
"Maaf?" Ulang Jeff menirukan ucapan Olivia. Ia tersenyum kecut saat mendengar permintaan maaf dari mantan kekasihnya itu.
Olivia semakin menundukkan kepalanya. Ia benar-benar malu dan juga takut terhadap Jeff. "Maafkan aku, Jeff. Aku tahu aku salah," Olivia terus mengucapkan permintaan maaf meskipun Jeff tidak menanggapinya.
"Aku tidak butuh permintaan maaf mu. Yang aku butuhkan adalah penjelasan darimu, kenapa dulu pergi tanpa kabar." Ucap Jeff penuh penekanan.
Olivia sangat tertekan. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa semua yang dia lakukan atas permintaan Keanu.
"Mungkin aku terlalu bodoh, sudah mencintai orang yang salah. Entah apa motif kamu membuatku merasakan jatuh cinta sekaligus merasakan sakit yang luar biasa. Perlu kamu ketahui bahwa aku sangat tulus mencintaimu, hingga setelah kamu pergi tanpa kabar, aku selalu menutup hati kepada wanita manapun. Sebab aku masih mengharapkan mu," Jeff mengungkapkan semua isi hatinya kepada Olivia yang masih setia menundukkan kepala.
"Apa karena Keanu kamu pergi meninggalkan aku, huh?" lanjutnya dengan nada sedikit meninggi.
"Huf!" Olivia menghembuskan nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Jeff. Perlahan ia mengangkat kepalanya lalu menatap Jeff dengan rasa bersalah. "Sebenarnya aku tidak pernah mencintai mu, Jeff. Aku melakukan semua itu karena terpaksa. Jadi, tolong maafkan aku." Lagi-lagi Olivia tidak berkata jujur tentang kebenaran yang sesungguhnya.
Jeff mengerutkan keningnya tak mengerti dengan perkataan Olivia. "Katakan dengan jelas, Olivia. Agar aku tidak lagi memikirkan kamu, dan di hantui dengan bayang-bayang masa lalu."
"Intinya aku tidak pernah sedikitpun mencintai kamu, Jeff. Aku yang salah sudah menghancurkan perasaan mu."
"Kamu terlalu berbelit-belit, Olivia. Apa Keanu yang merencanakan semua itu?"
"Tidak ada sangkut pautnya dengan Keanu, Jeff. Asal kamu tahu dari dulu sampai sekarang cinta ku hanya untuk Keanu." Olivia menutup mulutnya saat sadar ternyata dirinya keceplosan.
Jeff terperangah mendengar ungkapan Olivia. Sebab dari tadi ia selalu menyembunyikan dalang di balik semua yang telah terjadi di masa lalu. Dengan begitu Jeff menyimpulkan kalau Keanu lah dalangnya. Namun, apa motif Keanu melakukan semua itu? Secara dulu mereka tidak saling mengenal, tapi Keanu sudah berhasil membuat hati dan hidupnya hancur gara-gara seorang Olivia.
Jeff tersenyum sinis kepada Olivia yang terlihat ketakutan. "Terimakasih sudah berhasil membuat hidupku hancur waktu itu. Kamu wanita yang sangat hebat. Wanita iblis yang bersembunyi dibalik topeng polos mu. Nyatanya kamu tidak lebih dari seorang Bicht." Setelah mengatakan itu Jeff pergi dari apartemen Olivia. Meninggal Olivia yang menangis dalam penyesalan.
"Maafkan aku, Jefferson. Aku memang salah. Sungguh aku tidak berniat menyakiti mu." Ucap Olivia dalam tangisannya.
Mau bagaimana lagi. Menyesal pun tiada guna. Seperti air hujan yang turun ke bumi tidak akan pernah kembali lagi ke atas langit. Lebih baik perbaiki diri agar Olivia layak dimaafkan, dan tidak selalu mengandalkan kata maaf itu sendiri.
Entah mengapa Jeff terlihat biasa saja setelah berada di dalam mobil. Seharusnya dia marah mengetahui Olivia begitu mencintai Keanu daripada dirinya. Namun, Jeff hanya kecewa dengan fakta itu, tidak sampai pada batas marah. Bahkan jantungnya tidak lagi berdebar ketika bersama Olivia.
Anehnya, Jeff malah kepikiran dengan adik sepupunya yang cantik itu. Hanya sekedar menyebut namanya saja jantung Jeff berdetak sangat kencang. Jauh lebih kencang saat bersama Olivia dulu waktu di kota A.
Deg ... Deg ... Deg ...
"Ada apa lagi dengan ku? Kenapa aku selalu terbayang akan wajah Haura? Bahkan jantungku seperti akan melompat dari tempatnya." Ucap Jeff memegang dadanya yang seperti berdisko.
Di rumah sakit Medika.
Haura benar-benar di rawat dengan sangat baik. Sebab para dokter dan perawat sangat tahu betul siapa yang menjadi pasien mereka sekarang. Orang yang sangat berpengaruh di kota itu, bahkan rumah sakit Medika juga berada di bawah kuasanya. Jadi, pihak rumah sakit memberikan perawatan terbaik untuk Haura. Sekarang keadaan Haura sudah membaik. Hanya tinggal menunggu luka-luka di tubuh Haura mengerikan.
Tentunya luka itu tidak akan menimbulkan bekas meskipun lukanya cukup parah. Sebab, dokter Dimas sudah meresepkan obat serba salep yang sangat ampuh untuk menghilangkan bekas itu. Walau bagaimana pun seorang wanita akan sangat takut memiliki bekas luka di tubuhnya, apalagi mereka masih belum menikah. Maka akan sulit mendapatkan pasangan.
Sama halnya dengan apa yang di rasakan oleh Haura. Ia tidak ingin di tubuhnya terdapat bekas luka. Karena sebentar lagi ia akan menikah dengan Keanu setelah Haura pulih. Dengan perhatian Keanu merawat dan menjaga Haura siang-malam di rumah sakit. Untuk memastikan bahwa calon tunangan serta calon istri selalu baik-baik saja.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Keanu dengan lembut. Selama Haura sakit, Keanu tidak di izinkan untuk pergi ke kantor oleh sang papa. Ia hanya di tugaskan untuk menjaga Haura sampai dia sembuh.
"Tidak." Hanya itu yang Haura katakan. Tak sedikitpun Haura menatap wajah Keanu. Sangat jauh berbeda ketika ada anggota keluarga yang lainnya di sana. Pasti Haura akan terlihat manja terhadap Keanu.
"Bagaimana kalau makan buah saja? Aku kupaskan ya." Keanu dengan cekatan mengupas buah apel yang tersedia di dalam kulkas.
Haura menurut saja. Ia benar-benar malas, sebab sejak kemarin ia standby di atas ranjang. Ingin rasanya Haura pergi ke luar untuk menghirup udara segar. Namun, Haura sangat malu mengatakan keinginannya terhadap Keanu.
"Makanlah." Keanu menyodorkan satu piring buah apel yang sudah dia kupas kepada Haura.
"Ah, iya. Terimakasih." Haura mengambil buah itu menggunakan garpu. Namun, saat akan memakannya tiba-tiba Haura bersikap aneh terhadap Keanu, dan menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa tidak jadi?" tanya Keanu menaikkan satu alisnya.
"Suapin," pinta Haura manja. Bahkan ia memasang wajah chuby nya. Membuat Keanu tak mengerti dengan sikap dan tingkah laku Haura. Namun, Keanu tidak ingin banyak berpikir. Lebih baik dia menuruti keinginan Haura, serta bersikap manis terhadapnya.
"Aaaa ...." Haura membuka mulutnya lebar-lebar. Hingga Keanu benar-benar menyuapinya.
"Emmmhh ... Rasanya jauh lebih enak kalau kamu yang menyuapi." Haura memuji Keanu sambil mengangkat kedua jempolnya.
Keanu hanya menggelengkan kepala merasa lucu dengan tingkah Haura. Dalam hati Keanu sangat menyayangkan kebodohan Jeff yang telah menolak cinta gadis se polos Haura. Jika saja Keanu tidak memiliki Olivia di dalam hidupnya, maka dengan senang hati ia akan mencintai Haura. Apalah daya, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Mau secantik apapun, mau sebaik apapun, mau se kaya apapun wanita itu, jika hati kita tidak mencintainya maka rasanya akan sangat hambar.
Sedangkan di balik pintu kamar itu, sepasang mata tengah mengawasi gerak-gerik mereka. Tangannya terkepal kuat saat menyaksikan adegan romantis di depan matanya. Ia tidak rela wanita yang pernah di sentuhnya bermesraan dengan laki-laki lain. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apapun untuk saat ini. Sebab Haura masih tidak mengingatnya.
"Sialan!"