
Zanna menangis di pelukan sang suami. Mereka tengah menunggu Haura di depan ruang ICU. Mereka sangat takut kehilangan Haura, putri semata wayangnya yang sangat mereka cintai. Mereka bahkan sama-sama bungkam karena masih shock.
Ceklek!
Pintu ruang ICU terbuka, menampilkan seorang dokter laki-laki yang masih menggunakan masker. Zanna dan Rei langsung menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaan Haura.
"Bagaimana keadaan putri kami, Dok?" tanya Rei dengan wajah cemas. Jantungnya berdegup sangat kencang kala melihat ekspresi sang dokter yang terlihat serius.
"Pasien mengalami pendarahan yang sangat banyak di bagian kepala. Dia mengalami gegar otak berat. Kami para tim medis sudah menangani dan berusaha sebisa kami. Beruntung dia mendapatkan pertolongan tepat waktu. Hanya saja pasien masih kritis. Kita harus menunggu sampai pasien melewati masa kritisnya. Jika tidak ..." terang donter sambil melepas maskernya. Ucapannya yang menggantung membuat Zanna dan Rei tegang.
"Jika tidak apa, dok?" Rei berkata dengan mata menyala. Ia tidak rela jika dokter mengklaim bahwa Haura akan tidak baik-baik saja kalau dia tidak bisa melewati masa kritisnya.
"Tidak! Haura pasti bisa melewatinya. Dia gadis yang kuat. Jangan katakan apapun jika ucapan itu hanya akan membuat kami terluka, Dok," timpal Zanna dengan cepat. Ia yakin putrinya akan kembali sadar. Meskipun hatinya begitu resah.
"Huf!" Dokter tersebut menghembuskan nafas berat. "Kita berdoa saja supaya putri kalian baik-baik saja. Saya hanya bisa membantu dengan sekuat tenaga saya. Selebihnya kita pasrahkan kepada Tuhan." Ucapan dokter itu memang benar adanya. Jangan hanya usaha, tapi sertai lah dengan berdoa.
"Apa kami boleh melihatnya, Dok?" tanya Zanna penuh harap.
"Silahkan. Tapi hanya satu orang yang bisa masuk. Jika kalian ingin melihatnya maka bergantian lah, dan juga jangan sampai mengusik ketenangan pasien," ucap sang dokter mewanti-wanti.
"Baik, Dok. Terimakasih." Jawab Rei dan Zanna berbarengan. Tak masalah bagi mereka meskipun harus bergantian menjenguk sang putri di dalam sana.
Zanna lebih dulu masuk ke dalam ruang ICU, dengan memakai kostum baju khusus yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Pakaian steril yang agar tidak membawa virus dan kuman ke dalam ruang ICU.
Hati Zanna teriris saat melihat sang putri terbaring lemah di atas brankar dalam keadaan tak berdaya. Kepala Haura di perban, banyak alat yang menempel di tubuhnya. Selang oksigen pun menanam di mulutnya.
Nit ... Nit ... Nit ...
Suara alat monitor Hemodinamik dan saturasi terdengar begitu nyaring, dan menggema di ruangan itu. Membuat Zanna kembali meneteskan air mata. Ia menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Haura. Seumur hidup baru kali ini Zanna melihat sang putri berada diambang kematian.
Zanna akan meminta sang suami agar menyelidiki kasus kecelakaan yang Haura alami. Apakah memang benar Haura hanya kecelakaan tunggal, atau ada dalang dibalik semua itu. Zanna tidak akan terima jika ada yang dengan sengaja ingin mencelakai sang putri. Pikiran Zanna bercabang kemana-mana karena terlalu sakit melihat kedaan Haura.
Zanna duduk di samping Haura dengan tubuh yang tak bertenaga. "Sayang, bangun. Jangan membuat mommy khawatir dan takut kehilangan kamu. Mommy sangat menyayangi mu, Sayang. Bertahanlah demi mommy dan daddy." Lirih Zanna penuh harap. Ia mengusap puncak kepala Haura yang tidak terkena perban.
Tiada hentinya Zanna berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan putrinya. Ia mengecup kening Haura sangat dalam seolah mentransfer kekuatan kepadanya, agar Haura memiliki semangat untuk bangun. Setelah itu Zanna keluar dari ruang ICU dan bergantian dengan sang suami.
"Maafkan daddy, Baby. Daddy tidak bisa menjagamu hingga kamu mengalami hal seperti ini. Bangun lah, daddy sangat merindukanmu. Daddy janji akan menuruti apapun keinginan mu asalkan kamu tetap hidup dan berada di sisi daddy dan juga mommy." Rei benar-benar tak mampu lagi mengucapkan kata-kata. Hatinya sangat sakit seperti diiris oleh sebilah pisau.
"Kamu sangat mencintai kakakmu, Jeff 'kan? Baiklah daddy janji akan membuatnya menjadi milikmu asalkan kamu jangan tinggalkan daddy, Baby." Janji Rei putus asa. Meskipun ia tidak menyukai Jeff, tapi demi sang putri dia akan melakukan apapun agar Haura bahagia.
Tanpa Rei sadari Haura meneteskan air mata dari kedua sudut matanya. Ia merespon tentang apa yang dikatakan oleh daddy-nya itu. Namun, Haura tak berdaya. Ia tidak bisa membuka kedua matanya. Ingin memberontak, berteriak, dan meminta maaf kepada sang daddy atas kesalahannya. Namun, Haura tidak bisa. Raganya seolah tak mengizinkannya untuk melihat dunia.
Rei keluar dari ruang ICU dengan langkah gontai. Semangat hidupnya runtuh seketika bersamaan dengan hancurnya Haura.
"Mas! Bagaimana, apakah Haura sudah sadar?" tanya Zanna ketika melihat sang suami keluar.
Rei menggelengkan kepala dengan lemah. Harapannya untuk melihat Haura sadar sangatlah sedikit. Namun, Rei tetap meyakinkan diri bahwa Haura pasti akan sadar, dan kembali ke dalam pelukannya.
Zanna pun hanya bisa menangis meratapi keadaan Haura. Ia tidak akan bisa hidup jika putri tercintanya pergi meninggalkannya. Bagi Zanna, Haura adalah pertama serta penyemangat hidupmu. Jika tidak ada dia maka Zanna juga tidak akan sanggup menjalani kehidupannya nanti.
Tapi ... Tap ... Tap ...
Suara langkah kaki dari tiga orang yang mulai mendekati Zanna dan Reinaldo. Mereka adalah keluarga Kingston. Mereka sangat terkejut saat melihat tayangan berita di televisi dan juga sosial media, yang mengabarkan bahwa seorang putri pengusaha sukses, Pradipa, tengah mengalami kecelakaan.
Membuat Jeff, Kinara, dan Robert berbondong-bondong pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Haura.
Kinara memeluk sang adik guna menenangkannya. Ia tak kalah sedihnya dan sakit dari apa yang dirasakan oleh Zanna. Kinara juga merasa terpukul dengan kabar itu. Ia sangat menyayangi Haura seperti menyayangi anaknya sendiri.
"Bagaimana keadaan Haura, Om?" tanya Jeff begitu cemas.
"Dia masih kritis. Semoga saja Haura bisa melewati masa kritisnya." Rei berkata sambil menundukkan kepala. Ia seakan tak mampu melihat siapapun di sana tanpa kehadiran sang putri.
Jeff merasa terpukul saat mendengar jawaban dari Om nya itu. Baru kemarin sore ia menghabiskan waktu bersama Haura. Namun, sekarang musibah telah menimpanya. Bahkan Jeff belum melihat wajah Haura sejak pagi tadi.
Jeff merasa bersalah terhadap Haura atas apa yang dia perbuat. Ia juga menyesal sudah menyalahkan Haura atas kejadian kemarin. Saat ini Jeff sangat takut hal buruk terjadi terhadap Haura. Akan tetapi, Jeff juga tidak bisa menceritakan kejadian kemarin kepada kedua orang tuanya dan juga kepada kedua orang tua Haura.
Walau bagimana pun, Jeff harus tetap merahasiakan kejadian itu. Soal keadaan Haura, Jeff hanya bisa bantu berdoa saja. Semoga Haura masih bisa selamat, dan bisa menjalani kehidupan yang baru setelah kejadian kemarin.