LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 31 Bukan Jodoh



HAPPY READING ☺️


"Selamat, Nak. Terima kasih sudah bekerja keras mendapatkan gelar sarjanamu. Terima kasih atas perjuanganmu," ucap Bu Ranti pada putra sulungnya sembari memeluk dan mencium kening putra sulungnya yang beberapa saat lalu telah diwisuda bersama ratusan mahasiswa lainnya dari beberapa fakultas, termasuk kedua sahabat perempuannya, Distha dan Danisha.


"Terima kasih, Bu. Terima kasih untuk bimbingan dan dukungannya selama ini. Terima kasih udah bersabar dan selalu ada untuk Pras. Maaf, Pras belum bisa memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan Ibu dan Bapak." Prasta membalas pelukan ibunya dengan erat. Untuk sesaat ia merasakan kehangatan dan kenyamanan yang beribu kali lipat nikmatnya saat berada dalam pelukan sang Ibu. Ia merasakan sudut netranya basah. Ia menangis.


"Sudah ... Semua yang sudah kamu lakukan dan kamu berikan kepada kami adalah yang terbaik dari yang terbaik, Pras. Kebahagiaan kami ya, kalian. Anak-anak Bapak dan Ibu. Bukan yang lain. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kami," tutur Pak Yusuf sembari menepuk dan mengusap punggung putra sulungnya.


Prasta mengurai pelukannya dari sang Ibu dan menyeka sudut netranya yang basah dengan jemarinya. Kemudian, pandangannya ia tujukan pada pria paruh baya di samping ibunya. Senyum semringah terbit di bibirnya sebelum akhirnya ia memeluk sang Bapak yang sedari tadi menampilkan senyum dengan raut penuh binar kebahagiaan.


"Pak, terima kasih banyak. Terima kasih untuk segalanya. Maafkan Pras, ya, Pak. Hanya ini yang baru bisa Pras berikan untuk Bapak dan Ibu. Insya Allah, Pras akan berusaha selalu memberikan yang terbaik untuk Bapak dan Ibu. Pras janji nggak akan mengecewakan Bapak dan Ibu."


Pak Yusuf tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan putranya. Ia usap punggung putranya dengan sesekali menepuknya perlahan. Tinggi badan bapak dan anak itu hampir sama. Hanya berbeda beberapa senti saja, di mana Prasta memiliki tubuh lebih tinggi dari bapaknya. Ya, postur tubuh tinggi Prasta diwarisinya dari sang Bapak. Adik Prasta pun demikian, memiliki postur tubuh yang tinggi sama dengan dirinya.


"Mas, selamat, ya! Akhirnya jadi sarjana. Jangan lupa janjinya, lho!" celetuk sang Adik satu-satunya setelah bapak dan anak itu melepas pelukannya.


"Hilih! Ada maunya!" cibir Prasta pada sang Adik, yang membuat anak lelaki itu tergelak.


"Thanks, ya! Giliran kamu sekarang. Sekolah yang bener dan jangan pernah membangkang sama Bapak dan Ibu," imbuh Prasta memberi wejangan pada adik lelaki satu-satunya yang masih duduk di kelas XI SMU.


"Siap!" sahut anak lelaki yang bernama Arga itu.


"Ngomong-ngomong, Kak Renata gimana?" bisik Arga pada sang Kakak.


"Apa coba?" desis Prasta menatap tajam adik lelakinya.


"Santai, Mas," sahut Arga sembari terkekeh.


"Pras! Itu Saka kenapa?" seru Bu Ranti tiba-tiba sembari menepuk bahu putranya.


Sontak Prasta mengalihkan pandangannya ke arah pandangan ibunya. Pak Yusuf dan Arga pun melakukan hal yang sama.


Tampak beberapa orang telah mengerumuni tempat di mana Danisha dan keluarganya berada.


"Kayaknya terjadi sesuatu, Mas!" tukas Arga yang langsung mengajak sang Kakak menghampiri kerumunan tersebut. Kedua orang tua Prasta pun mengekori kedua putranya.


No, Danisha! Please, don't mess this up! Not now, Sist!


Benak Prasta berkata dan mulai berpikir buruk tentang sahabat perempuannya, Danisha.


Saat Prasta sampai di tempat kerumunan itu, ia melihat Saka membopong tubuh Danisha yang terkulai lemas dengan mata terpejam. Raut sahabatnya terlihat panik dan cemas.


Astaghfirullah, Danish! What's going on with you? ucap batinnya.


Belum sempat ia bertanya apa yang terjadi pada Danisha, Saka memberikan kunci mobil padanya.


"Pras, tolong nanti antar Ayah dan Bunda, ya," pinta Saka pada Prasta sembari memberikan kunci mobilnya.


Prasta mengangguk dan menepuk bahu Saka untuk memberikan dukungan agar sahabatnya tenang.


"Jangan cemas, semua pasti baik-baik aja," ujar Prasta, berusaha menenangkan sahabatnya.


"Thanks!" sahut Saka, lalu berlari kecil membopong tubuh Danisha bersama Dokter Ardhy. Mereka akan pergi menggunakan mobil Dokter Ardhy ke rumah sakit.


Sementara itu, Prasta meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk mengantar orang tua Danisha menyusul ke rumah sakit.


Distha pun melakukan hal yang sama, meminta izin kepada orang tuanya untuk ikut bersama Dokter Ardhy dan Saka mengantar Danisha ke rumah sakit.


***


Senyum semringah dan binar bahagia terpancar dari raut lelaki muda dengan rambut yang diikat cepol di atas kepala bagian belakangnya. Masih menggunakan kemeja putih dengan celana bahan slim fit hitam usai acara wisuda, ia keluar dari sebuah kamar inap VIP di rumah sakit S bersama dengan Distha dan Dokter Ardhy.


Raut ketiganya tampak bahagia setelah mendengar bahwa Danisha hamil 8 minggu.


Dokter Ardhy menghela napas panjang ketika mereka telah berada di luar kamar inap Danisha dan berjalan beriringan di koridor rumah sakit menuju pintu keluar.


"Danisha emang segitu keras kepalanya dari dulu?" celetuk Dokter Ardhy menatap calon istrinya dan Prasta bergantian.


"Banget, Sayang!" sahut Distha cepat sembari mendengkus.


Prasta terkekeh sembari mengangguk-angguk dan jari telunjuk yang mengarah pada Distha.


"Yup! Sekeras batu!" timpal Prasta, masih terkekeh.


Dokter Ardhy menggeleng dengan tawa kecilnya.


"Dan hanya Saka pawangnya!" cetus Dokter Ardhy, yang diikuti anggukan dan gelak tawa kedua sahabatnya, Distha dan Prasta.


"Kok bisa dia nggak nyadar kalau lagi hamil? Saka pun sama! Dua orang itu emang ya, ada-ada aja, deh!" tukas Prasta kemudian.


"Aku udah pernah ngomong dan tanya sama dia soal keluhannya akhir-akhir ini. Tapi dia selalu mengelak dan tetap pada pendiriannya kalau dia baik-baik saja dan tidak sedang hamil. Katanya siklus haidnya emang nggak teratur. Kamu inget, kan, waktu kita fitting beberapa waktu lalu?" Dokter Ardhy bercerita tentang kejadian Danisha yang mengalami muntah dan badan yang lemas saat menemani mereka fitting busana pengantin.


"Hu-um, inget, Sayang!" Distha membenarkan perkataan calon suaminya.


"Danish begitu karena dia nggak mau ngecewa-in Saka dan seluruh keluarganya, sih! Karena beberapa kali pakai test pack dan periksa ke dokter, hasilnya selalu negatif dan Danish bilang, dia nggak sanggup bila harus ngeliat raut kecewa Saka untuk ke sekian kalinya," ungkap Distha.


"Ya udah, sih ... Sekarang udah clear. Semuanya baik-baik aja," Prasta berujar dengan senyuman tipis.


"Ok, aku harus pulang sekarang. Kalau ada apa-apa, tolong kabari aku, ya," ucap Prasta ketika mereka telah berada di depan ruang IGD yang tak jauh dari pintu keluar rumah sakit.


"Ok!" sahut Dokter Ardhy dan Distha serentak. Prasta tersenyum lebar dan berlalu setelah melambaikan tangannya.


"Kamu nggak apa-apa, kan, nunggu di sini sebentar?" tanya Dokter Ardhy pada Distha.


"It's ok! Abang masuk aja, aku tunggu di sini," jawab Distha sembari menarik kedua sudut bibirnya. Dokter Ardhy tersenyum dan mengecup kening Distha sekilas sebelum beranjak masuk ke ruang IGD. Membuat Distha terkesiap dengan perlakuan tiba-tiba calon suaminya di depan umum. Wajah gadis yang akan segera melepas masa lajangnya itu seketika merona.


"Ish! Genit, ih!" Distha mencubit pinggang calon suaminya dengan wajah tersipu. Dokter Ardhy tergelak sambil berlalu masuk ke dalam ruang IGD.


***


Tiba di rumah, Prasta disambut oleh sang Ibu dengan raut keheranan dan ada rasa khawatir tampak di kedua netranya.


"Lho, Pras! Kok kamu bawa mobil Saka? Trus gimana kondisi Danisha? Dia nggak apa-apa, kan? Penyakitnya nggak kambuh, kan?" cecar Bu Ranti di ambang pintu menyambut kedatangan putra sulungnya.


Prasta tersenyum lebar, merasa lucu melihat sang Ibu yang memberondongnya dengan banyak pertanyaan sementara dirinya belum masuk ke dalam rumah, masih berdiri di teras rumah.


"Bu, boleh Prasta masuk dulu?" ucapnya permisi.


Sesaat Bu Ranti melongo, tetapi segera tersadar dari sikapnya. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut pada putra sulungnya.


"Astaghfirullah ... Maafin Ibu ya, Pras! Saking bingungnya, sampai nyerocos di depan pintu." Bu Ranti memegang lengan putranya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di ruang keluarga, keduanya duduk di sofa panjang berdampingan.


"Gimana? Danisha nggak apa-apa, kan?" tanya Bu Ranti mengulang pertanyaan yang belum dijawab putranya.


Prasta menghela napas singkat dan tersenyum memandang sang Ibu yang menatapnya penuh harap segera menceritakan semuanya.


"Alhamdulillah, tidak terjadi hal yang serius sama Danisha. Berita bahagia, Bu. Danisha hamil," jawab Prasta diakhiri dengan senyuman lebar.


Seketika Bu Ranti terkejut mendengar berita dari putranya, tetapi kedua netra wanita paruh baya itu berbinar senang,


"Masya Allah, alhamdulillah ... Trus kondisi Danisha sendiri dan bayinya gimana? Tadi kan, dia pingsan?" Bu Ranti semakin ingin tahu. Maklumlah, Bu Ranti sudah mengenal dekat Danisha dan Saka sejak putranya berteman dengan pasangan suami istri itu kala masih sekolah di bangku SMA.


"Alhamdulillah-nya, mereka nggak apa-apa, Bu. Bayinya baik-baik saja menurut dokter. Danisha hanya perlu istirahat yang cukup. Dia cuma nggak menyadari kalau sedang hamil dan Ibu tahu sendiri, kan, gimana Danisha?" papar Prasta.


"Ya ya, anak yang keras kepala!" sahut Bu Ranti mengangguk-angguk, menampakkan raut yang gemas mengingat bagaimana keras kepalanya sahabat putranya itu.


"Syukurlah kalau mereka baik-baik saja. Trus, itu mobil Saka kenapa kamu bawa pulang? Kalau Saka nanti ada keperluan, gimana?" Lagi-lagi Bu Ranti mencecar putranya.


"Dia yang suruh Pras bawa mobilnya. Ya, paling dia telpon Pras kalau ada keperluan atau butuh sesuatu. Udah, Ibu tenang aja." Prasta menghela napas panjang, lalu beranjak dari duduknya.


"Kamu nggak makan?" tanya Bu Ranti yang masih dalam posisi duduk. Wanita itu mendongak, melihat putranya yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Tadi udah diajak makan sama Distha dan Dokter Ardhy, Bu. Pras istirahat dulu, ya," jawab Prasta disertai sebuah senyuman di bibirnya.


Bu Ranti bangkit dari duduknya. "Ya, udah! Oh ya, Distha sebentar lagi ya, nikahannya. Tadi Ibu pangling sama dia. Cantik kalau dandan begitu. Nanti pas nikah, pasti lebih cantik lagi," celoteh Bu Ranti.


Lagi-lagi Prasta tersenyum. " Cantik, sih ... Tapi tetap aja tingkahnya nggak bisa berubah, Bu. Pras tuh heran, kok Bang Ardhy bisa jatuh cinta sama dia," cibir Prasta sambil berlalu menuju kamarnya, yang diikuti oleh sang Ibu.


"Husssh! Nggak boleh begitu sama teman sendiri, Pras. Jangan mengolok begitu. Ibu senang satu per satu teman kamu sudah mendapat pasangan. Lebih senang lagi kalau anak Ibu juga menyusul mereka," tutur Bu Ranti dengan melontarkan sindiran untuk Prasta di akhir penuturannya.


Prasta terkekeh. "Menyusul ke mana? Mereka nggak ke mana-mana, lho, Bu!" sahut Prasta bercanda. Ia merogoh ponsel dari dalam saku celana bahannya, hendak diletakkan di atas meja di samping ranjang tidurnya. Sementara sang Ibu sudah duduk di tepi ranjang. Wanita paruh baya yang berprofesi sebagai guru itu, mengekori putranya hingga masuk ke dalam kamar.


"Kamu tahu maksud Ibu. Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Jadi gimana Renata?"


Prasta yang sedang melepas kancing kemejanya mendadak tangannya terhenti pada kancing ke tiga mendengar pertanyaan ibunya mengenai Renata.


Sebelum menjawab pertanyaan ibunya, lelaki itu duduk di tepi ranjang tepatnya di samping sang Ibu. Digenggamnya tangan wanita yang melahirkannya itu penuh sayang. Ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas hingga melengkung sempurna, menambah ketampanan lelaki itu.


"Berapa kali Prasta bilang, kami udah selesai. Udah nggak ada lagi Renata, Bu. Kenapa Ibu masih bertanya tentang dia?"


Bu Ranti menatap lekat kedua netra putranya dengan raut sendu. Prasta pun melakukan hal yang sama. Ibu dan anak itu saling menatap lekat, saling menyelisik ke dalam netra masing-masing.


"Kenapa kamu melepasnya? Kenapa kamu nggak mau memperjuangkannya?" tanya Bu Ranti masih menatap lekat putra sulungnya.


Prasta bergeming dengan wajah menunduk, menatap tangannya yang menggenggam tangan ibunya sebelum akhirnya berbicara.


"Ibu sendiri yang bilang, lebih baik berhenti jika memang udah tidak bisa dilanjutkan. Dan Prasta rasa emang nggak perlu dilanjutkan karena emang udah berakhir." Seulas senyum terbit di bibir Prasta bersamaan lelaki itu yang menegakkan kepalanya menatap raut sendu sang Ibu.


Bu Ranti dapat menyaksikan senyum di bibir putranya adalah senyuman yang dipaksakan. Gurat kesedihan dan kekecewaan di wajah outranya jelas dapat dilihat dan dirasakan oleh wanita paruh baya itu.


"Kamu masih mencintainya, Ibu tahu. Kamu nggak bisa membohongi Ibu," cetus Bu Ranti lirih, satu tangannya mengusap pipi putranya yang beberapa jam lalu telah lulus dan menyandang gelar sarjananya.


Prasta tersenyum sekali lagi, lalu meraih tangan ibunya yang masih menempel di pipinya untuk digenggam. Sesaat kemudian, ia memeluk ibunya. Menenggelamkan wajahnya di bahu sang Ibu.


Bu Ranti menghela napas dalam dan perlahan mengusap punggung putranya dengan gerakan naik turun.


"Lepas dan relakan semua yang terjadi. Carilah kebahagiaanmu dengan caramu sendiri. Ibu tahu pasti berat, tapi Ibu yakin kamu bisa," tutur Bu Ranti.


Prasta masih bergeming. Kedua netranya terpejam. Rasanya nyaman sekali memeluk tubuh wanita paruh baya yang telah melahirkannya. Sudah lama ia tak memeluk ibunya dan bermanja pada wanita yang kasih sayangnya selalu ia rasakan selama hidupnya.


Dering ponsel memecah keheningan di dalam kamar berukuran 3 x 4 meter itu. Membuat ibu dan anak itu mengurai pelukannya.


Bu Ranti tersenyum, lalu bangkit dari duduknya dan mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala putra sulungnya sebelum akhirnya beranjak pergi.


"Makasih, Bu," ucap Prasta saat sang Ibu sudah mencapai ambang pintu. Bu Ranti menoleh sekilas dengan seulas senyuman sebelum menutup pintu kamar putranya.


Prasta meraih ponsel di atas meja, melihat sebuah nama yang sudah beberapa lama tidak dijumpainya.


"Hai, Ly!"


"Hai! Congratulation, Pras! I'm happy for your graduation."


Prasta tersenyum.


"Thank you, Olly. Kamu apa kabar? Masih sibuk di luar kota?"


Helaan napas dari seberang sana terdengar seperti sebuah keluhan.


"Kerjaanku baru kelar 2 hari yang lalu di Jakarta. Capek, Pras!"


"Wow, sebulan lebih ya, di Jakarta? Berarti sekarang udah balik dong?"


"No! Aku di Sydney, Pras!"


"Sydney? Sekarang?"


"Yup!"


Terdengar tawa kecil gadis itu.


"Gila, ya! Udah di Sydney aja kamu! Ck, padahal aku mau traktir kamu, nih!" Prasta tergelak sembari merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang tidurnya.


"Aaahhh, iya! Harusnya kamu traktir aku! Pokoknya aku mau minta traktir kalau aku udah balik ke Surabaya! Ya, ya?"


Prasta kembali tergelak mendengar teman masa kecilnya itu merengek padanya.


"Iya, iya! By the way, berangkat ke Sydney dari Jakarta? Sendiri?" berondong Prasta.


"Iya dari Jakarta, tapi nggak sendiri. Sama mama."


"Mama kamu nyusul ke Jakarta, gitu?"


"Iya. Dadakan dapat kabar dari papa, si Grandpa masuk rumah sakit. Untung, kerjaanku udah kelar pas dapat kabar itu. Jadi, papa minta aku beli tiket dari Jakarta sekalian sama mama."


Prasta mengangguk, seolah Olly, gadis yang menjadi teman bicaranya di ponsel melihat apa yang dilakukannya.


"Ok, deh, Pras! Kita lanjut lagi nanti, ya. I have to go now. Sekali lagi, selamat ya, udah jadi sarjana. Aku tunggu traktirannya."


Olly tertawa di seberang sana. Prasta juga ikut tertawa.


"Thank you, Olly. Ok, kabari aku ya, kalau udah di Surabaya. Sampaikan salamku buat keluarga kamu. Semoga grandpa lekas sehat."


"Siap, my Bro! Thank you juga. Nanti disampaikan, ya. Salam buat Bapak dan Ibu juga. Bye, Pras!"


Olly berpamitan dan panggilan berakhir.


Prasta tersenyum-senyum kecil sembari menatap ponselnya. Sekilas ia melihat ada beberapa pesan masuk di aplikasi chat room nya. Salah satunya ada pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.


0818xxxxxx


Congratz, ya. Selamat atas kelulusannya. Sukses selalu buat kamu dan jangan lupa untuk selalu bahagia β˜ΊοΈπŸ™


Kedua alis hitam Prasta bertaut kala membaca pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Siapa?


Prasta bangun dari baringannya dan duduk dengan kedua kaki yang disilangkan. Tanpa ragu, ia menekan tombol call pada nomor tersebut.


"Halo," ucapnya begitu panggilan teleponnya diterima setelah nada sambung ke lima. Hening, tak ada suara di sana.


"Halo? Maaf, ini siapa, ya?" Sekali lagi Prasta mengulang sapaannya. Namun, tetap saja tak ada suara yang menyambutnya.


Prasta beranjak dari ranjangnya, berjalan mendekat ke jendela kamarnya dengan ponsel yang masih di telinga kanannya. Tangan kiri lelaki itu yang masih bebas meraup wajahnya perlahan. Tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Hatinya bergetar, dadanya sedikit sesak mengingat gadis yang masih dicintainya meskipun gadis itu telah pergi jauh meninggalkannya. Gadis yang kini ia pahami sebagai bukan jodohnya.


TBC


**Hai, Cinta ❀️❀️


Next mungkin muncul konfliknya, seperti yg aku bilang sebelumnya, cerita ini nggak aku buat terlalu panjang, ya.


Semoga masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.


2500+ kata ... Komennya donk, di setiap paragraf kalian bisa tulis komen ya, sekarang.


Pls tekan Like juga sebelum baca ... πŸ€—πŸ™


Thank you & love you as always πŸ€—πŸ˜˜πŸ’•πŸ’•**


Bahagianya yg udah wisuda dan sah jadi sarjana β˜ΊοΈπŸ’•