Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 8.



"Selamat pagi, Pak." Sapa Haura saat melihat Jeff memasuki ruang kerjanya. Haura memang datang lebih awal karena ingin memberikan kesan baik kepada sang atasan.


"Pagi." Jeff tidak melirik sedikitpun kearah Haura. Ia takut kejadian semalam terulang lagi. Jeff tidak ingin bersolo karir di dalam ruang kerjanya.


Haura keluar dari dalam ruangan dan menuju ke ruang pantry. Ia menyeduhkan segelas kopi latte untuk sang atasan. Kopi kesukaan Jeff. "Sudah!" Haura tersenyum senang ketika selesai menyeduh kopi itu sambil lalu mencium aromanya yang begitu nikmat.


"Silahkan diminum, Pak." Haura meletakkan gelas yang berisi kopi latte itu di atas meja kerja Jeff.


"Terimakasih." Jeff tetap fokus pada laptopnya. Ia tidak ingin bertatap muka dengan Haura.


"Mau saya bantu minumkan, Pak?" tawar Haura yang sejak tadi belum beranjak dari tempat ia berdiri.


Jeff reflek menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard. Ia menatap Haura dengan sorot mata yang tajam. Haura yang melihat itu seketika menciut. Namun, ia tetap bersikap tenang di hadapan Jeff.


"Ah, sepertinya ada pekerjaan yang belum selesai. Kalau begitu saya permisi, Pak." Haura dengan cepat kembali ke meja kerjanya. Ia tidak ingin mendapatkan amukan dari atasannya itu.


Jeff tersenyum samar saat melihat tingkah Haura yang langsung takut ketika mendapatkan tatapan tajam darinya. "Kau cukup berani, Baby girl. Sebegitu cintanya kamu terhadap diriku hingga Haura yang aku kenal polos kini telah berubah menjadi sosok yang begitu agresif." Batin Jeff sambil menatap Haura.


Drrrrt ... Drrrrt ... Drrrrt ...


Jeff meraih ponselnya yang berada di dekat laptop. Dengan cepat ia menggeser ikon warna hijau untuk menjawab panggilan itu.


"Bagaimana?" tanya Jeff dengan ekspresi serius kepada seseorang di seberang telepon yang ternyata adalah Arvin.


"Saya sudah mendapatkan informasi tentang mereka, Pak," ucap Arvin dari seberang sana. Dia memang sangat profesional dalam bekerja.


"Bagus! Cepat ke perusahaan sekarang juga," titah Jeff tidak sabar.


"Baik, Pak." Arvin memutus sambungan telepon itu dan bergegas menuju ke perusahaan Kingston.


Sedangkan Haura merasa sangat penasaran dengan siapa Jeff ber-teleponan. Bahkan baru kali ini ia melihat Jeff seserius itu. Namun Haura tidak berani bertanya, takut dikira terlalu ikut campur dalam urusan Jeff.


Arvin sampai di perusahaan Kingston saat jam makan siang berlangsung. Arvin langsung menuju ke ruang meeting atas perintah dari Jeff agar pembicaraan mereka lebih privat. Sebab Jeff tidak ingin Haura mengetahui akan hal itu. Jeff terpaksa memesankan makan siang untuk Haura dan menyuruhnya sarapan di dalam ruang kerjanya.


Sedangkan Jeff, ia beralasan ada kepentingan dengan Arvin yang akan membahas masalah perusahaan yang berkembang di luar negeri. Haura percaya saja dengan ucapan Jeff, sebab ia terlalu bahagia karena Jeff bersikap perhatian terhadapnya sampai rela memesankan makan siang untuk Haura.


"Oh my God. Apakah ini pertanda kalau Jefferson sudah membalas cintaku? Aku harus lebih giat lagi dalam berusaha mendekatinya. Sekarang saja dia memesankan makan siang untuk ku. Pasti besok akan lebih romantis lagi daripada ini." Gumam Haura dalam hati. Ia sangat senang. Hatinya berbunga-bunga saat ini.


*****


Jeff tengah membaca data-data yang Arvin tunjukkan dari hasil kerja kerasnya. Jeff mengepalkan tangannya saat mengetahui hubungan Olivia dengan Keanu yang ternyata adalah sepasang kekasih.


"Atur jadwal pertemuan dengan perusahaan Mahendra, Arvin," perintah Jeff dengan mata menyala. Ia meremas kertas yang berada di tangannya. Hatinya terasa panas, bahkan rahangnya pun mengeras.


Jeff benar-benar marah. Apa mungkin Olivia pergi meninggalkannya hanya demi seorang Keanu? Atau ada alasan lain? Aaaaargh! Jeff benar-benar tidak habis pikir dengan Olivia yang tiba-tiba berhubungan dengan putra dari Mahendra. Padahal Jeff jauh lebih di atasnya Mahendra.


Arvin menelan saliva nya kasar saat melihat Jeff begitu marah. Tak ingin membuang-buang waktu Arvin langsung menghubungi pihak perusahaan Mahendra lalu mengutarakan tujuan. Beruntung perusahaan Mahendra dengan senang hati menyambut rencana pertemuan itu. Sebab Mahendra sendiri, papanya Keanu memang sangat ingin bekerjasama dengan perusahaan Kingston.


Hanya saja perusahaan Kingston tidak begitu berminat ingin menjalin kerjasama dengan Perusahaan Mahendra yang terkenal selalu curang ketika melakukan kerjasama. Oleh-oleh sebab itu perusahaan Mahendra berada jauh di bawah perusahaan Kingston dan Perusahaan Pradipa.


Rencana pertemuan itu dipercepat karena Jeff sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Keanu. Nanti malam adalah pertemuan mereka yang akan bertempat di restoran Muara. Restoran kelas atas, Jeff sudah merservasi tempat itu agar pertemuannya tidak ada yang melihat.


Haura duduk dengan gelisah menunggu Jeff di dalam ruang kerjanya. Karena sudah dua jam lamanya Jeff belum kembali. Bahkan sudah hampir waktu jam pulang. Haura khawatir takut terjadi sesuatu terhadap kakak sepupunya itu.


"Kak Jeff kemana ya, kenapa lama sekali." Gumam Haura sambil mondar-mandir di dalam ruangan itu layaknya setrikaan.


Ceklek!


Pintu ruangan itu terbuka menampilkan sosok laki-laki tampan yang sejak tadi Haura tunggu-tunggu. "Kak Jeff! Kakak kemana saja, aku nungguan dari tadi," cerocos Haura tanpa jeda. Ia menghampiri Jeff yang masih berada di dekat pintu.


"Kakak? Kamu tidak lupa 'kan kita ada dimana sekarang?" tandas Jeff dengan suara dingin yang berhasil membuat Haura bungkam seketika.


"Maaf, Pak. Saya lupa." Haura menundukkan kepala merasa bersalah. Saking khawatirnya ia sampai lupa dengan statusnya saat ini bahwa dirinya seorang bawahan.


Haura mengakui kesalahannya yang tidak bisa bersikap profesional di saat jam kerja berlangsung. Ia kembali ke meja kerjanya tanpa bersuara lagi. Haura tidak ingin menjadi cengeng di depan Jeff, ia harus terlihat dewasa agar Jeff tidak lagi menganggap dirinya sebagai anak kecil.


Melihat wajah Haura yang tampak sedih, Jeff sedikit merasa bersalah. Ia benar-benar tidak bisa menjaga ucapannya akibat suasana hatinya yang kacau. Ia terlalu berlebihan dalam menyikapi pertanyaan Haura. Padahal tadi ia melihat bahwa Haura mengkhawatirkannya. Namun Jeff malah bersikap dingin seolah berbicara dengan orang asing.


"Huf!" Jeff menghembuskan nafas kasar untuk menetralisir beban di hatinya. Entah mengapa ia selalu lemah jika berurusan dengan Olivia bahkan ketika tidak berhadapan langsung pun Jeff sudah kalah.


Dalam perjalanan pulang, Haura hanya diam tidak seperti biasanya yang akan sangat cerewet. Jeff merasa heran kenapa Haura bersikap seperti itu. Padahal semuanya gara-gara dirinya yang bersikap dingin waktu di kantor. Ya, laki-laki memang begitu. Ia tidak akan peka bahkan tidak akan merasa bersalah di saat dirinya berbuat kesalahan.


"Dia kenapa? Biasanya juga cerewet. Kenapa sekarang jadi pendiam?" batin Jeff penuh tanda tanya.