
Hari ini Renata meminta Prasta untuk menjemputnya di kampus. Kebetulan Prasta sedang slow, tidak ada kuliah dan pekerjaan yang harus dikerjakan.
Project dari Pak Deddy sudah kelar tiga hari yang lalu dan Kak Mitha akan melakukan evaluasi termasuk laporan keuangan dua hari lagi. Itu artinya bonus akan ia terima sebentar lagi.
Prasta sedang menunggu Renata di depan kampus sang kekasih. Sembari menunggu, ia duduk di atas motornya, membuka salah satu aplikasi game di ponselnya dan memainkannya.
" Prasta ! Eh bener kan, kamu Prasta ! "
Sebuah suara mengagetkannya. Prasta mendongakkan kepalanya, matanya menangkap sosok gadis berwajah blasteran dengan rambut coklat tersenyum cantik di hadapannya.
" Olly ? Is it you ? "
Seketika Prasta beranjak dari duduknya. Ia berdiri tegak berhadapan dengan gadis blasteran yang disapanya Olly.
Senyuman dari bibir tipisnya tak lepas dari wajah mungil nan cantik itu.
Prasta terkekeh menatap gadis itu, yang tak lain teman masa kecilnya.
" Kamu apa kabar, Olly ? " tanya Prasta masih terkekeh. Entah mengapa ia teringat masa kecilnya bersama Olly.
" Olly baik. Pras apa kabar ? " Olly pun ikut terkekeh, tanpa berkedip menatap Prasta yang sekarang semakin keren penampilannya menurut Olly.
" Yang kamu lihat gimana ? Hehehe... Aku baik-baik, Olly ! " jawab Prasta masih dengan kekehannya.
" Wait ! Kamu kuliah di sini ? " tanya Prasta kemudian, dahinya mengernyit.
Olly mengangguk dan tersenyum.
" Kamu juga kuliah di sini ? " tanya balik Olly.
" Uummm... kebetulan tidak. By the way, sejak kapan kamu di Surabaya ? " sahut Prasta.
" Sejak kuliah ! Eh, kamu ngapain Pras, kalo ga kuliah di sini ? " tanya Olly, matanya menatap Prasta ingin tahu jawaban laki-laki yang dulu selalu menjadi pelindungnya jika ada yang mengganggunya.
" Ay ! "
Prasta berpaling mendengar suara yang sangat dikenalnya. Membuat Olly melakukan hal yang sama.
" Hai ! Udah kelar kuliahnya ? " tanya Prasta dengan senyum simpul tersungging di bibirnya.
Olly menatap Prasta kemudian beralih menatap Renata dengan tatapan menyelidik.
Prasta menggamit tangan Renata. Olly melihat bagaimana Prasta menggenggam tangan Renata.
" Ay, kenalin teman aku. Ga sengaja ketemu setelah sekian lama. Dia kuliah di sini juga rupanya, " tutur Prasta.
Renata tersenyum pada Olly yang menatapnya dengan senyum tipis.
" Hai ! Aku Renata, " sapa Renata menjulurkan tangan kanannya.
" Oh hai juga ! Olly, teman Prasta dari kecil, " Olly terkekeh memperkenalkan dirinya.
" Oh ya ? Teman dari kecil ? " tanya Renata menatap Olly lalu menatap Prasta mencari kebenaran.
Prasta menggaruk kepalanya sembari tersenyum lebar.
" Iya, Ay ! Teman main waktu kecil, " jawab Prasta.
" Kita dulu bertetangga dekat, sering main bareng. Sekolah juga bareng, " sahut Olly tertawa.
" Ini bocah suka banget bikin masalah kalo lagi main. Sering berantem kalo main, " celetuk Prasta.
" Ish ! bukannya kamu yang suka berantem ? " celoteh Olly.
" Yee...! Aku berantem juga gara-gara kamu yang awalnya bikin masalah ! " gerutu Prasta menyentil kening Olly pelan.
Olly meringis sambil memegang keningnya.
" Masih belum hilang ya kebiasaan kamu, Pras ! Sakit tau ! "
Prasta terbahak, " Kok ga nangis ? Biasanya langsung nangis meskipun disentil kalem... Hmm... baguslah kalo udah ga cengeng ! "
" Enak aja ! Siapa yang cengeng, sih ! " sungut Olly dengan bibir mengerucut.
Prasta tertawa keras melihat betapa lucunya gadis teman kecilnya.
Renata tertawa pelan mendengar serta melihat kedua orang itu berceloteh ria. Ada desir aneh di hatinya melihat keakraban mereka.
" Oh iya, kamu di fakultas apa ? " tanya Olly pada Renata.
" Aku di H - I. Kalo kamu ? " tanya balik Renata
" Sastra, Sastra Inggris, " jawab Olly.
Renata mengangguk dan tersenyum.
" Kamu masih suka bikin puisi ? " tanya Prasta
" Masih lah... dulu kamu yang suka ngeledekin kalo aku bikin puisi, " jawab Olly tersenyum simpul.
" Ya habis puisi kamu alay bin lebay sih ! " tukas Prasta.
" Uummm... Ay, aku ada yang lupa. Aku mau balik ke perpustakaan dulu ya... ada yang tertinggal di sana. Sebentar ya.... " ujar Renata bergegas meninggalkan dua orang yang sedang asyik bercanda.
" Eh, Ay ! Aku an... tar... Gimana sih, lari aja ! " seru Prasta yang diabaikan Renata.
Dengan setengah berlari, Renata menuju toilet kampus bukan ke perpustakaan seperti yang ia katakan pada Prasta tadi.
Renata ingin meredam gejolak aneh yang ada di hatinya melihat keakraban antara Prasta dan Olly. Ia merasa seolah dirinya makhluk tak kasat mata diantara mereka berdua.
Renata menatap dirinya di cermin. Ada setitik bulir bening di ujung matanya. Dihapusnya perlahan dengan ujung jemarinya, kemudian ia membasuh kedua tangannya di wastafel. Sejenak ia terdiam, menghela dalam napasnya. Kemudian ia berjalan keluar, menemui Prasta dan Olly kembali.
" Udah, Ay ? " tanya Prasta
" Iya, udah. Kalian udah selesai kangen-kangenannya ? " tanya Renata dengan senyum tipis.
Prasta sontak menatap Renata dengan sedikit salah tingkah.
" Belum sih sebenarnya... tapi mau gimana lagi. Kata Prasta kalian masih ada keperluan lain. Next time kali ya, kita bisa sambung ngobrol lagi, " sahut Olly dengan raut sedih.
Renata hanya tersenyum sekilas sembari melirik Prasta.
" Ok, kita harus pergi dulu, Olly. See you next time ya.... " tersenyum tipis, Prasta berpamitan dengan teman masa kecilnya.
" Ok, Pras. I'll contact you soon... titip salam sama ibu dan ayah ya, " ujar Olly tersenyum sumringah.
Prasta hanya mengangguk.
" Udah siap, Ay ? Helm nya dipakai dulu dong, " Prasta berkata dengan seulas senyum termanis pada kekasihnya.
" Iyaa... udah ayo jalan ! " kata Renata dengan nada sedikit kesal.
Prasta menghela napas dan segera melajukan motornya.
" Kita makan dulu ya, Ay, " cetus Prasta memulai bicara karena sedari tadi mereka hanya saling diam. Prasta menggenggam sebelah tangan Renata, membawanya ke dada bidangnya, cukup lama. Renata bisa merasakan debaran jantung Prasta. Perlahan, Renata mendekatkan tubuhnya, memeluk tubuh Prasta. Erat, disandarkan kepalanya pada punggung kekar kekasihnya. Hangat, aroma maskulin membuatnya semakin mengeratkan pelukannya. Prasta tersenyum sembari tetap fokus melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
*****
Prasta memandangi wajah menawan Renata, gadis penghuni hatinya. Gadis yang selalu terlihat sederhana tetapi luar biasa. Prasta teramat mencintai gadis manis di hadapannya.
" Ay ! Ada apa ? Kok ngeliatin aku kek gitu ? " tanya Renata.
" Ga apa-apa. Aku beruntung bisa bertemu denganmu. Aku bahagia memilikimu, Ay. Jangan pernah tinggalin aku ya, Ay. Aku ga bakalan sanggup, " ucap Prasta menggenggam erat tangan Renata.
" Tadi aku tinggalin bisa, kan ? " sungut Renata.
" Ay ! Aku serius, sayang.... " sahut Prasta.
" Aku juga ga becanda, " cetus Renata, ia tarik tangannya lepas dari genggaman Prasta. Diedarkan pandangannya ke arah lain di tempat itu, sebuah cafe outdoor di tepi sebuah sungai dengan tempat duduk lesehan berbentuk joglo.
" Ay... Sayang ! Kamu kenapa ? " Prasta beringsut mendekati Renata, memeluk pinggang gadis itu.
Renata terdiam menundukkan kepalanya. Ia menunggu Prasta bercerita tentang Olly. Namun, hingga saat ini tak sedikitpun cerita itu keluar dari bibir Prasta.
Renata tersenyum tipis. Seorang pelayan datang mengantarkan makanan dan minuman pesanan mereka.
" Silahkan, Kak. Selamat menikmati, " ucap pelayan perempuan itu.
" Makasih, Mbak, " jawab Renata dan Prasta bersamaan.
" Wow ! ini pasti enak banget, Ay ! " seru Prasta melihat sapo tahu di hadapan mereka. Makanan favorit mereka berdua.
Renata tersenyum. Sapo tahu dan udang saos telur asin, memang makanan favorit mereka berdua. Mereka sehati jika menyangkut masalah perut, banyak kesamaan.
Mereka berdua pun menikmati makanan mereka. Sesekali Prasta menyuapi Renata. Prasta tahu, Renata sedang mode merajuk saat ini. Ia tahu apa yang membuat Renata bersikap diam dan tak banyak bicara seperti biasanya.
Prasta meraih tissue yang ada di meja, lalu membersihkan mulut Renata yang sedikit belepotan karena kuah sapo tahu. Prasta terkekeh pelan.
" Ay, senyum dong ! Aku gemas nih liat kamu kek gini, " kelakar Prasta.
Renata tetap diam dengan raut wajah datar. Mengabaikan ucapan Prasta. Ia asyik menikmati makanannya.
Prasta beralih duduk di samping gadisnya yang merajuk. Tanpa berkata-kata lagi, Prasta mendaratkan dua kali kecupan di pipi gadisnya.
Renata terkejut seketika.
" Ay ! apaan sih ! Malu diliat orang ! " sungut Renata dengan raut wajah cemberut.
" Kamu sih ! Aku kan udah bilang, aku gemas kalo liat kamu diam aja, merajuk kek gini, " ujar Prasta dengan kekehan kecilnya.
" Siapa juga yang merajuk ! " sahut Renata.
" Tuh masih ga mau ngaku ! Aku gemas lho, Ay ! " tukas Prasta. Sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Renata, Prasta berbisik, " Aku mau cium bibir kamu di sini lho, kalo kamu masih merajuk. " Kembali Prasta terkekeh.
" Apaan sih ! Kamu yang bikin gara-gara juga, " cetus Renata.
" Asyik banget ngobrol dan becanda sama cewek lain di depan pacarnya ! " sungut Renata, ia pun sudah tidak bisa menahan semua keluh kesah di hatinya.
Prasta terkekeh mendengar perkataan Renata. Dipandangnya gadis penghuni hatinya dengan penuh cinta.
" Aku makin sayang dan cinta sama kamu, Ay ! Kita nikah, yuk ! " tutur Prasta.
Renata membelalakkan kedua matanya.
" Apaan sih ! " Renata salah tingkah.
" Aku serius, Ay ! Lama-lama aku ga bisa nahan kalo dekat-dekat kamu lho ! Bikin gemas selalu sih ! " celoteh Prasta seraya menatap Renata yang salah tingkah.
Prasta benar-benar dibuat gemas oleh tingkah Renata. Dipeluknya pinggang kekasihnya erat.
" Maaf ya, Ay ! Berapa kali aku bilang, sejak ada kamu, ga pernah sedikitpun ada gadis lain di hatiku. Cukup kamu dan hanya kamu, Renata Eka Andara. Cup ! " Prasta mencium pipi kekasihnya sekali lagi. Nada suaranya serius, tidak ada kesan bercanda.
Renata menatap laki-laki yang sudah mencuri hatinya dengan dada berdegup kencang. Ada perasaan bahagia yang tak bisa ia ungkapkan.
Mereka saling menatap, wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi. Perlahan Prasta mendekatkan wajahnya ke wajah Renata. Gadis itu hanya terdiam sembari menutup matanya. Prasta tak bisa menahannya lagi, bibirnya menyentuh bibir berwarna pink milik Renata. Dikecupnya sekilas, tak ada perlawanan dari Renata. Lagi, Prasta mengecup bibir mungil Renata cukup lama, hingga keduanya tersadar dan melepas kecupannya. Kedua kening mereka saling menempel.
" I love you, Renata Eka Andara. Please stay with me and don't leave me. Be mine forever, " lirih Prasta berkata, sebelah tangannya mengelus lembut pipi Renata.
" I love you more, Prastawan Nugroho. I don't wanna lose you, " ucap Renata tersenyum, tangannya menggenggam tangan Prasta yang berada di pipinya.
" Jangan marah lagi ya, Ay ! Olly bukan siapa-siapa. Kami hanya berteman, Ay, " tutur Prasta.
Renata menatap mata Prasta, mencari kebenaran atas ucapan laki-laki beralis tebal itu.
" Hanya itu ? " tanya Renata menyelidik. Ia ingin tahu semua cerita tentang Olly.
" Apa yang ingin kamu tau, sayang ? " Prasta bertanya balik.
" Semuanya. Cerita in semuanya, dong ! Masa cuma itu. Katanya teman dari kecil, " sahut Renata.
Prasta tersenyum, lalu dari bibirnya mulai keluar kata demi kata menceritakan tentang Olly.
" Olly dan aku bertetangga. Dia tinggal di sebelah rumah aku, tepatnya di sebelah kiri rumah. Ibu dan Maminya Olly berteman dekat. Papi Olly bekerja di konsulat Australia. "
" Papi Olly bule, I mean orang Australia ? " tanya Renata.
" Iya. Kami bersekolah di SD yang sama. Namanya juga bertetangga dan bersekolah di sekolah yang sama, kami pun jadi teman. Ya teman sekolah, ya teman main di rumah. Hehehe... "
" Kenapa Olly pindah rumah ? " tanya Renata.
" Karena tugas Papinya mereka harus pindah. Papi Olly harus pulang ke negaranya, ditugaskan balik ke negaranya. Waktu itu baru saja kenaikan kelas. Kami naik kelas 6 SD. Olly tidak mau pindah, ia ingin tinggal di sini bersama Eyangnya. Namun, Papi dan Maminya tidak mau berpisah dengan Olly, dan tidak mau merepotkan Eyangnya. Jadi terpaksa Olly ikut pindah ke Australia, " cerita Prasta mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Mendengar cerita Prasta, Renata terdiam.
" Aku melihat cinta di mata Olly buat kamu, " cetus Renata tiba-tiba.
" Apa coba, Ay ! Please, jangan mulai lagi, " tukas Prasta.
" Aku melihatnya, Ay ! Dia tidak hanya menganggapmu sebagai seorang teman, I saw it, " ujar Renata.
" Sayang... aku hanya menganggap dia teman, tak lebih dari itu. Percayalah ! "
" I believe in you, Ay ! " ucap Renata, senyuman simpul tersungging di wajahnya yang mungil.
Prasta meraih kedua tangan gadis tercintanya. Tersenyum bahagia pada gadis itu.
" Seriously, I wanna marry you ! " cetus Prasta.
" Ay ! "
*******
Beberapa hari kemudian.
Renata membereskan buku-buku yang berserakan di meja belajarnya. Ia baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya. Semuanya sudah ia simpan di flash disk, tinggal print out.
" Ata ! "
Suara Bu Nia mengagetkan Renata.
" Mama bikin kaget deh ! " ujar Renata melihat Bu Nia sudah berada di belakangnya. Bu Nia terkekeh.
Pintu kamarnya memang sengaja dibiarkan terbuka saat itu.
" Ada apa, Ma ? " tanya Renata.
" Kemarin malam pas kamu siaran, Prasta datang ke rumah ketemu sama adik kamu, " kata Bu Nia.
" Oh ya ? Kok mereka ga bilang ke Ata, Ma. Mama juga kok ga cerita ? " tanya Renata.
" Prasta ga cerita ? " tanya balik Bu Nia.
Renata menggelengkan kepalanya.
" Mama ga cerita ke kamu karena semalam kamu pulang, Mama kan udah tidur, sayang... Pagi pun kamu udah buru-buru berangkat, " jelas Bu Nia.
Renata tersenyum, " Iya, Ma. Trus kenapa sama Prasta dan Rakha ? "
" Si Rakha minta Prasta mengajari fotografi. Mama liat, adikmu niat banget gitu belajarnya. Mama juga heran, si Rakha bisa dekat banget sama Prasta. Hehehe.... " tutur Bu Nia.
" Owh gitu... trus masalahnya apa, Ma ? " tanya Renata
" Ga ada masalah sih ! Cuma... "
" Cuma apa, Ma ? " tanya Renata penasaran.
" Papa kamu. "
" Papa ? Ada dengan Papa ? "
" Papa mengajak ngobrol Prasta cukup lama. "
" Maksudnya gimana, Ma ? Mama cerita jangan putus-putus kenapa sih ? Bikin penasaran aja deh ! " sahut Renata.
" Papa bertanya apa Prasta serius sama kamu. Papa ga mau kalian dekat hanya sekedar pacaran, " Bu Nia bercerita tentang obrolan sang Papa dan Prasta.
" Papa nanya gitu ke Prasta ? Trus Mama tau, apa jawaban Prasta ? " tanya Renata.
" Mama dan Papa terkejut dengar jawaban Prasta, " ujar Bu Nia.
" Emang apa jawaban Prasta, Ma ? "
" Prasta bilang siap melamar kamu sekarang jika itu yang diinginkan Papa dan Mama, " jawab Bu Nia dengan tawa kecilnya.
" Apa ? " Renata terbelalak mendengar cerita Bu Nia.
" Ck ! Prasta becanda itu, Ma. Udah ga usah didengerin, " ucap Renata.
" Kata siapa dia becanda ? Dia serius bilang ke Papa sama Mama. Katanya dia juga udah bilang sama kamu, " tutur Bu Nia.
" Emang Prasta bilang gimana sih sama Papa dan Mama ? " tanya Renata sangat penasaran.
" Dia bilang serius sama kamu. Dia juga bilang sangat mencintai kamu dan ingin segera halal in kamu. Begitu dia bilang, " jawab Bu Nia serius.
Renata tak bisa berkata-kata lagi. Semua yang didengarnya dari sang Mama sama dengan yang pernah diutarakan kekasihnya kepadanya.
Tbc
Olly
***Hellooww beloved readers... 💞💞
Author mohon maaf karena slow up 🙏🙏
Kesibukan RL benar-benar menyita waktu 😔
Yang kangen Prasta dan Renata semoga terobati ya Dears 🤗
Thank you yang udah tinggalin jejaknya di sini
Banyak cinta dan sayang buat kalian semua 🤗😘💞💞
Stay safe n healthy as always 😘💞***