Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 16.



Keanu tersenyum senang saat menerima pesan dari Arvin bahwa Jeff sudah mengatur pertemuannya dengan Haura, besok. Keanu tersenyum miring, ia tidak menyangka bahwa Jeff lebih memilih bertemu dengan Olivia daripada mempertahankan Haura, adik sepupunya agar tidak bertemu dengannya.


Keanu harus secepatnya membuat Haura menerima lamarannya atas bantuan Jefferson. Hari ini ia bisa bersantai ria tanpa harus memikirkan lamarannya. Sebab Keanu yakin kalau Jeff bisa membuat Haura menerima lamarannya.


"Setelah ini aku akan terbebas dari perbudakan papa. Ya, budak! Sebab papa selalu memperlakukan ku layaknya budak, bukan seperti ayah dan anak." Ucap Keanu dengan mata menyala.


Keanu sangat membenci papanya, tapi demi sang mama yang sangat baik terhadapnya, akhirnya Keanu menurut saja dengan semua perintah Mahendra. Apa yang Keanu lakukan sekarang adalah untuk yang terakhir kalinya, karena ia akan segera membebaskan diri dari papanya.


Ya, semua itu sudah menjadi perjanjian diantara dirinya dan sang papa. Jika Keanu berhasil membuat Haura menerima lamarannya maka Mahendra akan berhenti ikut campur dengan kehidupan pribadinya. Oleh sebab itulah Keanu juga memanfaatkan keadaan agar Jeff bisa membantunya.


Di tempat lain.


Haura tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, meskipun keadaan tubuhnya kurang sehat. Namun, Haura tetap bersikukuh ingin masuk kerja hari ini. Ia akan memastikan apakah Jeff benar-benar tidak mencintainya, atau hanya karena takut terkena amukan oleh kedua orang tua mereka jika sampai kejadian itu bocor.


Haura mempercepat langkahnya saat tiba di depan perusahaan Kingston. Ia sedikit terlambat hari ini karena bangun kesiangan. Haura mengatur nafas lebih dulu untuk menetralisir perasaannya saat bertemu dengan Jeff, nanti. Saat akan mengetuk pintu ruang kerja sang atasan yang sekaligus adalah ruang kerjanya juga, Haura mendengar sebuah percakapan dari dalam sana.


"Jadi, kamu sudah melakukannya dengan Haura?" 


"Iya, Vin. Aku tidak sengaja melakukan itu."


"Maksud kamu?"


Terdengar Jeff menjelaskan bagaimana kejadian yang sebenarnya kepada Arvin di dalam sana. Membuat kedua mata Haura berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa Jeff akan menceritakannya kepada orang lain, termasuk Arvin. Bahkan Jeff sendiri yang melarangnya untuk tidak mengatakan kejadian itu kepada siapapun. Tapi, Jeff sendiri lah membocorkan rahasia itu sekarang.


"Tapi, tetap saja kamu menikmatinya, Jeff."


"Jadi, kamu menyalahkan aku? Sudah jelas kalau Haura yang menggodaku."


"Kalau kamu tidak ingin melakukannya dengan Haura, tentunya sebelum itu kamu bisa menolak dan mengusir Haura dari kamar kamu 'kan Jeff?"


"Kenapa jadi aku yang salah?"


"Bukan cuma kamu, tapi kalian sama-sama salah. Dengar! Aku tahu betul Haura itu wanita seperti apa. Dia wanita yang sangat polos, Jeff. Bahkan dia rela menyerahkan kehormatannya cuma demi kamu."


"Itu namanya MURAHAN. Bahkan di tidak lebih dari seorang jal*ng yang sering aku sewa dan memuaskan hasr*tku."


"Tapi, aku yakin Haura sangat berbeda dari mereka. Dia hanya melakukannya denganmu Jeff."


"Sama saja! Sudahlah jangan sok bijak! Kamu juga lebih bastard daripada aku, Vin. Lebih baik kamu atur pertemuan Haura dan Keanu."


"Kenapa harus Haura?"


"Karena aku sudah membuat kesepakatan dengan Keanu, dan aku akan membuat Haura menerima lamaran Keanu."


"G*la! Sebej*t itukah dirimu Jeff! Setelah kamu mengambil kehormatan Haura, lalu sekarang kamu akan menjualnya kepada Keanu, huh! Diamana otak mu!"


Terdengar suara Arvin meninggi, dan mengumpati Jeff. Bahkan Arvin tidak lagi bersikap profesional saat berada di kantor.


"Aku tidak menjualnya, hanya menukarnya dengan Olivia. Jika dia benar-benar mencintai ku pasti dia akan menuruti apapun yang aku katakan."


"Brengs*k lu Jeff!" 


Arvin sudah kehilangan kesabaran saat mendengar perkataan Jeff yang membuatnya tidak lagi berkata sopan. Ia benar-benar marah terhadap sahabatnya itu. Ingin rasanya Arvin menghajar mulut sampai sahabatnya itu. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Karena tidak ingin membuat kericuhan di dalam kantor. Tapi, tidak dengan nanti ketika sudah berada diluar kantor.


Sedangkan Haura mendadak lemas. Tubuhnya bagaikan tak bertulang. Air matanya luruh seketika membanjiri pipinya. Apa yang dia dengar barusan benar-benar menghantam hatinya. Sungguh Haura tidak menyangka bahwa laki-laki yang sangat dia cintai, dan dia banggakan karena mempunyai sifat yang baik tega mengatakan dirinya adalah wanita murahan.


Satu hal lagi yang membuat Haura bertanya-tanya. Siapa itu Olivia? Apakah dia wanita yang dicintai oleh Jeff? Hancur! Hati Haura sangat hancur. Ia telah salah melabuhkan cinta kepada Jeff. Haura pikir Jeff adalah laki-laki yang sangat baik ternyata dia tidak lebih dari laki-laki brengs*k


"You Bastard, Jeff!" Hardik Haura dalam hati. Ia tidak jadi memasuki ruang kerja Jeff. Haura memilih pergi dari sana untuk menenangkan dirinya seorang diri.


Haura mengendarai mobil dengan ugal-ugalan. Bahkan air matanya terus mengalir. Hatinya begitu sakit ketika mengingat setiap ucapan yang terlontar dari mulut Jeff.


"Aaaaaaaaargh! Kenapa aku begitu bodoh! Kenapa, kenapa, kenapa!" Haura berteriak di dalam mobil untuk meluapkan rasa sakitnya. Kakinya menginjak gas mobil hingga melaju semakin cepat. Haura tidak memperdulikan suara teriakan dan klakson dari orang-orang yang di salip mobilnya.


Haura tidak terlalu memperhatikan jalan dan menerobos lampu merah. Hingga sebuah truk menabraknya dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Haura sangat terkejut, ia membanting stir ke arah samping kiri yang ternyata adalah pembatas jalan.


Aaaaargh! Bruk!


Mobil Haura terpelanting keatas, dan berguling-guling di atas aspal. Tubuh Haura terlempar keluar mobil dalam keadaan berdarah.


"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...." Haura terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Mom, Dad, m-maafkan Haura." Setelah mengatakan itu Haura menutup kedua matanya. Dengan samar-samar ia mendengar suara sirene polisi dan ambulance.


Pyaaaar!


Haura!


Zanna yang tengah mencuci piring tidak sengaja menjatuhkannya keatas lantai sehingga pecah, dan hancur berkeping-keping. Perasaannya menjadi tidak enak, ia terus kepikiran kepada Haura. Makanya dengan reflek ia memanggil nama sang putri tercinta.


"Sayang, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Rei kepada sang istri dengan nada cemas. Ia yang berada di ruang tengah dengan terburu-buru menyusul sang istri yang berada di dapur saat mendengar suara pecahan barang.


"Aku baik-baik saja, Mas. Tapi, perasaan ku tidak enak. Aku kepikiran dengan Haura. Aku takut terjadi sesuatu terhadap putri kita."


"Kamu terlalu berlebihan, Sayang. Sejak semalam kamu seperti itu. Buktinya tadi pagi Haura mengatakan bahwa dia baik-baik saja 'kan. Jangan berpikiran negatif terus dong."


"Tapi, Mas. Kali ini rasanya sangat berbeda. Aku benar-benar khawatir dengan Haura. Kamu tahu 'kan kalau firasat seorang ibu tidak pernah salah."


"Ya sudah kalau begitu kita telepon Haura sekarang juga."


"Bagaimana dengan pecahan piringnya?"


"Biarkan para maids yang membersihkannya." Rei menarik tangan sang istri lalu menuju ke ruang tengah.


Zanna patuh saja terhadap ucapan suaminya. Sebab tujuannya adalah menghubungi sang putri dan menanyakan keadaannya. Namun, sebelum menghubunginya tiba-tiba ponsel Zanna berdering yang menandakan ada panggilan masuk.


Zanna tersenyum saat melihat nama sang penelpon yang ternyata adalah Haura. "Panjang umur sekali dia, baru juga di omongin langsung nelpon saja." Kata Zanna penuh semangat. Sedangkan Rei hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri yang menurutnya terlalu berlebihan. Walaupun sebenarnya Rei juga merasa khawatir terhadap Haura.


"Hallo, Sayang. Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Zanna to the point.


"Hallo, selamat siang. Saya dari pihak kepolisian ingin menyampaikan bahwa pemilik ponsel ini tengah mengalami kecelakaan, dan sekarang sudah di larikan ke rumah sakit Medika."  Terang seseorang dari seberang sana.


Jedar!


Bagaikan di sambar petir jantung Zanna seolah berhenti seketika. Ia tidak bisa berkata-kata karena sangat shock begitu mendengar kabar itu. Begitu juga dengan Rei yang sangat terkejut. Ia tercengang mendengar kabar tentang sang putri, yang kebetulan panggilan itu di loudspeaker oleh sang istri sehingga suara sang penelpon terdengar begitu jelas.


"A-apa! I-ini tidak mungkin."