
Sepulang dari pantai, Haura ikut pulang bersama Jeff. Awalnya Rei tidak mengizinkan putrinya ikut pulang bersama keponakannya itu. Namun, atas desakan dan permintaan Kirana, kakak iparnya itu, akhirnya Rei mengizinkan putrinya itu.
"Sayang, malam ini kamu menginap di rumah saja," pinta Kirana saat berada di dalam mobil, dan menuju pulang ke kediaman Kingston.
"Tapi, Tante. Aku belum izin sama mommy dan daddy," Haura bukannya tidak mau, dia hanya takut sang daddy marah. Sebab setelah mengetahui perasaannya terhadap Jeff, sang daddy tidak lagi mengizinkannya menginap di kediaman Kingston.
"Kamu tenang saja nanti tante akan menelpon daddy kamu untuk meminta izin secara langsung." Kirana tetap bersikukuh agar keponakannya itu menginap di rumahnya.
"Tapi, besok aku harus kerja, Tante. Aku tidak bawa baju ganti serta perlengkapan kerja," tutur Haura lagi. Entah mengapa ia jadi ragu untuk menginap di rumah tantenya itu. Apalagi setelah melihat tatapan Jeff melalui kaca spion bagian tengah membuat Haura salah mengartikannya.
Haura mengira kalau Jeff tidak suka dirinya menginap di rumah Jeff. Jadi, ia tidak ingin membuat Jeff marah terhadapnya. Haura harus bisa membuat mood Jeff membaik agar lebih cepat mendapatkan cinta dan kasih sayangnya. Apalagi Haura sangat tahu kalau Jeff tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun membuat Haura semakin tergila-gila. Sebab di zaman sekarang sangat susah mencari laki-laki se baik Jefferson.
"Kalau masalah itu biar tante yang urus. Sudahlah menurut saja, Sayang. Sepertinya kamu sangat tidak ingin menginap di rumah tante. Kenapa, hum?" Kirana menatap Haura penuh tanda tanya.
"B-bukan begitu maksud aku, Tante. Hanya saja ...." Haura menggantung ucapannya karena bingung harus jawab apa.
"Menurut lah, Ra. Untuk malam ini saja, apa kamu tidak kasihan sama mommy yang sejak tadi memohon sama kamu," sela Jefferson pada akhirnya. Awalnya ia hanya diam saja. Namun, setelah melihat dan mendengar usah sang mommy terhadap Haura agar adik sepupunya itu menginap di rumahnya, Jeff jadi merasa kasihan.
Haura reflek menatap Jeff melalui kaca spion. Ia tersenyum lebar saat mendengar Jeff mengatakan itu. Hatinya kembali berbunga-bunga. Haura rasa semua itu hanya alasan Jeff yang mengatakan kasihan terhadap mommy-nya. Padahal Jeff sendiri lah yang menginginkan dirinya menginap di kediaman Kingston.
"Ah, baiklah kalau begitu. Aku menurut saja," ucap Haura akhirnya. Rasanya ia ingin sekali memeluk tubuh kekar kakak sepupunya itu. Haura kembali teringat dengan ciumannya saat berada didi pantai. Haura ingin mengulang kembali ciuman itu. Bahkan Haura akan memberikan segalanya untuk laki-laki sebaik Jeff agar bisa memiliki dia seutuhnya.
Akhirnya mereka berempat tiba di kediaman Kingston. Haura terus mengekori Jeff yang berada di depannya. Membuat Kinara dan sang suami merasa gemas terhadap tingkah laku keponakannya. Mereka dapat melihat ada cinta di sorot mata Haura untuk sang putra. Namun, mereka memilih diam dan membiarkan anak dan keponakannya itu menjalin hubungan tanpa adanya paksaan dari mereka. Sebab Kinara dan Roberto masih belum melihat cinta di mata sang putra untuk Haura.
Kinara hanya berusaha mendekatkan mereka dengan cara sering membuat keduanya selalu bersama. Sebab Kinara juga menginginkan Haura menjadi menantunya. Namun, biarkanlah semuanya mengalir begitu saja. Hingga rasa cinta hadir dan tumbuh di hati Jeff untuk Haura.
"Kamu mau ikut masuk ke kamar ku?" tandas Jeff setelah tanggal tiba di depan pintu kamarnya. Namun, Haura terus mengekorinya.
Haura yang menyadari akan hal itu menjadi kebingungan. Kenapa dia baru sadar kalau ternyata dirinya mengikuti langkah Jeff sejauh ini. "Ah, maaf, Kak. Aku kira kita masih ada di lantai bawah," kilah Haura dengan gugup. Ia bahkan tidak sadar waktu menaiki anak tangga dari saking fokusnya mengikuti langkah Jeff.
"Ya udah sana masuk ke kamar kamu," usir Jeff dengan lembut.
"Baik, Kak." Haura menuju kamar tempat biasa ia menginap sejak dulu yang terletak di sebelah kamar Jefferson. Kinara memang menyiapkan kamar khusus untuk keponakannya itu agar lebih nyaman menginap di sana. Ia tidak mengizinkan Haura tidur di kamar tamu. Hingga ia memberikan kamar yang berada di sebelah kamar putra untuk Haura.
Jeff tersenyum tipis melihat tingkah Haura yang begitu lucu menurutnya. Ia juga memasuki kamar untuk membersihkan diri. Sama halnya dengan Haura yang tengah membersihkan diri dalam bathroom. Ia berendam di bathtub dengan banyaknya busa yang menutupi tubuh indahnya.
"Aaaahh! Segarnya!" Haura memejamkan mata meresapi kehangatan air yang menerpa kulit tubuhnya. Apalagi tadi waktu di pantai ia hanya membersihkan diri dengan singkat di tempat mandi umum. Jadi, Haura merasa tidak puas dan akhirnya melampiaskan dirinya saat ini di rumah calon mertuanya.
Haura terkekeh geli saat mengucapkan kata calon mertua. Ah, Haura merasa tidak sabar ingin segera menjadi menantu di keluarga Kingston. Haura tidak ingin berlama-lama berendam, ia ingin segera menemui Jeff di kamarnya. Ya, dia akan kembali menggoda kakak sepupunya itu. Haura berharap kali ini usahanya tidak sia-sia. Sebab ia tidak sabar ingin memikat Jeff dan memilikinya seutuhnya.
Sedangkan di kamar utama dua insan tengah memadu kasih. Meskipun usia mereka sudah tak lagi muda. Namun, kekuatan mereka tetap jangan diragukan. Sebab setiap saat mereka selalu melakukannya.
Ough! Aahh!
Aahh! Kinara, Honey!
Robert! Aahh!
Mereka berdua saling menyebutkan nama untuk mengutarakan seberapa nikmatnya permainan itu. Robert mengangkat kedua kaki sang istri menaruhnya di atas pundaknya, lalu menggempurnya habis-habisan. Membuat Zanna yang berada di bawah kungkungannya terus menje***.
Aahh! Robert!
Yeah, Honey!
Robert menghentakkan pinggulnya dengan kasar guna memperdalam tusukan itu. Zanna terus mengang* merasa kenikmatan yang tiada tara. Ia begitu kagum terhadap suaminya itu, yang tak pernah pudar kekuatannya ketika bermain tanam-tanaman.
Robert menganga saat miliknya semakin dijepit oleh goa surgawi kesayangannya. Sepertinya Zanna memang sengaja ingin merem**-rem** benda pusaka itu, dan sedikit bermain dengannya.
Di tengah-tengah asiknya mereka becinta. Di kamar sang putra tengah terjadi suasana panas gara-gara kelakuan gadis cantik yang begitu tergila-gila terhadap Jefferson.
"Haura! Kenapa kamu memakai pakaian seperti itu?" Jeff mengatakannya dengan kedua mata yang membulat. Badannya terasa panas dingin saat melihat Haura yang hanya mengenakan bathrobe yang sangat terlihat seksi.
"Ah, aku lupa membawa baju ganti, Kak. Aku kesini ingin meminjam baju kakak. Mungkin ada kaos atau kemeja yang cocok untuk aku pakai," dengan santainya Haura mendekati Jeff yang tengah berdiri di depan pintu kamar mandi. Sebab Jeff baru saja selesai mandi.
Haura tadi sempat mengetuk pintu, tapi karena tidak ada sahutan dari dalam. Ia mencoba membuka pintu kamar itu yang kebetulan tidak di kunci oleh Jeff. Akhirnya Haura memasuki kamar itu, bersamaan dengan Jeff yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
Awalnya Jeff sangat marah melihat Haura yang dengan lancangnya memasuki kamarnya. Namun, saat melihat penampilan Haura yang begitu seksi membuat jiwa bastard-nya kembali bangkit. Apalagi sudah lama dirinya tidak mendapatkan sentuhan dari seorang wanita. Hingga tongkat saktinya otomatis menegang.
"Bukankah di kamar sebelah sudah tersedia baju-baju ganti? Bahkan mommy sendiri yang menyediakan khusus buat kamu. Lalu kenapa kamu mengatakan tidak ada baju ganti sama sekali?" tanya Jeff mengintimidasi Haura. Ia mencoba untuk bersikap biasa saja agar Haura tidak semakin menggodanya.
Haura terhenyak mendengar perkataan Jeff yang seolah meng-skakmat dirinya. Namun, Haura tidak kehilangan akal, ia kembali membuat alasan di depan Jeff.
"Ya ampun, aku lupa Kak. Kalau begitu aku kembali lagi ke kamar sebelah," pamit Haura dengan suara yang dibuat lembut dan se seksi mungkin.
Cup!
Jeff membulatkan mata saat mendapatkan ciuman mendadak dari Haura. Tubuhnya menegang dan terasa panas. Sepertinya Jeff tidak bisa menahan diri lagi. Apalagi saat melihat belahan dada di balik bathrobe yang sedikit terbuka. Jangan lupakan paha mulus milik Haura yang terekspos dengan sempurna.
Jeff memejamkan mata sebentar untuk menetralkan perasaannya.
Haura dengan cepat melepaskan ciumannya tanpa merasa bersalah. "Ups! Maaf Kak. Aku tidak sengaja. Habisnya Kak Jeff terlihat sangat seksi. Aku tidak tahan ingin merasakan bibir ini lagi." Haura mengusap bibir Jeff begitu lembut. Membuat Jeff memejamkan mata meresapi sentuhan itu.
Jeff membuka matanya kala Haura melepaskan tangannya. Jeff tidak terima di permainan oleh Haura. Ia menarik tubuh Haura dadi arah belakang saat Haura sudah berada di ambang pintu.
Hap!
Aakh!
Haura sangat terkejut kala tubuhnya seakan melayang. Jeff mengangkat tubuh Haura lalu menaruhnya di atas pundak ala koala.
Bruk!
Jeff menghempaskan tubuh Haura ke atas kasur miliknya. Dengan cepat Jeff menindih tubuh Haura lalu mencium bibirnya dengan rakus. Ia tidak memberikan kesempatan untuk Haura membuka suara.
Awalnya Haura sangat terkejut dengan tindakan Jeff. Namun, semakin lama ia malah terbuai dengan ciumannya Jeff. Haura melingkarkan kedua tangannya di leher Jeff.
Mereka berciuman begitu panas. Saling menyes** dan membel** lid**. Suara desah** dan lenguh** keluar dari bibir Haura. Membuat Jeff semakin semangat untuk mencum** Haura.
Tangan Jeff bergerilya, membuka taki bathrobe bagian depan yang kenakan oleh Haura. Matanya terpanah melihat tubuh indah, dan seksi milik Haura. Jeff begitu mengagumi tubuh Haura yang sangat sempurna di matanya.
Ia manatap Haura yang juga menatapnya penuh harap. Kedua manik mata mereka telah diselimuti oleh kabut gairah. Deru nafas keduanya juga terdengar sangat berat.
"Lakukanlah, Jeff." Pinta Haura dengan nafas tersengal-sengal.
"Are you sure, baby girl?" tanya Haura dengan suara serak.
"I'm sure, Jeff." Ucap Haura sangat yakin.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi." Jeff kembali melahap bibir Haura penuh gairah. Tangannya memainkan salah satu gunung kembar yang sangat padat. Membuat Jeff semakin kagum.
Jeff yakin bahwa tidak ada satu orang pun yang menyentuh gunung kembar itu. Dirinya lah orang pertama yang menyentuhnya. Ciuman Jeff turun ke leher, meninggalkan jejak kepemilikan disana. Bahkan bekas stempel yang tadi waktu ia buat di pantai masih terlihat jelas. Beruntung Haura menutupinya dengan syal waktu di pantai. Jadi tidak ada yang melihatnya. Syal yang Jeff beli saat berada di pinggir pantai.
Jeff membelinya kepada salah satu pengunjung yang kebetulan lewat. Ia tidak ingin ada yang melihat stempel itu, apalagi kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Haura. Dengan alasan kedinginan Haura mengenakan itu, dan tidak membuat semua keluarganya curiga.
Haura melenguh ketika Jeff melahap salah satu buah kenyalnya. Membuat tubuh Haura menggel**jang merasakan sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Haura membusungkan d*d*nya saat Jeff semakin kuat menghis** put**nya.
Haura menekan kepala Jeff guna memperdalam his**an itu. Jeff tidak tinggal diam. Ia membuka pakaiannya sendiri setelah berhasil meloloskan kain yang menempel di tubuh Haura.
Tangannya Jeff menelusuri setiap inci di tubuh Haura. Hingga berhenti tepat di hutan belantara yang sangat mulus tanpa ada satupun rambut yang tumbuh di sana. Jeff semakin tergoda dengan hutan itu. Ia menggesekkan jarinya di tengah-tengah sungai yang terdapat di hutan belantara itu.
Haura semakin menggila ketika Jeff memasuki jari tengahnya ke goa pribadinya yang belum pernah ada satu orang pun yang menyentuhnya. Tubuhnya seakan tersengat aliran listrik. Haura merasa ingin lebih dari itu, tapi tidak tahu itu apa.
"Aaahh! K-kak. Aku ingin pip*s." Seru Haura di sela-sela desah*n*nya.
"Sebut namaku, Baby girl. Seperti tadi kau menyebut namaku dengan manja," pinta Jeff sambil terus memainkan j*rinya di lembah surgawi milik Haura.
Baru kali ini Jeff menyentuh goa surgawi milik seorang wanita. Sebab ia hanya akan menerima servis bukan menyervis. Ia akan di puaskan bukan memuaskan. Namun, dengan Haura Jeff sangat berbeda. Tanpa diminta Jeff menerobos masuk dengan sendirinya.
Entah daya tarik apa yang Haura miliki hingga membuat Jeff begitu tergoda. Padahal sejak dia berada di kota A, Jeff selalu menerima godaan dari banyaknya wanita. Bahkan ada yang menga**k*ng di depan matanya nya dengan keadaan telanj*** bulat. Namun, Jeff hanya akan tergoda dengan meminta dipuaskan tanpa mau memuaskan.
Jeff berkomitmen dengan dirinya sendiri bahwa tidak akan menyentuh wanita manapun kecuali Olivia. Akan tetapi komitmen itu musnah hanya karena seorang Haura. Sang gadis kecil yang penuh dengan tekat dan keberanian. Jeff seolah hilang akal saat bersama Haura. Jiwa bastard-nya semakin menggebu saat bersama Haura.
"Aaahh! Jeff, aku sudah tidak tahan." Haura kembali meluapkan apa yang dia rasakan. Tubuh Haura meliuk-liuk layaknya cacing kepanasan saat Jeff mempercepat gerakan tangannya di goa pribadinya. Hingga tubuhnya menegang dan bergetar saat merasakan sesuatu yang tumpah di bawah sana.
Aaahhh! Jeff!
Dada Haura naik-turun saat merasakan pelepas** yang pertama kali. Ini adalah kali pertama Haura merasakan sesuatu yang sangat terasa aneh dan begitu nikmat, hingga Haura tak dapat mengungkapkannya dengan sebuah kata-kata.
Jeff tersenyum melihat Haura terkulai lemas. Tanpa pikir panjang Jeff memposisikan dirinya di atas tubuh Haura, lalu mengarahkan tongkat sakti mandraguna-nya ke goa milik Haura. Jeff memejamkan mata ketika tongkat saktinya bersentuhan dengan pintu goa itu.
Sssssttt!
Jeff mendesis tertahan, ia sudah tidak sabar ingin menerobos masuk ke dalam goa itu. Hingga ia mulai menekan ujung tongkatnya untuk memasukinya. Namun, tangannya di tahan oleh tangan Haura, membuatnya seketika berhenti.
"Why"