LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 34 Kembali



HAPPY READING ☺️


Prasta melajukan motor sport tunggangannya dengan kecepatan sedang di jalanan yang sepi pada hampir tengah malam dari rumah Saka menuju ke rumahnya.


Setelah melalui sedikit perdebatan mengenai perasaan dan hubungannya dengan Joanna, pada akhirnya ia tak bisa menolak untuk tidak bercerita. Ya, lelaki itu tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu tentang dirinya dengan sahabat baiknya, Saka. Persahabatan yang sudah terjalin sangat lama menyebabkan mereka memiliki rasa saling terbuka dan mempercayai.


Memasuki jalan komplek tempat tinggalnya, tiba-tiba Prasta menghentikan laju motornya di sebuah tempat nongkrong, tepatnya di sebuah angkringan khas Jogja yang cukup ramai dikunjungi oleh anak-anak muda seperti dirinya.


Setelah memarkirkan motor di tempatnya, ia memesan minuman hangat teh jahe dan mengambil dua bungkus kacang goreng. Lantas ia memilih tempat duduk lesehan tak jauh dari gerobak angkringan itu berada. Tak berselang lama, pesanannya datang.


"Matur nuwun, Mas," ucapnya dengan seulas senyuman pada laki-laki pengantar pesanannya yang terlihat tidak beda jauh usianya dengan dirinya.


"Sami-sami, Mas," sahut laki-laki itu.


Udara tengah malam itu terasa dingin menerpa tubuhnya, meskipun ia memakai jaket varsity berbahan fleece yang cukup tebal dan tertutup ritsleting penuh hingga bagian atas tubuhnya. Kantuknya pergi setelah meminum kopi Lampung yang disuguhkan Bu Erni, asisten rumah tangga Saka.


"Jadi begitu ceritanya, ya," ujar Saka dengan kepala yang bergerak ke atas dan ke bawah.


Prasta teringat kembali komentar Saka saat dirinya menceritakan tentang Joanna.


Joanna. Prasta menghela napasnya sebelum menyesap teh jahe-nya.


"Maafkan aku, Pras. Aku nggak bisa mengontrol perasaanku. Aku nyaman saat bersama kamu dan aku juga merasa aman bersamamu," ungkap gadis itu.


Saat itu, setahun yang lalu. Ya, Prasta juga tidak menyangka dengan pengakuan gadis itu. Meskipun ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, jika perasaan itu juga dimilikinya. Namun, ia tidak yakin dengan perasaannya. Apakah itu cinta atau sekedar rasa nyaman?


Yang disadarinya, sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat dan seringkali menghabiskan waktu berdua.


"Kamu tahu, Pras?" tanya Joanna malam itu. Malam di mana Prasta mengantar Joanna ke apartemennya setelah menyelesaikan pekerjaan deadline mereka. Keduanya sedang duduk di lantai balkon unit apartemen milik gadis itu dengan kepalanya bersandar pada bahu Prasta. Sementara kedua netranya menatap langit malam yang dihias kilau cahaya sekumpulan bintang .


"Apa?" Prasta balik bertanya, sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat gadis berparas eksotis itu yang bersandar manja di bahunya.


"Langit di atas sana tampak berbeda ketika kamu menemukan orang yang kamu sayangi berada di atas sana." Joanna bergeming setelah melontarkan kalimat penuh makna itu.


Prasta mengernyit. "Maksudnya?"


Joanna menegakkan kepalanya, tetapi tatapannya tak beralih dari langit yang malam itu tampak cerah dengan sekumpulan bintang yang menemaninya.


Prasta mengalihkan pandangannya kepada gadis di sampingnya yang tersenyum semringah.


"Aku menemukan dirimu di atas sana, di antara sekumpulan bintang dengan kilau cahayanya. I can picture of you up there. Therefore, the sky looks different. As it because of you," ungkap Joanna berfilosofi.


Prasta terkekeh mendengar penuturan Joanna. "Kamu ngegombal? Mau bikin aku ge-er?"


Seketika Joanna menoleh pada lelaki yang telah membuatnya membuka hatinya kembali. "Seriously no!" sahutnya cepat. Kedua netranya menatap Prasta yang juga menatapnya.


Keduanya saling pandang dalam diam. Prasta menelan salivanya dengan netra yang tak berkedip menatap teduh paras manis gadis itu.


"Aku nggak tahu gimana diriku kalau nggak ada kamu, Pras," tutur Joanna, netranya mengerjap lalu kepalanya tertunduk.


"Hei! Jo, please! Lihat aku!" Tangan Prasta meraih dagu Joanna, membawa gadis itu agar bisa melihatnya. Seketika itu pula, Prasta melihat raut sendu gadis itu.


"Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi, ok? Aku kenal kamu sebagai gadis yang tangguh, Jo. Aku nggak suka lihat kamu lemah. Kamu, gadis yang kuat, tangguh! Kamu juga gadis yang mandiri, smart dan hebat! Aku mau kamu seperti itu!" tutur Prasta sembari menangkup wajah gadis itu, menatapnya lembut.


"Tapi nyatanya, aku lemah," tukas Joanna lirih.


"Jo, I'm here. Aku akan selalu ada untuk kamu. Aku akan temani kamu senyaman dan seaman yang kamu mau," jelas Prasta.


Tepat saat Prasta menyelesaikan kalimatnya, Joanna menghambur ke dalam dekapan Prasta, memeluk lelaki itu erat dan menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang lelaki itu. Prasta membalas memeluk Joanna, mengusap lembut kepalanya dan memberikan sebuah kecupan di puncak kepala gadis itu.


Hingga beberapa bulan kemudian, ia menyadari bahwa mereka berbeda. Perbedaan yang sangat krusial bila menyangkut masalah keyakinan. Hal itu bukan masalah sepele bagi Prasta. Hal yang sangat berat untuk dirinya. Ia tak bisa melanjutkan hubungan dengan perbedaan di antara mereka.


***


"Mau kamu apa sih, Ata? Hah? Apalagi yang kamu mau?" Bian mengusap wajahnya gusar setelah melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Renata di dalam unit apartemen Bian yang berada di Surabaya.


Ya, Renata kembali ke Surabaya setelah hampir dua tahun, tepatnya 20 bulan, hidup di Jakarta. Setelah satu tahun magang bekerja, akhirnya pihak stasiun televisi itu menawarkan dirinya bekerja sebagai pegawai tetap di bagian news room. Namun, setelah 8 bulan bekerja, ia memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Surabaya. Gadis itu bukan tidak senang bekerja di stasiun televisi itu. Bukan. Bekerja di stasiun televisi adalah impiannya, cita-citanya. Ia sangat menyukai dan nyaman bekerja di sana. Hanya saja, ia merasa hidupnya kosong. Terlebih ketika selepas jam kerja dan ia harus kembali pulang ke apartemennya, ia merasakan benar-benar sendiri dan sepi.


Renata rindu kedua orang tuanya. Ia rindu pada adik satu-satunya. Ia sangat merindukan keluarganya, merindukan rutinitas dan kebersamaan dengan keluarganya. Ia juga rindu lelaki yang selama ini mengaku sebagai kekasihnya. Lelaki yang dulu pernah mengatakan jika dirinya ingin menjadi orang yang selalu bisa diandalkan. Berjanji akan selalu ada bersamanya dalam segala hal. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kekasihnya itu seringkali meninggalkannya sendiri. Pergi sesuka hatinya.


Renata bergeming. Ia melirik Bian sekilas. Lelaki itu berdiri menjulang membelakanginya tak jauh dari sofa tempatnya duduk. Rahangnya mengetat dengan tangan berada di kedua sisi pinggangnya.


"Ada lagi yang mau kamu tanyain?" Akhirnya Renata membuka mulutnya setelah beberapa saat bibirnya mengatup, tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya mendengarkan segala omelan Bian.


Bian membalikkan tubuhnya menghadap Renata. Menurunkan kedua tangan dari pinggangnya, tetapi masih terlihat raut gusar dan kesalnya.


"Jawab aja pertanyaanku, Ta! Nggak usah balik nanya!" sentaknya.


Renata menghela napas singkat dan menatap tajam kedua netra Bian.


"Kamu mau tahu apa yang aku mau? Baiklah, aku ingatkan lagi ucapan dan janji kamu sebelum aku memutuskan berangkat ke Jakarta." Sejenak Renata terdiam, menjeda ucapannya.


"Kamu bilang, kalau kamu akan selalu berada di belakangku, support aku dan bersamaku dalam segala hal. Kamu bilang, kamu ingin menjadi orang yang bisa aku andalkan. Kamu ingat? Nyatanya nggak seperti itu. Kamu lebih sering ninggalin aku, nggak peduli sama aku. Kamu lebih sering pergi sesuka hati kamu. Sama seperti dulu. Harusnya aku yang bertanya, maksud kamu apa?" Renata berusaha berbicara tenang, tidak dengan nada tinggi. Ia tidak ingin bertengkar. Ia hanya ingin Bian tahu apa yang selama ini ia rasakan saat hidup sendiri di Jakarta. Itu saja. Ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya lelaki itu inginkan. Datang dan pergi lalu menghilang tanpa kabar sesuka hatinya. Sama seperti dulu, kala dia pergi ke Swiss dan menghilang begitu saja tanpa kabar.


Bian terpaku mendengar perkataan Renata. Ah, bukan perkataan. Lebih tepatnya keluh kesah. Ya, gadis itu berkeluh kesah tentang dirinya yang hampir tak pernah menemani gadis itu di sana untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Lelaki itu bergeming di tempatnya berdiri, perkataan Renata benar-benar menohoknya.


Lelaki bertubuh tinggi dengan bentuk tubuh yang sangat terawat itu mendesah bersamaan dengan kedua bahunya yang melorot. Raut wajahnya berubah sendu. Rahangnya yang tadi mengetat mulai mengendur. Netranya mengerjap bersamaan dengan kakinya yang melangkah mendekati Renata yang masih duduk di sofa melipat kedua tangannya di depan dada. Kedua netra gadis itu menatap lurus benda persegi yang menampilkan gambar bergerak di hadapannya.


Bian berjongkok di hadapan Renata, menghalangi pandangan gadis itu ke arah televisi yang menyala tanpa suara. Lelaki itu lantas memegang kedua pipi Renata dengan kedua tangannya, membuat netra gadis itu membalas tatapan Bian yang sendu dan sayu.


"Maaf!" ucap Bian lirih.


"Hanya itu?" Renata bangkit dari duduknya sembari meraih tasnya.


Bian mendongak menatap Renata yang saat ini sudah berdiri di hadapannya. Lalu ia melakukan hal yang sama, bangkit dari posisi jongkoknya.


"Aku pergi," ucap Renata tanpa menatap Bian.


Namun langkahnya tertahan oleh tangan Bian yang menggamit lengannya.


"Please, stay ...." pinta Bian. "I can explain," lanjutnya.


Renata berusaha melepaskan tangan Bian dari lengannya, tetapi lelaki itu begitu kuat menahannya.


"Ata, please," mohon Bian.


"Aku harus pergi. Mama menungguku," tukas Renata.


Tubuh Bian bergerak mendekat ke hadapan Renata untuk bisa menatap wajah gadis itu.


"Aku antar," cetus Bian, bibirnya menyunggingkan seulas senyuman tipis.


"Aku bisa pulang sendiri," sahut Renata bersamaan tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas dan menunjukkannya pada Bian. Kunci mobilnya.


"It's ok. Aku antar pakai mobil kamu," kekeh Bian.


Renata menghela napasnya dalam. "Nggak perlu," tolaknya. Gadis itu berjalan meninggalkan Bian yang masih bergeming di tempatnya.


Bian menatap punggung kekasihnya dengan helaan napas panjang.


"Aku masih tunggu penjelasan kamu, jika kamu masih ingin kita bersama." Renata berkata dengan suara yang cukup keras sebelum benar-benar pergi dari apartemen Bian.


***


Seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki muda duduk di salah satu coffee shop ternama yang terdapat di sebuah mall yang berada di pusat kota Surabaya. Keduanya terlihat sedang menunggu seseorang. Dari raut wajahnya, keduanya tampak gelisah menanti orang yang ditunggu. Sang Wanita paruh baya tak henti melihat ke arah pintu masuk coffee shop. Sementara si Lelaki muda bolak-balik menatap jam tangannya.


"Kakak kamu lama bener, sih! Katanya 15 menit. Ck! Ini udah hampir setengah jam belum nongol juga," gerutu Sang Wanita paruh baya, yang tak lain adalah Bu Nia. Lelaki muda di sampingnya adalah Rakha, putra bungsunya.


"Mungkin masih nyari parkir, Ma," timpal Rakha dengan bibir melengkung. Raut bahagia terpancar di wajah anak lelaki itu yang menyesap iced cappuccino-nya.


Ya, sejak kepulangan sang Kakak, kedua orang tuanya terlihat bahagia. Tak terkecuali dirinya dan juga si Bibi asisten rumah tangga keluarganya. Rumahnya kembali hidup, ramai dengan segala hal setiap harinya, karena keberadaan anak gadis satu-satunya keluarga itu. Kedua orang tuanya selalu menampilkan wajah semringah dan bahagia atas kehadiran kembali putri mereka yang sempat pergi selama hampir 2 tahun.


"Tuh, dia!" seru Rakha saat netranya menangkap sosok sang Kakak yang berjalan tergopoh-gopoh memasuki coffee shop.


Bu Nia yang sedang melihat buku menu sontak mendongak dan mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk coffee shop.


"Sorry, sorry! Nyari parkir susahnyaaa! Ampun bener, deh!" Renata mengomel sembari mengambil tempat duduknya, di samping sang Mama.


"Tuh, bener, kan? Aku juga bilang begitu sama Mama, pasti lagi nyari parkir. Makanya lama," oceh Rakha.


"Ya, udah. Mama cuma khawatir aja. Takut ada apa-apa sama kamu di jalan," sahut Bu Nia dengan senyum semringahnya.


"Takut ada yang bawa pergi Kak Ata lagi, ya, Ma?" kelakar Rakha disertai tawa kecilnya.


"Hussshhh! Amit-amit, ya!" seru Bu Nia sambil mengetuk-ketuk meja dengan kepalan tangannya.


Renata terkikik geli menanggapi candaan adiknya dan melihat apa yang baru saja dilakukan sang Mama. Namun, spontan gadis itu memeluk sang Mama dari samping dan mengecup pipi wanita paruh baya itu penuh sayang.


"Nggak akan, Ma. Mama tenang aja," ujar gadis itu setelah mengecup pipi sang Mama.


Bu Nia tersenyum lebar dan mengangguk membalas perkataan dan pelukan putrinya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia.


"Buruan deh, pesennya! Laper, nih!" tukas Rakha dengan wajah merengut.


"Ya, ampun ... Belum pesen makanan sejak tadi?" Renata melebarkan kedua netranya, ia baru menyadari jika meja di hadapannya hanya ada satu gelas iced cappuccino milik Rakha dan satu cangkir serta satu teko berisi hot chamomile tea milik sang Mama.


"Ck! Kenapa nggak langsung pesan?" Renata menggerutu dengan melemparkan tatapan tajam pada sang Adik.


"Kan kita nunggu yang traktir ya, Ma?" sindir Rakha dengan senyum smirk-nya. Bu Nia tertawa kecil menanggapi ucapan putra bungsunya.


"Soalnya kita nggak bawa duit ya, Kha. Kan ada yang mau traktir," timpal Bu Nia menggoda anak gadisnya yang tengah sibuk melihat-lihat daftar menu.


"Ish! Kasihan amat sih, Ma! Suaminya nggak kasih duit?" balas Renata sembari tergelak, yang lantas membuat sang Mama dan adik lelakinya ikut tergelak.


"Jadi kalau ditraktir, berarti manut ya, sama yang bayarin," celoteh Renata dengan senyum yang tak kalah jailnya. Tangannya memberi isyarat pada salah satu waiter untuk datang ke mejanya.


Waiter itu pun mengangguk dan menghampiri mereka sembari membawa sebuah kertas dan bolpoin siap mencatat pesanan mereka.


Dan pada akhirnya mereka sepakat dengan menu pilihan Renata. Mau bagaimana lagi, namanya juga ditraktir. Jadi ya, pasrah saja dengan keinginan yang mentraktir. Begitu, bukan?


TBC


**Hello, Cinta ❤️❤️


Maaf ya, baru bisa up 🙏🙏


Jan lupa like dan komennya ya ... semoga masih tetap setia di sini sampai end


Thank you & love you as always 🤗😘💕**