kan, makanan kesukaan kamu," celetuk Bu Nia yang sedari tadi dilihatnya sang putri yang mengambil makanannya sangat sedikit. Padahal wanita paruh baya itu memasak makanan kesukaan putri satu-satunya.
"Udah kenyang, Ma. Tadi sepulang dari kampus udah makan sandwich di kafe-nya Bian," jawab Renata.
"Jadi, kamu sama Bian balikan lagi?" tanya Pak Danny, suaranya datar.
Renata mengalihkan pandangan pada sang Papa dengan gugup.
"Maksud Papa?" tanya balik Renata dengan dahi yang mengerut.
Pak Danny menghela napasnya panjang. "Kamu tahu maksud Papa, Ata," ujarnya sembari menyandarkan punggung di sandaran kursi.
Bu Nia menghela napas pelan sebelum berdiri dari duduknya. Pandangannya tertuju pada putrinya yang terlihat gugup.
"Jawab pertanyaan Papa, Ata," timbrung Bu Nia yang kemudian tangannya bergerak membereskan piring dan gelas kotor di atas meja makan.
"Iya, Pa." Gadis itu menjawab dengan lirih.
Pak Danny kembali menghela napasnya sedikit kasar. Pria paruh baya itu setengah tak percaya atas pengakuan putrinya.
"Kenapa?" tanya Pak Danny, menatap serius ke arah Renata yang tertunduk. "Apa yang membuat kamu kembali berpacaran sama laki-laki yang pernah menyakiti kamu?" lanjut Pak Danny.
"Nggak ada salahnya kasih kesempatan lagi buat Bian. Dia kembali ke sini buat Ata, Pa. Dia ingin menebus kesalahannya." Renata menegakkan kepalanya, menatap kedua netra pria paruh baya yang sangat dihormatinya.
"Dan kamu percaya? Hanya karena dia bilang seperti itu?" cecar Pak Danny, masih dengan kedua netra yang menatap lekat putrinya.
"Ata yakin dia bersungguh-sungguh, Pa. Bahkan ...."
"Dia mengajak kamu pergi dari rumah?" sela Pak Danny.
Renata tersentak.
"Mama udah cerita semuanya," lanjut Pak Danny.
Pandangan Renata beralih pada sang Mama yang baru saja duduk setelah membereskan peralatan makan yang kotor bekas makan malam mereka.
"Bukan seperti itu. Bukan Bian yang mengajak pergi. Tapi Ata yang memang ingin pergi, Pa. Ada kesempatan terbuka buat Ata di Jakarta, seperti yang selama ini Ata inginkan. Bukan karena Bian," terang Renata, menatap ke arah Papa dan Mama-nya bergantian.
"Kesempatan itu datang dari Bian, kan?" tukas Pak Danny. "Dia yang menawarkan padamu? Bukan karena usaha kamu sendiri," tambah Pak Danny.
"Ya, memang! Tapi tetap saja itu kesempatan bagus buat Ata. Sebelumnya Ata juga udah kirim CV ke stasiun televisi itu buat pertimbangan. Ata ikutin prosedurnya. Nggak pakai jalur pintas semata-mata karena Bian," sanggah Renata.
"Oh, ya? Kamu yakin? Pengalaman kamu cuma di stasiun radio, Ata. Hanya sebagai penyiar part timer. Nggak akan cukup buat referensi sebuah stasiun televisi besar, di pusat lagi!" ungkap Pak Danny yang kemudian menyesap minumannya.
Renata terdiam. Ia pun menyesap minumannya.
"Papa nggak mengijinkan kamu pergi," putus Pak Danny.
"Tapi, Pa ...."
"Itu keputusan Papa!" tegas Pak Danny dengan sorot mata yang tajam pada putrinya.
"Kenapa?" tanya Renata, menatap balik sang Papa.
"Papa ingin kamu mencari kesempatan itu di sini dan memulainya dari sini. Bukan di kota lain dengan tawaran yang nggak masuk akal dari orang yang terus terang nggak Papa percaya," titah Pak Danny yang seketika membuat Renata sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Papa nggak bisa begitu, dong! Ini kesempatan emas buat Ata, Pa! Masa depan Ata!" protes Renata.
"Karena ini masa depan kamu, makanya Papa menyarankan kamu untuk mencari kesempatan itu di sini. Memulai dari awal di sini karena usaha kamu sendiri. Begitu kamu sudah mendapatkan pengalaman yang cukup, selanjutnya kamu boleh mencari kesempatan lain yang lebih besar untuk masa depan kamu," papar Pak Danny. Setelahnya, pria itu berdiri dan beranjak dari ruangan itu, tanpa berkata-kata lagi.
*****
Sementara itu, di sebuah kafe yang terletak di tengah kota, telah berkumpul beberapa anak muda yang sedang merayakan kelulusan dua orang sahabatnya.
"Serius cuma pesan ini?" tanya Prasta pada sahabat-sahabatnya saat melihat menu makanan yang tersaji di meja.
"Kenapa emangnya?" tanya Danisha.
"Cukup? Nggak nambah lagi?" tawar Prasta.
"Duh! Gaya banget sih, yang udah kerja!" celetuk Distha sembari mencebikkan bibirnya.
"Ya, dong!" sahut Prasta jemawa, kedua alisnya naik turun dengan kedua sudut bibir tertarik membentuk sebuah senyuman lebar.
Saka menggeleng dengan senyum tipisnya, tidak heran dengan kelakuan sahabat baiknya itu.
"Gampang! Ini pasti sebentar habisnya. Kita bisa pesan lagi sepuasnya, kan?" seloroh Dokter Ardhy, tersenyum miring pada sahabat kekasihnya.
"Duitnya siap, nggak?" sindir Distha.
"Ish! Jangan mulai deh, Sist!" sungut Prasta, wajah tampannya berubah merengut.
"Udah! Kita makan dulu. Gelut-nya nanti aja!" sela Saka, tangannya sudah mengambil makanan untuk diletakkan di piringnya. "Bee, tolong ambilin nasi gorengnya," pintanya pada Danisha yang duduk persis di sampingnya.
"Ok, selamat makan!" ucap Prasta. "Ayo, Jo! Kok diem aja. Di sini nggak berlaku yang namanya malu!" seru Prasta pada Joanna yang duduk diam di sampingnya.
Sedari tadi Joanna hanya diam memandang kelima orang yang bersamanya sedang berdebat dan berkelakar. Dalam hati ia tersenyum melihat dan mendengar cara mereka berinteraksi satu sama lain. Sangat akrab, layaknya keluarga. Joanna teringat dengan keluarganya. Terutama dengan kakak satu-satunya yang kini tinggal di Singapura bersama keluarga kecilnya. Sudah lama sang kakak tidak pernah meneleponnya. Sejak istrinya hamil hingga sekarang anak mereka telah berusia hampir 2 tahun. Ia juga teringat dengan dua sahabatnya yang masing-masing memilih tinggal di luar kota dan luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
"Eh! Nggak, nggak kenapa-kenapa," jawab Joanna dengan bibir melengkung, tersenyum menatap Prasta di sampingnya.
"Kamu capek, ya? Seharian tadi jalan terus sampai sore. Sorry, ya. Mestinya aku nggak ngajak kamu buat ikut," sesal Prasta. Mendengar penuturan Prasta yang terdengar penuh sesal, keempat orang sahabatnya seketika saling berpandangan dengan raut penuh tanya dan keheranan.
Sementara Joanna seketika menggeleng dengan senyuman lebar menghias wajah manis eksotisnya. "Apaan sih, Pras! Nggak, kok! Aku nggak capek sama sekali. Udah biasa juga! Kadang malah 24 jam di luar rumah. Lupa?" sahut Joanna dengan tawa kecilnya.
"Ehem! Jadi, kalian udah sering gitu ya, pergi bareng?" tanya Distha yang tak bisa menahan keingintahuannya tentang kedekatan kedua orang yang duduk di hadapannya. Membuat Dokter Ardhy mengedipkan kedua netranya pada sang calon istri agar tidak buru-buru menanyakan perihal kedekatan kedua orang tersebut. Dan lelaki itu tahu pasti bagaimana reaksi calon istrinya itu, berdecak dan mencebikkan bibirnya.
Joanna yang baru saja menyuapkan sesendok sup daging ke mulutnya, mengangguk pasti. Sesaat setelah sup daging itu berhasil dikunyah dan ditelannya dengan baik, gadis itu tersenyum dan menjawab pertanyaan Distha.
"Tentu! Kami satu divisi di kantor, posisi yang sama. Sering sih, dapat tugas bareng. Ya kan, Pras?"
"Yaa ... begitu, deh! Eh, ralat! Posisi kita nggak sama, lah ...! Joanna ini fotografer senior di kantor. Kepercayaan Boss!" sahut Prasta antusias.
"Apaan? Jangan dengerin dia, ya! Kita sama-sama tukang foto!" timpal Joanna diikuti tawanya yang lepas.
Distha dan yang lainnya ikut tertawa.
"Gitu, ya! Jadi emang sering ya, pergi bareng. 24 jam?" Keingintahuan Distha semakin menjadi.
"Sist ...." desis Danisha dengan suara tertahan sembari mengerjapkan netranya untuk mengingatkan sahabat baiknya itu agar tidak terlalu banyak bertanya.
Distha hanya melihat sekilas pada Danisha dan tersenyum miring menanggapi peringatan sahabatnya.
"Mulai kepo!" seru Prasta sembari menatap tajam gadis yang sebentar lagi dipersunting Dokter Ardhy itu.
Distha menjulurkan lidahnya dengan netra melotot pada lelaki dengan rambut sebahu di hadapannya.
"Dih! Udah mau nikah masih aja kayak anak TK. Dok, bilangin calon istrinya ya, jangan suka julur-julur lidah begitu. Bahaya!" sindir Prasta dengan netra yang melirik tajam pada Distha.
"Ish! Awas, ya!" tangkas Distha sembari mengepalkan satu tangannya ke arah Prasta.
"Apa?" balas Prasta tak mau kalah.
"Udah! Apaan sih, kalian!" sela Saka melerai kedua sahabatnya yang selalu saja seperti kucing dan anjing jika bertemu.
"Yang, udah! Berantemnya nanti aja, sekarang makan dulu. Habisin makanannya supaya kita bisa pesan lagi, mumpung gratis, kan? Nanti dia berubah pikiran nggak jadi traktir kita gara-gara kalian nggak berhenti adu mulut." Dokter Ardhy menimpali, yang sontak membuat Prasta semakin mendongkol. Sementara Distha tergelak mendengar perkataan calon suaminya.
"Astaga! Ini dua orang calon pengantin emang kompak, ya! Jodoh bener, kalian!" dengkus Prasta.
Saka dan Danisha tidak bisa menahan tawanya, keduanya ikut tergelak seketika hingga Danisha hampir saja tersedak. Dan Saka buru-buru menyodorkan minuman pada istrinya.
"Hati-hati, Sayang!" ucap Saka dengan tangan kanan memegang botol air mineral dan tangan kiri mengusap lembut punggung sang istri.
Joanna memperhatikan kedua pasangan muda itu. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Senyuman kagum. Sesaat kemudian gadis itu menghela napasnya perlahan, memorinya kembali memutar peristiwa satu tahun yang lalu. Hatinya berdenyut nyeri. Seharusnya tahun ini adalah tahun bahagianya. Namun, takdir berkata sebaliknya.
"Jo, maaf, ya. Kamu pasti merasa terganggu, ya. Beginilah kita kalau lagi ngumpul. Bercandanya sering kelewatan. Maaf, ya," ucap Danisha. Ia merasa tidak enak hati dengan Joanna karena candaan mereka. Danisha sedari tadi memperhatikan sikap Joanna yang cenderung diam. Meskipun ia tidak yakin bahwa gadis itu memang memiliki sifat pendiam atau sebaliknya.
"Eh? Santai aja, Danish. It's ok! Seru, kok! Aku senang bisa ngumpul sama kalian. Me-refresh otak! Hehehe ...." sahut Joanna, telunjuknya menyentuh kepala sembari terkekeh.
"Jangan heran, ya! Prasta ya, begini. Kalau ketemu Distha nggak pernah absen berantemnya," timpal Saka ikut terkekeh.
"Iya, santai aja! Sama aja, sih! Dia di kantor juga suka banget ngusilin teman!" balas Joanna, kali ini dengan gelak tawa.
"Apaan? Aku nggak pernah usil di kantor ya, Jo! Paling juga ngusilin kamu!" cetus Prasta dengan senyum lebarnya.
Joanna yang baru saja selesai meneguk air mineralnya, seketika mengangkat telunjuk tangannya dan mengarahkan pada Prasta.
"Yup! Itu juga maksudku!" Joanna tergelak. Kelima orang yang bersamanya pun ikut tergelak.
"Kurang kerjaan dia itu, makanya usil melulu kerjaannya. Bilang sama Boss kamu, Jo. Suruh tambah kerjaannya, biar nggak bikin kerjaan yang unfaedah!" celetuk Dokter Ardhy sebelum ia menenggak air mineralnya hingga tandas.
Sebuah gumpalan tisu melayang ke arah calon suami Distha. "Sialan!" gerutu Prasta.
Mereka tergelak bersama. Setelah selesai menyantap makan malam, mereka tidak langsung pulang. Mereka mengobrol banyak hal diselingi gurauan dan memesan lagi makanan ringan serta kopi sembari menikmati live music yang disajikan oleh pihak kafe hingga waktu semakin beranjak malam.
*****
"Thanks ya, Pras!" ucap Joanna saat keduanya sampai di depan lobby sebuah gedung apartemen tempat tinggal Joanna.
"Sama-sama. Yakin nggak mau aku antar sampai unit kamu?" tanya Prasta.
"Iya, nggak apa-apa. Aman, kok!" jawab Joanna dengan seulas senyuman.
Prasta baru kedua kalinya ke apartemen Joanna. Yang pertama, saat Joanna sakit. Ia dan Angga mengantarkan Joanna pulang setelah ia beberapa hari dirawat di rumah sakit karena sakit lambung. Ibu Joanna meninggal saat ketika Joanna baru lulus SMA. Sementara ayahnya sudah 2 tahun tinggal di Jakarta bersama istri barunya.
"Sorry, ya, kalau seandainya kamu tadi nggak nyaman dengan sikapku atau teman-temanku. Ya, begitulah kami. Emang seperti itulah kami, Jo," ujar Prasta dengan tawa kecilnya.
Joanna tersenyum lebar. "Santai, Pras. Nggak masalah, kok. Aku senang bisa kenal dengan mereka, ngumpul bareng mereka. Kalian teman yang menyenangkan," tutur Joanna. Gadis itu menghela napasnya panjang, lalu menggigit bibir bawahnya sembari menatap lekat Prasta. Sementara lelaki yang masih duduk di atas motornya itu pun menatap gadis berparas manis di hadapannya dengan dahi berkerut.
"Hei! Ada apa?" tanyanya kemudian.
Joanna mengerjap kaget. "Ng-nggak! Ok, besok kerja. Jadi buruan pulang, istirahat! Aku naik, ya! Sekali lagi thank you ya, Pras. Udah ngajak jalan dan traktir aku makan. Dan sekali lagi selamat atas kelulusanmu," ucap gadis itu, senyuman lebar terbit di bibir tipisnya.
Prasta balas tersenyum. "Anytime, Jo. Thank you juga udah datang ke kampus tadi pagi. By the way, bukan aku yang ngajak jalan, lho! Kan kamu tadi yang ngajak aku jalan. Thanks, ya! Ya, udah. Naik sana! Langsung tidur, ya. Sampai ketemu besok." Prasta mengakhiri pertemuan mereka.
Joanna tersenyum dan mengangguk, lalu melambaikan tangannya. Gadis itu berbalik dan berjalan memasuki lobby gedung apartemen tempat tinggalnya. Sementara Prasta belum beranjak dari tempatnya, ia memandangi tubuh gadis manis bertubuh semampai itu hingga masuk ke dalam gedung apartemen.
Prasta menghela napas dalam, lalu tersenyum.
Kamu gadis yang tangguh, Jo. Kamu hebat. Gadis semuda kamu hidup sendiri dan mandiri. Tetaplah seperti itu, Jo. Tetaplah tangguh dan menjadi dirimu sendiri. Jangan berubah.
TBC
**Hai, Cinta ❤️❤️❤️ Aku harap kalian semua sehat selalu ya ... Udah pada vaksin, kan?
Lagi2 maaf ya, slow update banget 🙏🙏 Tapi selalu aku usaha-in buat update secepatnya. Akhir2 ini aku sibuk dgn keluarga juga sibuk menyiapkan buku antologi cerpen selanjutnya. Aku juga sedang bikin outline next story yg inginnya aku cetak buku solo.
Semoga semuanya bisa sejalan, berjalan lancar dan dimudahkan ☺️🙏🙏
Thank you yg masih setia menunggu dan mengikuti kisah ini. Love you so much 🤗😘💕💕**