
Satu bulan telah berlalu ...
Hari ini adalah hari pertunangan Haura dan Keanu, yang dilaksanakan di Hotel Jepol. Sebuah hotel terbesar di kota J, milik keluarga Kingston. Semua itu atas permintaan Haura kepada sang daddy.
Di dalam kamar hotel, Haura telah selesai di make over. Ia terlihat sangat anggun nan cantik dengan balutan gaun warna putih tanpa lengan. Sangat cocok dengan kulit Haura yang seputih susu. Rambutnya di sanggul menggunakan jepit rambut mutiara, dan rambut di bagian depan telinga di dibiarkan menggantung dengan gaya roll.
Haura duduk termenung di depan cermin. Matanya terlihat berkaca-kaca. "Maafkan aku, Kak. Aku hanya melakukan apa yang Kakak mau." Gumam Haura dengan lirih.
"Aku tidak menjualnya, hanya menukarnya dengan Olivia. Jika dia benar-benar mencintai ku pasti dia akan menuruti apapun yang aku katakan." Ucapan Jeff terus terngiang-ngiang di kepala Haura sejak sadar dari masa kritis.
Ya, Haura tidak mengalami amnesia. Ia hanya berpura-pura untuk melupakan Jeff berserta keluarganya. Haura akan mengabulkan keinginan Jeff. Ia rasa memang lebih baik melupakan Jeff daripada menggenggam luka karena sebuah cinta sepihak. Haura tersenyum kecut kala mengingat bagaimana dirinya bersikap murahan di depan Jeff hingga ia memberikan sesuatu yang paling berharga untuk kakak sepupunya.
Tak terasa air mata yang sejak tadi Haura tahan, kini menetes membasahi kedua pipinya. Sakit! Itulah yang Haura rasakan. Namun, dengan cepat Haura menghapus air matanya, lalu tersenyum di depan cermin.
"Ini adalah air mata terakhir yang aku keluarkan secara sia-sia untuk mu, Jefferson. Mulai detik ini, kita bukan lagi saudara. Aku benar-benar akan melupakan mu." Haura berkata dengan keyakinan seratus persen.
Ceklek!
Zanna memasuki kamar itu untuk menjemput sang putri tercinta. Haura tersenyum ceria di depan sang mommy. Ia tidak ingin terlihat sedih, sebisa mungkin Haura menahan rasa sakit yang mendera hatinya. Kekuatan make over yang sangat memukau hingga tak menimbulkan bekas air mata saat Haura menangis tadi. Bahkan, make up itu tidak luntur sedikit pun.
"Sayang, kamu cantik sekali," puji Zanna dengan mata yang berbinar.
"Thank you, Mom." Haura memeluk sang mommy begitu erat. Rasanya Haura tak ingin melepaskan pelukan itu, dan menangis di sana. Namun, sekarang bukanlah waktunya. Haura tidak ingin membuat sang mommy ikut tertekan dengan apa yang dia alami.
"Ya sudah, kita ke bawah ya. Para tamu sudah hadir." Zanna melerai pelukan mereka lalu menuju ke ballroom hotel.
Setelah keluar dari dalam lift, Haura dan Zanna langsung menuju ke arah Keanu beserta keluarganya yang sejak tadi menunggu kedatangan Haura. Para tamu yang hadir menatap takjub kepada Haura. Aura kecantikannya seakan menyihir semua orang yang ada di sana. Tak terkecuali dengan Jefferson, yang menatap penuh damba kepada adik sepupunya itu.
Jeff tidak mengalihkan tatapannya barang sejenak pun. Ia terus mengamati gerak-gerik Haura yang memancarkan senyuman indah.
Reinaldo mengambil alih acara itu untuk memulainya. "Selamat malam semuanya. Terimakasih sudah menyempatkan hadir di acara pertunangan putri kami yang sangat kami cintai. Karena kedua pasangan ini sudah tidak sabar ingin langsung ke acara inti, baiklah kita mulai acaranya sekarang juga." Rei berkata sambil memegang microphone.
Para tamu yang hadir begitu antusias menunggu acara tukar cincin. Semua pasang kamera tersorot kearah tuan rumah serta kedua pasangan yang akan resmi bertunangan. Serangkaian acara diliput begitu detail oleh awak media agar seluruh dunia tahu seberapa mewah acara itu.
Keanu meraih tangan kiri Haura sambil tersenyum indah. Sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk memakaikan cincin ke jari manis Haura. Tak berselang lama cincin itu tersemat dengan sempurna di jari manis wanita cantik tersebut.
Jeff mengepalkan tangan sempurna. Sekarang ia hanya diam saja menyaksikan acara pertunangan itu. Namun, tidak dengan acara pernikahan nanti. Jeff tidak akan membiarkan Haura menikah dengan laki-laki brengs*k seperti Keanu.
Haura merasakan pusing di kepalanya. Terlihat beberapa kali ia mengerjapkan mata serta menggelengkan kepala. Sekuat tenaga Haura menahan rasa sakit di kepalanya. Hingga terhuyung kebelakang yang langsung di tangkap oleh Keanu. Membuat Zanna dan Rei sangat khawatir dengan keadaan Haura.
"Sayang, kamu kenapa?" Ucap Zanna menghampiri sang putri yang berada di pelukan Keanu.
"Aku baik-baik saja, Mom. Hanya pusing sedikit." Haura membenarkan posisinya kesedia kala. Ia tidak ingin mengacaukan hari bahagia itu, yang disaksikan secara langsung oleh Jefferson. Haura tak sengaja bertubrukan dengan Jeff melalui netranya. Secepat mungkin Haura mengalihkan tatapannya kearah lain.
Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Jeff sangat khawatir melihat wajah Haura yang tampak pucat. Ia yakin kalau Haura tidak baik-baik saja. Jika keadaan tidak seperti ini, Jeff sudah membawa Haura memasuki kamar hotel. Sebab ia tidak ingin Haura kenapa-napa.
Semakin lama kepala Haura semakin berat. Semuanya seakan berputar. Pandangan matanya mulai buram, hingga berkali-kali Haura mengerjapkan mata. Haura merasakan bumi sedang menghimpitnya.
Pyaaaar
Bruk!
Saat itu juga pandangan Haura menjadi gelap. Tubuhnya ambruk seketika, dan gelas yang berisikan minuman terlepas begitu saja dari genggaman tangannya. Haura pingsan dia acara pertunangannya sendiri. Semua orang terlihat panik. Keanu membawa Haura memasuki kamar hotel yang di pesan khusus untuk Haura.
Rei mengubungi dokter pribadinya untuk segera datang ke hotel tersebut. Ia tidak ingin terjadi hal buruk kepada putri tercintanya. Zanna menangis di sisi ranjang sambil menatap wajah pucat sang putri.
"Sayang, bangun. Kamu kenapa?" Ucap Zanna dengan perasaan tak menentu. Di ruangan itu ada Rei, Zanna, Keanu, Mahendra, dan Sonya yang menunggu Haura sadar.
Sedangkan Jefferson dan kedua orang tuanya tidak di perbolehkan masuk oleh Rei, dan ditugaskan untuk menenangkan para tamu yang sempat kacau gara-gara Haura pingsan.
Seorang dokter laki-laki memasuki kamar dimana Haura terbaring. Setelah diarahkan oleh petugas di luar. Dokter tersebut langsung memeriksa keadaan Haura. Wajahnya tampak fokus, sesekali dahinya terlihat berkerut seolah tengah menemukan sesuatu yang aneh.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Zanna tak sabar. Ia takut Haura mengalami hal buruk. Apalagi ia terbayang akan kecelakaan yang dialami oleh Haura satu bulan yang lalu.
Dokter tersebut bingung harus berekspresi bagaimana. Apakah dia harus mengucapkan selamat atau apa. Akhirnya ia memilih untuk bersikap biasa saja. "Nona Haura baik-baik saja, dia hanya kelelahan. Hal itu memang wajar dialami oleh ibu hamil."
Jedaaaaaar!
"Apa! Hamil?"