
Di sebuah ruangan bernuansa putih, dua insan tengah memadu kasih dengan begitu ganasnya. Mereka telihat sangat berg**rah hingga ruangan itu terisi dengan suara-suara erotis yang begitu menggelitik telinga.
Aahh! Arvin!
Yeah ... Jeni ...
Arvin terus menggempur sang kekasih yang berada di bawah kungkungannya. Ia menggila karena telah lama tidak memasuki hutan belantara milik Jeni. Bahkan rasanya terasa semakin se**** yang disebabkan terlalu lama tidak di gempur.
Suara desah** dan erang** saling bersahutan hingga memenuhi ruangan itu. Berbagai gaya telah mereka coba, Arvin kehilangan kendali karena terus merasa kecanduan dengan tubuh Jeni. Tak terhitung berapa kali Arvin menyemburkan bibir terongnya di goa itu.
Arvin tidak sedikitpun merasa lelah dengan aktvitasnya. Bahkan ia sampai melupakan waktu saat ini yang ternyata sudah dini hari. Arvin menghentikan permainan itu saat melihat Jeni ketiduran di tengah-tengah permainan mereka. Arvin tersenyum puas, ia merasa sangat perkasa karena sudah membuat Jeni tak berdaya dengan gempuran yang begitu membahana.
Arvin menggulingkan tubuhnya di samping sang kekasih. Ia mendekap tubuh Jeni dari arah belakang sambil memerikan kecupan di pundak sang kekasih. Hingga membuat Jeni terusik dalam tidurnya. "Eungh! Berhenti Arvin, kau membuat ku geli." Jeni membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah Arvin.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang." Arvin membawa Jeni ke dalam pelukanya.
Jeni melepas pelukan itu lalu menatap manik mata Arvin dengan serius. "Kapan kamu akan menikahi aku, Arvin?" tanya Jeni dengan tatapan mengintimidasi.
Wajah Arvin yang semula ceria kini mendadak layu. Ia paling tidak suka dengan pembahasan itu. Sebab Arvin masih tidak ingin menikah. Meskipun usianya sudah 25 tahun ia masih merasa butuh kebebasan. Ya, menurut Arvin pernikahan itu adalah sebuah ikatan yang penuh dengan pengekangan. Jadi, Arvin masih belum siap untuk menikah.
"Sebentar lagi matahari akan terbit. Lebih baik kamu istirahat." Arvin membenarkan selimut untuk menutupi tubuh Jeni.
Hati Jeni terasa teriris setiap kali Arvin di tanya kapan menikahnya. Pasti dia akan mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya Jeni sangat tahu kalau Arvin tidak serius dengan dirinya. Hanya saja Jeni terlalu naif dalam urusan cinta. Ia rela hanya di jadikan pelampiasan hasrat oleh Arvin meskipun tanpa status pernikahan.
Jeni menatap Arvin yang tengah memejamkan mata. "Sampai kapan kamu akan menjadikan aku wanita rahasia mu, Arvin? Ternyata kau sama saja dengan Jefferson si bastard!" batin Jeni menimpali.
Jeni memang tahu siapa Jefferson sebenarnya, sebab Arvin sering menceritakannya di saat ada waktu untuk bersama. Karena Arvin sangat percaya kalau Jeni tidak akan pernah membocorkan rahasia itu kepada siapapun.
Sebenarnya Arvin tidak benar-benar tidur. Ia hanya berpura-pura tidur saja untuk menghindari pertanyaan Jeni. Pikirannya berkecamuk, ia masih bimbang harus memilih jalan yang seperti apa. Di satu sisi Arvin sangat mencintai Jeni, tapi di sisi lain ia masih ingin bebas tanpa ada kekangan.
Oleh sebab itu Arvin menyembunyikan statusnya bersama Jeni dari anggota keluarganya. Sebab jika kedua orang tuanya tahu maka Arvin akan dipaksa untuk menikahi Jeni sekarang juga. Arvin hanya berharap bahwa Jeni tidak hamil. Beruntung ia selalu menyuruh Jeni untuk mengkonsumsi pill kontrasepsi.
Arvin memilih tidur saja, besok pagi ia harus mencari tahu informasi mengenai hubungan Olivia dan Keanu. Arvin juga penasaran dengan mereka, makanya ia begitu bersemangat untuk melaksanakan tugas dari Jeff.
Jeff tidak bisa memejamkan mata. Ia terus teringat dengan ciuman dan ungkapan cinta dari Haura. Hari ini Haura memberikan tiga kali ciuman di pipi Jeff dengan cara dadakan. Membuat Jeff begitu frustasi. Bahkan ia kesulitan untuk menidurkan adik kecilnya yang sudah berdiri tegak.
"Sial! Kenapa hanya membayangkan bibir Haura menempel di pipiku, tongkat sakti mandraguna ini sudah berdiri tegak." Jeff mengusap-usap tongkat saktinya dengan perlahan berharap tongkat itu akan kembali tertidur. Namun usahanya sia-sia, sebab Jeff semakin menggila dengan pikirannya yang berkeliaran kemana-mana.
Ingin menghubungi Arvin agar mengirimkan satu wanita steril tidak bisa. Sebab malam ini Jeff sudah berjanji akan memberikan waktu libur untuk sahabatnya itu. Hasrat Jeff sudah berada di ubun-ubun, tapi tidak ada yang bisa menuntaskannya.
Ting!
Satu notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Jeff. Denga cepat Jeff meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia berharap pesan itu dari Arvin yang akan mengabarkan informasi tentang Olivia. Namun, harapannya musnah ketika membuka pesan itu yang ternyata dari wanita yang sejak tadi berada di dalam pikirannya.
Kedua mata Jeff membulat kala melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh Haura. Di sana terlihat jelas bahwa Haura tengah duduk bersandar di headbord dengan kain tipis yang melekat di tubuhnya. Membuat Jeff semakin panas-dingin karenanya. Di sana juga tertera ucapan selamat malam dari adik kecilnya itu.
Baby girl : "Selamat malam Kakak tampan. Semoga mimpi indah bersamaku."
Jeff menyimpan kontak Haura dengan nama 'Baby girl'. Ia selalu menganggap bahwa Haura hanyalah gadis kecil yang begitu imut. Namun sekarang berubah menjadi ganas yang berhasil membuat tubuhnya terbakar oleh api gairah.
Padahal Haura tidak memakai piyama yang bahannya tipis. Mungkin karena pikiran Jeff sudah terkontaminasi oleh bayangan kenikmatan, jadi Jeff menganggap Haura hanya memakai lingerie.
Terpaksa Jeff memasuki kamar mandi untuk melakukan senam lima jari. Seumur-umur Jeff tidak pernah menggunakan cara itu untuk menuntaskan hasratnya. Ia pasti akan menyewa wanita steril untuk menuntaskannya. Hanya Haura yang bisa membuatnya melakukan hal itu.
Jeff menggunakan satu tangannya untuk bersolo karir, sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk memegang ponsel. Jeff memperhatikan wajah dan sebagian tubuh Haura yang berada di dalam foto tadi. Ia membayangkan sedang bermain dengan Haura hingga Jeff bisa mengeluarkan bibit kecebong nya di lantai kamar mandi.
Setelah lima belas menit waktu yang Jeff gunakan untuk bersolo karir, akhirnya ia bisa bernafas lega. Tentunya di sertai dengan ritual mandi malam, agar tubuhnya kembali fresh, dan bisa tidur dengan nyenyak.
"Kasihan sekali bibit-bibitku yang paling berharga harus masuk ke dakam saluran air kotor ini." Ucap Jeff saat menyiram bibit terongnya di lantai kamar mandi.
Biasanya akan ada banyak wanita yang akan suka rela menel*n bibitnya ke dalam mul** mereka. Namun, malam ini bibit-bibit itu terbuang sia-sia. Jeff sangat menyayangkan hal itu terjadi. Mau bagaimana lagi, Jeff tidak ada pilihan lain selain membuangnya.
Sedangkan di tempat lain. Haura tidur dengan nyenyak tanpa merasa bersalah karena sudah membuat calon suaminya menderita. Bibirnya mengulaskan sebuah senyuman manis di saat ia tertidur lelap. Mungkin Haura tengah bermimpi indah hingga membuat wajahnya tampak berseri.
"I love you, Haura. Menikahlah denganku. Jadikan aku milikmu seutuhnya agar kamu tidak berpaling dariku."