Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 1.



Terlihat seorang gadis cantik tengah tersenyum menatap seorang laki-laki tampan dari atas balkon kamarnya. Jantungnya berdebar kala netranya bertemu dengan netra laki-laki tersebut. "Bahkan hanya sekedar menatapmu saja, jantungku seperti akan meledak, Jefferson!" Gumam Haura dalam hati.


Ya, wanita cantik itu adalah Haura Malvia Pradipa. Ia begitu mencintai Jefferson Kingston, saudara sepupunya sendiri. Dengan cepat Haura keluar dari dalam kamar lalu turun ke lantai bawah untuk menyambut kedatangan Jefferson.


"Kak!" Panggil Haura ketika sudah berhadapan dengan sang pujaan hati.


Jefferson selalu bisa membuat hati Haura seperti berbunga-bunga hanya dengan sebuah senyuman. Wajah blasteran yang Jefferson miliki membuat daya tariknya semakin meningkat. Bahkan berhasil memikat hati Haura, adik sepupunya sendiri.


Jefferson bukannya tidak tahu kalau Haura menyukai dirinya, hanya saja ia mengabaikan perasaan adiknya itu. Menurutnya Haura bukanlah tipe-nya. Walaupun Haura sangatlah cantik, seksi, putih, bening, baik hati, dan juga polos. Namun, tidak serta mereka membuat Jefferson tertarik kepadanya.


Jefferson berkomitmen dengan dirinya sendiri bahwa tidak akan pernah mencintai wanita manapun dengan segenap jiwa dan raga. Sebab menurutnya cinta itu adalah sebuah rasa yang begitu menyakitkan. Seperti dirinya yang pernah dipatahkan oleh cinta.


"Hai baby girl." Jefferson menggusal puncak kepala Haura dengan gemas. Kebiasaannya jika bertemu dengan gadis mungil itu.


"Kak Jeff, rambutku jadi berantakan." Haura mencebikkan bibir sambil lalu merapikan anak rambutnya yang acak-acakan karena ulah sang kakak.


"Om Rei dan Tante Zanna kemana, Ra?" tanya Jeff sambil melangkah dan mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu.


"Mommy sama Daddy keluar kota, Kak." Haura duduk menempel di sebelah Jeff. Rasanya Haura tidak bisa jauh-jauh dari laki-laki tersebut. Sikap Jeff yang hangat membuat hati Haura merasa tenang saat berada di dekatnya.


Jefferson sudah terbiasa dengan sikap Haura yang terbilang manja. Namun, Haura bersikap seperti itu hanya kepadanya. Sebab Haura tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Itu adalah poin plus untuk Haura. Jeff menyukai sikapnya yang bisa menjaga pergaulan dengan laki-laki di luaran sana.


Sangat berbeda dengan kehidupannya di kota A. Pergaulan di sana sangatlah bebas, membuat Jefferson terjerumus ke dalamnya. Beruntungnya ia sudah menetap di kota J. Jadi, Jefferson tidak lagi melakukan hal-hal terlarang seperti yang dia lakukan di kota A.


Setelah lulus kuliah, Jefferson kembali ke negara asalnya di kota J. Dia di tugaskan untuk menggantikan Daddy-nya sebagai CEO di perusahaan Kingston. Perusahaan terbesar di kota J yang sekelas dengan perusahaan Pradipa, perusahaan milik kedua orang tua Haura.


"Kamu tidak kuliah?" tanya Jeff yang baru menyadari kalau adiknya itu tidak masuk kuliah.


"Sekarang sudah tidak ada mata kuliah lagi, Kak. Hanya menunggu hari wisuda saja." Haura memberikan senyuman manisnya kepada Jeff. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpanah dengan senyuman yang begitu indah di bibir Haura.


Namun, tidak untuk Jeff. Ia menganggap senyuman Haura biasa saja. Jeff sangat bangga kepada Haura. Selain cantik, dia juga sangat pintar dan cerdas. Hingga dia bisa menyelesaikan kuliahnya hanya dalam jangka tiga tahun. Sebab dulu waktu sekolah menengah keatas Haura juga pernah loncat kelas kerena kepintarannya yang di atas rata-rata.


Akan tetapi, Haura masih bodoh dalam hal percintaan. Di usianya yang ke 20 tahun tidak membuatnya bisa berpikir dewasa. Itulah kelemahannya Haura sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang sekitarnya karena sikapnya yang terlalu baik dan polos.


"Hebat kamu, Ra," puji Jeff dengan tulus.


"Kak Jeff jauh lebih hebat. Di usia Kakak yang ke 25 tahun sudah bisa menjadi CEO termuda di kota ini. Sangat keren bukan."


"Hahaha kamu bisa saja, Haura."


"Pasti banyak wanita di luaran sana yang menginginkan menjadi istri Kakak."


"Termasuk kamu?" tandas Jeff yang tepat sasaran. Entah mengapa pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Jeff.


"Kakak bicara apa, jangan asal bicara. Nanti jika ada yang mendengar bisa salah faham."


"Jadi, kamu tidak mau menjadi istriku?" Jeff menatap Haura dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia sangat menyukai wajah Haura yang bersemu merah.


"A-aku ... Aku ...." Haura mendadak gugup. Kali ini ia menanggapi ucapan Jefferson dengan serius.


"Pfff ... Hahahaaaa ...." Jeff tertawa terbahak-bahak. Ia senang sekali bisa mengerjai Haura.


"Kenapa Kak Jeff tertawa?" Haura mengernyitkan keningnya tanda kebingungan.


"Aku hanya bercanda baby," jawab Jeff dengan entengnya. Ia tidak menyadari bahwa ucapannya sangat menyakiti perasaan Haura.


Haura sangat kecewa dengan ucapan Jeff yang hanya mengerjai dirinya. Padahal Haura sudah berpikir bahwa Jeff sedang melamarnya. Namun, Haura tidak bisa menyalahkan Jeff begitu saja. Sebab di sini yang mencintai itu adalah Haura. Jadi, apapun caranya Haura harus bisa membuat Jeff mencintainya.


Jeff adalah cinta pertama Haura. Sejak kecil mereka memang jarang bertemu. Pertemuan pertamanya sejak mereka dewasa adalah tiga tahun yang lalu, saat Jeff pulang dari kota A. Kota kelahirannya, lebih tepatnya kota asal Daddy-nya.


Namun, sejak Jeff memasuki kuliah, Reborto Kingston dan Kirana Abraham selaku kedua orang tua Jefferson memilih menetap di kota Jakarta. Kota kelahiran Kirana, dan meninggalkan Jefferson di kota A yang masih melanjutkan kuliahnya.


Oleh karena itu Kingston meminta Jeff untuk ikut menetap di kota J agar bisa membantunya mengelola perusahaan Kingston yang kini berkembang di sana.


Mau tidak mau Jefferson harus menuruti permintaan dari kedua orang tuanya. Lagipula itu adalah pilihan yang tepat agar Jeff keluar dari pergaulan bebas yang terjadi di kota A.


"Hahaha ... Mana mungkin Kak Jeff serius mengatakan itu. Kita 'kan saudara sepupu, jadi tidak mungkin kita menjalin hubungan." Haura pura-pura ceria di depan Jeff. Ia harus bisa menyembunyikan perasaannya rapat-rapat sambil lalu berusaha membuat Jeff mencintai dirinya.


"Ya sudah ambilkan aku minuman dong. Masa dari tadi hanya di ajakin ngobrol, tenggorokanku kering nih, Ra."


"Ya ampun, aku lupa. Maaf ya Kak. Kalau begitu aku ke dapur dulu." Haura langsung berlari ke arah dapur untuk mengambil minuman di dalam kulkas.


Haura merasa bersalah terhadap Jeff yang sudah ia abaikan tanpa memberikan segelas minuman pun. Pasti Jeff sudah menilainya tidak becus jika menjadi seorang istri.


"Ini Kak minumannya. Sekali lagi maaf ya Kak. Aku benar-benar lupa." Haura menatap Jeff dengan perasaan bersalah.


"Its ok, baby." Jeff meraih minuman kaleng yang terletak di atas meja, lalu meneguknya.


Glek ... Glek ... Glek ...


Haura terpanah melihat Jeff yang begitu seksi saat meneguk minuman itu. Jakun Jeff yang naik-turun seakan menggoda Haura untuk merasakan minuman itu melalui bibir Jeff yang begitu seksi.


"Ingin rasanya aku menjadi minuman kaleng supaya Jeff bisa menciumku," batin Haura penuh harap.