
Bug! Bug! Bug!
Rei memberikan bogeman mentah kepada keponakannya itu. Ia memang tidak tahu apa yang dilakukan Jeff terhadap putrinya. Namun, tetap saja Rei tidak terima Haura menangis gara-gara Jeff. Sedangkan Haura sudah di bawa ke dalam kamar oleh mommy-nya. Rei takut berdampak buruk terhadap kesehatan putrinya itu.
"Kurang ajar kamu! Berani-beraninya membuat Haura menangis," geram Rei dengan dada naik-turun karena menahan amarahnya.
"Maaf, Om. Tapi aku tidak sengaja." Jeff berusaha membela diri. Ia memang tidak sengaja membuat Haura menangis. Pasti dia sekarang sangat shock mendapatkan serangan mendadak dari Jeff.
"Sekali lagi membuat Haura menangis. Habis kamu!" Rei bukan hanya mengancam, tapi juga sebagai peringatan terakhir untuk Jeff. Apapun yang dia katakan bukan main-main.
Jeff tidak menjawab ucapan Om Rei, ia memilih pergi dari kediaman Pradipa. Untuk saat ini Jeff tidak akan menemui Haura dulu. Tapi, bukan berarti Jeff akan menyerah begitu saja. Ia tidak akan pernah rela jika wanita miliknya bertunangan dengan laki-laki lain.
"Apapun akan aku lakukan agar Haura tidak jatuh ketangan Keanu. Berani sekali dia mencium Haura di depanku. Ingin mati rupanya." Geram Jeff dengan mata menyala.
Siapa yang tak kenal dengan seorang Jefferson? Hanya mendengar namanya saja membuat bulu kuduk merinding. Cuma Keanu yang terang-terangan memancing kemarahan Jefferson dengan menyentuh wanitanya.
"Sayang, sebenarnya ada apa? Apa yang sudah dilakukan oleh Jefferson hingga membuat mu menangis?" tanya Zanna kepada sang putri yang duduk terdiam di atas ranjang king size.
"Huf! Hanya sedikit salah paham, Mom." Haura terpaksa harus berbohong agar tidak memperpanjang masalah.
"Kami dengar 'kan, daddy kamu menghajar Jefferson di bawah. Jika hanya karena sebuah kesalahan pahaman, kasihan dong kakak kamu itu." Zanna masih tidak mengerti kenapa Haura berubah drastis, bahkan ia hanya tidak mengingat Jeff dan keluarganya. Rasanya Zanna tidak percaya akan hal itu. Tapi, dokter Dimas sudah menjelaskan semuanya secara terperinci, jadi mau tidak mau Zanna tetap percaya kalau Haura mengalami amnesia.
"Baby, are you okay?" Rei datang dengan nafas terengah-engah karena berlari dari lantai bawah ke lantai dua.
"I'm okay, Dad." Haura menampilkan senyum manisnya.
"Jujur sama daddy, apa Jeff berbuat kurang ajar sama kamu?" Rei bertanya sangat serius.
Haura menjadi gugup seketika itu juga. Pertanyaan sang daddy membuatnya gelagapan. "T-tidak, Dad. Mana mungkin saudara sepupu berbuat seperti itu." Haura menjawab sambil tertawa kecil agar sang daddy tidak curiga.
Rei menelisik wajah sang putri yang terlihat gugup. Ia yakin pasti ada yang Haura sembunyikan darinya. Namun, Rei memilih mempercayai ucapan Haura supaya putrinya itu tidak tertekan. Rei akan menyelidikinya sendiri dengan melihat CCTV di rumah itu. Ya, Rei baru ingat kalah di rumahnya telah lengkap dengan CCTV. Bahkan di setiap sudut ruangan terdapat CCTV yang mencintai gerak-gerik penghuni di sana.
Di luar gerbang pun juga terpasang beberapa CCTV di sana. Mana mungkin seorang Pradipa tidak memasang CCTV di kediamannya. Mereka harus waspada, sebab mereka tidak tahu akan adanya mara bahaya yang mengintainya.
"Ya sudah lebih baik kamu istirahat dulu. Ingat, bulan depan adalah hari pertunangan mu dengan Keanu. Jadi, kamu harus sembuh total untuk menyambut hari bahagia itu." Rei mengingtkan kembali dimana hari pertunangan sang putri.
"Menurut ku waktu satu bulan terlalu lama, Dad. Jika boleh, aku ingin mempercepat acara itu agar lebih cepat menuju ke jenjang pernikahan." Entah mengapa Haura terlihat buru-buru sekali ingin melaksanakan acara pertunangannya.
"Sayang, kenapa kamu ngotot sekali mau tunangan dan nikah sama Keanu?" Zanna tak tahan untuk tidak bertanya. Ia ingin tahu apa alasan Haura ingin cepat-cepat menikah dengan laki-laki yang tak pernah dia cintai.
"Untuk mengabulkan keinginan seseorang," ucap Haura dengan tatapan menerawang.
"Maksud kamu apa, Baby?" Rei yang mendengar jawaban Haura tak mengerti. Apakah Haura terpaksa ingin bertunangan dengan Keanu?
Haura baru sadar bahwa dia sudah salah berucap. "Maksud aku, aku ingin mengabulkan keinginan Mommy dan Daddy yang ingin melihat ku bahagia. Nah, dengan menikah dengan Keanu, aku akan merasa sangat bahagia. Jadi, tolong percepatlah acara pertunangan kami." Haura memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
"Benarkah begitu?" Ucap Rei dan Zanna bersamaan. Mereka terlihat sama-sama ragu dengan penuturan Haura yang terbilang aneh. Mereka hanya bisa berharap semoga Haura selalu bahagia. Sebenarnya mereka tidak rela Haura menikah secepat ini. Itu artinya mereka tidak akan lagi tinggal satu rumah dengan putri tercinta mereka.
"Tentu saja, Mom, Dad." Haura selalu menampilkan raut wajah bahagia saat membahas pernikahannya dengan Keanu.
"Tapi, sorry, Baby. Pertunangan kamu tidak bisa daddy percepat." Rei tidak bisa memajukan tanggal pertunangan itu. Ia sudah mengaturnya untuk bulan depan. Biarkan saja Haura menunggu hingga bulan depan.
"Huf! Baiklah Dad. Aku akan menunggu waktu satu bulan itu," akhirnya Haura pasrah saja. Ia tidak ingin memperumit keadaan, yang penting pertunangannya dengan Keanu tetap terlaksana.
Rei dan Zanna keluar dari kamar Haura membiarkan putri cantiknya beristirahat. Namun, Haura tidak bisa memejamkan mata. Banyak kejadian yang memenuhi otaknya hingga ia berpikir keras. Entah apa yang Haura rencanakan sebenarnya. Ia terlihat sangat berambisi dengan keputusannya itu.
"Huf! Kenapa rasanya berat sekali?" Haura mengeluh dengan apa yang dia rasakan. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
Sama hal dengan Haura yang sedang memikirkan sesuatu. Jeff juga merasakannya. Ia kesulitan mencari nomor ponsel Haura yang sekarang. Jeff sangat ingin menghubunginya, tapi semuanya terhalang akan Om Rei. Jeff tidak mengerti kenapa Om Rei bisa sangat membencinya, dari tatapannya saja Jeff dapat melihat bahwa Om Rei tidak pernah menganggapnya ada.
Jeff harus meminta bantuan kepada sang mommy untuk mendapatkan nomor ponsel Haura. Jeff tidak tahan ingin segera menghubunginya. Dengan cepat Jeff pergi ke kamar Mommy dan daddy-nya. Ingin rasanya Jeff menerobos masuk ke dalam kamar itu. Namun, Jeff tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
Langkah Jeff terhenti ketika sayup-sayup dia mendengar suara erotis dari dalam kamar kedua orang tuanya.
Aahh! Aahh!
Sayang! Kau sangat nikm*t!
Aahh, Robert kau semakin perkasa!
Aahh! Kinara!
Tubuh Jeff seakan panas dingin mendengar suara luckn*t itu. Ia memang sering mendengar suara erotis dari dalam kamar itu, tapi sekarang sangat berbeda. Ia jadi teringat dengan permainan panasnya bersama Haura.