
"Apa! Hamil?" Seru semua orang yang ada di sana. Mereka sangat terkejut dengan kabar itu. Zanna tidak percaya tentang analisa dokter pribadinya itu yang bernama Roni.
"Jangan bercanda kamu, Ron." Rei berkata dengan wajah serius. Roni adalah dokter pribadi sekaligus sahabatnya.
"Untuk apa aku bercanda, Rei. Selama aku menjadi dokter pribadi di kelurgamu apa pernah aku bercanda? Lagipula apa salahnya Haura hamil, sebentar lagi dia akan menikah dengan tunangannya. Di zaman sekarang sudah biasa hal itu terjadi, apalagi dengan tunangannya sendiri." Terang Roni panjang-lebar.
Rei menatap tajam kearah menantunya itu. Matanya merah menyala, tangannya terkepal kuat. Kakinya melangkah lebar, dengan gerakan cepat Rei memberitahu bogeman mentah di wajah Keanu.
Bugh! Bugh! Bugh!
Akh! Ssst!
Keanu yang tidak siap langsung tersungkur ke atas lantai kala tangan Rei mendarat sempurna di wajahnya. Semua orang disana sangat terkejut dengan tindakan Rei. Namun, tidak ada yang berani melerainya, sebab tatapan Rei benar-benar menyeramkan.
"Kurang ajar! Berani-beraninya menghamili Haura sebelum kalian menikah!" Dada Rei naik-turun. Ia sangat marah dan tidak rela putri tercintanya dirusak begitu saja oleh Keanu. Meskipun sebentar lagi mereka akan menikah, tetap saja Rei tidak terima akan hal itu.
"Maaf, Om. Tapi ak--"
Bugh!
Rei tidak memberikan kesempatan untuk Keanu menjelaskan semuanya. Ia sudah terlanjur kecewa. Ia sangat yakin kalau Keanu yang sudah menghamili Haura. Rei sama sekali tidak mencurigai Jefferson, sebab sejak Haura kecelakaan mereka tidak pernah bertemu. Hanya Keanu lah yang sering mengunjungi Haura di Rei dan Zanna tidak di rumah.
Eugh!
Suara lenguhan dari bibir Haura mengalihkan fokus semua orang berpusat kepadanya. Perlahan Haura membuka mata sambil menyandarkan punggungnya di Head bord.
"Aku dimana?" tanya Haura entah kepada siapa. Kepalanya masih terasa pusing. Ia hanya melihat sang mommy yang berada di samping ranjang, menatapnya dengan tatapan nanar. "Mommy kenapa?" lanjutnya.
Zanna tidak tahu harus berkata apa. Kecewa itulah yang dia rasakan. Ingin marah tapi tak bisa. Ia lebih kasihan terhadap putrinya itu yang hamil di usia muda. Haura adalah gadis yang sangat baik dan polos, pasti Keanu yang sudah memaksanya.
"Apa ini alasan kamu ingin secepatnya menikah dengan Keanu, Haura?" Bukan Zanna yang bertanya, tapi Rei. Dia tidak lagi memanggil Haura dengan panggilan kesayangannya. Sebab Rei masih marah dengan kenyataan itu.
"Maksud Daddy apa?" Haura tidak mengerti dengan ucapan sang daddy. Ekspresi semua orang di sana tampak tegang, membuat Haura semakin bingung.
"Kamu hamil, Haura!" Ungkap Rei dengan suara lantang. Beruntung ruangan itu kedap suara, jika tidak maka semua orang yang ada di bawah akan mendengar suara Rei yang begitu memekakkan telinga.
Deg.
Jantung Haura seolah berhenti berdetak. Ia tidak percaya dengan ucapan sang daddy yang mengatakan bahwa dirinya hamil. "Aku hamil? Bagaimana mungkin. Sedangkan aku hanya melakukannya dengan Kak Jeff, itupun cuma satu kali. Lalu kenapa aku bisa hamil?" gumam Haura dalam hati. Tangannya mengelus perutnya yang masih rata.
"Haura, katakan yang sebenarnya, kalau ak--"
"Iya, itu lah alasanku ingin secepatnya menikah dengan Keanu!" Pungkas Haura memotong ucapan Keanu. Ia tidak ingin semua orang tahu kalau ternyata dirinya hamil anak dari Jefferson.
Haura menatap Keanu yang menatapnya dengan dahi berkerut. "Maafkan aku, Keanu. Tapi tidak ada alasan lagi selain mengaku hamil anak kamu." Suara batin Haura menyesal.
Semua orang di sana kembali bungkam setelah mendengar ungkapan Haura. Beda halnya dengan Rei dan Zanna yang tampak kecewa dengan kenyataan itu. Namun, tidak dengan Mahendra yang menyembunyikan kebahagiaannya di balik rasa diam itu. Ia bersyukur Haura telah hamil anak dari sang putra. Itu tandanya ikatan keluarga semakin kuat diantara mereka. Jadi, Mahendra tidak perlu takut, sebab Haura akan tetap menikah dengan Keanu apapun yang terjadi.
"Tolong biarkan aku berbicara empat mata dengan Keanu." Pinta Haura kepada semua orang yang ada disana.
"Ada apa? Kenapa harus bicara empat mata?" Rei keberatan dengan permintaan Haura.
"Please, Dad. Aku butuh privasi dengan Keanu." Haura harus secepatnya berbicara dengan Keanu agar semuanya aman terkendali.
Rei, Zanna, Mahendra, dan Sonya akhirnya keluar dari dalam kamar itu. Mereka membiarkan Haura dan Keanu berbicara dulu. Sedangkan mereka kembali ke ruang acara, dan terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Kehamilan Haura harus di tutup rapat-rapat selama Haura belum menikah dengan Keanu, semua itu atas permintaan Haura.
"Kenapa kamu berbohong?" tanya Keanu setelah kepergian kedua orang tua serta mertuanya.
"Maafkan aku, Keanu. Saat ini aku butuh bantuan mu." Haura menatap dalam pada manik mata Keanu.
"Siapa ayahnya? Jefferson?" tebak Keanu tepat sasaran.
"Siapa ayahnya itu tidak penting. Sekarang aku ingin membuat kesepakatan denganmu." Haura berkata dengan serius. Membuat Keanu terdiam sejenak.
"Kesepakatan bagaimana?" Keanu penasaran dengan kesepakatan itu.
"Akui anak ini sebagai anak kamu, dan aku akan tutup mulut tentang hubungan kamu dengan Olivia," ucap telak Haura.
Keanu sangat terkejut dengan ucapan Haura yang menyebut nama Olivia dalam hal ini. Bagaimana mungkin Haura tahu akan hal itu. "Kamu ..."
"Ya, aku tahu semuanya. Tujuan kamu ingin bertunangan serta menikah denganku aku juga tahu, Keanu. Aku bukan wanita bodoh yang mau menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki seorang kekasih, dan bahkan mempu seorang anak!" tandas Haura yang lagi-lagi membuat Keanu skakmat.
"Baiklah aku akan jujur akan satu hal padamu. Tolong rahasiakan ini dari siapapun, atau rahasia mu juga aku bongkar sama Om Mahendra jika kamu berani membocorkan rahasia ku." Haura tidak segan-segan mengancam Keanu. Ia tidak ingin rencananya hancur berantakan. Sedangkan Keanu hanya duduk terdiam di tepi ranjang. Ingin bicara pun Keanu tidak bisa, lebih baik patuh saja dengan ucapan Haura.
"Kamu tenang saja, meskipun kita menikah nanti aku tidak akan menuntut hal apapun dirimu. Mari kita buat kesepakatan juga dengan Olivia. Aku tidak akan merugikan kalian berdua. Aku tahu bagaimana sulitnya kalian menjalin hubungan tanpa restu dari Om Mahendra. Aku hanya kasihan sama anak kalian yang statusnya di sembunyikan. Oh iya, siapa nama anak kamu?"
"Marvel!"
*****
Semua orang menatap penuh tanda tanya kearah Keanu yang wajahnya babak belur. Begitu juga dengan Jeff beserta kedua orang tuanya. Sejak tadi mereka sangat ingin menyusul Haura ke dalam kamar hotel karena merasa khawatir akan keadaannya. Namun, Rei melarangnya, dan menugaskan mereka untuk menemani para tamu di sana.
Haura terpaksa harus turun lagi ke lantai ballroom bersama Keanu. Ia tidak ingin berita kehamilannya terendus oleh awak media, terutama Jefferson. Sedikitpun Haura tidak melirik Jeff yang sejak tadi menatapnya. Hatinya kembali sakit saat kala mengingat ucapan Jeff. Haura sangat membencinya, dan tak ingin mengenal Jeff lagi.
"Sayang, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Kinara kepada keponakannya.
"Saya baik-baik saja, Tante." Haura menjawab dengan sopan sambil mengeratkan pelukannya di lengan Keanu, yang berhasil membuat hati Jeff memanas.
"Syukur lah kalau kamu baik-baik saja. Tante sangat khawatir, Sayang." Kinara mengusap lengan Haura sebagai bentuk kasih sayangnya. Sejujurnya Kinara merasa sedih dengan sikap Haura yang sekarang. Sejak Haura mengalami amnesia, dia berubah drastis terhadap dirinya. Haura tidak lagi seakrab dulu, bahkan cara bicaranya pun terlalu formal seperti berbicara kepada orang asing.
"Kalau begitu saya pamit kesana dulu, Tante. Permisi." Harus pergi melewati Jeff yang sejak tadi berdiri disamping Kinara dengan diam membisu. Ia sengaja menyenderkan kepalanya di bahu Keanu agar Jeff puas melihat wanita yang ia anggap jal*ng sudah bersama dengan laki-laki lain.
Jeff mencekal pergelangan tangan Haura secara mendadak. Ia tidak rela Haura bermesraan dengan Keanu. Tindakan Jeff membuat Haura tersentak kaget. Ia menatap manik mata Jeff dengan tatapan dingin.
"Maaf, Kak. Ada apa ya?" Ucap Haura berusaha bersikap biasa saja. Walaupun sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Haura masih sangat mencintai Jeff, dan jantungnya semakin berdebar disaat Jeff menyentuh tangannya.
Tanpa menjawab ucapan Haura, Jeff melepaskan cekalan tangannya, dan membiarkan Haura pergi bersama Keanu. Jeff merutuki dirinya sendiri yang sudah bertindak bodoh. Seharusnya Jeff menahannya hingga acara itu selesai jika ingin berbicara empat mata dengan Haura. Namun, hatinya begitu sakit kala melihat wanita yang dia cintai bahagia dengan laki-laki lain.
"Are you okay?" lirih Keanu. Ia menatap Haura yang sepertinya tidak baik-baik saja setelah bertemu dengan Jeff. Keanu yakin kalau Haura sangat tertekan menjalani kehidupannya yang sekarang. Apalagi ada janin di dalam rahimnya.
"I'm okay." Haura tersenyum lembut untuk menutupi rasa gugupnya akibat bertatapan dengan Jefferson. Ayah dari bayi yang dia kandung.
Pesta itu berjalan dengan lancar, dan sangat meriah. Para tamu tidak memperdulikan apa yang terjadi terhadap Keanu, meskipun mereka yakin telah terjadi sesuatu antara keluarga Pradipa dan Mahendra. Namun, mereka tak ingin ikut campur urusan mereka. Yang penting mereka menikmati pesta itu sepuasnya.
Tepat jam 23:00 malam, pesta itu telah usai. Menyisakan keluarga inti saja, Yaitu keluarga Pradipa, Mahendra, dan juga Kingston. Mereka semua akan bermalam di hotel yang telah dipesan khusus oleh Rei kepada sang pemilik, Robert Kingston. Mereka semua memasuki kamar masing-masing, tentunya bersama pasangan masing-masing juga.
Hanya Haura, Keanu, dan Jeff yang tidur seorang diri di dalam kamarnya. Sebab Jeff memang tidak memiliki pasangan. Sedangkan Rei tidak mengizinkan Haura tidur satu kamar dengan Keanu. Ia tidak rela jika Keanu melakukannya lagi bersama Haura. Biarkan saja mereka menunggu hingga acara pernikahan mereka selesai.
Jeff tidur tidak tenang di dalam kamarnya. Ia terus merubah posisi tidurnya dari kiri-kenan. Dalam benaknya hanya ada Haura, Haura, dan Haura. "Aaaarrgh! Sial! Aku tidak bisa terus seperti ini." Seru Jeff frustasi. Ia beranjak dari tempat tidurnya, lalu keluar dari dalam kamar dengan cara mengendap-endap.
Tujuannya adalah kamar yang terletak di sebelah kamarnya. Jeff mencoba menerobos masuk ke dalam kamar tersebut. Berhubung Jeff adalah pemilik hotel itu, dengan gampangnya ia bisa memasuki kamar VVIP, sekelas dengan kamar yang ia tempati tadi. Jeff menutup kembali pintu kamar yang sempat ia buka.
Lampu di dalam kamar itu terlihat masih menyala. Berarti penghuninya masih belum tidur. Benar saja Jeff mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. "Kenapa dia mandi malam-malam begini." Gumam Jeff pelan. Ia menunggu pemilik kamar itu di sisi ranjang.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok wanita cantik yang hanya berbalutkan bath robe. Betapa terkejutnya dia kala melihat ada seorang laki-laki didalam kamarnya. "K-kak!" Pekik Haura tertahan. Ya, Jeff tengah menyelinap masuk ke kamar Haura.
Jeff tersenyum lembut kearah Haura seakan tak terjadi apapun. Katakan saja Jeff g*la. Mana ada orang yang berani memasuki kamar wanita yang telah memiliki tunangan, bahkan tunangannya ada di kamar sebelah. Hanya seorang Jefferson yang bisa melakukan itu tanpa merasa berdosa.
Haura sangat takut melihat Jeff mendekatinya. Ia mengeratkan pegangan pada bath robe yang ia kenakan. "Ka-kak m-mau apa? J-ja-ngan macam-macam ya." Ucap Haura sambil memundurkan langkahnya ke belakang saat Jeff hampir sampai kearahnya.
Grep!
Jeff memeluk tubuh Haura dengan erat. Membuat Haura sangat terkejut akan tindakan itu. Haura hampir saja beteriak, tapi dengan cepat Jeff membekap mulutnya hingga Haura tak bisa bersuara.
Mmmphh ... Mmmphh ...
Haura berusaha melepaskan diri dari Jeff. Namun, tenaga Jeff sangat lah kuat hingga Haura tidak bisa berbuat apa-apa.
"Shuuut! Jangan teriak. Aku hanya ingin nemui, dan tidak akan berbuat macam-macam." Kata Jeff bersungguh-sungguh. Ia hanya ingin melepaskan rasa rindunya yang telah ditahan selama satu bulan ini.
Perlahan Jeff melepaskan tangannya pada mulut Haura. Ia memandang wajah Haura yang sangat cantik bak bidadari. Jeff menyesal kenapa baru sekarang ia menyadari akan kecantikan Haura yang begitu memukau. Jeff menatap manik mata coklat milik Haura sangat dalam. Membuat Haura terbuai akan tatapan itu.
Namun, semuanya tidak bertahan lama, sebab Haura lebih dulu melepas kontak mata mereka. "Kenapa Kakak bisa masuk ke dalam kamarku?" tanya Haura tanpa menatap Jeff.
"Aku merindukan mu, Baby girl. Sangat merindukan mu." Jeff berkata dengan suara parau. Rasanya ia ingin sekali menerkam Haura saat itu juga. Apalagi pakaian Haura yang begitu menggoda membuat lib***nya naik.
Haura tersebut kecut saat mendengar kata rindu dari mulut Jeff. "Merindukan ku? Kenapa bisa? Bukankah kita sering bertemu?"
"Bukan rindu seperti itu, Baby. Tapi ... Aku merindukan mu layaknya seorang kekasih."
"Lebih baik Kakak keluar. Aku mau istirahat, ini sudah malam, Kak. Aku tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita." Haura menuju kearah pintu ingin membukanya agar Jeff keluar dari kamarnya. Ia tidak mau mendengar bualan lagi dari mulut Jeff yang pembohong.