Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 43.



Hari ini Jeff terlihat begitu semangat pergi ke kantor. Ya, meskipun Jeff diusir dari rumah oleh sang Daddy. Ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin di perusahaan Kingston. Yang juga didampingi oleh Arvin, asisten pribadinya.


"Bagaimana keadaan Haura?" tanya Arvin ketika berada di dalam ruang kerja Jefferson.


"Dia baik-baik." Jeff menjawab singkat.


"Sorry, aku tidak bisa membantu kamu untuk menyelesaikan masalah kamu sama Haura." Arvin sangat menyesal karena tidak bisa membantu sahabatnya tersebut.


"Its oke. Bagaimana hubungan kamu sama Jeni?" Jeff balik bertanya mengenai nasib percintaan sahabatnya tersebut. Pasalnya Jeff belum tahu kelanjutan kisahnya Setelah Aevin meninggalkannya bersama dengan Haura disaat acara pernikahan Keanu, sebab Arvin pergi menyusul Jeni. Ia tidak ingin kehilangan Jeni yang ternyata sedang mengandung anaknya.


Karena itulah Arvin meminta izin kepada Jeff selama beberapa hari kedepan untuk urusan keluarga. Arvin menggunakan waktu tersebut untuk meminta maaf kepada Jeni, dan berjanji akan menikahinya secepatnya. Akhirnya Arvin membawa Jeni kepada keluarganya untuk mengungkapkan kebohongan yang selama ini Arvin tutupi.


Tentu saja kedua orang tua Arvin sangat marah akan hal itu. Namun, mereka tak bisa mengalahkan Jeni yang jelas-jelas hanya korban keegoisan Arvin. Kedua orang tua Arvin meminta maaf kepada Jeni untuk kesalahan yang telah Arvin perbuat. Jeni sangat senang, ia kira keluarga Arvin akan menolaknya dan juga menghinanya sebagai wanita murahan karena hamil diluar nikah.


Akan tetapi, semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Jeni malah diterima dengan baik dikeluarga Arvin. Tak ingin sang putra melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Anton dan Maya mempercepat pernikahan Arvin dan Jeni sebelum kehamilan Jeni semakin membesar. Minggu depan adalah pesta pernikahan mereka yang akan diadakan dikediaman Arvin sendiri.


"Kami akan menikah." Tandas Arvin yang berhasil membuat Jeff tercengang.


"Are you seriusosly?" Jeff sangat tidak percaya bahwa seorang Arvin yang sangat tidak menyukai pernikahan kini memutuskan ingin menikah.


"Yeah. Aku sangat mencintai Jeni. Apalagi akan ada anak diantara kita. Aku tidak mau menyesal dikemudian hari, Jeff." Arvin tidak ingin seperti Jefferson yang terpuruk setelah ditinggalkan oleh Haura.


"Good. Keputusanmu sangat tepat, Brother." Jeff menepuk-nepuk pundak Arvin.


Ting!


Ponsel Jeff berbunyi. Ternyata ada pesan dari Haura. Jeff tersenyum senang saat membaca pesan tersebut. "Aku harus pergi sekarang. Aku serahkan semua pekerjaan hari ini sama kamu, Arvin." Ucap Jefferson tegas.


"Oke siap." Arvin mengiyakan saja perintah sang atasan. Ia tidak ingin bertanya apapun terhadap atasannya tersebut. Palingan juga mau bertemu dengan Haura.


Jefferson langsung pergi dari perusahaan lalu menuju ke kediaman Pradipa. Haura meminta Jeff agar menemuinya. Tentu saja Jeff langsung menyetujuinya. Mana mungkin ia menolak untuk bertemu dengan sang pujaan hati. Tak berselang lama mobil yang dikendarai oleh Jeff sampai di depan kediaman Pradipa.


Tok! Tok! Tok!


Jeff mengetuk daun pintu dengan perasaan berbunga-bunga. Apalagi saat melihat siapa yang membukakan dia pintu. "Sayang." Seru ketika netranya bersirubuk dengan netra Haura.


"Silahkan masuk." Haura mempersilahkan Jeff untuk masuk ke dalam. Bukan tanpa alasan Haura meminta Jeff agar menemuinya di belakang sang daddy. Ia ingin menceritakan perihal kakak kandungnya yang hilang, dulu.


"Sayang, aku sangat merindukanmu." Jeff memeluk tubuh Haura dengan erat. Membuat Haura kesulitan bernafas.


"Aku tidak bisa bernafas, Jeff." Protes Haura yang dibuat jengah oleh tingkah Jefferson.


Jeff langsung mengendurkan pelukannya saat menyadari akan hal itu. "Sorry, Baby. Aku terlalu bersemangat." Jeff menciumi puncak kepala Haura yang berada di sampingnya. "Bagaimana keadaan kamu? Apa disini nasib sakit?" Jeff mengusap pelan perut Haura yang pernah dihuni oleh calon anaknya.


"Aku sudah sehat. Hanya saja pikiranku sedang kacau." Haura mengeluh karena terus memikirkan keberadaan sang kakak.


"Why Baby?" Jeff menangkup kedua pipi Haura agar bisa menatapnya.


"Aku butuh bantuanmu, Jeff." Haura menatap manik mata Jefferson sangat dalam. Perlahan ia melepaskan tangan Jeff yang menangkup kedua pipinya. "Aku ingin kamu membantu aku untuk mencari keberadaan kakakku." Ucap Haura to the point.


"Kakak? Kakak yang mana?" Jeff terlihat kebingungan, sebab ia tidak pernah tahu kalau Haura memiliki seorang kakak.


Akhirnya Haura menceritakan tentang masa lalu sang kakak, Flora. Yang hilang karena diculik. Jefferson mendengarkan cerita Haura dengan serius. Bahkan ia sampai tak berkedip memandangi wajah cantik Haura. Haura juga menceritakan perihal rasa curiganya terhadap Mahendra. Entah kenapa feeling nya mengatakan bahwa Mahendra ada kaitannya dengan penculikan Flora.


"Jadi, kamu curiga sama Om Mahendra?" tanya Jeff penuh selidik.


"Iya. Mendengar cerita dari Mommy, aku jadi berspekulasi bahwa Mahendra tidak terima perusahaannya kalah tander dari perusahaan Daddy." Haura berkata dengan sorot mata yang tajam.


Jeff juga menyadari kalau memang ada yang janggal dengan penculikan kakak Haura, apalagi kejadian itu setelah perusahaan Pradipa memenangkan tander dari perusahaan Volens. "Lalu, aku harus bagaimana?" Jeff bertanya sambil menggenggam tangan Haura, seolah mencuri kesempatan dalam kesempitan.


"Ya, kamu harus bantu mencari tahu kebenarannya Jeff. Selidiki masa lalu dari keluarga Mahendra. Aku tidak akan mengandalkan asisten pribadiku jika kamu bersedia membantuku. Anggap saja semua itu sebagai bentuk perjuangan kamu untuk mendapatkan maaf dari Daddy."


"Oke siap." Jeff langsung bersedia. "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Sayang. Aku akan berusaha sekuat tenagaku." Jeff menatap Haura dengan mata yang berbinar. Jeff mendekatkan wajahnya pada Haura hingga tidak ada jarak lagi diantara keduanya. Saat bibir Jeff dan bibir Haura akan menyatu, tiba-tiba suara dehaman membuyarkan semuanya.


"Ekhem!" Zanna berdeham saat melihat aksi Jefferson yang akan mencium bibir Haura.


"Tante!"


Seru Haura dan Jefferson bersamaan. Jeff terlihat sangat gugup. Ia takut Tante nya tersebut memarahinya, dan juga mengusirnya dari sana. Sebab Jeff masih belum mendapatkan maaf dari Tante dan Om nya. Sedangkan Haura hanya tersipu malu.


"Bagus. Gak ada orang main nyosor aja." Cibir Zanna sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Maaf, Tante. Aku hanya terlalu merindukan Haura." Jefferson memang tidak bohong mengenai ucapannya.


"Beruntung tidak ada Om kamu di sini. Jika ada pasti kamu sudah dihajar habis-habisan." Zanna berjalan ke arah sofa yang berseberangan dengan Haura dan Jeff.


"Mom, sudahlah. Mommy membuat Jefferson takut," cicit Haura setengah berbisik. Ia tahu kalau sang Mommy tengah mengerjai Jefferson dengan memasang wajah garang. Padahal yang meminta Jefferson datang ke sana adalah Mommy nya sendiri.


"Aku tidak masalah meskipun Om Rei mengajarku lagi, Tante. Asalkan aku bisa mendapatkan maaf darinya dan juga dari Tante." Ucap Jeff dengan mantap.


"Waaaah bagus."


"Waaaah bagus." Seru Rei saat memasuki rumah yang langsung disuguhi dengan pemandangan tak mengenakkan.


"Om!" Jeff sangat gugup saat melihat Om Rei yang menatap tajam kearahnya.


"Siapa yang mengizinkan kamu menginjakkan kaki di rumah ini!" Rei bertanya dengan suara lantang.


"Dad! Sudahlah jangan marah-marah. Aku menyeruhnya datang kesini." Haura angkat bicara. Ia tidak akan membiarkan sang daddy memarahi Jeff lagi.


Demi sang putri tercinta, Rei terpaksa duduk dengan tenang di samping Zanna. Namun, ia tetap menatap tajam kearah Jeff seolah ingin mengulitinya. "Kenapa kamu menyuruhnya datang kesini? Bukankah sudah daddy katakan, kalau kamu tidak boleh berhubungan lagi dengannya!" Ucap Rei dengan suara lembut. Sebab ia tidak ingin menyakiti putri tercintanya lagi.


"Begini Dad. Aku sudah menceritakan tentang kasus penculikan kak Flora, dulu. Aku ingin meminta bantuan kepada Jeff." Haura mengatakan maksud dan tujuannya mengundang Jeff kerumahnya.


"Untuk apa kamu meminta bantuannya. Daddy jauh lebih bisa menangani kasus itu daripada dia." Rei tidak mau kalah. Mana mungkin ia menyerahkan kasus itu kepada Jefferson.


"Aku tahu kalau daddy sangat mampu dalam menangani kasus tersebut. Tapi, aku ingin memberikan tantangan kepada Jeff kalau dia berhasil mengorek informasi tentang penculikan kak Flora, dan menemukan pelakunya. Aku ingin Daddy memaafkan kesalahan Jefferson. Tapi, kalau Jeff gagal menangkap pelakunya, maka aku akan menuruti apapun yang Daddy perintahkan." Tutur Haura dengan serius. "Bagaimana Daddy setuju? Hanya satu kesempatan Dad. Please?" Haura menangkup kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk permohonan.


Hal yang sama dilakukan oleh Zanna. Ia ikut memohon kepada sang suami agar memberikan satu kesempatan untuk Jeff berjuang. Cukup lama Rei berpikir, hingga ia menyetujui permintaan Haura. Apalagi saat melihat kekompakan anak serta istrinya saat memohon kepadanya untuk memberikan kesempatan kepada Jeff. "Baiklah demi kamu, daddy akan memberikan kesempatan kapada Jeff. Tapi, dalam waktu 2 minggu Jeff harus menemukan titik terang mengenai penculik itu." Rei memberikan satu syarat lagi kepada Jeff.


"Apa! Dua minggu! Dad, itu--"


"Baik Om. Aku setuju." Tandas Jeff dengan mantap. Ia memotong ucapan Haura yang ingin protes kepada daddy nya.


"Oke. Om akan menunggu kabar darimu." Ucap Rei dengan sedikit melembutkan suaranya. Karena ia sudah sepakat untuk memberikan kesempatan kepada keponakannya tersebut, maka Rei juga harus sedikit merubah sikapnya agar tidak terlalu dingin.


"Siap Om." Jeff sangat senang bisa mendapatkan satu kesempatan dari Om Rei. Namun, ia merasa aneh dengan sikap Tante Zanna yang ikutan memohon kepada Om Rei. Apakah itu artinya Tante Zanna sudah memaafkannya? Ah hati Jeff semakin berbunga-bunga, sebab ia akan mendapatkan Haura lagi. Bahkan Jeff bisa langsung menikahinya saat ia berhasil menemukan pelaku penculikan Flora.


Meskipun akan sangat sulit untuk mendapatkan informasi pada kejadian 21 tahun silam. Jeff akan melakukan cara apapun untuk menangkap sang pelaku. Tentunya ia akan membutuhkan bantuan Arvin yang selalu bisa diandalkan. Apalagi dalam hal melacak, Arvin memang ahlinya.


"Kalau begitu, kita makan siang bersama ya. Kebetulan tadi Tante masak banyak. Jadi, Jeff harus ikut bergabung dengan kita." Zanna mempunyai ide cemerlang untuk mendekatkan keponakannya dengan sang suami. Zanna yakin Jefferson adalah laki-laki yang baik terlepas dari perbuatan di masa lalunya.


Dengan senang hati Jeff menerima ajakan Tante Zanna. Ah ia sudah seperti menantu saja di rumah itu. Jeff jadi tidak sabar menunggu hari dimana dirinya benar-benar menjadi bagian dari keluarga Pradipa dengan status suaminya Haura.


Zanna, Rei, Haura, dan juga Jeff sudah berkumpul di meja makan. Zanna mengambilkan nasi untuk sang suami beserta lauknya. Sedangkan Haura juga melakukan hal yang sama terhadap Jefferson. Anggap saja ia sedang latihan menjadi seorang istri dari Jefferson. Bukan hanya Jeff yang tidak sabar ingin segera menikah, tapi Haura juga menginginkannya.


Mereka berempat makan dengan tenang. Tidak ada satu orangpun yang membuka percakapan. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sesekali Jeff dan Haura mencuri pandang sambil tersenyum manis. Mereka sudah seperti ABG (anak baru gede) yang tengah dimabuk cinta. Para orang tua menyadari hal itu, hanya saja mereka memilih diam.


Sedangkan ditempat lain, Mahendra terlihat sangat marah. Ia membanting semua benda yang berada di meja kerjanya. "Sial! Sial! Sial! Semuanya hancur! Gara-gara wanita murahan itu, Keanu jadi gagal menikah dengan Haura. Impanku selama ini hancur berantakan. Padahal aku sudah merencanakannya sejak dulu. Tapi, aku tak bisa menjadi bagian dari keluarga Pradipa." Teriak Mahendra frustasi.


Mahendra gagal menyatukan perusahaannya dengan perubahan Pradipa. Keinginannya untuk menjadi terkenal telah gagal sudah. Meskipun Haura sudah memberikan uang kompensasi untuk batalnya pernikahannya dengan Keanu, tapi tetap saja akan kalah dengan kesuksesan setelah Haura menikah dengan putranya.


"Aku tidak boleh gagal menjadi bagian dari keluarga Pradipa. Cukup dulu saja aku yang gagal membuat keluarga Pradipa hancur. Sekarang aku harus mencari cara lain supaya keinginanku tercapai seperti 21 tahun yang lalu." Sorot mata Mahendra berapi-api. Ia mengepalkan tangan saat mengingat kejadian di masa lalu.


"Sekarang aku harus menyingkirkan wanita murahan itu dari sisi Keanu. Setelah itu aku akan menyingkirkan Jefferson agar tidak bisa mendekati Haura, dan menghancurkan rencanaku." Mahendra tidak ada kapok-kapoknya dalam berbuat jahat.


Haura salah menilai Mahendra yang akan luluh dengan perkataannya saat mengungkapkan fakta tentang Marvel, anak dari Keanu dan Olivia. Ternyata Mahendra tetaplah jahat. Hatinya terbuat dari batu, dan tak bisa meluluh sedikit saja. Sebab yang ada di dalam benaknya hanyalah harta, kekuasaan, dan kehormatan. Selebihnya Mahendra tidak peduli.


Sang istri pun terpaksa bertahan hidup bersama Mahendra yang memiliki sifat jahat. Walaupun dalam lubuk hatinya yang terdalam, Sonya sangat ingin terlepas dari belenggu Mahendra. Tetap saja ia tidak bisa lari, sebab pikirannya terus tertuju kepada sang putra. Sonya takut Keanu semakin tertekan dengan ambisi Mahendra dalam mencari kekuasaan di atas kesuksesan orang lain. Karena itulah Sonya bertahan cuma untuk melindungi sang putra tercinta.


"Aku harus menghubungi Keanu, agar dia berhati-hati dan melindungi Olivia dari papanya." Ucap Sonya yang sejak tadi duduk tak tenang di dalam rumah. Ia mempunyai firasat buruk mengenai suaminya yang sejak kemarin terlihat marah. Sonya yakin kalau Mahendra tengah merencanakan sesuatu hal buruk terhadap Olivia. Sebab Mahendra masih tidak menerima Olivia sebagai menantu di keluarganya.


Sonya mengirimkan pesan kepada Keanu dan mengatakan firasatnya. Ia tidak ingin Olivia kenapa-napa. Apalagi Sonya masih belum sempat bertemu dengan cucunya. Ia harus melindungi mereka semua dari incaran Mahendra. Agar tidak terjadi hal buruk terhadap mereka.