
HAPPY READING
❤️
❤️
Setega itu kamu mempermainkan perasaanku
Sejahat itu kamu mengkhianati kepercayaanku
Tak akan lagi kubiarkan dirimu menhancurkan diriku apalagi hatiku
Semua sudah cukup jelas hingga detik ini
Kita selesai
Selamat tinggal
-Renata-
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bian tertunduk lesu dengan kedua tangan meremas rambutnya frustrasi. "Sorry ...." Gumaman lirih keluar dari bibirnya.
Sementara Renata posisinya telah duduk tak jauh dari Bian di sofa yang sama. Masih terisak lirih tanpa kata. Gadis itu menghapus buliran bening yang membasahi wajah dengan jemarinya. Lantas ia bangkit dari duduknya, hendak melangkah pergi.
Namun, Bian dengan cepat ikut bangkit dan kembali menahan Renata dengan menghadang langkah gadis itu.
"Ata, please ...!" Bian memohon dengan tatapan sendunya.
Renata bergeming. Bibirnya terkatup rapat, sementara kedua tangannya mencengkeram erat tali tas selempangnya dan kedua netranya tak sedikit pun menatap lelaki di hadapannya. Dadanya bergemuruh menahan emosi yang membuatnya nyeri dan sesak.
"Please, Ta. Give me a chance, once more! I'm so sorry, Ata. Please ...." Sekali lagi lelaki itu memohon penuh penyesalan.
Untuk beberapa saat, Renata masih terdiam di tempatnya. Tanpa menatap Bian ataupun mengatakan sesuatu pada lelaki itu.
"I love you. I do love you, Renata! Aku nggak mau kehilangan kamu!" ucap Bian dengan suara bergetar.
Renata menghela napas panjang, lalu berjalan cepat tak peduli dengan segala ocehan Bian. Saat tangannya berhasil membuka pintu unit apartemen lelaki itu, saat itu pula Bian berhasil meraih pinggangnya dan seketika lelaki itu memeluknya erat dari belakang hingga ia tersentak.
"Please, Ta ... Jangan pergi! Tolong bicaralah! Maafin aku!" oceh Bian frustrasi. Pelukannya semakin erat dengan wajah terbenam di bahu kiri gadis itu.
"Demi Tuhan aku cinta kamu. Demi Tuhan aku cuma ingin kamu. Jangan pergi, tolong tinggallah! Cuma kamu, satu-satunya wanita yang mampu meredam segala gelisahku. Cuma kamu tempat aku kembali. Jangan pergi, tetaplah bersamaku, Ta!" ungkap Bian memohon.
Renata menarik napas panjang dan mengembuskannya cepat sembari berusaha melepaskan kedua tangan Bian yang melingkar di pinggang hingga bagian depan perutnya. Namun, Bian semakin posesif memeluknya dengan bergumam frustrasi.
"Maafin aku, please ...." Lagi-lagi Bian mengucapkan maaf pada Renata dengan suara bergetar.
"We're done," lirih Renata.
"No! Please ... Jangan pergi, Ata. Aku cinta kamu ...." erang Bian frustrasi.
Renata tertegun, tertunduk menatap kedua tangan Bian yang berada tepat di perutnya. Baru kali ini ia mendengar pernyataan Bian dengan suara yang terdengar frustrasi. Gadis itu menelan saliva kelat. Haruskah ia menyerah? Tidak!
"Lalu Windy?" lirihnya.
"Aku tidak mencintai Windy, Ata! Aku cinta kamu! Please, tetap bersamaku ...." ucap Bian, tak melepas pelukannya.
"So, jadi ini yang bikin kamu nggak muncul-muncul? Aku melewatkan drama rupanya."
Renata dan Bian mendongak bersamaan. Kesempatan bagi Renata untuk melepaskan diri dari pelukan Bian, ketika dirasa pelukan lelaki itu merenggang karena suara Windy. Ya, Windy! Perempuan itu berdiri di hadapan mereka dengan ekspresi yang mencibir dengan raut sinisnya.
Renata melengos. Emosi yang tadi mulai teredam, perlahan kembali naik.
"Sorry, silakan lanjutkan. Aku udah nggak ada urusan dengan kalian." Renata melangkah tergesa meninggalkan kedua orang yang telah membuatnya terluka setelah memberikan pernyataannya. Setengah berlari ia menuju lift.
"No!" teriak Bian. Lelaki itu mengejar Renata, tetapi gadis itu sudah masuk ke dalam lift tepat saat Bian tiba di depan pintu lift.
"Aaarrrrggghhhhh ...! Kedua tangannya mengacak rambutnya frustrasi. Lantas ia menuruni tangga yang berada tak jauh dari lift berada.
Sementara Windy menyerukan nama lelaki itu sambil mengejarnya.
***
Di dalam lift, Renata kembali terisak. Namun, ia tersentak ketika tiba-tiba saja pintu lift terbuka dan masuklah lelaki yang tak ingin ditemuinya lagi.
"Ata! Kasih kesempatan aku buat jelasin semuanya! Tolong dengerin aku!" seru Bian lirih. Dengan napas tersengal, Bian merangsek mendekati Renata yang masih terkejut dengan kehadiran lelaki itu di dalam lift. Posisinya terjepit di pojok lift dan Bian semakin memojokkannya. Tubuh keduanya kini tak berjarak. Tenggorokannya tercekat, sulit menelan salivanya. Dadanya sesak, sulit untuk bernapas.
"Ka-kamu mau a-apa?" gugup Renata, suaranya bergetar dengan kedua tangan mencengkeram kuat tali tas selempangnya. Ia merasakan kedua telapak tangannya mulai basah. Ia bisa melihat netra Bian yang berkilat.
"Aku mau kamu, Ata. Bukan Windy," tutur Bian dengan suara seraknya, setengah berbisik.
"Please be mine, Hun ...." imbuhnya lirih. Lalu pandangan Bian tertuju pada bibir pink Renata yang selalu saja menggodanya.
Renata mengerjap, seketika menyadari apa yang akan dilakukan oleh Bian. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Bian. Kaki kanannya menendang kaki lelaki itu, tepat pada tulang keringnya. Beruntung, pintu lift terbuka tepat di lobby. Segera saja Renata berlari keluar dari kotak baja itu sekuat tenaganya menuju ke luar gedung apartemen.
Bian yang sedang merintih kesakitan memegang kakinya, rupanya masih tidak tinggal diam. Ia mengejar Renata.
Sementara pintu lift yang lain terbuka menampakkan Windy dengan wajah kesal dan marahnya. Perempuan itu segera berlari keluar mengikuti Bian.
Renata terus berlari keluar area gedung yang terus dikejar oleh Bian dan Windy di belakangnya.
"Ata! Stop, please!" teriak Bian yang kini hanya berjarak tak lebih dari tiga langkah di belakang gadis itu. Tangan Bian berusaha meraih tubuh Renata.
"Bian!" pekik Windy yang kini berhasil menyejajarkan posisinya dengan Bian.
Tanpa diduga, Windy berhasil meraih ujung jaket denim yang dikenakan Renata, lantas perempuan itu mendorong tubuh Renata hingga gadis itu akhirnya terjatuh di tengah pintu masuk area gedung tersebut.
"Auuwww!!" pekik Renata tersungkur.
"Stop, Windy! Apa yang kamu lakukan! Damn it! You hurt her!" maki Bian pada perempuan yang telah membuat Renata jatuh tersungkur.
Windy tersentak mendengar makian Bian. Dengan wajah gusar, ia menatap Renata yang tersungkur di hadapannya. Kedua netranya menatap tajam pada gadis yang tersungkur di hadapannya.
"Pengacau!" umpat Windy, tangannya menarik lengan Renata yang masih terduduk di tengah jalan akibat didorong oleh Windy.
Renata yang masih meringis kesakitan akibat terjatuh, tersentak dan terpekik. "Aauuuwww!"
"Windy! Apa-apaan, kamu!" Bian datang menyentak tangan Windy yang menarik tangan Renata.
"Cukup! Bisa nggak, sih, kamu nggak bertingkah bar-bar kek gini? Bikin muak, tahu!" maki Bian. Lelaki itu meraih lengan Renata, membantunya berdiri. Namun, gadis itu menepisnya, menyentak kasar tangan Bian yang menyentuh lengannya.
Windy tertawa sinis dan getir, tentu saja. Dadanya nyeri mendengar makian Bian. Lelaki di hadapannya bersikap kasar padanya setelah semua yang telah terjadi pada mereka selama ini.
"Aku bar-bar? Iya, kamu bener! Aku emang bar-bar! Dan itu yang bikin kamu terpuaskan! Remember that!" sahut Windy lantang dengan jari telunjuk mengarah ke wajah Bian.
Sementara Renata yang sudah kembali berdiri, tak ingin berlama-lama di tempat itu. Sambil meringis kesakitan, ia melangkah pergi tanpa sepatah kata pun. Ia sudah tidak peduli dengan semua yang terjadi.
"Dan kamu!" seru Windy, berjalan menyusul Renata yang berjalan tertatih hendak meninggalkan tempat itu.
"Denger, ya!" Windy mengacungkan jari telunjuknya ke arah Renata dengan netra berkilat dan napas yang memburu penuh amarah.
"Windy, stop it! Enough!" sentak Bian sekali lagi pada Windy.
"Nggak! Dia harus tahu soal kita!" ucapnya dengan suara bergetar dan rahang yang mengetat.
"Aku udah tahu dan cukup bagiku tahu tentang kalian. Terserah kalian," ucap Renata lirih, menahan emosi dan tangisnya. Lalu gadis itu berbalik dan tertatih melangkah hendak pergi.
"Ata, please!" Bian kembali menahan lengan gadis itu dan menghalangi langkahnya.
"Lepas! Kita selesai!" sahut Renata tegas. Tangannya menyentak tangan Bian yang berada di lengannya.
Ketiga orang yang sedang berseteru itu kini berada tepat di tepi trotoar di depan gedung apartemen. Kondisi jalan raya cukup ramai pada hari menjelang siang itu. Lalu lalang kendaraan pada jam sibuk cukup menambah kebisingan dalam perseteruan mereka.
"Nggak ada kata selesai buat kita, Ta!" lontar Bian memohon.
"Apa sih, mau kamu, Bi?" cecar Windy yang kini berdiri tepat di samping Bian. Ia menyentak dan mendorong bahu lelaki itu hingga posisi tubuhnya bergeser dua langkah menjauh dari Renata.
"Hei, denger! Bian milik aku! Sejak dulu! Kamu nggak lupa, kan? Cuma aku yang paham kebutuhannya. Not you! He's mine!" ungkap Windy.
"Windy! Ata, please jangan dengerin dia!" sela Bian, mendekat pada Renata, tetapi dihalangi oleh Windy. Perempuan itu berdiri di antara Bian dan Renata. Menatap tajam Renata dengan napas tersengal dan wajah penuh seringai.
"Not yet!" sahut Windy dengan kedua tangan diangkat ke atas.
"Cinta aja nggak cukup buat dia! You know what I mean! Aku bisa kasih dia segalanya yang nggak pernah bisa kamu kasih ke dia! Hampir 5 tahun!" lanjut Windy dengan napas yang memburu dan kilatan tajam di kedua netranya.
Renata merasa ada yang menghantam dadanya, sakit. Tubuhnya sedikit limbung mendengar penuturan Windy. Namun, ia berusaha untuk tetap berdiri tegak. Meskipun kakinya terasa sangat nyeri dan sakit akibat terjatuh tadi, kepalanya juga mendadak pusing.
Ia berbalik cepat dan hendak berlari menyeberang jalan tanpa mempedulikan kondisi jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.
"Ata!" pekik Bian dengan mata terbelalak dan terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.
Sementara Renata, tiba-tiba ia merasakan ada yang mendorong tubuhnya dengan kencang hingga ia jatuh terjerembab menyentuh trotoar. Dan pendengarannya menangkap suara yang keras menghantam sesuatu dengan decitan suara rem kendaraan serta teriakan orang-orang.
Braaakkkk!!! Ciiiittttttt!!!
Samar dan nanar, Renata dapat melihat tubuh seseorang tergeletak sekitar 3 meter dari tempatnya duduk terjatuh. Gadis itu berusaha mengumpulkan kesadaran dengan semua rasa sakit yang dialaminya. Detik selanjutnya, kedua netranya membeliak dengan satu tangan menutup mulutnya. Ia menyadari sesuatu. Tubuh itu! Jaket itu! No!
Dengan segala rasa sakit di tubuhnya, Renata berusaha bangkit berdiri. Berjalan tertatih dan tergesa tak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya. Ia menghampiri kerumunan orang yang telah mengelilingi tubuh seseorang yang tergeletak tak berdaya itu.
"Ata! Thanks God!" seru Bian berlari menghampiri Renata yang berusaha berjalan cepat menerobos kerumunan orang yang mengerubungi tubuh yang tergolek lemah dengan darah segar di beberapa bagian tubuhnya.
Bian meraih tangan Renata, tetapi gadis itu menyentaknya tanpa mengalihkan pandangannya pada lelaki itu. Napasnya tersengal dengan langkah tertatih serta ringisan tampak di raut wajahnya yang pucat menahan sakit. Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ia menerobos kerumunan orang yang menghadang jalannya. Hingga ia berhasil menyibak kerumunan itu dan mendapati tubuh tak berdaya penuh darah di hadapannya, tepat di dekat kedua kakinya yang berpijak lemah. Seketika itu pula tubuhnya melorot dan meraih tubuh tak berdaya itu ke dalam pangkuannya.
"Nggak! Nggak mungkin! Please, stay! Kamu akan baik-baik aja! Tolong! Tolong bantu membawanya ke rumah sakit! Cepat! Tolong!" racau Renata. Air matanya berderai menatap nanar bergantian pada orang-orang yang mengerumuni mereka dan tubuh tak berdaya di pangkuannya.
"Tenang, Mbak. Ambulans sebentar lagi datang!" ucap seorang laki-laki berseragam petugas keamanan.
Renata mengangguk dengan air mata yang terus luruh dari kedua netra beningnya. Ia menatap wajah di pangkuannya, yang perlahan mengerjap lemah, tetapi bibirnya melengkung kecil membentuk seulas senyuman. Lalu tangan tak berdayanya menggapai tangan Renata, menggenggamnya lemah tanpa daya. Renata menggeleng lemah dengan isak tangis yang semakin kencang.
Beberapa polisi juga tampak bertindak, segera mengamankan kondisi jalan raya yang seketika padat dan macet akibat insiden tersebut.
Sementara Bian menyaksikan kejadian itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Hanya, rautnya terlihat masih syok dengan kejadian itu, yang begitu cepat dan meluluhlantakkan jantungnya ketika melihat Renata yang hampir tertabrak sebuah minibus, tetapi tubuhnya terpental ke pinggir trotoar akibat dorongan seseorang.
Beberapa saat kemudian, suara sirine ambulans memecah kebisingan tempat itu. Beberapa petugas medis turun membawa brankar dan mengevakuasi korban tak berdaya itu. Renata tidak tinggal diam, ia mengikuti petugas medis masuk ke dalam ambulans yang akan membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Ia sudah tak peduli dengan Bian dan Windy. Tak peduli pada semua orang. Kini, hanya satu orang yang dikhawatirkannya. Satu orang yang telah menyelamatkannya. Dan ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya.
TBC
**Hello, Cinta ❤️❤️ Gimana-gimana, tegang belum?
Sorry ya, baru bisa update, kondisi lagi gak fit bener 🙏🙏
Like & comment, please .. biar makin semangat buat lanjutin 😉
Jaga kesehatan ya, Cinta2ku ❤️❤️
Thank you & love you full 🤗😘💕💕**