LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 25 Ketidakjelasan



**HAPPY READING**


Jalanan kota cukup padat pada hari menjelang siang ketika sebuah mobil Expander hitam berhenti di persimpangan jalan dengan traffic light yang menyala merah. Pengemudinya menghela napas panjang sebelum menenggak air mineral dalam botol berukuran sedang yang selalu tersedia di dalam mobilnya sembari melirik gadis di sampingnya yang sedang berbicara via ponsel.


"Iya, Ma. Ini Ata udah di jalan. Masih di traffic light, sekitaran 10 menit lagi sampai."


"...."


"Ata sama Bian."


"...."


"Iya, Ma."


Mobil kembali bergerak setelah lampu berubah hijau bersamaan dengan berakhirnya pembicaraan telepon Renata dengan sang Mama. Gadis itu terdiam menatap jalanan melalui jendela mobil, sesekali menghela napasnya pelan.


"Kenapa, Hun?" tanya Bian dengan pandangan tetap fokus pada jalanan di depannya.


Renata menunduk sebentar, lalu kembali menegakkan kepalanya dan menghadap ke arah lelaki yang terlihat fokus pada kemudinya.


"Kamu datang ke acara wisuda aku, kan?" tanya Renata.


Bian menoleh pada gadis yang menjadi kekasihnya. "Aku usahakan, ya. Ada beberapa appointment dengan beberapa orang dalam minggu ini. Seingatku, salah satunya bersamaan dengan hari wisudamu. Tapi nanti aku lihat lagi deh, schedule-nya," terang Bian, lalu melemparkan senyuman tipis pada Renata.


"Nggak bisa re-schedule?" tanya Renata lagi.


"Makanya aku lihat lagi nanti. Aku usahakan," jawab Bian, tangan kirinya menggenggam tangan kanan gadis itu.


Renata mengangguk pelan.


"Jadi fix berangkat hari Jumat, kan? Aku mau pesan tiketnya nanti sore. Berangkat malam aja, ya. Soalnya aku masih ada kerjaan sampai sore."


"Uummm ...." Renata bergumam. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi ragu.


"Nggak masalah kan, berangkat malam? Atau Sabtu pagi?" tanya Bian, menatap sekilas kekasihnya.


"Bi, bisa kita bicara-in ini nanti, ya? Aku fokus sama wisuda dulu," ujar Renata pelan dengan nada sedikit ragu.


"Urusan wisuda kamu kan, udah selesai. Ini mau cari kebaya. Penata rias juga udah beres kata kamu. Apalagi?" cecar Bian.


"Nanti kita bicara-in ya, Bi. Please, jangan sekarang," pinta Renata, menatap sendu penuh permohonan pada sang kekasih.


"Ada apa, sih? Kamu berubah pikiran? Nggak jadi berangkat dan membuang kesempatan emas ini?" Bian kembali mencecar Renata, membuat gadis itu semakin kebingungan.


"Bi, please ... Nanti kita bicara-in, ya? Not now. Please ...." pintanya sekali lagi.


Bian mendengus kasar. Lelaki itu membelokkan mobilnya ke sebuah ruko tempat tujuan mereka. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik, tempat Renata akan melihat kebaya untuk dipakai pada hari wisudanya.


Renata membuka seat belt, lalu tangannya hendak membuka pintu mobil tapi terhenti saat ia mendengar Bian mengucapkan sesuatu.


"Temanku nggak main-main soal kesempatan kamu di stasiun televisi itu, Ata. Tolong pikirkan baik-baik dan hargai kesediaannya memberikan kesempatan itu padamu."


Renata memalingkan wajahnya pada Bian yang menatapnya lekat dengan raut serius. Tangan kiri lelaki itu meraih tangan kanan Renata, menggenggam dan mengusapnya lembut.


"Aku lakukan semua ini karena aku mencintaimu. I'm behind you all the way, Ata. For everything you do, mainly for your career and your future goals. Aku ingin menjadi orang yang bisa kamu andalkan," tutur Bian, lalu lelaki itu mencium jemari tangan Renata yang masih bergeming mendengar penuturannya.


Renata menghela pelan napasnya. Lalu tangan kirinya ia letakkan di atas tangan kiri Bian yang menggenggam tangan kanannya. Bian pun tertunduk menatap tangan kiri Renata yang bertumpu di atas tangan kirinya. Ia mendongak menatap paras manis kekasihnya yang juga menatapnya dengan seulas senyuman di bibirnya.


"I know, Bi. I know. Kita bahas nanti, ya? Sekarang masuk dulu temui Mama. Please ...." lirih Renata, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman dengan tatapan yang lembut.


Bian tersenyum, tangan kanannya terangkat menyentuh dan mengusap lembut wajah Renata. Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada wajah kekasihnya. Sedetik kemudian bibir keduanya bersentuhan. Bibir merah gadis itu dikecupnya lembut.


"I love you," ucap Bian lirih saat ia melepas kecupannya. Netranya menatap sendu netra kekasihnya, lalu tatapannya beralih pada bibir merah yang baru saja dikecupnya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir manis yang baru saja dikecupnya.


Renata tersenyum tipis. "Thank you," ucapnya setelah mencium sekilas pipi lelaki yang menatapnya sendu itu.


*****


Bu Nia tersenyum semringah menatap putrinya dari pantulan cermin di kamar ganti butik langganannya. Mengenakan kebaya brokat berwarna peach yang kalem dengan aksen pita coklat yang melilit di pinggang dihias dengan 2 buah bros berwarna emas berukuran berbeda, putrinya terlihat sangat anggun dan tentu saja cantik.



"Cantiknya putri Mama," puji Bu Nia menghampiri putrinya tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin di hadapan mereka.


Renata tersenyum simpul. "Pas banget nih, Ma, ukurannya. Gimana, bagus ya, Ma?"


"Perfect!" seru Bu Nia sembari mengangkat ibu jarinya dengan bibir melengkung, tersenyum lebar pada putrinya.


Lalu Renata melenggang keluar, menghampiri Bian yang sedang duduk di sofa yang ada di ruangan butik itu.


Bian mendongak ketika menyadari ada seseorang yang berjalan menghampirinya. Kedua netra lelaki itu tak berkedip menatap Renata dalam balutan kebaya berwarna peach yang sangat pas di tubuh ramping kekasihnya.


"Gimana, Bi?" tanya Renata meminta pendapat kekasihnya.


Bian mengerjap tersadar dari keterpakuannya akan pesona penampilan Renata. Bibir lelaki itu menyunggingkan sebuah senyuman dengan raut penuh kekaguman.


"You're so beautiful, Hun. It's so suitable for you. Perfect!" puji Bian dengan raut penuh kekaguman.


Bu Nia baru saja keluar dari ruang ganti dengan balutan kebaya yang dipilihnya dan segera bergabung dengan putrinya.


"Ta, cocok nggak nih, buat Mama?" Bu Nia tersenyum meminta pendapat putrinya mengenai kebaya yang melekat di tubuhnya yang masih terlihat ramping meskipun usianya sudah setengah abad.


"Wow, keren! Cantik banget, Ma! Mama kelihatan lebih glowing deh, daripada Renata!" seru Renata memuji penampilan sang Mama dengan kebaya tunik berbahan sutra warna hijau lumut.



Bu Nia tertawa kecil mendengar pujian putrinya. "Ish! Kamu, nih!" balas Bu Nia dengan tepukan kecil di lengan Renata.


"Eh, bener kan, Bi? Mama glowing, kan?" tanya Renata pada Bian.


Bian tersenyum lebar. "Iya, Tante cantik banget dengan kebaya ini," sahut Bian.


"Kalian bisa aja, deh!" Bu Nia tersenyum kecil dengan kedua pipi yang sedikit merona.


"Yuk, ah! Ganti dulu biar ini dibungkus sama Mbak-nya," lanjut Bu Nia sembari merangkul lengan putrinya dan mengajak ke ruang ganti. Kedua ibu dan anak itu pun melangkah ke ruang ganti untuk berganti pakaian meninggalkan Bian dengan senyum tipisnya.


Lelaki itu kembali duduk di sofa sembari menghela panjang napasnya. Lalu merogoh saku celananya saat merasakan getaran dari ponselnya. Sebuah pesan baru datang dari Windy.


Wind~


Aku udah di apartemen kamu, Sayang. Buruan, ya!


Bian melihat ke arah ruang ganti yang masih tertutup. Sekali lagi lelaki itu menghela napas panjang, lalu mengusap wajah tampannya dengan tangan kirinya, terlihat gelisah.


Me


Aku bilang nanti malam. Kenapa kamu datang sekarang? Aku masih ada urusan.


Setelah beberapa saat pesannya terkirim, ponsel di tangannya bergetar kembali. Pesan balasan dari Windy.


Wnd~


it's ok. I'll be waiting.


Bian mendengus setelah membaca pesan balasan dari Windy. Raut wajahnya berubah dengan rahang yang mengeras.


"Ada apa, Bi?"


"Ada masalah?" tanya Renata, keningnya berkerut menatap Bian.


"Uummm ... Nggak! Hanya ... masalah kecil!" sahut Bian tergagap dengan senyum tipis yang dipaksakan.


"Yakin? Kalau kamu harus kembali ke kafe ...."


"Nggak! Bukan masalah besar, kok! Tenang aja, santai!" potong Bian, tertawa kecil sembari bangkit dari duduknya dan langsung mengecup kening Renata. Membuat gadis itu sedikit tersentak dengan tindakan tiba-tiba lelaki itu di dalam butik, terlebih ada sang Mama dan beberapa orang lainnya di sana. Spontan ia memundurkan tubuhnya sedikit. Lalu melihat sekeliling ruangan untuk memastikan sang Mama tidak melihat kejadian itu.


"Please ...!" ucap gadis itu berbisik.


"Hey! What's wrong, Hun?" protes Bian, tangan kanannya terangkat dan memegang wajah kekasihnya.


Renata berdecak pelan dan menatap tajam kedua netra Bian.


"Bi, please! You know what I mean!" Gadis itu menjauhkan tangan Bian dari wajahnya, lalu melangkah menjauh dari lelaki itu untuk menghampiri sang Mama yang sedang sibuk menyelesaikan administrasi dan berbincang dengan salah satu karyawan butik.


"Udah, Ma?" Renata bertanya dengan seulas senyuman di bibirnya.


"Udah, nih!" Bu Nia tersenyum sembari menunjukkan 2 paper bag di tangannya.


"Mbak Dini, terima kasih banyak, ya. Tolong sampaikan salam saya buat Jeng Retno," ucap Bu Nia pada karyawan butik yang melayani mereka.


"Baik, Ibu. Nanti saya sampaikan dan terima kasih kembali atas kunjungannya," sahut karyawan perempuan yang bernama Dini itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Renata melirik ke arah Bian yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Sementara Bu Nia melenggang terlebih dulu meninggalkan keduanya. Renata melangkah mengikuti sang Mama meninggalkan ruangan butik itu. Namun, baru beberapa langkah, Bian menarik lengannya.


"Apaan sih, Bi!" seru gadis itu disertai dengan dengkusan pelan dengan kening yang terlipat dalam.


"Tunggu, dong! Kamu main tinggal aja jalannya!" balas Bian tak kalah ketusnya.


"Ta!" seru Bu Nia memanggil putrinya. Wanita paruh baya itu sedang meletakkan barang yang baru saja dibelinya di bagasi mobil sedan Toyota Camry milik sang Papa.


"Ya?" sahut Renata.


"Ayo pulang sama Mama, sekalian ke kantor Papa," ujar Bu Nia. "Bian, Ata biar pulang sama Tante aja. Terima kasih ya, udah antar Ata ke butik," lanjut wanita paruh baya itu.


"Iya, Tan. Sama-sama, santai aja, kok!" jawab Bian, seulas senyuman lelaki itu berikan untuk ibu dari kekasihnya.


"Ok, aku pergi dulu, ya. Makasih udah antar dan nemenin aku ke sini," ucap Renata, sebuah senyuman terbit di bibirnya.


Bian tersenyum dan mengangguk, lalu mengecup kening Renata sekilas. Renata menjengit, tak menduga Bian berani melakukan hal itu di depan sang Mama. Gadis itu melirik sang Mama dengan gugup, dadanya berdebar. Kemudian ia berjalan hendak masuk ke dalam mobil saat dilihatnya dengan jelas raut datar sang Mama yang masih berdiri di samping pintu tempat duduk penumpang bagian belakang mobil yang terbuka. Tanpa banyak bicara, gadis itu segera masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Bu Nia. Beberapa saat setelahnya, Toyota Camry hitam yang dikemudikan sopir Pak Danny melaju meninggalkan butik dan Bian yang masih termangu berdiri di sana memandang kepergian mobil yang membawa Renata dan ibunya.


*****


Prasta baru saja menyelesaikan makan siangnya di kantin gedung tempatnya bekerja. Lelaki itu menyesap es lemon tea yang tadi dipesannya.


"Berapa lama Joanna izin?" tanya Angga yang duduk di sebelahnya.


"Katanya sih, sampai Minggu. Tapi kurang tahu juga," jawab Prasta setelah menyesap minumannya hingga tersisa setengah gelas.


"Kenapa?" lanjutnya bertanya pada Angga.


"Sebenarnya kamu sama si Jo ada apa? Kalian pacaran?" selidik Angga, raut wajah lelaki teman kerjanya itu terlihat serius.


"Hah? Apaan?" Prasta menjengit sembari menautkan kedua alis hitamnya yang tebal.


"Udah, deh! Nggak usah sembunyi-sembunyi. Semua udah pada tahu kok, soal hubungan kalian," papar Angga santai sambil menenggak air mineral miliknya.


"Hubungan apa? Kalian nih, ya! Suka banget bikin gosip!" sanggah Prasta, satu sudut bibirnya tertarik. Lelaki itu menarik satu batang rokok dari kemasannya, menyulutnya dengan korek api yang ada di meja lalu mengisapnya dalam-dalam.


"Rasanya bukan gosip, tapi ini kenyataan di depan mata. Real banget, Pras! Kalian cocok, kok!" balas Angga.


Prasta terkekeh. "Apanya yang real? Hubungan aku dan Jo cuma hubungan kerja, tahu! Ini kalau sampai Mas Bekti denger bisa gawat, lho! Jangan asal bicara, deh!" tutur Prasta.


"Hubungan kerja plus!" Angga tergelak, ia meraih sebungkus rokok milik Prasta dan mengambil satu batang untuk diisapnya.


"Anak-anak tuh, udah banyak yang nanya ke Mas Bekti. Kayaknya Mas Bekti mengamini, tuh!" imbuh lelaki berkacamata itu.


"Ngga! Jangan ngawur, ya! Aku sama Jo nggak ada hubungan apa pun selain kerja," tegas Prasta.


Angga menghela napas singkat setelah mengembuskan asap benda ber-nikotin di tangannya.


"Masa kamu nggak bisa lihat atau merasakan, sih! Jo itu suka sama kamu, Bro!" cetus Angga.


Prasta menoleh setelah mengembuskan asap rokoknya begitu mendengar pernyataan Angga, lalu ia tergelak.


"Lah! Malah ketawa!" tukas Angga diakhiri dengan dengusan.


"Ya kali ada-ada aja deh, kalian!" Prasta kembali tergelak. Tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di atas meja bergetar, diliriknya layar pada benda pipih persegi yang menyala. Nama Joanna dan foto gadis itu terlihat di sana.


"Wah, panjang umur!" celetuk Angga disertai tawa kecilnya. Netranya berhasil menangkap sekilas nama dan foto Joanna di layar ponsel Prasta.


Prasta berdecak pelan menatap Angga yang masih terkekeh melihatnya.


"Ya, Jo!" sapa Prasta santai sembari mematikan bara pada puntung rokok dalam asbak yang tersedia di meja dengan tangan kirinya.


"Hai, Pras!"


Suara di seberang sana terdengar serak dan sengau disertai helaan napas yang berat.


Kening Prasta terlipat dalam dengan kedua netra yang mengecil dan pandangan ke arah Angga yang duduk di depannya. Sementara Angga tertegun menatap Prasta dengan kening yang sama terlipatnya.


"Jo? Are you ok?" tanya Prasta dengan nada pelan dan terdengar khawatir.


Hening, tak ada suara dari ponselnya. Prasta menatap layar ponselnya, masih tersambung.


"Halo? Jo?" seru Prasta, satu alisnya terangkat.


"Ya ...." Suara sengau Joanna akhirnya terdengar juga.


"Jo? Are you ok?" cecar Prasta.


Sementara Angga masih duduk di hadapan lelaki itu dengan tangan bersedekap dan kedua netra yang memindai gerak-gerik Prasta. Teman kerja satu divisinya itu terlihat sangat penasaran pada percakapan via ponsel antara kedua temannya itu.


Prasta kembali menunggu Joanna bersuara. Lalu ia menatap Angga yang menatapnya lekat. Sesaat kemudian, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari Angga yang menatapnya curiga.


TBC


Meet Bian yang katanya selalu support Renata ☺️



Joanna, si gadis eksotis yang masih misterius πŸ€”



**Hai, Cintaku semua ❀️❀️


Gimana dengan part ini? Pls tinggalin LIKE dan KOMEN kalian ya, setelah baca. Nggak perlu vote, nggak masalah koq buat aku. Yg penting ada jejak jempol dan tentu saja aku sangat berharap komen dari kalian yang baca cerita ini β˜ΊοΈπŸ™


Sehat2 selalu ya, kalian πŸ€— dan semoga nggak bosan nungguin kelanjutan cerita ini.


Thank you so much atas atensi dan apresiasi kalian, love you as always πŸ€—πŸ˜˜πŸ’•πŸ’•**