Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 29.



Setelah pulang dari pesta pertunangan Haura dan Keanu. Arvin langsung menuju ke apartemen Haura untuk menemui Jeni. Ya, Arvin sudah tahu dimana Jeni berada, atas bantuan anak buah Jeff yang mencari keberadaan Jeni. Arvin bersyukur karena Jeni bertemu dengan orang sebaik Haura. Awal bertemu saja sudah memberikan tempat tinggal untuk Jeni.


Tok! Tok! Tok!


Arvin mengetuk pintu apartemen berkali-kali. Mungkin karena sudah larut malam Jeni sudah tidur, hingga tak mendengar suara ketukan pintu. Namun, Arvin tetap menggedor pintu itu hingga Jeni membukanya.


Ceklek!


Jeni membulatkan mata saat melihat siapa orang yang bertamu malam-malam begini. Jeni kembali menutup pintu itu, tapi dengan cepat Arvin menahannya. Ia memaksa masuk ke dalam apartemen dengan cara mendorong Jeni dengan pelan. Akan tetapi siapa sangka ternyata kaki Jeni terkilir, dan terjungkal kebelakang hingga ambruk di atas lantai.


Aakh!


Jeni memegang perutnya untuk melindungi sang buah hati. Ia tidak mau calon bayinya kenapa-napa. Jeni sangat menginginkan bayi itu lahir ke dunia walaupun tanpa seorang ayah.


"Jeni!" Arvin mengangkat tubuh Jeni lalu membawanya ke sofa ruang tamu. "Maafkan aku, Jen. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu." Arvin mendudukkan Jeni di atas sofa.


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan rasa sakit ini." Jeni berkata dengan lembut. Namun, mengandung sindiran tajam untuk Arvin. Ia tidak akan marah kepada laki-laki yang masih sangat ia cintai. Jeni akan bersikap seperti biasanya, tapi jika untuk kembali menjalin kasih Jeni masih belum bisa.


Jeni tidak terkejut kenapa Arvin bisa dengan cepat menemukannya. Dengan statusnya sebagai kaki tangan seorang Jefferson sekaligus sahabatnya pasti Arvin dapat bala bantuan dari atasannya itu untuk menemukannya. Jeni memalingkan wajah kala Arvin menatap intens kepadanya.


"Sayang, maafkan aku. Aku tahu kalau aku egois, dan tak pernah memikirkan perasaan mu. Tapi, percayalah aku sangat mencintai mu, dan takut kehilangan kamu. Aku hanya belum siap jika harus menuju ke jenjang pernikahan." Arvin menggenggam tangan Jeni dengan lembut, lalu menciumnya. Berharap Jeni mau memaafkannya.


Perlahan Jeni melepaskan genggaman tangan Arvin. Ia tersenyum kepada laki-laki yang masih sangat ia cintai itu untuk menetralkan perasaannya yang tengah kacau. "Aku sudah memaafkan mu, Arvin. Bukan salah kamu sepenuhnya. Di sini aku yang lebih salah karena sudah memberikan seluruh cinta dan ragaku hanya untuk mu. Hingga aku kesulitan untuk melupakanmu." Ungkap Jeni masih dengan senyuman manisnya.


"Sayang, mari kita mulai dari awal. Aku janji akan menikahi mu, tapi tidak sekarang. Beri aku waktu untuk mengatur semuanya, dan juga memberitahukan hubungan kita kepada kedua orang tuaku."


"Tidak perlu repot-repot, Arvin. Tidak akan pernah ada pernikahan diantara kita. Aku sudah melupakan impian itu. Lebih baik kamu fokus saja dengan karir kamu." Jeni masih berkata dengan suara lembutnya.


"M-maksud kamu apa, Sayang?"


"Mulai sekarang jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu lagi. Cukup panggil namaku saja seperti aku yang memanggil namamu. Kita lupakan apa yang pernah terjadi diantara kita, dan fokus dengan kehidupan masing-masing."


"Tidak! Aku tidak bisa, Sayang."


"Pasti bisa. Aku pun akan berusaha melupakan kamu meskipun terasa sulit. Terimakasih sudah pernah membuat ku merasa sangat bahagia bisa dicintai laki-laki seperti kamu, dan maaf aku tidak bisa terus-terusan menjadi wanita bodoh hanya karena sebuah cinta. Kamu tahu? Di dalam sebuah hubungan tidak ada peraturan yang akan merugikan salah satu pihak yang bersangkutan. Aku sadar jika di sini itu aku yang rugi." Tak terasa Jeni meneteskan air mata saat mengungkapkan isi hatinya.


Grep!


Aevin memeluk Jeni dengan erat. "Jangan menangis, Sayang. Aku mohon." Arvin berkata dengan suara parau.


*****


Brak!


Suara pintu yang terbuka dengan kasar membuat Haura menghentikan ucapannya. Terlihat di sana Jeff tengah di hadang oleh Rei dan Keanu. Wajah Rei yang tampan rupawan kini telah babak belur. Ya, Jeff sejak tadi memaksa masuk ke dalam ruang ICU karena ingin menemui Haura. Namun Rei dan Keanu melarangnya. Akhirnya terjadilah adu jotos diantara ketiganya.


Kali ini Jeff tidak diam dan pasrah. Ia melawan setiap pukulan yang dilayangkan oleh Rei dan Keanu secara bersamaan. Jeff memang sangat tangguh, ia menghajar Keanu secara bertubi-tubi. Namun saat Rei yang melayangkan pukulan terhadapnya Jeff tidak menyerang balik, ia hanya menghindar dari pukulan itu. Sebab Jeff sangat menghormati Om nya itu.


Meskipun Jeff terkena pukulan oleh Om Rei, ia tetap terlihat kuat. Bahkan Jeff bisa menerobos masuk ke dalam ruang ICU yang langsung di susul oleh Om Rei dan Keanu. Mereka berdua menarik Jeff agar kembali keluar dari sana. Namun, Jeff seperti tiang listrik yang tak bisa di geser dari posisinya karena sangat kuat.


Begitulah Jeff, jika dia sedang marah maka kekuatannya akan bertambah berkali-kali lipat. Jeff marah karena tidak di izinkan menemui Haura. Jeff marah karena sudah mencelakai Haura. Jeff marah karena Haura tidak mengingatnya, dan hanya mengingat Keanu. Bahkan Haura dengan senang hati ingin menikah dengan Keanu.


"Haura! Maafkan aku." Ucap Jeff memelas. Ia sangat tulus mengatakan permintaan maaf itu. Hatinya begitu sakit kala Haura tak sedikitpun melihatnya. Rei dan Keanu akhirnya menyerah, dan membiarkan Jeff berjalan kearah Haura.


Zanna menatap penuh rasa kecewa terhadap Jeff, keponakannya itu. Ia tidak menyangka Jeff bisa melakukan hal sebej*t itu terhadap Haura. Hingga putri tercintanya mengalami hal yang begitu mengerikan.


Jeff meraih tangan Haura yang bertengger di atas perutnya. Namun langsung ditepis kasar oleh Haura tanpa menatap Jeff. "Haura, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kalau kamu tengah hamil," lirih Jeff dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Kalau aku tidak hamil, kamu mau apa? Ingin menyiksaku lebih kasar lagi, huh! Bahkan aku tidak tahu ada salah sapa sama kamu." Haura tersenyum getir saat mengatakan hal itu. Hatinya bagaikan diiris-iris. Perlakuan Jeff berhasil meruntuhkan harga dirinya. Ia diperlakukan layaknya seorang jal*ng.


"B-bukan begitu, Haura. Aku hanya ingin kamu mengingat semuanya."


"Dengan cara--" Haura tidak bisa melanjutkan ucapannya. Suaranya tercekat di tenggorokan yang mendadak kering. Tangannya terkepal kuat. Andaikan tidak ada mommy dan daddy-nya di sana. Pasti Haura sudah meluapkan semua isi hatinya terhadap Jeff, dan melupakan aksi pura-pura amnesianya.


"Sayang, jangan menangis. Aku tetap akan menikahi kamu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir." Keanu menghampiri Haura, dan mengatakan sesuatu yang begitu menyejukkan jiwa.


Haura menatap Keanu dengan mata yang menganak sungai. Ia tak menyangka bahwa Keanu akan membantunya sejauh ini. Haura berjanji akan membuat Keanu dan Olivia bersatu suatu saat nanti. Ia harus membalas kebaikan Keanu dengan balasan yang setimpal.