Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 5.



Eungh! Aahh!


Jeff tersadar saat mendengar lenguh*n dan desah*n dari bibir Haura. Ia melepaskan pagutannya, lalu duduk kembali dengan  benar. Ia merutuki kebodohannya yang tak bisa menahan diri dari godaan adiknya itu.


"Sorry, Haura. Aku tidak tahu kenapa bisa melakukan itu. Itu semua di luar kendali," ucap Jefferson menyesal.


"Kenapa harus minta maaf, Kak. Aku sangat menyukai itu. Bahkan Kak Jeff adalah laki-laki pertama yang menolak ciumanku walaupun pada akhirnya kalah juga. Karena biasanya para laki-laki yang selalu menggodaku dan ingin mencium bibirku dengan paksa," tutur Haura dengan begitu polosnya.


"Aku harap hanya sekarang kamu melakukan hal di luar batas seperti tadi," ucap Jeff memberikan peringatan.


Seharusnya Jeff merasa senang mendapatkan ciuman pertama dari Haura. Namun, entah mengapa ia malah merasa bersalah sudah menodai gadis sebaik dan sepolos Haura.


Haura mengabaikan peringatan dari Jeff, ia malah tertantang ingin segera mendapatkan cinta Jeff. Menurut Haura, Jeff itu adalah laki-laki yang baik dan tidak brengsek. Di jaman sekarang susah menemukan laki-laki seperti Jeff yang tidak gampang tergoda dengan perempuan.


Bahkan Jeff mengaku tidak percaya dengan cinta, jadi Haura ingin membuktikan kepada Jeff bahwa cinta itu ada dengan membuat Jeff jatuh cinta kepadanya. Haura harus mencari cara agar bisa selalu berdekatan dengan Jeff.


Mungkin Haura harus meminta bantuan kepada daddy-nya. Haura akan memikirkan cara itu nanti setelah sampai di rumah. Sekarang ia akan menikmati waktu berdua dengan Jeff walaupun Jeff tidak menetapnya sama sekali setelah kejadian tadi.


"Mampir dulu Kak," ajak Haura ketika sudah sampai di depan rumahnya.


"Lain kali saja," jawab Jeff datar. Ia harus segera pergi dari sana.


"Hem, baiklah. Sekali lagi terimakasih ya Kak sudah hadir di acara wisuda aku, dan mengantarkan aku pulang."


"Sama-sama, Haura," setelah mengatakan itu Jeff menyalakan mesin mobilnya lalu pergi dari rumah Haura.


Haura memasuki rumah dengan penuh semangat. Bahkan bibirnya terus mengembangkan senyuman indah kala mengingat ciumannya bersama Jeff.


"Ekhem!" Reinaldo berdeham saat melihat putrinya begitu bahagia.


"Daddy!" Seru Haura langsung menghambur ke dalam pelukan sang daddy.


"Kelihatannya kamu begitu senang, Baby," ucap Rei sambil mengelus puncak kepala Haura.


"Tentu saja, Dad. Hari ini adalah hari terindah buat aku."


"Karena sudah menjadi sarjana?"


"Itu salah satunya."


"Lalu apa lagi yang membuat putri kecil daddy terlihat begitu senang?"


"Ada deh, rahasia. Hihihiii." Haura terkekeh kecil. "Mommy kemana, Dad?" lanjutnya.


"Ada di kamar, kemarilah temani daddy mengobrol." Rei menarik pelan pergelangan tangan Haura menuju ke sofa ruang tamu.


"Ada apa, Dad?" tanya Haura bingung.


"Tidak ada, baby. Daddy hanya merindukan dimana saat-saat kita bersama," tutur Rei mendramatisir keadaan. Bagaimana mungkin Rei merindukan saat-saat bersama Haura, sedangkan setiap hari mereka selalu berkumpul bersama dengan mommy Haura juga sambil berbincang ringan.


"Terserah Daddy saja. Oiya, ada yang ingin aku bicarakan, Dad." Haura menatap Rei dengan serius.


"What happen, Baby?"


"Bantu aku untuk bekerja sebagai sekretaris kak Jeff, Dad."


"What! No! Daddy tidak mengizinkan itu, baby. Untuk apa kamu bekerja di perusahaan Kingston di saat perusahaan sendiri membutuhkan kamu."


"Aku ingin mandiri, Dad. Aku tahu kalau aku bisa langsung menjadi penerus Daddy di perusahaan Pradipa, tapi aku mau berusaha dulu dari nol, Dad. Aku ingin merasakan bagaimana menjadi seorang karyawan agar aku bisa mengerti apa yang para karyawan rasakan dan apa yang mereka butuhkan jika aku sudah merasakannya saat menjadi karyawan di perusahaan lain," tutur Haura panjang-lebar.


Rei menghembuskan nafas berat. Ia mencerna semua ucapan Haura, dan sepertinya tidak ada salahnya juga membiarkan Haura belajar mandiri seperti yang dia inginkan.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, Baby. Daddy akan membicarakannya dengan om kamu tentang keinginan kamu ini. Semoga saja dia bisa membantunya dan memberitahukannya kepada Jefferson," ujar Rei mengalah. Asalkan tujuan Haura benar-benar ingin mandiri dan tidak ada maksud lain maka Rei akan meneruti keinginannya.


"Thank you, Dad. Love you. Cup!" Haura memberikan kecupan singkat di pipi sang daddy. Ia begitu senang bisa mendapatkan izin dari daddy-nya.


"Ingat! Hanya fokus bekerja, tidak boleh ada niat lain apalagi hanya ingin berduaan dengan kakak kamu itu," tegas Rei memperingati sang putri tercinta.


"Ok, Daddy!" Haura menyetujui ucapan daddy-nya walaupun dalam hati ia menolak mentah-mentah peringatan itu. Karena tujuannya bekerja di perusahaan Kingston memang ingin berduaan dengan Jeff. Selama bekerja nanti Haura akan membuat Jeff jatuh cinta kepadanya.


Malam harinya Haura berkunjung ke kediaman Kingston atas permintaan Kirana, mommy-nya Jeff yang sebentar lagi akan menjadi mama mertuanya. Ah, Haura juga harus lebih dekat dengan tantenya itu supaya semakin akrab dan segera mendapatkan restu.


Haura di sambut hangat oleh Kirana, sebab tantenya itu begitu menyayangi Haura. "Sayang, kamu sama siapa kesini?" tanya Kirana begitu melihat keponakannya memasuki rumah.


"Aku diantar sama sopir, Tante. Maaf ya mommy dan daddy tidak bisa ikut karena ada pekerjaan penting di luar kota," ucap Haura merasa bersalah. Ya, sebenarnya Kirana memang mengundang Haura serta kedua orang tuanya. Namun berhubung kedua orang tua Haura lagi ada pekerjaan mendadak, jadi hanya Haura yang datang.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ya, sudah kita langsung makan malam bersama." Kirana menggandeng tangan Haura dan membawanya ke meja makan.


Di sana sudah ada Jeff dan Roberto, daddy-nya Jeff yang sedang menunggu di meja makan. Haura tersenyum ramah kepada kedua pria itu. "Selamat malam, Om, Kak Jeff," sapa Haura sambil lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Kirana.


"Malam, Haura," balas Robert dan Jeff berbarengan. Setelah itu mereka memulai acara makan malamnya dengan keadaan hening, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring saling bersahutan.


"Kamu serius ingin bekerja di perusahaan, Om dan menjadi sekretaris Jeff?" tanya Robert dengan tatapan serius saat mereka berada di ruang tengah setelah acara makan malam berakhir.


"Tentu saja boleh, asalkan kamu benar-benar serius ingin belajar bekerja di perusahaan, Om."


"Tapi, Kak Jeff tidak keberatan 'kan?" tanya Haura lagi, ekor matanya melirik Jeff yang tengah menatapnya datar.


"Tenang saja, kakak kamu ini sangat penurut dan patuh dengan ucapan kedua orang tuanya. Jadi, apapun yang Om perintahkan pasti dia mau, ya asalkan dalam hal kebaikan dan tidak merugikan orang." Robert tekekeh kecil setelah mengatakan itu.


Robert memamg tipikal orang yang suka bercanda dan hangat ketika bersama keluarga. Jadi, siapapun yang berdekatan dengannya akan merasa nyaman. Seperti apa yang di rasakan Haura. Sangat berbeda dengan sifat Reinaldo yang tebilang kaku dan hanya bersikap hanya terhadap istri dan putrinya saja.


"Om Robert sangat baik, terimakasih Om," ucap Haura tulus. Ia tidak sadar kalau Jeff menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam hati Jeff tiada hentinya mengumpat. Gara-gara Haura semuanya jadi kacau. Mau bagaimana lagi Jeff harus menuruti perintah daddy-nya.


Kirana meminta Haura untuk menginap di rumahnya, tapi Haura menolak. Entah apa alasannya tidak ada yang tahu karena tidak biasanya Haura akan menolak jika di suruh menginap di sana. Terpaksa Jeff harus mengantarkan Haura pulang dengan selamat atas desakan sang mommy.


Tidak ada percakapan di dalam mobil saat perjalanan pulang. Jeff menutup mulutnya rapat-rapat sedangkan Haura sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga mereka sampai di kediaman Pradipa, Haura turun dari dalam mobil tanpa mengucapkan terimakasih kasih. Membuat Jeff merasa heran, tapi dia tidak ingin ambil pusing dan langsung pergi meninggalkan kediaman Pradipa.


*****


Hari ini Haura mulai bekerja di perusahaan Kingston sebagai sekretaris Jefferson. Atas permintaan daddy-nya Jeff terpaksa memecat Nita hanya demi Haura. Sebenarnya Jeff tidak rela memecat Nita yang baru beberapa hari menjadi sekretarisnya dan belum genap 1 bulan.


Namun, Jeff tidak ingin mengecewakan daddy-nya dan juga merasa tidak enak hati terhadap om Rei yang bela-belain memohon secara langsung agar Haura menjadi sekretaris Jeff dengan alasan ingin belajar mandiri sebelum membantu om Rei mengelola perusahaan Pradipa.


Niat hati ingin menghindari Haura dan membuat wanita itu menjauh dari kehidupannya menjadi gagal total, yang ada Haura semakin dekat dengannya. Jeff berharap Haura bisa menjaga batasan dan bekerja secara profesional.


Akan tetapi, yang paling membuat Jeff pusing adalah bagaimana caranya dia menuntaskan hasratnya jika nanti tiba-tiba ingin dilayani oleh seorang wanita? Nita sudah dia pecat dengan bayaran tinggi serta uang kompensasi karena tidak mempekerjakannya sesuai perjanjian.


Seorang Jefferson akan dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan, hanya saja Jeff harus bermain cantik agar keluarganya tidak tahu sifat buruknya selama ini termasuk juga Haura. Ia harus menyambut Haura di hari pertama bekerja sebagai sekretarisnya.


"Selamat pagi, Pak," sapa Haura dengan sopan. Ia benar-benar berusaha menjadi sekretaris yang baik untuk Jeff.


"Pagi." Jeff menjawabnya singkat. Karena memang begitulah sifatnya di dalam kantor, ia akan bersikap dingin terhadap para karyawannya agar terlihat berwibawa dan disegani oleh semua orang. Jeff harus benar-benar menjaga reputasinya.


Bahkan para mantan sekretarisnya harus tutup mulut mengenai pekerjaan plus-plus mereka selama menjadi sekretaris Jeff. Tentunya dengan uang dan perjanjian hitam di atas putih. Jika mereka berani membocorkan rahasia itu maka Jeff tidak akan tinggal diam dan akan membuat orang itu menderita seumur hidupnya.


"Apa yang harus saya kerjakan, Pak?" tanya Haura. Ia masih belum tahu apa saja tugasnya selama menjadi sekretaris Jeff.


"Pelajari semua yang tertulis di dalam sini." Jeff memberikan sebuah map berwarna coklat kepada Haura yang isinya mengenai tugas-tugas Haura selama mejadi Sekretaris yang dibuat secara langsung oleh Arvin. Tugas yang berbeda dengan para mantan sekretaris Jeff. Kali ini pekerjaan itu murni pekerjaan khusus sebagai sekretaris dan tidak ada pekerjaan plus-plus.


Haura mempelajari teknik tugas-tugas yang tertera di dalam map itu penuh semangat. Ia harus membuat Jeff bangga mempunyai sekretaris seperti dirinya. Tidak butuh waktu lama bagi Haura menghafal tugas-tugas itu, sebab Haura adalah wanita yang sangat cerdas.


"Sudah saya pelajari, Pak," ucap Haura tersenyum senang.


"Bagus, kamu bisa langsung mengerjakan tugas kamu secara urut mulai sekarang," perintah Jeff dengan posisi duduk di atas kursi kebesarannya.


"Baik, Pak." Haura berjalan ke arah meja kerja yang tersedia di dalam ruangan Jeff. Yang terletak tidak jauh dari kursi kebesaran milik sang atasan.


Jeff memberikan peraturan baru, ia meminta Arvin untuk memindahkan meja kerja khusus sekretaris ke dalam ruang kerjanya. Entah mengapa Jeff melakukan itu karena biasanya meja kerja sekretaris berada di luar ruangan. Namun ketika Haura yang menjadi sekretarisnya Jeff malah mengubah semuanya.


Jeff memandangi wajah Haura yang tengah fokus memeriksa dokumen-dokumen penting yang ada di tangannya. Haura terlihat semakin cantik ketika sedang fokus dengan pekerjaan. Atensi Jeff terihkan ke bibir mungil dan seksi milik Haura. Jakunnya naik-turun saat mengingat bagaimana dirinya melah*p bibir itu.


"Tidak Jeff! Jangan berpikir yang aneh-aneh. Haura bukanlah tipe mu, hanya Olivia wanita satu-satunya dalam hidupmu," batin Jeff memperingati dirinya sendiri.


Plung!


Suara notifikasi dari ponsel Jeff yang menandakan ada pesan masuk. Dengan malas Jeff memeriksanya, ia kira pesan itu tidak penting. Namun ketika membuka pesan yang di kirimkan oleh Arvin, Jeff membulatkan matanya sempurna.


"Olivia!" Lirih Jeff. Matanya mengajak sungai sepertinya benteng pertahanannya akan roboh. Tangannya bergetar ketika jarinya mengusap foto wanita yang sangat dia cintai. Olivia menghilang darinya sejak 3 tahun yang lalu, dan kini Jeff melihatnya kembali walaupun hanya sebuah foto.


Jeff meminta Arvin untuk mengikuti kemanapun Olivia pergi, dan harus menemukan alamat tempat tinggalnya. Jeff sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Olivia. Meskipun ia sangat membenci Olivia karena sudah meninggalkannya tanpa kabar, serta membuat Jeff tidak lagi percaya akan cinta. Namun di hati Jeff masih bertakhta nama Olivia seorang.


"Kita harus bertemu, Olivia! Aku akan melakukan apapun agar kita bisa bertemu," gumam Jeff dalam hati. Jeff harus mendapatkan penjelasan dari Olivia kenapa dulu pergi meninggalkannya.


"Anda kenapa, Pak?" tanya Haura cemas. Sebab ia melihat wajah sang atasan begitu pucat, bahkan kedua matanya berkaca-kaca.


"Saya tidak apa-apa, kamu lanjutkan saja bekerja." Jeff menengadahkan kepalanya ke atas, lalu mengedip-ngedipkan kedua matanya agar lelehan bening itu tidak tumpah.


"Baik, Pak." Haura kembali fokus ke pekerjaannya. Ia sangat menikmati hari pertamanya bekerja. Haura tidak mengalami kesulitan, mungkin karena dirinya begitu cerdas dan pintar, jadi apapun pekerjaannya pasti akan terasa gampang.


Di tempat lain.


Arvin tengah mengikuti perempuan yang bernama Olivia. Ia sudah seperti penguntit. Jika bukan karena sebuah tugas dari sang atasan pasti Arvin tidak akan mau menjadi penguntit. Arvin mengabadikan foto-foto Olivia menggunakan ponselnya.


Olivia sedang memilih baju di sebuah mall besar yang ada di kota J. Olivia memang jarang keluar rumah, jadi sekali keluar ia akan memborong apapun yang dia butuhkan. Olivia dikawal oleh dua bodyguard yang berada di belakangnya. Arvin harus ektra hati-hati agar tidak ketahuan kalau dirinya tengah mengawasi Olivia.


Seorang laki-laki tampan menghampiri Olivia sambil memeluk pinggangnya. Mereka terlihat sangat mesra layaknya sepasang kekasih. Tentu saja Arvin kembali mengabadikan moment itu menggunakan ponselnya. ia akan mengirim semuanya kepada Jeff.


Jeff harus tahu kalau perempuan yang dia cintai dan dia cari selama ini bukanlah wanita baik-baik. Arvin mengklaim bahwa sahabat sekaligus atasannya itu terlalu bodoh. Bahkan saat pertama kali melihat Olivia, Arvin dapat menilai kalau perempuan itu bukan wanita baik-baik. Sangat berbeda dengan apa yang Jeff ceritakan kepadanya.


Dari segi pakaian, sikap, bahkan cara dia berbicara sangat berbanding terbalik dengan semua yang Jeff ceritakan. Apa mungkin seseorang bisa berubah dalam jangka waktu tiga tahun? Ah, Arvin dibuat pusing karenanya. Lebih baik dia memberikan semua bukti yang dia dapatkan hari ini. Setelah itu Arvin akan menyelidiki lebih detail tentang kehidupan Olivia.


Arvin jadi penasaran dengan identitas Olivia. Entah mengapa ia sangat tertarik ingin mengorek informasi tersebut. Sebab Arvin merasa tidak asing dengan laki-laki yang bersama Olivia.


"Siapa sebenarnya laki-laki itu? Kenapa wajahnya seperti tidak asing? Sepertinya aku pernah melihatnya," batin Arvin penasaran.