LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 40 Bukan Siapa-siapa



Renata memasukkan ponsel ke dalam tasnya kembali setelah panggilan telepon dengan mamanya berakhir.


"Mama dan papa titip salam buat kamu. Cepat sembuh katanya," ucap Renata menyampaikan salam kedua orang tuanya kepada Prasta.


"Wa'alaikumsalam, tolong sampaikan terima kasih atas doanya. Mereka sehat, kan?"


"Alhamdulillah, mereka baik dan sehat," jawab Renata dengan senyum manisnya.


"Mereka tadi juga ke sini, Pras. Nungguin kamu. Tadi juga ada Saka, Danisha dan si Barra," timpal Bu Ranti.


"Hah? Serius?" tanya Prasta memastikan.


"Hei! Kamu nuduh Ibu bohong, gitu?" sahut Bu Ranti tak terima.


"Bukan begitu, Bu! Pras kaget aja! Nggak nyangka aja orang tua Renata nungguin Pras di sini," ujar Prasta sembari melirik Renata.


"Kamu keenakan pingsan tadi. Dokter bilang efek obat dan anestesi akan hilang sekitar 3-4 jam-an. Tapi sepertinya kamu kebablasan tidur," tutur Bu Ranti, yang seketika membuat Prasta berdecak lalu bibirnya mencebik.


Bu Ranti terkikik geli, diikuti Renata yang melakukan hal yang sama. Namun, gadis itu menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Ck! Mana ada!" protes Prasta. "Ngomong-ngomong, rambut kerenku jadinya dipotong kayak gini, ya? Bisa pinjemin aku ponsel, nggak? Eh, iya! Ponsel sama motorku apa kabarnya? Nggak raib, kan?" cerocos Prasta. Tiba-tiba ia mengingat ponsel dan motornya sembari menatap Renata dan ibunya bergantian.


Bu Ranti bangkit dari duduknya. Sebelumnya, wanita dengan baju gamis rumahan berwarna coklat susu dan kerudung instan berwarna coklat tua polos itu mengambil sesuatu dari dalam tas tangannya.


"Nih!" Bu Ranti berjalan dan menyerahkan sebuah benda pipih berwarna hitam metalik kepada putra sulungnya.


"Alhamdulillah ... Lalu motornya gimana?" tanyanya lagi.


"Udah diurus sama Arga," jawab Bu Ranti yang kini duduk di tepi ranjang.


"Nggak ada masalah, kan? Nggak dijadikan barang bukti, kan?" cecar Prasta. Ada rasa khawatir di raut lelaki itu.


"Udah, biar Arga yang urus. Kamu nggak usah mikirin itu. Emang kamu bisa mengurus ke kantor polisi dalam kondisi kaki dan lehermu yang seperti ini?" sindir Bu Ranti, menatap lekat putranya.


Prasta menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir.


"Wait! Bagaimana bisa ...." Perkataan Prasta terhenti karena Renata telah menyelanya.


"Ada bapak-bapak yang kasih tahu aku sebelum ambulans membawa kita pergi dari lokasi kejadian. Dia menunjukkan motor kamu yang terparkir di seberang jalan di depan sebuah warung kopi. Lalu aku minta tolong sama salah satu bapak polisi buat ngurusin motor kamu," terang Renata.


Prasta mengangguk pelan dan samar sembari menatap Renata tak berkedip. Lelaki itu mengulas sebuah senyuman tipis.


"Makasih. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, kamu masih bisa berpikir baik dan menyelamatkan aku juga motorku," tutur Prasta yang diikuti dengan tawa kecilnya.


"Sepertinya kamu belajar banyak setelah tinggal di ibu kota. Aku terkesan, kamu hebat," imbuh Prasta, tawa kecilnya berubah menjadi sebuah senyuman lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


Renata tertegun mendengar perkataan Prasta yang terakhir. Perkataan lelaki itu seperti mencubit hatinya. Entah Prasta sedang memujinya atau justru menyindirnya.


Suara ketukan pintu menginterupsi pembicaraan mereka. Bu Ranti beranjak membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Ketiga orang di dalam kamar serentak membalas ucapan salam si Pengetuk Pintu, yang tak lain adalah Rakha.


"Maaf, Bu. Mau menjemput Kak Ata," ujar Rakha santun.


"Oh, iya. Ayo, masuk dulu," ajak Bu Ranti, membuka lebar pintu kamar.


Rakha mengangguk dan berjalan masuk.


"Hai, Kak!" sapa Rakha sembari melayangkan senyuman pada Prasta.


"Eh, Rakha!" sahut Prasta, balas tersenyum.


"Udah siap, Kak?" tanya Rakha pada sang Kakak, yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Renata.


"Aku pulang dulu, ya. Besok aku akan ke sini lagi. Baik-baik, ya. Beristirahatlah," pamit Renata. Gadis itu membetulkan letak bantal dan selimut yang menutupi sebagian kaki Prasta.


"Udah nyaman bantalnya?" tanya Renata memastikan bahwa posisi Prasta sudah nyaman.


Prasta berdeham, lalu menatap Renata dengan netra teduhnya. Posisi keduanya sangat dekat saat ini. Ia bisa mencium wangi parfum gadis itu. Perlakuan dan perhatian gadis itu beberapa jam ini membuat angan dan harapannya kembali bangkit. Pantaskah aku berharap? Sementara kondisiku sekarang seperti ini?


"Udah, Ta. Tinggal aja, kan ada Ibu di sini. Dia nggak bakal kenapa-kenapa," cetus Bu Ranti.


"Kamu juga, jangan manja, ah!" cibir Bu Ranti menatap putra sulungnya yang masih bergeming tanpa sepatah kata.


"Apa sih, Bu? Pras nggak manja!" protes Prasta.


Renata dan Rakha tersenyum kecil menatap interaksi ibu dan anak itu.


"Baiklah! Kami pulang. Ata pamit, Bu. Kalau butuh sesuatu, telepon aja biar besok Ata bawain," pamit Renata, mencium punggung tangan Bu Ranti dengan takzim yang diikuti oleh Rakha.


Bu Ranti mengangguk sembari menarik kedua sudut bibirnya.


"Ya, udah. Kalian hati-hati di jalan. Salam buat mama dan papa, ya," balas Bu Ranti ramah.


"Ya, Bu. Insya Allah nanti disampaikan," ujar Renata. Lantas ia menatap Prasta dengan senyuman yang tersungging di bibir tipisnya.


"Aku pulang," pamitnya.


"Rakha pamit, Kak. Selamat istirahat," timpal Rakha.


Prasta mengangkat tangannya sembari tersenyum pada kakak beradik itu.


"Thank you sekali lagi. Hati-hati di jalan," sahutnya, yang lantas dibalas anggukan oleh kedua kakak beradik itu.


***


Selama dua hari berturut-turut, Renata tidak pernah absen datang ke rumah sakit menjaga dan menemani Prasta. Kondisi lelaki itu semakin hari semakin membaik, meskipun penyangga leher masih belum dilepaskan dari lehernya dan kakinya masih terbalut gips.


Menurut dokter, perlu beberapa minggu bahkan bulan proses pengobatan dan penyembuhan untuk cedera yang dialaminya. Beruntung, cedera yang dialaminya tidak terlalu parah. Tulang lehernya yang sedikit bergeser tidak sampai melukai tulang belakang dan sistem sarafnya. Sementara patah tulang di bagian kakinya pun tidak terlalu parah. Ia harus melakukan fisioterapi sebagai salah satu bagian pengobatan dan penyembuhan agar kakinya bisa bergerak dan berfungsi secara normal.


Ponsel Prasta berdering sesaat setelah lelaki itu meminum obatnya pada siang hari itu yang ditemani Renata sejak pagi. Bu Ranti tidak bisa menjaga putranya karena ada kunjungan dari dinas pendidikan ke sekolah tempatnya mengajar.


"Halo, Ly!" sapa Prasta begitu headset bluetooth nya telah terpasang di telinga kirinya. Sengaja ia menggunakan headset untuk menerima atau melakukan panggilan melalui ponselnya, supaya tidak mengganggu pergerakan tubuhnya, terutama bagian leher dan kepalanya.


Renata tertegun mendengar sapaan Prasta pada si Penelepon. Aktivitasnya merapikan meja di sebelah ranjang Prasta terhenti seketika.


"Iya, nggak apa-apa, Ly. Aku nggak apa-apa, kok. Cuma satu kaki aja kok, yang dipasang gips. Masih utuh kaki aku, Ly. Tenang aja ... Nanti kamu balik ke sini, kakiku pasti udah bisa dibuat lari," tutur Prasta, diikuti tawa kecilnya.


"Seriously? Tapi kata Ibu, leher kamu juga patah?"


"Ish! Ibu lebay itu! Nggak ... Nggak ada! Kalau leherku patah, aku nggak akan bisa teleponan kayak gini, Ly ... Udah, nggak usah didengerin cerita Ibu. Grandma gimana, Ly? Udah sehat?"


"Grandma masih harus kontrol ke dokter."


Olly tak meneruskan perkataannya. Terdengar helaan napas gadis itu di seberang sana, membuat Prasta ikut menghela napasnya singkat sembari melirik Renata dengan salah satu sudut netranya. Gadis itu tengah sibuk dengan ponselnya.


"I'm always ready to listen. Ada apa?" tanya Prasta seolah tahu ada sesuatu yang ingin diceritakan teman masa kecilnya itu


"Aku nggak tega mau ninggalin grandma, Pras. Rasanya berat. Tapi aku harus balik ke Indo minggu depan buat ngurusin wisudaku."


"Papa dan Mama masih di Sydney, kan?" tanya Prasta.


"Ya-ya ... Grandma nggak mau? Wajarlah, Ly. Mungkin grandma merasa nggak nyaman tinggal di negara yang asing buat dirinya. Kamu harus maklum."


"Ya, begitulah! Pras, aku harus pergi, nih! Nanti kita sambung lagi, ya. Baik-baik dan lekas sembuh, ya." Olly berpamitan.


"Baiklah. No worries, Olly. Kamu juga baik-baik di sana, ya. Salam buat semua keluarga di sana. Thanks, Olly. See you soon."


Prasta mengakhiri obrolan mereka setelah mendengar balasan dari Olly.


Prasta melirik gadis yang duduk di samping ranjangnya. Lalu berdeham pelan.


"Ehem!"


"Eh! Mau minum?" tawar Renata tergagap. Gadis itu sedikit terkejut mendengar dehaman Prasta.


Tangan Prasta mengayun ke kanan ke kiri dengan senyum kecil di bibirnya.


"No, thanks! Kamu sibuk?" tanyanya kemudian.


"Oh, nggak! Hanya memastikan buat besok," jawab Renata tersenyum canggung.


Prasta mengangguk samar.


"Kalau kamu sibuk dan ada urusan, aku nggak apa-apa kok, ditinggal. Aku bisa sendiri, atau aku bisa minta Arga ke sini," lontar Prasta.


Renata tersenyum dengan gelengan kepalanya.


"Hari ini aku free. Tapi ... Besok dan mungkin beberapa hari ke depan aku nggak bisa full temenin kamu. Tapi aku akan selalu usahakan untuk tetap ke sini. Nggak apa-apa, kan?" terang Renata.


"Oh, tentu! I don't mind," timpal Prasta cepat, kedua sudut bibirnya melengkung samar. Ada rasa kecewa hinggap di hatinya mendengar perkataan Renata.


Sementara gadis itu juga tersenyum samar menanggapi respon dari Prasta.


Hanya begitu? Prasta tidak bertanya kenapa dirinya tidak bisa menemaninya?


Ata, sadarlah! Dia nggak butuh alasan kamu. Kamu bukan siapa-siapa. Ingatlah itu!


***


"Semuanya baik. Tapi tetap harus kontrol dan fisioterapi, ya. Saya resepkan obat dan vitamin yang harus diminum. Setelah ini, administrasinya bisa segera diproses. Setelah administrasinya beres, bisa segera pulang. Ini resep obatnya. Terima kasih," terang sang Dokter yang menangani Prasta selama di rumah sakit.


Setelah dua minggu dirawat di rumah sakit, hari ini Prasta diperbolehkan pulang. Kondisinya semakin membaik. Penyangga di lehernya sudah dilepas tiga hari yang lalu. Namun, gips di kakinya masih belum dibuka. Menurut dokter, tulang di kakinya yang patah masih belum kembali dengan sempurna. Membutuhkan waktu sekitar tiga minggu sampai tiga bulan untuk menyatukan kembali tulang yang patah. Meskipun gips sudah dibuka nantinya, penderita patah tulang kaki masih membutuhkan latihan fisik atau fisioterapi agar kaki bisa bergerak normal seperti sedia kala.


"Ga, temani Ibu ke apotek sekalian ke bagian administrasi, ya," pinta Bu Ranti pada putra bungsunya yang saat itu juga menemani sang Ibu di rumah sakit.


"Ayo, Bu. Kamu nggak apa-apa, kan, ditinggal sendiri, Mas?" lontar Arga yang berdiri di sisi kiri ranjang dengan senyum miringnya.


"Ngeledek kamu!" sungut Prasta, membuang mukanya dengan bibir mencebik.


Arga, sang Adik tergelak melihat sikap sang Kakak.


"Kelihatan banget gundah gulana nggak ditemani Kak Ata," ledek Arga lagi.


"Apaan sih, kamu, Ga! Bawel, deh!" geram Prasta, menatap tajam adik satu-satunya.


"Udah! Berantem aja kalian! Ayo, Ga!" lerai Bu Ranti, yang segera menggamit lengan Arga untuk segera pergi ke bagian administrasi.


"Hati-hati ya, Mas!" Sekali lagi Arga meledek kakaknya dengan tawanya yang kencang sembari melangkah pergi mengikuti langkah sang Ibu.


"Kampret!" maki Prasta dengan kedua netra melotot.


Prasta mengembuskan napasnya perlahan. Tangannya meraih ponsel yang ia letakkan di samping bantal. Tak ada notif pesan dari Renata. Apalagi panggilan telepon. Sudah satu minggu, gadis itu tak pernah muncul di rumah sakit. Beberapa hari yang lalu, kedua orang tua gadis itu datang menjenguknya dan mengatakan jika Renata tidak bisa datang karena sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya.


Bekerja. Di mana? Kenapa dia tidak pernah bilang?


Tiba-tiba Prasta terkekeh sendiri. Emang siapa aku?


Prasta menggeleng dan tersenyum kecut menyadari posisi dirinya bagi Renata.


Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk dari luar.


"Ya, masuk!" sahut Prasta, kedua netranya menatap ke arah pintu kamar yang perlahan terbuka karena didorong dari luar. Dari balik pintu muncul seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang yang pernah sangat dekat dengannya dan sempat membuat perasaannya terombang-ambing, antara nyaman dan cinta.


"Hai!" sapa gadis bertubuh semampai yang selalu tampil modis dengan gayanya yang santai. Gadis berwajah eksotik yang menjadi partner kerjanya.


Prasta tersenyum lebar. "Hai!" sahut Prasta. "Gila, ya! Yang baru keliling Malay! Kapan sampai?" cecar Prasta, tawanya pecah melihat gadis itu datang menjenguknya.


Gadis itu melempar senyuman lebar dan mendekat ke sisi ranjang sebelah kiri, mengangkat tangannya yang terkepal dan disambut tangan Prasta yang sama terkepal. Keduanya saling membenturkan kedua tangannya, salam khas mereka.


"What are you doing, huh? Kamu gila juga, ya! Aku tinggal, kayak begini tingkah kamu!" Gelak tawa lepas dari bibir gadis yang sudah tiga bulan mendapat tugas kerja ke negeri seberang itu.


"Biasa aja kali, Jo! Kamu apa kabarnya? Kapan sampai, sih?"


"Ya ... Gini-gini aja, sih! Kemarin sore aku sampai. Mau langsung ke sini, takut ganggu istirahat kamu," sahut gadis itu yang tak lain adalah Joanna.


"Dih! Alasan, ya! Bilang aja kamu yang males langsung ke sini, karena males bawa-bawa koper dan pasti kamunya capek!" gerutu Prasta.


Joanna tergelak mendengar perkataan Prasta yang memang tidak salah.


"Udah, deh! Kamu nggak pernah bisa bohong kalau sama aku, Jo!" tukas Prasta, senyum miring terbit di bibirnya dengan kedua alis tebalnya yang dinaikturunkan.


Joanna kembali tergelak sembari menggelengkan kepalanya.


"Kebetulan kamu di sini. Kita ngobrol di taman, yuk, Jo! Uummm ... Kamu bisa kan, bantu aku duduk di kursi roda itu dan mendorongnya?" cetus Prasta.


"Hah? Nanti nggak dicari ibu sama adik kamu?" tanya Joanna bimbang.


"Kamu tadi ketemu mereka?" tanya balik Prasta.


Joanna mengangguk. "Iya. Katanya kamu hari ini pulang. Mereka mau mengurus administrasinya," tutur Joanna.


Prasta melempar seulas senyuman. "Karena itu aku mau ke taman sebelum pulang. Mau menghirup udara segar di luar kamar rawat ini sebelum pergi dari sini. Ya, Jo? Please ...." mohon Prasta sembari mengedipkan kedua netranya.


Joanna menghela napas panjang sembari memutar manik matanya malas.


"Kamu manja, ya, kalau sakit! Aku baru tahu, loh!" olok Joanna.


"I beg you, Jo! Kamu nggak kangen sama aku?" goda Prasta dengan senyum smirk-nya.


"Ck! Dasar kamu!" Joanna berdecak kesal. Alih-alih menolak keinginan lelaki dengan satu kaki terbalut gips, ia justru berjalan mengambil kursi roda yang ada di samping sofa dan mendorongnya ke sisi sebelah kiri ranjang lelaki yang selalu ada untuknya itu.


TBC


**Hai, Cinta ❤️❤️


As usual, pls LIKE n COMMENT, ya 🙏


Selamat jelang Ramadhan, selamat menjalankan ibadah Puasa bagi yang Muslim.


Jaga kesehatan selalu 🤗


Thank you & Love you as always 🤗😘💕💕**