Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 18.



Arvin duduk tak tenang di dalam ruangan CCTV yang terdapat di perusahaan. Ia begitu shock melihat Haura berada di depan ruang kerja Jeff pagi tadi. Tepat jam 08:00 pagi, itu artinya di dalam ruang kerja itu ada dirinya dan juga Jeff. Avin mengusap wajahnya kasar. Ia yakin bahwa Haura telah mendengar semua percakapannya bersama Jefferson. Apalagi di sana terlihat jelas kalau Haura dalam keadaan menangis.


Hingga setelah itu Haura pergi dengan langkah cepat. Arvin mengganti tayangan CCTV ke halaman perusahaan. Ia melihat Haura melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan beberapa saat kemudian di kota J gempar dengan berita kecelakaan yang dialami oleh Haura.


Arvin berspekulasi bahwa Haura kecelakaan karena pikirannya kacau setelah mendengar percakapan antara dirinya dan Jeff. Sebab tadi pagi Jeff tidak menyalakan peredam suara di dalam ruang kerjanya yang otomatis percakapan mereka terdengar keluar ruangan.


"Astaga! Aku benar-benar merasa bersalah terhadap Haura." Kata Arvin menyesal. Ia tidak menyangka bahwa percakapannya bersama Jeff akan menyebabkan Haura kecelakaan. Mereka terlalu ceroboh hingga tidak menyadari eksistensi Haura di sana.


Arvin sengaja di perintahkan khusus oleh Jeff untuk memeriksa lokasi perusahaan, dan melihat apakah hari ini Haura datang ke kantor. Sebab lokasi kecelakaan yang dialami oleh Haura tidak jauh dari perusahaan Kingston. Arah mobil yang dikendarai oleh Haura juga berasal dari arah perusahaan Kingston. Jeff hanya ingin memastikan itu. Namun, jika benar Haura datang ke kantor lalu kenapa harus pulang lagi? Itulah yang Jeff pikirkan saat ini.


Arvin tidak langsung mengatakannya kepada Jeff tentang apa yang dia lihat. Ia lebih dulu menjalin rekaman CCTV itu kedalam ponsel pribadinya. Arvin tidak ingin gegabah. Kemudian ia menghapus rekaman itu di dalam komputer, karena takut ada petugas lain yang melihat itu, dan menjadikannya mesin pencetak uang.


Karena jika sampai video itu tersebar luar maka akan menjadi trending topik, dan yang menyebarkan tentunya akan mendapatkan uang yang banyak. Arvin akan menyerahkan video itu setelah keadaan membaik. Meskipun Arvin sangat marah terhadap Jeff, tapi tetap saja Arvin tidak ingin membuat Jeff merasa bersalah terhadap apa yang menimpa Haura.


Setelah berhasil melewati masa kritisnya, akhirnya Haura di pindahkan ke ruang VVIP, ruangan kelas atas. Zanna merasa sedikit lega saat melihat perkembangan dari Haura. Namun, tidak sepenuhnya hati Zanna merasa tenang sebelum putri tercintanya telah membuka mata.


Zanna, Rei, Kinara, Robert, dan juga Jeff sekarang tengah berada di ruang VVIP. Mereka sama-sama sedih melihat keadaan Haura. Mereka semua berharap Haura akan segera sadar. Terdengar beberapa kali Rei menghembuskan nafas kasar. Dadanya terasa sesak melihat Haura terbaring lemah. Ia berjanji akan menuruti apapun yang Haura ingin nanti setelah sadar.


Ada rasa bersalah di dalam hati Jeff saat mengingat kembali kejadian waktu itu bersama Haura. Entah Jeff merasa bersalah karena menyesal atau hanya karena iba terhadap Haura. Atensinya tidak pernah lepas menatap wajah pucat Haura yang tak berdaya.


Zanna dengan setia duduk di samping ranjang tempat Haura terbaring lemah. Air matanya terus mengalir, tangannya menggenggam tangan sang putri tercintanya. Sedangkan yang lainnya duduk di sofa yang terdapat di dalam ruangan itu, dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


Kelopak mata Haura bergerak-gerak, jari-jemarinya pun ikut bergerak. Itu adalah pertanda bahwa Haura akan segera membuka mata. Bibirnya terbuka seakan kesulitan untuk mengucapkan kata-kata. Apalagi ada selang oksigen yang terpasang di mulutnya, tapi di bagian ujung bibir sebelah kiri.


Zanna sangat terkejut merasakan ada pergerakan di tangan Haura. Ia reflek berdiri dari tempat duduknya. Membuat semua orang di sana terkejut dengan tindakannya itu.


"Mas! Tangan anak kita bergerak, kelopak matanya juga bergerak." Seru Zanna begitu antusias.


Rei dengan cepat menekan tombol di samping ranjang yang terhubung ke ruangan dokter yang menangani Haura. Tak berselang lama seorang dokter laki-laki serta beberapa perawatan masuk ke dalam ruangan itu untuk memeriksa kondisi Haura.


Semua orang tidak sabar menunggu keterangan dari dokter mengenai kondisi Haura. Ekspresi dokter sangat serius dalam memeriksa kondisi Haura. Membuat semua orang di sana tampak tegang. Mereka takut hal buruk akan terjadi kepada Haura.


"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Zanna setelah dokter tersebut yang bernama Dimas selesai dengan pekerjaannya.


Dokter Dimas tersenyum sebelum mengatakan bagaimana kondisi Haura. "Keadaan pasien sudah stabil. Sebentar lagi dia akan segera siuman." Ungkap dokter Dimas.


"Syukur lah," seru semua orang di sana. Mereka menunggu Haura membuka matanya. Dokter Dimas sudah keluar dari ruangan itu setelah mengatakan jika ada sesuatu bisa memanggilnya kembali ke sana.


Benar saja tak lama setelah itu perlahan-lahan Haura mulai membuka matanya. Bias cahaya tampak menyilaukan mata Haura, hingga dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia melihat cahaya di dalam ruangan bernuansa putih itu. Orang yang pertama kali dia lihat adalah wajah sang mommy yang menatapnya dengan tersenyum serta berlinangan air matanya.


"Mom-my." Lirih Haura terbata, bahkan suaranya nyaris tak terdengar. Ia sangat kesusahan untuk berbicara yang terhalang oleh selang oksigen.


"Iya, Sayang. Ini mommy." Menciumi tangan Haura penuh kasih sayang. Ia sangat bersyukur akhirnya putri tercintanya sudah sadar.


"Dad-dy." Haura juga memanggil sang daddy yang berada tepat di samping sang mommy.


"Ya, Baby. Daddy in here. Kamu butuh apa, hum?" Ucap Rei dengan suara lembut. Ia mengusap pelan puncak kepala Haura.


"Ma-afkan Haura, Mom, Dad." Haura berkata penuh penyesalan. Matanya sudah mengajak sungai, dan siap meluncur dengan bebas.


"Kenapa harus minta maaf, Sayang. Yang seharusnya minta maaf itu adalah daddy yang tak bisa menjaga kamu, hingga kamu kecelakaan," sanggah Rei cepat.


Haura hanya diam saja menatap kedua orang tuanya dengan linangan air mata. Ia merasa bersalah karena sudah membuat kedua orang tuanya khawatir. Haura ingat betul bagaimana kecelakaan itu menimpa dirinya.


"Jangan menangis, Baby." Rei menghapus air mata yang mengalir di kedua sudut mata sang putri. Ia tidak akan membiarkan Haura menangis lagi setelah ini.


"B-buka se-lang-nya, Dad. A-ku ing-in mi-num," pinta Haura memohon. Tenggorokannya terasa kering, entah berapa lama ia tak sadarkan diri hingga membuatnya kehausan.


Rei tampak ragu untuk menuruti keinginan Haura. Namun, melihat tatapan Haura membuat Rei tidak tega, dan akhirnya membuka selang itu.


Zanna dengan cekatan meraih air yang tersedia di atas nakas samping ranjang rumah sakit. Lalu memberikannya kepada Haura. Dengan di bantu oleh sang daddy akhirnya Haura menenggak air itu hingga habis tak tersisa. Haura duduk bersandar di kepala ranjang itu.


"Sayang." Panggil Kinara kepada sang ponakan. Sejak tadi ia hanya diam, memberikan ruang kepada Haura serta kedua orang tuanya untuk berbicara dan melepas rindu selama Haura tak sadarkan diri.


Haura terkejut dengan suara panggilan itu. Ia baru menyadari bahwa ada orang lain di sana selain kedua orang tuanya. Bahkan ada tiga orang yang berada tidak jauh dari posisinya.


"Ini tante, Sayang. Masa kamu tidak mengenali tante?" Kinara tidak percaya bahwa Haura tidak mengenalinya. Bahkan Haura juga tidak mengenali Robert dan Jeff.


Haura menggelengkan kepala sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Kinara. Rei langsung memanggil dokter melalui tombol yang tadi.


Mereka menunggu penjelasan dari dokter Dimas kenapa Haura tidak bisa mengenali Kinara, Robert, dan juga Jeff, sedangkan Haura bisa mengenali kedua orang tuanya.


Dokter Dimas menyarankan agar Haura melakukan pemeriksaan ulang agar mengetahui masalah apa yang terjadi pada jaringan di otaknya. Apalagi Haura mengalami gegar otak yang cukup berat, kemungkinan besar Haura mengalami amnesia.


Haura dibawa ke ruang pemeriksaan saat itu juga. Hingga satu jam lamanya dokter Dimas mengumumkan hasil dari pemeriksaan itu kepada semua anggota keluarga yang ada di sana.


"Dilihat dari hasil tes ulang yang tadi kami lakukan. Ternyata pasien mengalami Amnesia Traumatis. Yang diakibatkan benturan pada kepala pasien saat mengalami kecelakaan tadi. Hingga dia mengalami gegar otak yang cukup berat, dan menyebabkan amnesia itu." Terang dokter yang membuat semua orang di sana tercengang sekaligus tidak percaya.


"M-maksudnya bagaimana, Dok? Tolong dijelaskan," ucap Zanna tak mengerti.


"Amnesia traumatis terjadi karena cedera pada kepala yang diakibatkan oleh kecelakaan, benturan, pukulan atau jatuh dari ketinggian. Ingatan yang hilang akan bergantung pada bagaimana trauma atau kerusakan pada area otak yang dialami. Amnesia jenis ini dapat membuat seseorang kehilangan ingatan secara sementara atau permanen. (Sumber Google)." Terang dokter.


"Lalu, kenapa Haura hanya mengingat saya dan suami saya, dan tidak mengenal keluarga adik saya?" tanya Zanna lagi. Ia tidak puas dengan penjelasan dokter.


"Itu karena hanya sebagian memori pasien yang hilang. Atau memang alam bawah sadarnya yang dengan sengaja menghapus ingatan itu sendiri yang disebabkan oleh rasa stres dan depresi." Papar dokter Dimas yang semakin membuat semua orang kebingungan.


"Depresi?" Gumam Rei yang masih dapat di dengar oleh dokter Dimas. Ia tidak percaya kalau Haura mengalami depresi. Sebab, Haura selalu terlihat baik-baik saja. Lalu apa yang membuat Haura depresi? Rasanya itu tidak mungkin.


"Itu hanya asumsi saya sendiri, Pak. Semoga saja pasien tidak mengalami hal serupa. Sebab Amnesia disosiatif ini memiliki ciri hilangnya memori episodik yang dapat berlangsung selama berjam-jam atau berhari-hari atau bahkan bertahun-tahun. Amnesia jenis ini banyak disebabkan oleh alasan psikologis seperti trauma atau depresi. Dalam kasus ini, kemampuan untuk mengingat akan kembali normal. Namun, ingatan tentang peristiwa yang mengejutkan psikologisnya mungkin tidak akan pernah kembali sepenuhnya. (Sumber Google)." Terang dokter panjang lebar.


"Satu lagi. Jangan menekan dan memaksa pasien untuk mengingat apa yang tidak dia ingat. Sebab jika dipaksakan maka pasien akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Bahkan akan berakibat fatal nanti. Jadi, tolong jaga pasien sebaik mungkin agar suasana hatinya selalu damai. Dengan begitu ingatan pasien akan kembali dengan sendirinya." Lanjutnya lagi.


Semua orang dibuat bungkam oleh penjelasan dokter Dimas. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Kenapa Haura harus mengalami hal yang demikian rupa. Pasti dia akan sangat tersiksa dalam menjalani kehidupannya yang tak bisa mengingat semuanya.


"Haura." Lirih Jeff mendekati Haura yang berada di atas ranjang rumah sakit.


Haura hanya diam. Ia menatap Jeff dengan tatapan yang sulit diartikan. Tubuhnya membeku kala tangannya di genggam oleh Jeff. Dengan cepat Haura melepaskan genggaman itu. "Maaf, kamu siapa?" tanya Haura dingin.


"Baby, dia itu kakak sepupu kamu." Bukan Jeff yang menjawab melainkan Rei.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu berhasil mengalihkan fokus semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Kinara yang berada lebih dekat dengan pintu, ia membukanya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Mahendra beserta anak dan istrinya. Kinara mempersilakan mereka masuk ke dalam.


"Permisi," ucap Sonya dengan sopan. Mereka bertiga sengaja menjenguk Haura agar semakin erat tali pertemanan antara Mahendra dan Reinaldo. Bahkan Mahendra berharap lebih dari sekedar kata teman, yaitu besanan. Mereka sangat terkejut saat mendengar berita tentang kecelakaan yang dialami oleh Haura. Maka dari itu Mahendra mengajak Keanu dan istrinya untuk melihat kondisi Haura.


"Bu Sonya. Kenapa repot-repot datang kemari." Zanna menyambut sang tamu dengan hangat. Mempersilahkan mereka duduk di sofa. Namun, Keanu lebih dulu mendekati Haura dan menanyakan keadaannya.


"Kami sangat mengkhawatirkan keadaan Haura. Apalagi saya dan suami saya sudah menganggap Haura seperti anak kami," ucap Sonya yang tentunya sudah dilatih oleh Mahendra sebelum menuju ke sana.


Keanu tersenyum penuh arti terhadap Jeff. Ia dengan percaya diri bersikap manis kepada Haura di depan Jeff dan semua orang di sana. "Bagaimana keadaan mu, Haura?" tanya Keanu dengan suara yang sangat lembut.


"Aku baik-baik saja." Haura memberikan senyuman termanisnya. Jeff yang melihat itu sangat tidak rela. Wanita yang mengaku mencintainya sudah berani tersenyum kepada laki-laki lain di depan matanya sendiri. Bahkan Haura terlihat lebih nyaman bersama dengan Keanu daripada dengan dirinya.


"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu," lagi-lagi Keanu bersikap menjijikkan di depan Jeff.


"Benarkah? Apa kamu takut pertunangan kita batal jika aku kenapa-napa, hum?" tanya Haura terkekeh kecil. Tentu saja semua orang di sana tercengang mendengar ucapan Haura yang mengatakan pertunangan. Begitu juga dengan Keanu dan Jeff.


"P-pertunangan?" Keanu bertanya dengan gugup. Ia tidak percaya dengan apa yang terlontar dari mulut Haura.


"Iya, bukankah saat makan malam bersama, Om Mahendra mengatakan bahwa dia ingin melamar aku untuk menjadi istri kamu." Tandas Haura tetap dengan senyumannya. Ia sudah terlihat lebih baik dan tidak lemah seperti tadi.


Semua orang saling pandang satu sama lain. Mereka bingung ingin bereaksi seperti apa. Sebab ucapan Haura benar-benar di luar nalar. Kenapa bisa seperti itu? Apa karena amnesia yang Haura alami, jadi, ingatannya berubah? Ah, semuanya jadi bingung.


Beda halnya dengan semua orang yang terlihat shock. Mahendra malah senang mendengar kata pertunangan dari mulut Haura. Ia berharap Haura sungguh-sungguh mengatakan hal itu. Karena memang benar waktu malam bersama Mahendra sempat mengutarakan niatnya untuk melamar Haura agar menjadi istri Keanu. Namun, saat itu Haura menolak perjodohan itu secara halus.


"Kenapa kamu diam, Keanu? Kita akan menikah 'kan? Aku sudah menerima lamaran itu." Haura berkata penuh penekanan, dan masih mempertahankan senyumannya.


Pyaaar!