
HAPPY READING โบ๏ธ
Duduk bersandar di kursi kerjanya sambil menatap ponsel yang masih digenggamnya, Prasta tersenyum kecut. Sebelum beranjak dari duduknya, laki-laki berkulit putih bersih itu menghela napas panjang. Meja kerjanya sudah rapi. Lalu ia meraih tas punggung yang ia letakkan di bawah meja kerjanya, bersiap untuk pulang.
Hari ini ia mengambil cuti setengah hari, karena harus menghadiri acara resepsi pernikahan Distha. Sahabat baiknya itu meminta dirinya membantu segala persiapan sebelum acara resepsinya berlangsung. Terlebih karena Saka dan Danisha yang tidak bisa ikut serta membantunya karena kondisi Danisha yang sedang hamil muda dan membutuhkan istirahat yang cukup.
"Gimana Olly, Pras? Dia bisa kan, datang nemenin kamu di resepsinya Distha?"
Pertanyaan ibunya tadi di telepon terngiang kembali. Ia berjalan keluar ruangan kantor sembari sesekali menyapa beberapa rekan kerjanya yang masih bergelut dengan pekerjaannya masing-masing.
Padahal sebelumnya, Prasta sudah memberitahu ibunya jika Olly sedang berada di Sydney dan ia tidak tahu kapan gadis itu akan kembali ke Surabaya. Ibunya hanya menghela napas singkat saat Prasta kembali mengulang perkataannya tempo hari mengenai Olly yang tidak akan bisa menemani dirinya datang di acara resepsi pernikahan Distha.
Sebenarnya, Prasta sudah berencana akan mengajak Joanna jika Olly masih di Sydney. Namun, takdir belum berpihak pada laki-laki itu. Gadis rekan kerjanya itu juga sedang tidak berada di Surabaya. Dia sedang berada di Singapura mengunjungi kakak satu-satunya di sana.
"Mau gimana-gimana, statusku emang jomlo sekarang. Hhhh ...! Nikmati aja, deh!" desahnya penuh pasrah.
***
Pandangan Prasta menyapu seluruh area ballroom hotel tempat acara resepsi pernikahan Distha dan Dokter Ardhy diselenggarakan. Mencari-cari keberadaan sahabatnya, Saka dan Danisha. Hingga ia melebarkan kedua netranya saat mendapati kedua sahabatnya yang sudah berada di atas panggung pelaminan bersama sang Pengantin. Lantas, ia segera melangkah lebar naik ke atas panggung pelaminan tempat sahabatnya berkumpul.
"Wooiii! Sialan, aku ditinggal, nih!" protes Prasta saat ia sudah berada di hadapan mereka.
"Kamu dari mana? Dicariin juga dari tadi. Jangan bilang kamu lagi tebar pesona di sini," lontar Saka.
"Woiya jelas! I'm free! Inget itu! Bebas dong, mau ngapain," sahut Prasta dengan tawanya yang lebar.
"Hilih! Udah dapat belum?" ledek Dokter Ardhy.
"Gayamu, Pras! Paling juga sehari doang, paling ujung-ujungnya cuma Renata yang nggak tergantikan," timpal Saka.
Seketika Prasta menghentikan tawanya. "Kalian ini nggak bisa apa, menghibur teman dikit aja. Kasih semangat gitu buat nyari gandengan!" dengus Prasta.
"Anyway, congratz ya, Sista! Sakinah, mawadah, warahmah. Dok, selamat, ya! Kalau sewaktu-waktu aku butuh Distha, boleh ya, pinjam. Hehehe ...." kelakar Prasta dengan cengiran di wajahnya.
"Enak aja main pinjam! Emang istri aku barang!" sungut Dokter Ardhy.
"Cieee ... Istri nih, sekarang ... Uhuk!" ledek Prasta, pura-pura terbatuk.
Sontak tangan Distha melayangkan pukulan di lengan laki-laki yang berbalut blazer merah maroon berbahan denim itu. Seketika itu pula, sahabatnya meringis dan mengumpat untuk menunjukkan reaksinya. Pukulan Distha dirasanya cukup keras hingga ia merasakan kesakitan di lengannya yang cukup gempal.
"Duh! Sakit tahu, Sist! Keras banget sih, mukulnya!" cerca Prasta dengan kedua netra menatap tajam pada si Pengantin Wanita.
"Syukurin! Coba ledek lagi! Aku smack down tahu rasa!" ancam Distha, yang justru membuat Prasta dan kedua sahabatnya melepas tawanya.
"Hei! Kamu nggak salah ngomong gitu? Bukan aku yang mestinya kamu smack down, Sist! Noh! Laki-laki ini nih, yang harus kamu smack down! Tapi jangan sekarang, nanti aja di kamar!" seloroh Prasta sembari merangkul bahu Dokter Ardhy dan menghadapkannya pada Distha. Ia berbicara disertai tawanya yang cukup kencang. Beruntung suara live music yang mengiringi acara tersebut bisa meredam tawa keras Prasta.
Distha memberengut sembari mendengkus keras.
"Ka! Temenmu ini benar-benar, deh! Awas ya, kalau kamu nikah nanti! Tunggu aja!" adu Distha pada Prasta disertai ancamannya sekali lagi.
"Emang dia nikah sama siapa, Yang?" tanya Dokter Ardhy bermaksud menyindir.
Kali ini tatapan Prasta beralih pada si Pengantin Pria. Tatapan tajam mengintimidasi.
"Serah kalian, deh!" dengus Prasta pasrah.
Kedua mempelai dan sepasang suami istri sahabatnya itu akhirnya tergelak mendengar ucapan Prasta yang terdengar pasrah.
***
Setelah cukup membuat rusuh di atas panggung pelaminan Distha dan Dokter Ardhy, Prasta dan kedua sahabatnya memutuskan untuk meninggalkan kedua mempelai dan menikmati hidangan yang telah disediakan di acara tersebut. Tentu saja hal itu juga dikarenakan masih banyak tamu undangan yang mengantre di bawah panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat pada sang Pengantin.
"Katanya mau ajak si Jo, Pras? Kok malah datang sendiri?" tanya Danisha saat mereka sedang mengantre mengambil makanan di meja prasmanan.
"Dia mendadak pergi ke Singapura pagi tadi," jawab Prasta yang berdiri di belakang Danisha.
"Ke Singapura? Tugas kantor?" cecar Saka yang berdiri di depan Danisha sembari menuangkan daging sapi lada hitam di piringnya.
"Bukan! Mengunjungi kakaknya," sahut Prasta. Laki-laki yang membiarkan rambut sebahunya tergerai itu mengambil lauk yang sama dengan Saka.
"Kakaknya tinggal di Singapura?" tanya Danisha yang menengok Prasta di belakangnya setelah menuangkan sup kepiting asparagus di mangkuk kecil yang diletakkan di atas piringnya. Prasta membalasnya dengan sebuah anggukan.
"Kok nggak ambil nasi, Bee?" sela Saka.
Danisha menggeleng. "Nggak selera," sahutnya malas.
"Kamu harus banyak makan, Sist. Kasihan baby kamu, lho! Inget pesan dokter," tutur Prasta mengingatkan.
"Iya ... Ini juga udah ada kentang wedges, sup, daging sapi, udang sama brokoli. Rasanya cukup, deh!" papar Danisha sembari menunjukkan piring makannya yang terlihat penuh pada kedua lelaki yang bersamanya.
"Belum lagi nanti buahnya atau pudingnya," imbuh wanita yang tengah hamil muda itu dengan senyum lebarnya.
"Habisin dulu yang ada di piring itu, Bee," tukas Saka lembut dengan bibir yang melengkung.
"Doyan apa rakus, ya?" celetuk Prasta sembari tergelak.
"Ish! Tadi disuruh banyak makan, sekarang kok diledekin!" sungut Danisha, tangannya memukul lengan Prasta dengan spontan, membuat sahabatnya itu meringis sekaligus tertawa.
"Jadi, Renata benar-benar nggak ada kabar?" tanya Saka pada Prasta. Mereka kini sedang menikmati hidangan di sudut ballroom, duduk di kursi yang tersedia untuk keluarga.
Prasta menggeleng dan tersenyum tipis. "Aku udah mencoba menghubungi nomor ponselnya beberapa kali, non aktif. Tapi, aku pernah menerima pesan dari nomor asing, yang pernah aku ceritain tempo hari itu. Trus aku coba hubungi nomor itu, tapi nggak ada sambutan. Maksud aku, teleponku diangkat cuma diam aja, nggak ada sahutan dari yang punya nomor. Sepertinya dia cuma dengerin aku ngomong aja, " ucapnya lirih.
Saka mengangguk-angguk.
"Dan aku merasa itu dia," imbuhnya lirih.
Saka menghentikan tangannya yang akan menyuapkan sesendok puding ke mulutnya mendengar perkataan terakhir sahabatnya. Sementara Danisha pun mengalihkan pandangannya ke arah Prasta yang duduk di hadapannya.
"Oh, ya?" singkat Saka yang menatap Prasta dengan kerutan di dahinya.
"Uumm ... Hanya dugaanku, sih," lontar Prasta.
"Tapi ... Bisa jadi dugaanmu itu benar, Pras," timpal Danisha.
"Renata tidak ada menghubungi kamu, Bee?" tanya Saka pada Danisha.
Danisha menggeleng lemah. "Maaf! Bang Hendra kapan lalu pernah info aku, Renata menghubunginya. Tetapi saat akan diangkat, telponnya mati. Lalu Bang Hendra coba menelepon balik, sayangnya nomornya tidak bisa dihubungi alias tidak aktif," ungkap Danisha.
Saka menepuk bahu sahabatnya. "Sabar. Biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya. Seperti air yang mengalir, let it flows. Yang terpenting saat ini adalah doa. Jangan pernah berhenti berdoa, Pras. Biarlah Allah yang menentukan bagaimana akhirnya," tutur Saka.
Prasta tersenyum getir sembari menggangguk. "I know. I am trying to do that way," ucap Prasta lirih dengan senyuman tipis di bibirnya. Suaranya tenggelam karena ramainya suasana dan suara alunan live music yang menggema di se-antero ballroom.
Sementara itu, di sebuah apartemen dengan tipe 1 BR yang berada di kawasan Jakarta Selatan, seorang gadis sedang menatap ponselnya dengan raut sendu. Ia duduk di single sofa yang ada di kamar dan membuka media sosial dengan akun lamanya. Di sana ia bisa melihat postingan terbaru teman-temannya dan juga mantan kekasihnya.
Senyum getir dan netra sendu menghias paras manisnya. Helaan napasnya terdengar berat. Ia merindukan semuanya.
"Seandainya kita baik-baik saja, mungkin postingan kamu nggak sendiri begini," gumamnya lirih. Ditatapnya sebuah foto lelaki dengan rambut sebahunya yang dibiarkan tergerai disertai senyum menggodanya yang menawan. Tanpa sadar, ia mengulum sebuah senyuman. Ia juga membaca sebuah caption yang tertulis di bawah foto itu.
@PrasNugra : Walau datang sendiri, tapi aku tak sendiri di sini ๐
"Mimpiku menjadi kenyataan, meskipun tidak benar-benar seperti ekspektasiku. Tapi kenapa aku merasa kosong, juga sendiri di sini?" Kembali gadis itu bergumam lirih.
Pandangan Renata beralih pada jendela kaca di kamarnya yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit. Langit yang pekat dengan beberapa titik cahaya bintang menghias malam yang semakin larut.
Renata menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan posisi menatap langit-langit kamarnya. Sesaat kemudian ia memejamkan kedua netranya sembari menghela napas panjang.
I'm completely alone right now.
***
Dua tahun berlalu ....
Malam itu, rumah Danisha dan Saka tampak ramai. Ada Distha dan Dokter Ardhy bersama putri kecilnya yang berkunjung sejak sore. Setelah Maghrib, Prasta baru datang. Laki-laki yang masih setia dengan rambut panjangnya itu, baru pulang dari kantor langsung menuju rumah sahabatnya.
Saat ini, mereka sedang menikmati makan malam bersama.
"Kok nggak ajak Joanna, Pras?" tanya Danisha pada Prasta yang baru saja mendudukkan diri di kursi makan bersama yang lain.
"Nggak!" jawab Prasta singkat.
"Kenapa?" Kali ini Distha yang bertanya.
"Dia sibuk," sahut Prasta, tersenyum tipis.
"Wah! Barra makin pinter ya, udah bisa makan sendiri. Kapan-kapan Om ajak makan ayam goreng, mau?" celetuk Prasta, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Barra yang sedang asyik makan, menganggukkan kepalanya.
"Siipp!" sahut Prasta melihat Barra menganggukan kepalanya.
"Jangan ngada-ada deh, Pras! Jangan janji apa pun sama Barra. Dia bakal inget dan nagih janji kamu, lho!" timpal Danisha.
"Ya, biarlah! Ya kan, Barra? Kita mau main bom-bom car. Ya, kan?" ucap Prasta sambil mengusap puncak kepala bocah kecil yang duduk di baby chair di sampingnya.
"Makanya buruan bikin anak sendiri!" celetuk Dokter Ardhy.
"Gampang itu!" sahutnya santai.
"Udah saatnya move on, Bro!" imbuh Saka.
"Jangan PHP-in anak gadis orang melulu," timpal Distha.
Prasta menatap sahabat-sahabatnya bergantian. "Kalian udah sepakat menyerang aku, ya?" tukas Prasta dengan tawa kecilnya.
Prasta mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terkekeh. "It's ok!" ucapnya singkat.
"Pras ...." sela Danisha pelan.
"Makasih atas kepedulian kalian. Jangan khawatirkan aku. I'm fine, ok?" potong Prasta. Tangannya meraih gelas kaca berisi air putih dingin di depannya, menenggaknya hingga tersisa setengah gelas.
Semuanya terdiam. Prasta melanjutkan makannya tanpa berbicara hingga makanan di piringnya tak bersisa.
"Sorry!" celetuk Distha tiba-tiba yang juga telah menghabiskan makanannya.
"Nggak ... Nggak apa-apa, kok! Sungguh! Aku emang brengsek!" sahut Prasta, nadanya getir.
"Pras!" seru Danisha. Lalu wanita berhijab itu melirik suaminya, memberikan sebuah isyarat. Saka paham dengan isyarat yang ditunjukkan Danisha. Ia menghela napasnya dalam.
Danisha bangkit dari duduknya. Ia mengangkat Barra dari baby chair, membawanya untuk membersihkan tangan dan mulut putra kecilnya yang berlepotan karena makanan. Distha pun melakukan hal yang sama pada putri kecilnya. Kedua wanita itu meninggalkan ketiga lelaki yang masih duduk bergeming di meja makan.
Kini, ketiga laki-laki itu sudah berpindah tempat di taman belakang. Prasta mengisap rokoknya santai. Sementara Saka dan Dokter Ardhy tak henti memperhatikan sahabatnya yang terkesan cuek.
"So, apa rencanamu?" tanya Saka memecah keheningan di antara mereka.
Prasta menekan puntung rokok ke dalam asbak di hadapannya untuk mematikan rokoknya. "Nggak ada," jawabnya singkat. Lalu menghela napasnya dalam.
"Kenapa?" tanya Dokter Ardhy.
"Ya emang nggak ada rencana. Jalani yang ada saat ini. Apa lagi?" sahut Prasta dengan senyum tipis.
"Just let it flows, right?" imbuhnya. Ia menatap Saka yang duduk di hadapannya.
Saka mengangguk dengan satu tangan yang menangkup dagunya. "Don't give up and to be hopeless!" ucapnya santai dengan seulas senyuman.
Prasta mengangguk tegas. "Sure, no worries! Thank you anyway!" sahut Prasta, tersenyum lebar.
"Anytime!" balas Saka dengan senyum semringah. Keduanya saling memberikan tinjuan kecil sebagai salam khas mereka. Sementara Dokter Ardhy yang duduk di samping Prasta pun merangkul bahu lelaki sahabat istrinya.
"Wait! Gimana Joanna?" celetuk Dokter Ardhy dengan tangan yang masih merangkul bahu Prasta.
"Come on, Man! You know I have no special feeling to her," tukas Prasta dengan tawa lebarnya. "We're just friend. That's all!" imbuhnya menegaskan.
"Oh, ya? Sure?" tanya Dokter Ardhy sekali lagi dengan senyum miringnya.
Saka menggeleng disertai tawanya yang lepas saat Dokter Ardhy bertanya dengan senyum miringnya. Sementara sahabat baiknya itu seketika menatap tajam suami Distha itu.
"Dia menarik, lho! Baik, perhatian. Yang lebih penting satu frekuensi sama kamu, sama-sama hobi fotografi dan satu lagi, suka kelayapan!" celoteh Dokter Ardhy.
"Apaan sih, Bang! Ngaco, deh!" kelit Prasta.
"Hilih! Masih nggak mau ngaku!" Dokter Ardhy mencibirnya.
Saka menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari terkekeh.
"Kita semua tahu, Pras," timpal Saka santai, menatap sahabatnya yang terlihat bingung.
"Kalian kenapa, sih? Kepo dan aneh, deh!" gerutu Prasta menatap aneh kedua saudara sepupu itu.
"Joanna menyukaimu," lontar Saka akhirnya.
Prasta menjengit, menatap kedua lelaki yang kini sudah berstatus Ayah itu hingga keningnya terlipat dalam. Ia tergagap dengan perkataan yang baru saja dilontarkan Saka. Bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu tetapi diurungkannya. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, menghindar dari tatapan kedua lelaki bersaudara itu.
"Masih nggak mau ngaku?" sindir Dokter Ardhy.
"Nggak mau cerita sama kita berdua?" bujuk Saka.
"Atau kamu mau dua perempuan di atas itu tahu dan menginterogasi kamu?" ledek Dokter Ardhy dengan ancaman.
Ya! Buat Prasta itu ancaman!
"Kampret! Ngancam, nih?" sungut Prasta disertai dengkusan kasar.
TBC
**Hello, Cinta โค๏ธโค๏ธ
Maafkan baru bisa up ya... RL nya lagi ribet, nggak bisa ditinggal ๐
Makasih banyak masih setia menungguโบ๏ธ๐
Sehat selalu buat kalian semua ๐ค๐๐.
Please, like & komen yaa... Nggak harus vote atau kasih hadiah, kok. Like & komen cukup buat aku ๐**