
Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat kondisi jalan yang terlihat mulai padat karena jam pulang kantor. Diliriknya Renata yang duduk di sampingnya dengan menyandarkan kepalanya di sandaran jok tempat duduknya. Matanya terpejam.
Tangan kiri Bian meraih tangan Renata dan menggenggamnya penuh kelembutan. Namun, Renata tak bergeming. Tak ada reaksi dari gadis itu. Bian menghela napasnya pelan. Sesaat kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dan kembali kedua tangannya ia letakkan di atas kemudi.
Selama mereka menjalin hubungan lagi sebagai sepasang kekasih, Bian melihat dan merasakan jika Renata tidak seperti dulu. Gadis itu lebih banyak diam, tidak banyak omong dan sering menolak bila diajak pergi atau jalan. Bian tidak pernah tahu alasannya. Kalaupun pergi berkencan, hanya sekedar makan malam dan langsung kembali pulang. Hampir tidak pernah mereka terlibat obrolan seperti layaknya sepasang kekasih. Mereka lebih banyak diam, terutama Renata.
Perlahan Bian menepikan mobilnya dan masuk pelataran parkir sebuah minimarket yang tak jauh dari komplek perumahan Renata tinggal.
Renata mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Lalu memandang Bian yang masih terdiam di kursi kemudi tanpa mematikan mesin mobilnya.
" Kok berhenti di sini. Mau beli sesuatu ? " tanya Renata sembari membetulkan posisi duduknya.
Bian menatap lekat Renata. Gadis itu diam menatap lurus ke depan.
" Ta, sebenarnya ada apa dengan kamu ? " tanya Bian sedikit menahan emosinya.
" Emang aku kenapa ? " Renata balik bertanya.
Bian berdecak, terlihat kesal dengan jawaban Renata yang malah balik bertanya.
" Ta, please kalau aku ada salah denganmu, maafkan aku ! Kita bicara baik-baik. Kita ini... Kita ini pasangan kekasih, lho ! Bukan musuh ! Aku merasa kita seperti musuh, Ta ! Kita pacaran, tapi tidak seperti orang pacaran pada umumnya ! " ucap Bian dengan nada bicara yang mulai meninggi karena menahan kesalnya.
" Masa sih ? Trus mau kamu apa ? Maunya gimana ? " tanya Renata santai menatap Bian. Aneh memang, Renata tidak merasakan apapun saat bersama Bian. Tidak seperti dua tahun lalu.
Bian memukul setir mobilnya. Gadis di sampingnya sungguh membuatnya gemas dan kesal. Tiba-tiba ia menghadap Renata, meraih kepala gadis itu dan langsung mendaratkan bibirnya pada bibir basah Renata, ********** dengan kasar.
Renata terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Bian. Ia meronta, berusaha melepaskan ciuman lelaki itu. Ia mendorong tubuh Bian keras hingga ciuman lelaki itu terlepas.
Plakk !
Sebuah tamparan mendarat di pipi Bian. Lelaki itu mengusap pipinya sembari menatap Renata dengan rahang mengeras. Wajah Renata merah padam dengan kedua mata menatap tajam penuh amarah pada Bian. Sementara Bian mengusap pipinya yang terasa panas karena tamparan Renata.
" Kamu ! Damn ! Bisa-bisanya kamu berbuat begitu padaku ! Aku benci kamu ! " teriak Renata, kemudian tangannya membuka pintu mobil untuk keluar dan membanting pintu itu dengan kasar.
Bian pun segera keluar dari mobil dan berjalan cepat menyusul Renata yang akan pergi dari tempat itu. Ia mencekal lengan Renata dan menghadapkan tubuh gadis itu ke hadapannya.
Renata tersentak kaget dan meringis kesakitan dengan cengkeraman tangan Bian di lengannya.
" Mau kemana ? Masuk ke mobil ! Masuk ! " teriak Bian menyuruh Renata masuk ke dalam mobilnya.
Renata berusaha menepiskan tangan Bian dari lengannya. Namun, cengkeraman lelaki itu teramat kuat. Ia meringis kesakitan. Matanya berkaca-kaca menatap lelaki dengan rahang yang mengeras penuh amarah. Lelaki itu sekarang telah berubah. Kasar dan pemarah. Bukan Bian yang dulu.
Bian menyeret Renata untuk masuk ke mobilnya. Renata berusaha menolak. Satu tangannya berusaha melepaskan tangan Bian yang mencengkeram lengannya. Namun sepertinya usahanya gagal.
" Lepaskan dia ! " seru seseorang dengan tiba-tiba.
Sontak keduanya menengok ke asal suara.
Renata terkejut dengan kehadiran lelaki yang berdiri tak jauh dari mereka dengan tatapan mata tajamnya.
" Pras... ta ! " ucap Renata lirih.
Bian melepaskan tangannya dari lengan Renata.
" Tunggu ! Kamu, anak buahnya Mitha, kan ? " tanya Bian dengan menggoyangkan jari telunjuknya ke arah Prasta sembari memicingkan matanya.
Prasta berjalan menghampiri Bian dan Renata. Tersenyum tipis pada Bian sebelum menjawab pertanyaan Bian.
" Benar, ingatan anda tajam. Apa kabar Pak Bian ? "
Bian terkekeh. Sementara Renata terdiam dengan wajah yang cemas dan bingung.
" Kabar baik. Sorry, saya ga suka orang lain mencampuri urusan pribadi saya, " ucap Bian sinis.
" Saya juga tidak ingin mencampuri urusan pribadi anda dengan kekasih anda. Saya hanya tidak suka anda berlaku kasar pada seorang wanita, " sahut Prasta tersenyum miring. Terlebih wanita itu adalah orang yang sangat saya cintai, batin Prasta. Ada rasa nyeri dan sesak di dadanya melihat gadis yang dicintainya diperlakukan kasar dengan lelaki yang mengaku sebagai kekasihnya.
" Oh ya ? Dia kekasih saya, Bung. Bagaimana saya memperlakukan dia, itu hak saya, urusan saya, dan bukan hak anda ! " sungut Bian, nada suaranya meninggi. Telunjuknya menekan dada bidang Prasta, emosinya mulai tersulut.
Prasta mengeratkan kepalan tangannya. Ingin rasanya ia menghajar lelaki di hadapannya ini. Benar-benar lelaki brengsek. Tidak menghargai wanita sama sekali. Namun ia tidak mau bertindak ceroboh. Ia tidak mau mempermalukan Renata dan dirinya sendiri di depan umum.
" Ini tempat umum. Tidak seharusnya anda bersikap kasar terhadap kekasih anda ataupun terhadap orang lain. Ini masuk pasal tindakan tidak menyenangkan, Bung. Untung minimarket ini sepi, tak banyak pengunjung. Berhati-hatilah, anda bisa merugikan diri anda sendiri, " ujar Prasta sinis.
Lalu, ia berbalik badan hendak beranjak dari tempat itu. Namun, saat ia hampir sampai di tempat motornya diparkir, suara lembut Renata yang memanggil namanya, menghentikan langkahnya seketika.
Tiba-tiba Renata sudah berdiri di hadapannya.
" Bisakah aku ikut denganmu ? Please... " pintanya memohon. Matanya menyiratkan ketakutan dan mengiba.
" Ata ! Please, kembali ke sini ! " teriak Bian, nada suaranya terdengar bergetar dan menyiratkan emosi.
Renata masih menatap Prasta memohon dan mengiba. Matanya sedikit berkaca-kaca. Prasta memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tak sanggup melihat wajah sendu gadis yang masih sangat dicintainya itu memohon dan hampir menangis. Sesak sekali dadanya. Ia ingin melepaskan gadis di hadapannya dari hati dan kehidupannya. Namun mengapa ia selalu dipertemukan dengan gadis itu kembali. Itulah kenapa ia ingin pergi dari kota kelahirannya ini. Sepertinya semesta telah mempermainkan hati dan hidupnya.
" Ata ! Please, Ta ! Jangan buat aku emosi ! " seru Bian sekali lagi.
" Baiklah ! Ayo ! " Prasta pun luluh. Ia membiarkan Renata ikut bersamanya. Ia pikir, tidak masalah jika ia mengantarkannya karena rumah Renata tidak jauh dari tempat itu.
" Ata ! " teriak Bian memanggil Renata.
Renata tak mempedulikan panggilan Bian. Ia naik ke atas motor Prasta dan ikut bersama laki-laki yang masih selalu ia rindukan itu.
******
Prasta melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Saat ini hatinya berkecamuk. Membonceng mantan kekasih yang masih dicintainya.
Tidak ada percakapan di antara keduanya. Jika dulu tangan Renata selalu memeluk tubuh lelaki di depannya saat dibonceng. Saat ini, Renata hanya berpegangan pada bagian samping jok motor. Ingin sekali ia memeluk pinggang lelaki yang memboncengnya, melepas rindunya. Jantungnya berdetak kencang saat ini. Bayangan kisah lalu bersama Prasta bermunculan di kepalanya seperti sebuah film slide.
Renata turun dari motor saat Prasta menghentikan motornya tepat di depan pintu pagar rumah Renata.
Renata tersenyum canggung pada Prasta yang masih duduk di atas motornya yang menyala.
" Terima kasih atas tumpangannya dan terima kasih atas pertolongannya. Aku tak tahu jika tadi kamu tidak ada di sana, " ucap Renata tulus sembari menatap Prasta yang tertunduk.
Prasta menegakkan kepalanya dan menatap Renata dengan wajah datar.
" Masuklah. Maaf aku harus segera pergi. Jaga dirimu baik-baik. Salam buat semuanya, " ujar Prasta datar dan sesaat kemudian ia melesat beserta motor sport nya.
Renata menghela napasnya panjang. Dadanya terasa sangat sesak. Ia pun segera masuk ke dalam rumahnya dengan isak tangis yang tertahan.
Di teras rumah, ia berpapasan dengan Rakha, adiknya.
" Kakak kenapa ? " tanya Rakha bingung dan cemas.
Renata berlari masuk menaiki tangga menuju ke kamarnya. Di balik pintu kamar yang sudah ditutupnya, tangisnya tumpah. Bersandar di pintu kamarnya, tubuhnya merosot ke bawah. Ia terduduk dan menangis. Hatinya sangat sakit. Kenapa harus sesakit ini untuk mencintai dan dicintai ? Semesta tak pernah berpihak padanya. Ia ingin mengakhiri semuanya.
" Kak Ata ! Kakak, please buka pintunya, Kak ! " Rakha mengetuk pintu kamar Renata berulang-ulang.
" Kak Ata kenapa ? " tanya Rakha lagi, ada kecemasan dalam nada suara adik laki-lakinya itu.
Renata mengusap air matanya kasar. Ia berusaha menghentikan tangisnya. Ia hela napasnya dalam.
" Kakak ga apa-apa, Kha. Kakak capek dan pusing, mau istirahat, " sahutnya dengan suara sedikit bergetar.
Perlahan Renata berjalan ke arah ranjangnya. Ia duduk di tepi ranjang lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Tubuhnya lelah, demikian pula dengan hatinya. Teramat lelah.
Ia teringat perlakuan dan perkataan Bian terhadapnya. Sakit sekali. Lalu ia teringat dengan Prasta. Sesaat ia merasa senang lelaki itu datang menyelamatkannya dari perlakuan kasar Bian. Namun ada rasa kecewa dan sakit di hatinya, saat laki-laki itu bersikap dingin dan datar padanya.
Begitu lelahnya Renata saat ini, hingga ia mengabaikan bunyi ponselnya yang sedari tadi berbunyi tanda pesan baru masuk dan juga panggilan telepon. Ia memejamkan matanya yang sembab. Dan perlahan ia pun terlelap.
******
Usai sholat Maghrib di musholla gedung tempatnya bekerja, Prasta duduk terdiam di teras musholla setelah memasang sepatunya.
Terbayang pertemuannya dengan Renata dan Bian sore tadi. Terbayang jelas wajah ketakutan dan mengiba gadis itu. Dan terbayang pula wajah brengsek Bian. Ia semakin membenci lelaki itu. Jantung Prasta serasa diremas menyaksikan gadis yang dicintainya diperlakukan kasar oleh lelaki yang menjadi kekasihnya. Lelaki macam apa yang tega berbuat kasar pada wanita yang menjadi kekasihnya.
Prasta seolah tak rela dengan kejadian sore tadi. Ada sisi hatinya ingin selalu melindungi Renata setelah menyaksikan kejadian itu. Ada keinginan di sisi hatinya yang lain, ingin merebut kembali cinta Renata dari lelaki brengsek itu. Jika Renata mencintai lelaki baik-baik yang tidak berlaku kasar padanya, mungkin ia akan merelakan gadis itu pergi darinya. Tidak dengan lelaki seperti Bian. Ia takkan rela. Sungguh ia tak akan rela membiarkan Renata bersama lelaki seperti Bian.
" Pras ! "
Prasta menegakkan kepalanya. Matanya menangkap sosok gadis berhijab yang berdiri di hadapannya. Ia pun tersenyum dan berdiri lalu meraih tas ranselnya.
" Hai, Kak Lana. Udah selesai sholat atau baru mau sholat ? " tanya Prasta pada gadis berhijab yang bernama Lana.
" Udah, kok. Kamu juga udah selesai ? " tanya balik gadis itu.
Prasta mengangguk, " Udah, dong ! Yuk, naik ! " ajak Prasta.
Lana tersenyum dan mengangguk.
" Gimana hari ini ? Lancar ? " tanyanya kemudian.
" Alhamdulillah, lancar. "
Keduanya lalu masuk ke dalam lift yang telah terbuka. Prasta menekan tombol 4 di sebelah kanan lift. Mereka berbincang seputar pekerjaan.
Lana adalah teman magangnya dulu dan kakak tingkat di kampusnya. Ia termasuk salah satu yang terpilih menjadi karyawan di bagian Design Grafis/Tata Letak. Sedangkan Prasta terpilih sebagai Pewarta Foto.
Tbc
***Hello Cinta πππ
Lagi2 Prasta dan Renata bertemu βΊοΈ
Apa benar ya Prasta mau merebut Renata lagi ? Ikuti terus kisah mereka ya π€
Jangan lupa like, rate n komen ya...
Sehat2 kita semua dan jangan lupa 3M π€
Banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk kalian semua π€ππππ**