
**HAPPY READING**
Eps ini 2000 kata lebih, JGN LUPA LIKE & KOMENNYA YA, PLEASE ... THANK YOU SO MUCH ππ
"Congratulation ya, Bro! Akhirnya lulus juga. Sorry nih, kami telat datang." Saka menjabat tangan dan memeluk tubuh Prasta saat sahabat baiknya itu baru saja keluar dari ruangan sidang skripsi.
"No problem, Bro! Thank you udah datang ke sini." Prasta balas memeluk Saka dengan senyum semringah. Binar kedua netranya terlihat sangat bahagia.
"Selamat ya, Pras!" ucap Danisha dengan senyum manisnya. Binar bahagia juga terpancar dari paras ayunya.
"Makasih, Sist! Segera nyusul, ya. Biar bisa wisuda bareng," sahut Prasta, bibirnya melengkung sempurna menampilkan senyum penuh kebahagiaan.
"Ya, tentu saja! Doakan, ya," balas Danisha.
"Distha ke mana, ya?" tanya Danisha, pandangannya menyapu ke sekitar tempat itu.
"Eh! Kemana itu anak! Nggak asyik banget, deh! Masa iya, nggak nemenin aku sidang!" gerutu Prasta. "Padahal nih, kemarin aku nemenin dia. Eh! Nggak cuma nemenin, lho! Jadi sopir dia juga! Kacau tuh, anak!" imbuh Prasta, memasang raut wajah cemberut dengan bibir yang mengerucut.
Saka dan Danisha tergelak mendengar gerutuan Prasta dan raut kesal sahabatnya itu.
"Bukannya tadi dia udah nemenin kamu sebelum masuk ruang sidang?" tanya Danisha. Pagi tadi, Distha mengatakan jika dirinya sudah berada di kampus bersama Prasta dan sedang menunggu giliran sidang skripsi sahabat laki-lakinya itu.
"Iya bener, sih! Tapi sekarang ke mana anak itu, ya!" sahut Prasta sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu sembari berdecak pelan. Namun sesaat ia tertegun. Pandangannya terhenti pada sosok yang berada beberapa meter di hadapannya. Seorang gadis berjalan ke arahnya dengan lambaian tangan dan senyuman lebar di bibirnya. Gadis manis bertubuh semampai itu terlihat mempercepat langkah untuk menghampirinya.
"Jo?" ucapnya, setengah tak percaya.
"Siapa?" tanya Saka berjalan mendekat pada sahabatnya, diikuti oleh Danisha.
Danisha menatap Prasta yang terlihat bengong dan terpaku di tempatnya. Lalu pandangannya beralih pada suaminya dengan penuh tanya. Saka hanya mengedikkan kedua bahunya.
"Hai, Pras! Selamat atas kelulusannya!" seru gadis itu dengan raut wajah semringah, tangannya memberikan tinjuan kecil di lengan Prasta.
"Jo? Ka-kamu nga-pain di sini?" tanya Prasta tergagap, menatap lekat pada gadis yang sudah berdiri di hadapannya.
"Hei! Santai kenapa, sih! Cuma mau ucapin selamat atas kelulusanmu. Eh, bener udah lulus, kan?" celoteh gadis yang dipanggil Jo itu.
Prasta terkekeh. "Lulus, dong!" jawab Prasta jemawa.
"Widih! Mulai sombongnya!" cibir gadis itu.
"Mana ada! Ini kenyataan, Jo! Kenyataan yang hakiki, aku udah lulus!" tukas Prasta sembari menyugar rambut hitam panjangnya, lalu ia tergelak.
"Eh, sorry! Kenalin, ini Saka dan istrinya, Danisha. Sahabatku. Dan ini Joanna." Prasta mengenalkan Saka dan Danisha pada gadis itu, yang ternyata Joanna, seniornya di tempat kerja.
Saka dan Danisha tersenyum dan mengangguk. "Hai!" sapa Danisha ramah.
"Hai!" Joanna tersenyum manis membalas sapaan Danisha. Sementara Saka mencolek pelan lengan Prasta dan menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.
"Oh, ya! Jo ini senior aku di kantor. Pewarta foto andal kesayangan Bos," jelas Prasta menekankan kalimat terakhirnya.
"Oh, ya?" Kedua netra Saka melebar hingga kedua alis hitamnya terangkat.
Sontak Joanna melayangkan tinjunya ke lengan Prasta. "Apaan coba! Biasa aja, kali! Jangan dengerin dia, ya. Suka ngaco kalau ngomong!" sanggah Joanna sembari mendengkus pelan.
"Halah! Jangan membumi sekarang, becek tuh!" ledek Prasta sembari menunjuk tanah yang basah dengan beberapa genangan air di sana, jejak hujan semalam.
Joanna mendengkus menanggapi ledekan Prasta sembari melayangkan tangannya yang mengepal.
"Prasta, ih!" Danisha memukul bahu lebar sahabatnya yang senang sekali berbicara asal.
"Lah! Kan bener, Sist!" tandasnya.
Dering ponsel milik Danisha menghentikan obrolan mereka. Nama Distha terpampang di layar benda pipih persegi yang berada dalam genggaman Danisha. Wanita yang berdiri di samping suaminya itu segera mengaktifkan tombol speaker sebelum menjawab panggilan telepon sahabatnya.
"Ya, Sist. Kamu di mana?"
"Sorry banget, ya! Tolong bilang sama Prasta. Sorry pakai banget-banget, deh! Nggak sempat pamit tadi, main pergi aja. Aku ...."
"Wooiii! Kebangetan banget nggak, sih! Nggak setia kawan banget, deh! Main pergi tanpa pamit. Cuma segini aja, nih!" sela Prasta bersungut-sungut.
"Pras! So sorry, ya! Beneran, Bro! Ini urgent! Aku sekarang di bandara, harus menjemput Eyang yang datang tiba-tiba banget. Tahu sendiri kan, gimana Eyangku?
"Ya kali, kirim pesan apa nggak bisa? Kebangetan tahu nggak!" cerocos Prasta lagi diikuti dengkusan yang cukup keras.
"Lah, emang kamu bisa baca pesanku di tengah sidang?"
Danisha menghela napas singkat mendengar perdebatan kedua sahabatnya. Begitu pun dengan Saka. Danisha menyodorkan ponselnya pada Prasta.
"Nih, bawa! Kalian berantem sana!" seru Danisha dengan bibir mencebik kesal.
"Eh? Males, deh!" tolak Prasta dengan gelengan kepala.
"Dengerin, ya! Kalau sampai nanti malam nggak datang, cukup sampai di sini aja deh, persaudaraan kita!" ancam Prasta.
"Astaga! Marah beneran, nih! Janji deh, nanti malam pasti aku datang sama Bang Ardhy."
"Bener, ya! Awas kalau mangkir!" ancam Prasta lagi.
"Siap, Bro! Eh, kamu lulus kan, by the way?"
"Sialan! Ya tentu lah, aku lulus! Ngeremehin banget, sih!" ketus Prasta.
Gelak tawa Distha terdengar keras dari speaker ponsel Danisha, membuat sang pemilik ponsel ikut tergelak juga. Tak terkecuali Saka.
"So, congratulation then! Ok, udahan dulu, ya. Jangan ngambek! See you tonight! Bye ...!"
Panggilan telepon berakhir.
Saka menepuk bahu Prasta. "Udah, deh! By the way, itu cewek lagi nungguin, tuh!" celetuk Saka, bicara sedikit berbisik pada sahabatnya dan melirik sekilas pada Joanna yang duduk di bangku tunggu tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Duh! Gara-gara Distha jadi lupa sama si Jo! Ck!" decak Prasta dengan kedua tangan menyugar rambut panjangnya.
Saka terkekeh. "Dia kelihatan cocok sama kamu. Boleh juga," goda Saka. "Ok! Aku harus balik ke kantor sekarang," bisik Saka sembari menepuk bahu Prasta.
"Apaan?" Prasta menatap Saka dan berbisik di telinga sahabatnya. "Aku sama dia ...."
"Udah! Lanjut aja! Aku tunggu ceritanya, ya! Aku pamit dulu," ucap Saka sembari terkekeh dan menaikturunkan kedua alis hitamnya.
"Ayo, Bee. Aku harus balik ke kantor," ajak Saka pada Danisha. "Dia perlu privasi," imbuhnya berbisik pada istrinya disertai kekehan kecil.
Danisha paham dengan perkataan suaminya. Ia mengangguk dan berpamitan pada Prasta dan Joanna. "Duluan, ya!" ucap Danisha dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Thank you, Sist! Jangan lupa nanti malam!" seru Prasta yang kini sudah duduk di samping Joanna.
******
Prasta memperhatikan Joanna yang sedang sibuk dengan ponselnya. Gadis manis itu terlihat serius mengetikkan sesuatu di salah satu aplikasi chat room di ponselnya. Kini mereka berpindah tempat duduk di bangku taman kampus setelah kepergian Saka dan Danisha.
Pukul 11.00 saat ini, satu jam lagi waktunya makan siang. Prasta masih memandangi gadis manis yang duduk di sebelahnya dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Serius banget, sih!" celetuk Prasta. "Lagi chat sama pacar?" lanjut Prasta dengan candaannya.
"Ish! Mulai ngaco, deh!" sahut Joanna. Ia mengalihkan pandangan pada Prasta yang duduk di sampingnya dengan cengiran khas lelaki itu.
"Sumpah! Kamu chat serius banget! Orang di sebelah dianggurin betul!" oceh Prasta dengan kekehannya.
Joanna ikut terkekeh. "Sorry kalau kamu merasa dianggurin," ucap Joanna. "Mas Bekti minta laporan tugas hari ini. Untung udah kelar, barusan aku kirim ke email-nya," imbuh gadis itu sembari memperlihatkan layar ponselnya pada Prasta.
Prasta kembali terkekeh. "Jadi kamu nggak ke kantor hari ini?" tanya Prasta kemudian.
Joanna mengangguk tegas. "Aku udah izin ke Mas Bekti kalau hari ini aku nggak ke kantor," terang gadis manis bermanik hitam itu. "Yang penting tugas tetap harus dikerjakan dan bisa dikirim tepat waktu. Begitu, kan?" lanjutnya santai dengan raut wajah semringah.
"Kamu emang hebat! Jam segini tugas udah kelar. Niat bener!" puji Prasta disertai tawa kecilnya.
"Kebetulan nggak terlalu berat tugas hari ini. By the way, aku ganggu nggak, nih! Kamu ada acara lagi?" Joanna menatap Prasta yang duduk di sampingnya.
Gadis itu melihat jam tangannya, lalu ia berdiri. "Mau ikut aku, nggak?" tanyanya kemudian.
Prasta mengernyit, menatap gadis itu penuh tanya.
"Jalan aja. Pengen banget nyari sesuatu buat isi kamera," ujar gadis itu sebelum Prasta bertanya. Lalu ia tertawa lepas.
Prasta ikut tertawa, lalu ia menghela napasnya singkat. "Boleh! Eh, kamu bawa kendaraan?"
Joanna mengangguk. "Aku parkir di dekat pendopo tadi."
"Kamu bawa mobil?" tanya Prasta.
Sekali lagi Joanna mengangguk. "Kenapa? Motor kamu biar di sini dulu aja. Nggak apa, kan?" saran Joanna.
"Aku nggak bawa motor," ucap Prasta, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia memang tidak membawa motor karena Distha menjemputnya. Sahabatnya itu yang memintanya untuk berangkat bersama karena dia ingin menemaninya sidang skripsi. Tetapi sekarang sahabatnya itu malah pergi tanpa pamit meninggalkan dirinya yang tidak membawa kendaraan. Sialan, si Distha! Umpatnya dalam hati.
"Ya, udah! Nggak masalah kalau gitu, kan? Ayo!" pungkas Joanna.
Prasta mengangguk dan mereka segera beranjak dari taman kampus, melangkah menuju tempat parkir mobil Joanna.
"Kita makan dulu ya, Jo," ajak Prasta setelah mereka berada di dalam mobil Joanna.
Joanna tersenyum dan mengangguk. Lalu ia mulai menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya meninggalkan kampus Prasta.
"Mau makan di mana?" tanya Joanna sesaat setelah mereka meninggalkan kampus.
Prasta yang sedang menatap ponselnya, mengalihkan pandangan pada gadis manis yang duduk di kursi pengemudi.
"Kamu maunya makan apa?" tanya balik Prasta.
"Ck! Ditanya malah balik nanya!" decak Joanna, melambatkan laju mobilnya karena lampu lalu lintas di perempatan jalan di depan sana menyala merah.
Prasta tersenyum simpul. "Nggak boleh?" tanya Prasta. Tubuhnya dimiringkan sedikit menghadap Joanna. Sementara gadis itu memandang lurus ke depan, ke jalanan yang mulai padat pada jam makan siang.
"Ya, nggak juga, sih! Nggak enak aja dengernya. Masa pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Aneh, kan?" papar Joanna, seulas senyum terbit di bibirnya.
Prasta manggut-manggut dengan kedua sudut bibir ditarik ke bawah. "Ok ... Jadi siapa yang akan pilih makan apa dan di mana? Daripada kita berdebat soal makan yang mungkin nggak akan ada ujungnya," ujar Prasta akhirnya.
"Karena aku nggak ada ide soal menu makan siang hari ini, please do so!" pungkas Joanna sembari melajukan mobil Toyota Yaris-nya dengan perlahan ketika lampu lalu lintas berganti hijau.
Dan di sinilah mereka sepuluh menit kemudian, di sebuah kedai makan lesehan sederhana
yang menyediakan berbagai macam menu makanan dan minuman.
"Kamu sering ke sini?" tanya Joanna sembari menyesap jus jambu merahnya.
"Lumayan sering, sih! Gimana, enak?" tanya Prasta.
"Ini enak banget!" cetus Joanna, memuji rasa lontong cap go meh yang dipesannya.
Prasta tersenyum puas menatap Joanna yang sangat menikmati makanannya.
"Jo ...." panggil Prasta ragu.
"Hmm ...." jawab Joanna dengan gumaman. Gadis itu sedang mengunyah makanannya.
"Uummm ... Nanti malam kamu ada acara?" tanya Prasta, terdengar ragu.
"Nggak ada, sih! Kenapa?" Joanna menyesap minumannya sembari menatap Prasta yang juga menatapnya.
"Aku sama sahabat-sahabatku nanti malam ngumpul di kafe tempat biasa kami nongkrong. Kamu bisa datang?" tanya lelaki itu sembari menyulut rokok di tangannya.
"Hah? Emang nggak apa-apa ya, kalau aku join?" tanya gadis manis yang selalu tampil natural itu.
"Ya pasti nggak apa-apa, lah! Mereka pasti akan senang ketemu kamu," sahut Prasta, seulas senyuman mengembang di bibirnya.
Joanna balas tersenyum. "Baiklah. Jam berapa?" tanya gadis bertubuh semampai itu.
"Jam 7 malam. Aku jemput, ya?" tawar Prasta.
"Nggak repot?" tanya Joanna, menatap Prasta yang pada saat bersamaan juga menatapnya.
"Nggak, lah! Tapi ... Cuma naik motor, lho!" sahut Prasta sembari terkekeh.
"No problem, Pras! Kamu ngajak jalan kaki pun, it's ok!" tukas gadis yang selalu tampil modis dengan gaya yang natural itu.
Prasta tersenyum semringah. Hei! Apa aku sedang mengajak gadis ini kencan?
*****
"Apa? Coba ulangi lagi, Ata." Bu Nia memicingkan kedua netranya sembari berjalan mendekat pada putri sulungnya. Menatap tak berkedip pada putri satu-satunya.
Seketika Renata menunduk, tak mampu menatap kedua netra sang Mama yang selalu membuatnya nyaman dan hangat. Ia tak tega menatap wanita paruh baya yang sangat dicintainya. Jemarinya saling meremas dengan dada yg berdebar. Kedua netranya mulai terasa panas oleh cairan bening yang mulai menggenang.
"Maafkan Ata, Ma," ucap Renata lirih penuh sesal. "Ini ... Ini yang Ata inginkan. Ini kesempatan buat Ata untuk mewujudkan keinginan Ata. Kesempatan buat Ata untuk belajar hidup mandiri. Tidak selalu merepotkan Mama dan Papa," ungkap Renata sembari terisak. Tangisnya mulai pecah.
"Apa dengan begini caranya? Tanpa memberitahu Mama dan Papa sebelumnya? Kamu anggap apa Mama dan Papa, Ata?" cecar Bu Nia, kedua tangannya meremas bahu putrinya. Bulir bening telah jatuh dari pelupuk mata wanita paruh baya itu.
Renata tertunduk dengan isak tangis yang semakin keras. Perlahan ia menegakkan kepalanya, berusaha menatap sang Mama yang juga terisak. Ia bisa melihat tatapan kecewa pada wajah teduh sang Mama.
"Ata minta maaf, Ma. Tapi Ata harus pergi. Ini sudah keputusan Ata. Ata janji, semua akan baik-baik aja. Ata akan sering menghubungi Mama. Ata ...."
"Memang kamu mau ke mana?"
Seketika kedua wanita berbeda usia itu tersentak dan menoleh pada sumber suara yang tak lain adalah Pak Danny. Pria paruh baya itu melangkah mendekati istri dan putrinya dengan raut wajah penuh tanya.
"Kok diam? Kalian nangis kenapa?" cecar Pak Danny. Sorot mata tajam dan penuh tanya ia layangkan pada ibu dan anak itu.
Bu Nia mengusap kedua pipinya yang basah. Demikian pula dengan Renata. Bu Nia tersenyum tipis pada suaminya, sementara Renata menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap sang Papa. Seketika suasana menjadi tegang.
"Papa kok sudah pulang, baru juga jam 5 sore," ucap Bu Nia berusaha mengalihkan pembicaraan. Wanita dengan dua orang anak itu berusaha bersikap tenang.
"Ada apa ini? Kenapa pada nangis? Papa melewatkan sesuatu?" berondong Pak Danny. Pria paruh baya yang masih berpakaian kerja itu menatap lekat istri dan putrinya bergantian. Keningnya terlipat dalam.
"Pa ...." Bu Nia mendekati Pak Danny dan memegang lengan suaminya dengan lembut. "Papa mandi dulu, ya. Mama buatin minum dan siapin makan malam," ucap Bu Nia lembut, mengajak suaminya keluar dari kamar putrinya.
"Tunggu, tunggu! Ini ada apa sebenarnya, Ma?" Pak Danny semakin curiga dengan sikap sang Istri. Sementara putrinya tertunduk dan sesekali terisak.
"Ata? Ada apa? Tadi kamu bilang harus pergi. Maksudnya apa?" Pak Danny kembali melontarkan pertanyaan yang sama dengan raut wajah yang tegang.
"Pa, nanti kita bicarakan. Sekarang Papa mandi dulu, ya. Mama janji akan menceritakan semuanya," tutur Bu Nia. Tangan wanita itu masih mendekap lengan suaminya, berusaha menenangkannya.
Pak Danny menarik napasnya dalam. Perlahan ketegangan dalam dirinya menyusut. Kedua bahu pria itu perlahan turun dengan sorot mata yang berubah sendu. Ayah dua anak itu mengangguk sembari memandang istrinya. Lalu pandangannya beralih pada putri satu-satunya yang masih berdiri dengan kepala tertunduk dan kedua bahu yang naik turun menahan tangisnya.
Bu Nia mengusap bahu suaminya. "Ayo, Pa," ajaknya. Pak Danny kembali menatap istrinya, lalu mengikuti langkah sang Istri yang menuntunnya keluar dari kamar putrinya.
TBC
Kenalan sama Joanna, yuk!
**Hello, Cinta β€οΈβ€οΈ
Semoga masih tetap setia dgn kisah mereka ya βΊοΈ Eh, ada pasangan DanSa loh.. Ada yang kangen mereka?
Selalu sehat ya kalian semua. Btw, udah pada vaksin, kan?
Jangan lupa like & komen nya ya Cinta2Ku β€οΈβ€οΈ Thank you so much π€πππ