LOVE AND DREAMS

LOVE AND DREAMS
Eps 1 Prasta dan Renata



Namanya Prastawan Nugroho. Pemuda berusia 19 tahun yang akrab disapa Prasta ini adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya. Hobby nya fotografi sejalan dengan sahabatnya sedari SMA, Saka. Prasta pemuda yang blak-blakan, ceplas ceplos alias bicara apa adanya.


Prasta menaruh hati pada Renata, gadis penyiar radio teman seprofesi sahabat perempuannya, Danisha. Pertemuan dan perkenalannya dengan gadis penyuka olah raga yoga dan basket ini karena seringnya ia menemani Danisha ke studio radio DG FM bekerja paruh waktu sebagai penyiar.


Perasaan Prasta tidak bertepuk sebelah tangan. Renata menerima cintanya ketika Prasta menyatakan perasaannya di kantor Kak Mitha sebuah kantor Event Organizer tempatnya bekerja paruh waktu. Kak Mitha adalah kakak dari Distha sahabat perempuannya selain Danisha.


Prasta dan Renata berusia sama, 19 tahun dan masih sama-sama kuliah tetapi berbeda kampus dan jurusan. Prasta mengambil jurusan Ilmu Komunikasi ( Fikom ), sedangkan Renata kuliah di jurusan Hubungan Internasional ( HI ). Ada kesamaan diantara mereka berdua, sama-sama jahil dan bicaranya ceplas ceplos. Prasta dan Renata juga sama-sama menyukai travelling.


Sejak mereka resmi menjalin hubungan cinta, mereka mempunyai keinginan serius menjalin sebuah hubungan. Keduanya saling mencintai dan ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan meskipun usia mereka masih dibilang muda. Begitu banyak harapan dan keinginan yang keduanya ingin raih dalam hidupnya, tentu saja untuk kebahagiaan keduanya di masa depan.


******


Sore itu, Prasta bersiap akan pergi menjemput Renata di studio DG FM. Ia berpamitan pada ibunya yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya.


" Bu, Prasta berangkat dulu ya... assalamualaikum, " pamit Prasta mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya.


" Waalaikumsalam. Antar Renata pulang segera, jangan terlalu malam dan jangan ngebut, " pesan Bu Ranti, sang Ibu.


" Iya, Bu. Insya Allah, " jawab Prasta tersenyum.


Prasta segera mengambil motornya, menghidupkan mesinnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Setibanya di studio DG FM, dilihatnya Bang Hendra sedang duduk di depan studio bersama Tomi.


Setelah motornya terparkir, ia pun menghampiri kedua orang teman Renata yang sudah dikenalnya itu.


" Hai, Bang ! " sapa Prasta.


" Hai, Bro ! Renata di dalam barusan selesai siaran. Masuk aja, " kata Bang Hendra.


" Kutunggu di sini aja, Bang. Dia udah tau aku tunggu di luar, " ujar Prasta tersenyum tipis.


" Gimana, rame EO nya ? " tanya Bang Hendra.


" Ya begitulah, Bang. Ada ajalah pokoknya, hehehe.... " jawab Prasta dengan senyum tipisnya.


" Acara ulang tahun DG FM nya jadi dimana, Bang ? " tanya Prasta sambil mengeluarkan ponselnya dari jaket hoodie nya.


" Di cafe nya Pak Andre, " jawab Bang Hendra sambil bermain ponselnya.


" Owh ga jadi outdoor ya, Bang. Mending gitu sih, jadi ga ribet yang dikerjain. Pengalaman ngerjain event outdoor ribet banget, Bang, " tutur Prasta.


" Yup ! Kita juga kan tenaganya terbatas, Bro. Ini radio kan tidak boleh hening, harus bersuara terus kecuali tengah malam, " jelas Bang Hendra tertawa.


" Harus ada yang standby di sini ya... yang standby siapa, Bang ? " tanya Prasta ingin tau.


" Kemungkinan sih dirolling, " sahut Bang Hendra.


" Hey ! asik bener ngobrolnya, " Renata tiba-tiba muncul.


" Udah kelar ? " tanya Prasta yang berdiri dari duduknya begitu Renata muncul dari pintu utama studio.


" Udah. Jadi nengok Danisha ? " tanya Renata.


" Kalian mau nengok Danisha sekarang ? " tanya Bang Hendra.


" Rencana sih begitu, Bang. Gimana, Ay ? Jadi nengok Danisha ? " tanya Renata lagi.


" Uumm... gimana kalo besok siang aja ? " Prasta balik bertanya.


" Sekarang aku ada keperluan ke rumah Distha mengambil sesuatu titipan Kak Mitha, gimana ? " lanjut Prasta.


" Kalo besok siang, aku ikut kalian sama-sama nengok Danisha. Kalo sekarang aku ga bisa, " timpal Bang Hendra.


" Ya udah kalo gitu, besok aja kita sama-sama nengok Danisha nya, " kata Renata.


" Ok ! Aku masuk dulu ya.... " pamit Bang Hendra.


" Ok, Bang ! " sahut Renata dan Prasta.


" Yuk jalan ! Jaket kamu mana, sayang ? " tanya Prasta.


" Eh iya, dalam tas. Sebentar, hehehe.... " jawab Renata tersenyum simpul sembari mengambil jaket yang ia simpan di dalam tasnya.


Prasta tersenyum.


" Sini ! " Prasta mengambil jaket denim dari tangan Renata, kemudian ia membantu memakaikannya di tubuh gadis dengan rambut ekor kudanya.


" Thank you, Ay ! " Renata tersenyum manis pada kekasihnya begitu jaket sudah terpasang di tubuhnya.


" Helm nya, " Prasta mengenakan helm pada kepala gadis bertubuh langsing itu.


" Ok ! Kita jalan, " kata Prasta kemudian.


Keduanya pun berangkat menuju rumah Distha.


" Ay, tadi ngobrol apaan sama Bang Hendra ? Kelihatannya asik gitu, " tanya Renata pada Prasta dalam perjalanan menuju rumah Distha.


Prasta memegang kedua tangan Renata yang memeluk pinggangnya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang setir motor.


" Obrolan laki-laki lah ! " jawab Prasta sambil tetap fokus melajukan motornya.


" Apaan itu, Ay ? " tanya Renata lagi.


Prasta terkekeh. Inilah Renata, dia tak kan berhenti bertanya bila dia belum mendapat jawaban yang tepat.


" Kepo ya ? " goda Prasta


" Ish ! Ga mau kasih tau ya udah ! " Renata merajuk. Ia melepaskan pelukannya.


" Jangan marah donk, Ay... " tangan kiri Prasta meraih tangan kiri Renata dan menariknya lembut membawanya ke dadanya.


" Orang cuma ngobrolin ultah nya DG FM aja, kok ! " jawab Prasta kemudian sembari mencium tangan kekasihnya.


" Owh kirain ngobrol apa, " ujar Renata.


" Emang kirain ngobrol apa, Ay ? " tanya Prasta lagi


" Yaa apa kek ! " jawab Renata asal.


" Ya apa ? " goda Prasta.


" Udah ah ! " tukas Renata menyudahi obrolannya.


Prasta tertawa lebar melihat raut wajah kekasihnya dari spion motor.


Aku mencintaimu karena kamu


Hanya kamu, dirimu dan hatimu


******


Renata, gadis 19 tahun berhidung mancung berwajah manis yang selalu enerjik. Bibir mungil yang tipis menandakan ia seorang yang suka bicara alias cerewet. Bicaranya ceplas ceplos apa adanya. Di rumah, Renata biasa dipanggil Ata.


Renata anak sulung dari 2 bersaudara. Adik laki-lakinya, Rakha, berumur 15 tahun duduk di bangku SMA kelas X.


Ayahnya, Pak Danny, seorang Branch Manager di sebuah perusahaan swasta bergerak di bidang transportasi dan logistik. Sementara Bu Nia, seorang ibu rumah tangga yang juga seorang guru di sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris.


Pagi itu di rumah Renata.


Bu Nia sedang sibuk menyiapkan sarapan bersama asisten rumah tangganya.


" Pagi, Ma, " sapa Renata pada Bu Nia dengan mendaratkan ciuman di pipi sang Mama.


" Pagi, sayang. Ada kuliah ? " tanya Bu Nia pada putri sulungnya yang sudah terlihat rapi.


" Ga ada, Ma, " jawab Renata sembari duduk di kursi meja makan siap untuk sarapan.


" Tumben udah rapi kalo ga ada kuliah. Mau kemana ? " tanya Bu Nia


" Mama lupa ya kalo anak Mama ini juga kerja selain kuliah, " jawab Renata sambil menatap sang Mama dengan senyum simpulnya.


" Jam 10 Ma, " sahut Renata singkat.


" Papa kemana, Ma ? Kok belum kelihatan, " Renata menanyakan Papanya yang belum siap di meja makan. Biasanya, Papanya yang selalu lebih dulu siap di meja makan.


" Masih di kamar. Mungkin lagi nge-check kerjaannya, " jawab Bu Nia, tangannya sambil mengolesi roti tawar dengan mentega dan selai.


" Prasta ga jemput ? " tanya Bu Nia.


" Kenapa emangnya, Ma ? " tanya balik Renata.


" Kalo jemput sekalian sarapan, Ta, " sahut Bu Nia.


" Pagi, " sapa Pak Danny yang baru saja muncul dan duduk di kursi samping Bu Nia.


" Pagi, Pa... " jawab Bu Nia dan Renata.


" Papa mau sarapan roti atau nasi ? " tanya Bu Nia.


" Nasi sama capjay aja, Ma. Tapi dikit aja ya nasinya, " jawab Pak Danny sebelum menyeruput teh manis hangat yang ada di hadapannya.


Bu Nia mengambilkan nasi dan capjay sesuai permintaan suaminya.


" Permisi Mbak Ata, ada Mas Prasta di depan, " kata Bik Atik, asisten rumah tangga nya.


" Owh iya, makasih ya Bik... " sahut Renata.


" Suruh masuk, Ta. Sekalian sarapan di sini, " kata Bu Nia.


" Iya, Ma. Ata permisi sebentar, " ucap Renata.


Renata beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan untuk menemui Prasta.


Prasta duduk di kursi teras sambil memainkan gadget nya. Sesekali pandangannya dilayangkan ke sekitar halaman rumah Renata yang cukup luas dengan taman yang cukup asri di pojok kanan rumahnya. Di pojok kanan teras ada sangkar kayu yang cukup besar di dalamnya ada seekor ayam bekisar jantan.


" Ay, masuk yuk. Sarapan dulu, " ajak Renata menggamit tangan Prasta.


" Aku udah sarapan roti di rumah, sayang, " jawab Prasta.


" Sarapan lagi di sini. Mana kenyang cuma roti, Ay, " bujuk Renata.


" Ada Mama dan Papa ? " tanya Prasta sambil celingukan.


" Ada. Mama sama Papa yang minta kamu sarapan. Ayo donk, Ay.... " rayu Renata.


" Iya, baiklah ! " sahut Prasta singkat.


Mereka pun masuk ke dalam rumah beriringan.


" Pagi, Om dan Tante, " sapa Prasta mencium punggung tangan kedua orang tua Renata.


" Pagi, Pras, " jawab Pak Danny ramah.


" Duduk, Pras. Sarapan dulu, " ujar Bu Nia.


" Iya, Tan. Makasih, " jawab Prasta duduk di samping Renata.


Sejak menjalin cinta dengan Renata, tidak ada halangan yang berarti bagi Prasta mendapatkan ijin dan restu dari kedua orang tua Renata. Keduanya sangat welcome dan menerima Prasta dengan baik.


" Rakha udah berangkat ya ? " Prasta menanyakan adik Renata


" Tuh bocah berangkat sekolahnya selalu pagi, Ay. Rajin banget dia kalo sekolah, " kata Renata.


" Rakha itu beda sama Renata waktu masih sekolah dulu, Pras, " timpal Bu Nia.


" Mama ! Ga usah diterusin ceritanya deh ! " tukas Renata dengan raut cemberut.


" Kenapa sama Renata waktu sekolah, Tan ? " akhirnya Prasta penasaran dengan apa yang baru saja didengarnya. Senyuman smirk tersungging di bibirnya.


" Ay, udahan ya... Jangan mulai usil deh ! " ucap Renata sedikit mengancam.


Bu Nia dan Pak Danny tertawa melihat Renata yang salah tingkah.


" Kapan-kapan aja deh ceritanya, " ujar Bu Nia kemudian.


" Yaaah, Tante. Prasta jadi kepo nih ! " sahut Prasta dengan kekehannya.


" Si Ata nya merajuk tuh ! " kata Bu Nia menunjuk Renata yang merajuk dengan bibir yang dimonyongkan.


Prasta, Bu Nia dan Pak Danny langsung terbahak melihat Renata yang merajuk.


" Kamu mau aku cium bibir kamu di depan Papa dan Mama ? " Bisik Prasta di telinga Renata yang sontak membuat Renata melebarkan kedua matanya. Sedetik kemudian sebuah cubitan sudah mendarat di lengan kekasihnya.


" Aauuwww... sakit, sayang ! Ish, beneran sakit, Ay ! Awas ya.... ! " Prasta mengaduh dan meringis mendapat cubitan dari gadis manis di sampingnya.


" Syukurin ! " sungut Renata.


******


Di sebuah Cafe suatu malam.


" Ay, beneran ya kamu bisa gantiin Danisha ngemsi di event klien nya Kak Mitha besok Minggu ? " tanya Prasta pada Renata, memastikan bahwa gadis pujaannya itu bisa menjadi MC di event yang akan digelar pada hari Minggu menggantikan Danisha yang sakit.


" Minggunya jam berapa sih, Ay ? " tanya Renata sambil menyeruput jus alpukat di hadapannya.


" Jam 9 pagi udah harus ready and standby. Bisa ya ? Please.... " rengek Prasta.


" Insya Allah, aku usahakan, " jawab Renata manggut-manggut.


" Ay, usahakan itu usahakan bisa atau usahakan tidak bisa ? " tanya Prasta setengah berbisik menggoda.


" Maunya ? " Renata balik bertanya.


" Ay, aku minta kepastian lho ! Yes or No ? " Prasta bertanya dengan menatap lekat Renata seperti menyelidik.


Renata memegang pipi Prasta yang bersih lalu tersenyum dan berkata, " Iyes, Ay ! Apa yang ga buatmu, Ay ! " tukas Renata tersenyum simpul.


" Ok ! Thank you and I love you, " seru Prasta girang, mencium sebelah tangan kekasihnya.


" By the way, ada lho yang ga kau beri buat aku, " kata Prasta kemudian dengan mengedipkan sebelah matanya.


Renata menautkan kedua alisnya, tidak paham dengan perkataan kekasihnya.


" Ah, udahlah. Forget it ! " tukas Prasta.


Beberapa saat kemudian, Prasta menggenggam jemari Renata yang lembut. Menatap lekat kedua mata kekasihnya tanpa berkedip.


" Ay, aku ingin mengatakan sesuatu, " kata Prasta serius.


" Apa ? " tanya Renata penasaran.


" Aku ingin kamu tau, aku mencintaimu sungguh, Renata. Aku tau ini terlalu cepat buat kita. Tapi aku serius dengan hubungan kita. Aku harap kamu pun begitu, serius menjalani hubungan ini, " ucap Prasta, manik matanya menatap intens manik mata gadis manis di hadapannya.


" Ya, aku tau. Aku juga mencintaimu, Pras. Dan akupun tak pernah menganggap main-main dengan hubungan kita. Kamu tau, Pras ? Aku tak pernah menduga semua ini sebelumnya bahwa aku dipertemukan denganmu, " tutur Renata yang juga menatap lekat manik mata kekasihnya.


" Aku mau kita selalu bersama, sayang. Semenjak mengenalmu dan kamu hadir membuat aku nyaman dan aku tak pernah tertarik dengan siapapun selain kamu, " tutur Prasta yakin.


Tbc


**Hai... akhirnya novel kedua ku bisa hadir di sini.


Kisah Prasta dan Renata ini sengaja aku buat terpisah dengan Love On The Air yang lebih banyak bercerita tentang Danisha, Saka dan Rendra.


Happy Reading ya guys... semoga enjoy membaca novel terbaruku ini 🤗


Banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk para readers tersayang 💞💞


Jangan lupa tinggalkan jejak ya... rate, like, komen n syukur2 ada yang vote dan kasih tips.


Stay safe n healthy 🤗😘