LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 2 Mencintaimu



Saat ini, besok dan selamanya


Aku mau selalu bersamamu


Menjadi teman, pacar, kekasih dan jodohmu


Hingga jiwa lepas dari ragaku


Hirap, terbang menuju angkasa


Demikian raga ku pun ikut terhempas


jatuh ke bentala


- Renata -


Pagi ini, Renata sedang on air. Ia ditemani Bang Hendra di dalam studio. Saat ini sebuah lagu sedang diputar setelah sebelumnya memutar spot iklan.


🎢🎢🎢


Saat kutenggelam dalam sendu


Waktu pun enggan untuk berlalu


Kuberjanji 'tuk menutup pintu hatiku


Entah untuk siapa pun itu


Semakin kulihat masa lalu


Semakin hatiku tak menentu


Tetapi satu sinar terangi jiwaku


Saat 'ku melihat senyummu


Dan kau hadir


Merubah segalanya


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku


Setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna


Dan membuatku utuh


'Tuk menjalani hidup


Berdua denganmu selama-lamanya


Kaulah yang terbaik untukku


Hu-u-u-u-u ...


Kini kuingin hentikan waktu


Bila kau berada di dekatku


Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku


'Kan kupetik satu untukmu


Dan kau hadir


Merubah segalanya (segalanya)


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku


Setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna


Dan membuatku utuh (membuatku utuh)


'Tuk menjalani hidup


Berdua denganmu selama-lamanya


Kaulah yang terbaik untukku


.....Lebih Indah by Adera.....


🎢🎢🎢


" Kuliah kamu gimana, Ren ? " tanya Bang Hendra.


" Baik, Bang ! " jawab Renata singkat.


" Aku heran lho sama kamu. Kenapa kamu kuliah sambil kerja ? Padahal orang tuamu mampu buat biaya in kamu kuliah, " Bang Hendra bertanya pada Renata, penasaran.


" Ya ga apa sih, Bang ! Suka aja begini. Pengen ngerasain kerja cari duit sendiri selain belajar mengenal banyak orang. Secara aku kuliah di HI. Hehehe.... " tutur Renata, ia terkekeh pelan saat mengakhiri ucapannya.


" Iya benar itu, Ren. Kita perlu menjalin networking sedini mungkin sebelum kita benar-benar terjun ke dunia kerja dan dunia yang sesungguhnya. Itu juga yang Abang lakukan dulu sewaktu memutuskan kuliah di sini. Jauh dari orang tua dan saudara, apalagi sebagai anak kost. Hehehe.... " jelas Bang Hendra yang juga terkekeh menanggapi penuturan Renata.


" Emang dulu Abang kenapa ga kuliah di Jakarta ? " tanya Renata.


" Gimana ya...? Jakarta begitulah, Ren. Terlalu sesak dan aku pengen suasana baru aja. Dulu sih sempat kepikiran kuliah di Jogja, tapi orang tuaku lebih menyarankan Surabaya karena ada paman aku di sini. Dulu pertama kali datang ke Surabaya, aku numpang di rumah paman. Tapi menginjak semester 3 aku memutuskan untuk kost, mengingat kegiatan kampus udah semakin banyak sementara jarak rumah paman dan kampus lumayan jauh. Jadi aku memutuskan untuk kost di dekat kampus, " jelas Bang Hendra mengingat awal mula datang ke Surabaya.


Mereka berdua berbincang-bincang sambil Renata tetap fokus pada tugasnya yang tinggal beberapa menit lagi usai.


Setelah ini, ia akan pergi ke kampus. Ada kuliah 2 kelas hari ini. Ia juga akan ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas kuliah. Hari ini dan 2 hari ke depan ia akan disibukkan dengan tugas-tugas kuliah.


Jam 08.00, Renata usai bertugas untuk hari ini di radio DG FM. Ia pun bersiap untuk pergi kuliah, sebelumnya ia serah terima dengan Bang Hendra yang akan bertugas selanjutnya.


Prasta tidak bisa menjemput dan mengantar Renata hari ini karena ia juga ada kuliah pagi. Karena itu, hari ini Renata membawa motor sendiri.


Kedua orang tuanya selalu mengajarkan pada Renata dan adiknya untuk mandiri. Tidak selalu bergantung pada orang tua maupun orang lain. Ia sudah terbiasa membawa motor sendiri sejak ia berusia 17 tahun dan memiliki SIM.


******


Renata sedang berada di perpustakaan kampusnya setelah jam kuliah selesai. Ia sangat fokus mengerjakan tugas kuliah nya supaya bisa segera diserahkan pada dosen sebelum deadline.


Ponsel yang ia letakkan di atas meja berbunyi, panggilan masuk dari Prasta.


" Hallo, Sayang. "


" Hallo, Ay. Masih di kampus ? "


" Iya, di perpustakaan. Sebentar lagi selesai. Kamu masih di kampus, Ay ? "


" Iya, tapi mau ke kantor Kak Mitha. Semoga klien yang kemarin itu deal ya, Ay. Kata Kak Mitha bonus kita bakalan lumayan. "


" Aamiin... semoga ya, Ay. "


" Lumayan buat ditabung persiapan nikah. Hehehe...."


" Ish ! Ada-ada aja deh ! Masih jauh juga kali, Ay. "


" Ya ga apa kan, aku punya keinginan untuk masa depan kita. "


" Iya, ga apa-apa kok. Makasih, kamu udah mikirin untuk masa depan kita. Uummm... nanti malam ke rumah ? "


" Insya Allah ya, Ay. Kalo urusan kerjaan udah selesai sebelum maghrib, aku usahakan ke rumah. Kangen ya ?


" Mungkin. "


" Kok mungkin ? "


" Ay, udahan dulu ya... Nanti ga selesai-selesai aku kerjain tugasnya. "


" Jawab dulu donk, kangen ga ? "


" Iyaa kangen, Ay.... "


" Love you, Ay. See you.... "


" Love you too.... "


Panggilan telepon berakhir.


Renata kembali fokus dengan tugasnya. Tinggal sedikit lagi. Ia pun segera menyelesaikan tugasnya karena perutnya juga sudah merasa lapar. Setelah tugasnya selesai, ia akan ke kantin untuk mengisi perutnya. Karena ini sudah lewat waktu makan siang.


Sementara itu, Prasta telah berada di kantor Kak Mitha. Di sana sudah ada Distha bersama dengan Mamanya.


" Tante apa kabar ? " Prasta mencium punggung tangan Bu Wina, Mamanya Distha.


" Alhamdulillah baik, Pras. Kok ga pernah main ke rumah sekarang ? " tanya Bu Wina.


" Dia kan sibuk sekarang, Ma... Sibuk pacaran. Hehehe.... " sahut Distha terkekeh.


" Ck ! Apaan sih, Distha ! " sungut Prasta.


Bu Wina tertawa mendengar celotehan Distha dan Prasta.


" Kenalin lah sama Tante. Ajak main ke rumah sekalian, " ujar Bu Wina.


" Iya, Tan. Insya Allah nanti kalo senggang main deh ke rumah Tante, " jelas Prasta.


" Permisi dulu, Tan. Mau ketemu Kak Mitha dulu, " pamit Prasta, ia akan menemui Kak Mitha di ruangannya.


" Oh iya, Pras. Tante juga mau pamit, ini tadi mampir ke sini dari rumah teman Tante, " ucap Bu Wina.


" Iya, Pras. Ditanyain Kak Mitha tadi. Ada project besar lagi ya ? " cetus Distha.


" Iya. Ok, aku permisi, " sahut Prasta berlalu pergi ke ruangan Kak Mitha.


Sementara Bu Wina dan Distha pun pergi dari kantor Kak Mitha setelah berpamitan dengan si empunya kantor.


" Permisi, Kak. "


" Eh, Pras. Alhamdulillah, Pak Deddy tertarik sama jasa kita. Dia minta ketemu kita lagi, " kata Kak Mitha.


" Alhamdulillah, Kak. Tapi ga sekarang kan meeting nya ? " tanya Prasta.


" Ya ga sekarang lah. Orang dia juga baru nelpon jam 10 tadi. Schedule free mu kapan ? Pak Deddy menyerahkan waktunya sama kita. Dia ngikut kita bisanya kapan, " tutur Kak Mitha dengan wajah yang sumringah.


" Besok aku free setelah jam 12, Kak. Lusa full schedule, " jawab Prasta.


" Tari kemana, Kak ? " lanjut Prasta menanyakan Tari, salah satu karyawan Kak Mitha juga.


" Dia lagi ijin hari ini, kakaknya ada lamaran. Besok dia masuk kok. Jadi gimana, besok aja meeting nya setelah jam 12 ? "


" Boleh, Kak, " jawab Prasta.


" Baiklah, sekarang ayo kita prepare draft konsep nya buat presentasi besok. Aku call back Pak Deddy dulu ya... Kamu udah makan ? " tanya Kak Mitha.


" Udah tadi sebelum ke sini mampir ke warung makan. Kalo mau dibelikan makan lagi ga nolak juga, Kak. Hehehe.... " kelakar Prasta.


" Masih sanggup perutnya ? Itu di pantry ada cake dari Mama, " ujar Kak Mitha tersenyum lebar.


" Owh siap laksanakan, Kak. Dihabisin boleh ya ? Hahaha.... " Prasta masih saja berkelakar.


Kak Mitha hanya geleng-geleng kepala mendengar kelakar Prasta, kalau diladeni pasti tidak ada habisnya.


******


Prasta dan Kak Mitha masih bergelut dengan kertas-kertas draft konsep event untuk presentasi besok siang dengan Pak Deddy, klien Kak Mitha.


Prasta melihat jam di dinding ruangan Kak Mitha yang menunjukkan jarum pendek di angka 3 dan jarum panjang di angka 6.


" Pras, rasanya udah cukup ini. Besok pagi biar Tari yang lanjutin kalo ada yang kurang, " kata Kak Mitha.


" Iya, Kak. Ini lagi aku rapikan dulu susunannya. Si Iko tadi kemana, Kak ? " Prasta menanyakan Iko, karyawan marketing Kak Mitha yang tadi pergi ke luar kantor.


" Iko menemui klien, Pras, " jawab Kak Mitha.


" Iyaa... pacar baru, Pras. Baru jadian 2 bulan. Klien yang mau ditemui itu teman pacarnya gitu.... " jelas Kak Mitha.


" Panteesss.... " sahut Prasta.


" Udah belum itu draft nya ? Kalo udah, yuk kita pulang. Si Iko juga tadi aku suruh langsung pulang kok, ga usah mampir ke sini lagi, " ujar Kak Mitha.


" Siap, Kak ! Dah selesai. Aku beresin mejanya dulu, Kak, " ucap Prasta.


Selesai membereskan meja kerja Kak Mitha, Prasta pun keluar ruangan. Dilihatnya Kak Mitha sedang di pantry, membereskan cake dari Bu Wina.


" Sini aku bantuin, Kak, " cetus Prasta.


" Udah selesai kok, " sahut Kak Mitha.


" Aku bantuin habisin maksudnya, Kak. Hahaha... " Prasta tertawa terbahak.


Kak Mitha spontan menoyor kening Prasta sambil terkekeh, " Ish, dasar ! "


Prasta meringis sambil memegang keningnya, tapi masih juga terbahak.


Ponsel Prasta bergetar di saku celananya. Segera ia ambil dan dilihatnya panggilan video call dari Renata.


" Hai, sayang. "


" Masih di kantor, Ay ? "


" Iya, sebentar lagi pulang kok. Masih beres-beres. "


" Sendirian ? "


" Ga, donk ! Sama Cewek. "


" Ish ! Mana coba ! "


" Nih ! " Prasta menyorot kamera video ponselnya ke arah Kak Mitha. Lalu ia memegang bahu Kak Mitha supaya melihat ke arah kamera video ponselnya.


" Eh, hai Renata ! Pacarmu jahil banget ! " kata Kak Mitha terkekeh.


" Hai, Kak ! Jitak aja kalo dia jahil, Kak ! " sungut Renata.


" Ga usah disuruh, tadi Kak Mitha udah menoyor aku, Ay. "


" Hahaha... syukurin ! " Renata terbahak senang.


" Ehemm...! Seneng yaa.... "


" Iya donk ! Hahaha.... "


" Ya udah, aku ga jadi ke rumah aja ! "


" Gitu ?? Jahat bener ! "


" I hate you but I miss you, Ay ! " Prasta mengedipkan sebelah matanya.


" I miss you but I hate you kali, Ay ! Hahaha.... "


Prasta terbahak.


" Biarin ! Aku sama Slank beda lagi ! Hahaha.... "


" Udah, Pras ! Ayo buruan pulaang.... " seru Kak Mitha di sela-sela obrolannya dengan Renata.


" Hehehe... Ya udah deh ! Aku tutup ya... Aku mau mandi. "


" Pantes baunya sampai sini. "


" Bau wangi kan ? Ya udah buruan pulang. See you... ! "


" See you, Ay ! Love you.... "


" Love you.... "


Panggilan video berakhir.


Prasta buru-buru mengambil tas ransel nya. Lalu turun ke lantai bawah karena Kak Mitha sudah menunggunya di bawah, bersiap untuk pulang.


*******


Renata sedang berada di kamarnya. Ia menata mukena yang baru saja ia pakai untuk sholat maghrib. Setelah meletakkan mukena di tempatnya, Ia meraih ponsel di meja rias nya.


Ada notifikasi pesan baru dari Prasta.


Prasta


" Aku udah on the way ya, Ay. "


Renata mengetik pesan balasan untuk Prasta.


Me


" Iya. Hati-hati dan jangan ngebut ya, Ay πŸ€—"


Kemudian ia meletakkan ponselnya di atas meja rias kembali tanpa menunggu balasan dari Prasta karena pasti ia sedang berada di jalan.


Renata keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Dilihatnya sang Mama sedang menyiapkan makan malam di meja makan.


" Papa belum pulang ya, Ma ? " tanya Renata


" Belum, tapi katanya udah di jalan. Mungkin 15 menit lagi sampai, " jawab Bu Nia.


" Kamu udah lapar ? Makan aja dulu kalo udah lapar, ga usah nunggu Papa, " lanjut Bu Nia.


" Ga kok, Ma. Renata lagi nunggu Prasta juga, " sahut Renata.


" Prasta mau ke sini ? "


" Iya, Ma.


" Ata, Mama boleh tanya ? "


" Iya, tanya apa sih Ma. Tumben mau tanya aja kok pakai ijin dulu " ujar Renata heran.


" Mama dan Papa senang kamu dekat dengan Prasta. Kamu udah membuka hati kamu lagi. Prasta anak baik, sopan dan menyenangkan. Mama perhatikan, Prasta sangat menyayangi dan sangat perhatian sama kamu, juga sama kita semua di rumah ini. Kalian serius ? "


" Ma, kami serius. Renata juga sangat sayang sama Prasta. Dari awal kami udah sepakat serius, meskipun jalan kami masih panjang, " tutur Renata.


Bu Nia tersenyum mendengar penuturan putri satu-satunya.


" Mama senang mendengarnya. Selalu berdoa, minta pada Allah agar lebih merekatkan cinta dan kasih sayang kalian. "


" Makasih, Mam. I love you, " ucap Renata, memeluk dan mencium pipi sang Mama dengan senyum sumringah dan mata berbinar bahagia.


" Love you, sayang, " balas Bu Nia mencium kening putrinya. Bu Nia menghelakan napasnya lega.


" Kak ! Kak Prasta ada di depan tuh ! " seru Rakha dari ruang tengah.


" Iyaa... sebentar ! " sahut Renata.


" Ata ke depan dulu ya, Ma, " pamit Renata, berjalan ke depan menemui Prasta.


Bu Nia pun mengangguk dan tersenyum sumringah.


" Ay, udah lama ? " Renata menjumpai Prasta ya sudah duduk di ruang tamu bersama Rakha. Ia pun duduk di sebelah Prasta. Rakha pun beranjak dari duduknya berpindah ke ruang tengah sambil nonton televisi.


" Belum, sayang. Lagi apa ? " tanya Prasta tersenyum menatap gadis yang selalu suka rambutnya di kuncir ekor kuda. Kelihatan manis.


" Lagi ngobrol sama Mama. Udah makan ? " tanya Renata


" Belum sih... Mau makan di luar ? " tanya balik Prasta.


" Makan di sini aja ya ? Nunggu Papa pulang, " kata Renata sambil memegang lengan Prasta.


" Kalo makan di luar aja gimana ? Aku malu, tiap ke sini selalu pas jam makan. Hehehe.... " ujar Prasta sedikit berbisik.


Renata terkekeh, " Apaan coba, Ay ! Katanya mau nabung buat masa depan ? Duitnya ditabung aja, Ay, " ucap Renata pelan.


" Ish ! Cuma buat makan aja, Ay. Jangan pelit ah ! " tukas Prasta.


" Eh, ini apa, Ay ? " tanya Renata, tangannya mengambil bungkusan kantong plastik yang ada di meja.


" Owh iya... itu martabak telur kesukaan Mama, " jawab Prasta.


" Kamu nih, Ay ! Selalu aja bawa-bawa sesuatu kalo ke sini. Ga juga ga apa, Ay.... " cetus Renata.


" Cuma martabak telur, sayang.... " ujar Prasta.


" Makasih, Ay ! " ucap Renata sambil mencium pipi Prasta sekilas.


" Eh ! Kok cuma pipi ? " tanya Prasta menggoda Renata.


" Hilih ! Maunyaaa.... " sungut Renata sambil beranjak pergi, masuk ke belakang.


Prasta terkekeh melihat kekasih hatinya bersungut dengan bibir mengerucut.


" Assalamualaikum.... "


" Waalaikumsalam... Malam, Om, " sapa Prasta saat Pak Danny, Papa Renata datang.


Prasta beranjak menghampiri Pak Danny dan mencium punggung tangan laki-laki paruh baya itu.


" Udah lama, Pras ? " tanya Pak Danny ramah.


" Belum lama, Om, " jawab Prasta sopan.


" Ata kemana ? "


" Lagi ke belakang sepertinya. "


" Om masuk dulu yaa.... "


" Silahkan, Om. "


Renata muncul dari arah ruang tengah.


" Papa udah pulang, " kata Renata mencium punggung tangan sang Papa.


" Iya, Papa masuk dulu yaa.... "


Renata tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia duduk di sebelah Prasta.


" Rambut kamu keknya perlu dirapikan, Ay, " ujar Renata sambil memainkan rambut hitam Prasta.


Prasta meraih tangan Renata, menatap gadis manis itu. Mereka saling menatap manik mata masing-masing.


" Aku mencintaimu. Jangan pergi ya... Terus bersamaku, dengan semua kebiasaanku, dengan semua rasa yang kumiliki, semuanya hanya untukmu, " kata Prasta dengan sungguh, menggenggam tangan kekasihnya dan menciumnya lembut penuh cinta.


" Cintai aku bagaimanapun caramu, dengan semua kelebihan dan kekuranganmu. Aku ingin menjadi sempurnamu, " balas Renata dengan mata berbinar bahagia.


Tbc


Prasta



Renata



**Hellooww beloved readers... yang kangen visual Prasta dan Renata ☝️


Keren kaan... 😍 Uwwuuu kaan... 😘


Maaf baru up ya... lagi banyak kesibukan RL πŸ™πŸ™


Moga suka eps ini


Banyak terima kasih cinta dan sayang untuk kalian πŸ€—πŸ˜˜πŸ’ž **