
"Jangan pernah menginjakkan kaki di kediaman Kingston lagi!" Robert menegaskan ucapannya sebagai perintah. Bahkan ia sama sekali tidak melirik sedikitpun wajah sang putra yang tengah mengekorinya dari belakang.
"Mas. Jangan--"
"Ayo kita pulang." Potong Robert saat istrinya ingin protes mengenai keputusannya.
Jeff hanya menatap nanar punggung kedua orang tuanya yang semakin menjauh. Ia sadar, mungkin dirinya memang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Kingston yang terkenal baik dan ramah di depan publik dan juga di dunia nyata. Sedangkan dirinya cuma terlihat baik di depan publik saja, di dunia nyata ia sangatlah bastard.
Jeff mengusap wajahnya kasar. Ia memang harus menerima hukuman atas perbuatannya terhadap Haura. Jeff akan menerima penolakan dari kedua orang tuanya. Namun, Jeff tidak akan menyerah untuk mendapatkan maaf dari mereka dan juga kedua orang tua Haura. Bahkan Jeff berjanji akan mendapatkan cinta Haura kembali. Kehilangan sang buah hati sangatlah membuat hati Jeff remuk. Bagaimana dengan Haura nanti setelah mengetahui bahwa anak yang dia kandung telah tiada? Pasti Haura akan lebih hancur daripada dirinya.
"Maafkan aku Haura. Aku tidak akan menyerah untuk memperjuangkan cinta kita. Walaupun sudah tidak ada anak diantara kita, aku akan tetap memperjuangkanmu. Sekarang yang paling penting adalah kesehatan kamu. Asalkan kamu sehat, pikiranku akan sedikit tenang. Anak bisa kita buat lagi, tapi ... Jika kamu yang tiada maka aku pun tak akan sanggup berpijak di atas bumi ini." Kata Jeff bersungguh-sungguh.
Sedangkan di VVIP, Haura masih belum sadarkan diri. Ia masih berada dalam pengaruh obat bius setelah mengalami proses kuretase. Rei langsung menyuruh dokter Dimas untuk memindahkan Haura ke ruang VVIP yang pastinya dengan pelayanan yang sangat bagus. Rei ingin yang terbaik u untuk putri tercintanya. Ia sangat merasa bersalah terhadap putrinya tersebut.
"Maafkan Daddy, Baby. Daddy tidak bisa mengontrol emosi, sehingga kamu mengalami hal buruk lagi." Ucap Rei sendu.
Zanna hanya menatap sang suami dengan nanar. Tatapannya beralih kearah sang putri yang masih setia menutup mata. Zanna tak dapat membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Haura nanti. Ia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Zanna hanya berdoa semoga Haura baik-baik saja, dan bisa menerima kenyataan dengan lapang dada.
Tak lama kemudian Haura membuka matanya secara perlahan. Kepalanya masih terasa pening, mungkin efek dari sisa obat bius. Haura mulai mengingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri. Ia meraba-raba perutnya untuk memastikan kandungannya baik-baik saja. Sebab sebelum ia tak sadarkan diri ia merasakan sakit yang sangat luar biasanya pada perutnya.
"Bayi aku?" Ucap Haura lemah. Ia tidak menghiraukan kehadiran sang Mommy dan sang Daddy di samping ranjang rumah sakit yang tengah menatapnya dengan iba.
"Mommy, bagaimana kondisi kandunganku. Bayi aku baik-baik saja 'kan di dalam sini?" tanya Haura sambil mengusap perutnya.
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Tuhan lebih menyayanginya." Ucap Zanna ambigu.
"Maksud Mommy apa?" Haura tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan sang Mommy. Lebih tepatnya Haura menghindari spekulasi buruk mengenai kandungannya.
"Kamu keguguran, Sayang." Zanna berkata dengan mata yang mengembun.
"Tidak! Tidak mungkin Mom. Anak aku masih ada. Dia ada di dalam rahim aku." Haura menolak mentah-mentah ucapan sang Mommy. Walaupun sebenarnya ia juga tidak yakin bahwa anaknya masih bisa terselamatkan. Hanya saja Haura tak sanggup kehilangan buah cintanya bersama laki-laki yang sangat ia cintai. Ralat! Lebih tepatnya hasil dari cinta sepihaknya, dulu. Namun Haura tetap menyayangi anak itu.
"Sayang ...." Ucapan Zanna tercekat. Ia memeluk Haura yang tengah menangis histeris.
"Mommy bohong! Anak aku masih ada. Aku tidak keguguran. Hiks ... Hiks ... Hiks ...." Haura menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan sang Mommy.
"Mommy paham apa yang kamu rasakan, Sayang. Kamu yang sabar ya. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk masa depan kamu." Zanna berusaha menenangkan sang putri tercinta. Ia juga merasa kehilangan, dan tak diberikan kesempatan sedetikpun untuk melihat calon cucunya yang masih seukuran biji kecambah.
Haura tidak menghiraukan ucapan sang Mommy. Pikirannya sangat kacau. Bayi yang dia kandung, dan ia harapkan untuk hadir ke dunia, kini telah diambil oleh Tuhan. Haura seperti tak punya semangat hidup lagi. Dulu saat dirinya rapuh dan putus asa setelah mendengar fakta akan rencana jahat Jefferson yang hanya ingin menukarnya dengan Haura, ia masih ada harapan untuk hidup setelah ada calon anak di dalam rahimnya. Tapi sekarang, semangat hidupnya telah pergi meninggalkannya. Lalu untuk apa lagi Haura hidup di dunia ini?
Haura tertidur di dalam dekapan sang Mommy. Mungkin karena dia terlalu lama menangis hingga membuat matanya panas dan mengantuk. Perlahan Zanna membaringkan Haura di atas ranjang dengan bantuan Rei. Hati Rei kembali sakit setelah melihat sendiri bagaimana hancurnya perasaan Haura setelah mendengar kabar bahwa dia mengalami keguguran. Sejak tadi Rei hanya diam saja tak berani menyela ucapan Haura. Sebab Ia yakin kalau Haura masih kecewa terhadapnya.
"Aku gak tega melihat Haura seperti ini, Mas." Zanna memegang dadanya yang terasa nyeri. Sebelah tangannya lagi membenarkan anak rambut yang menutupi wajah sang putri.
"Aku jauh lebih tidak tega melihat putri kita sangat terpuruk." Rei menghapus sisa air mata yang mengalir di kedua sudut mata Haura.
"Kita harus bisa mensuport Haura agar ia tetap semangat menjalani hidup kedepannya." Zanna akan terus menemani Haura untuk menghibur suasana hati sang putri agar tetap bahagia.
"Iya, Sayang. Setelah ini kita harus menjauhkan Haura dari keluarga Mahendra dan Kingston terlebih dahulu. Aku takut mereka hanya mengganggu ketenangan Haura. Cukup kita yang meluruskan masalah pernikahan palsu itu terhadap keluarga Mahendra. Aku tidak akan membuat perjuangan Haura sia-sia dengan semua rencananya untuk menikahkan Keanu dan Olivia."
"Maksud kamu apa Mas? Kamu jangan aneh-aneh ya. Lebih baik fokus dengan kesehatan Haura, dan pencarian Flora, anak kita." Zanna tidak mau Rei berbuat sesuatu yang hanya akan menambah masalah dalam keluarganya.
"Kamu tenang saja, Sayang. Aku tidak akan berbuat macam-macam. Percayalah." Rei sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya kepada sang istri. Ia tidak ingin membuat Zanna semakin terbebani dengan rencananya yang akan mewujudkan impian Haura, dan tidak akan menyia-nyiakan usahanya.
Rei akan menebus kesalahannya dengan cara menyatukan Keanu dan Olivia dengan adanya restu dari Mahendra. Rei akan meluruskannya nanti, sekarang ia hanya akan fokus dengan kedua tugasnya. Rei tidak akan lalai lagi, dan ia juga tidak ingin kecolongan untuk yang kedua kalinya dalam menjaga keamanan sang putri dari pria berhidung belang. Rei akan menjadi Haura 24 jam, yang pastinya dengan bantuan bodyguard dan perawat.
"Kamu pasti kuat, Baby. Kamu wanita hebat. Kamu harus bangkit, dan jangan terpuruk. Meskipun semuanya terasa sulit, tapi percayalah Daddy dan Mommy akan selalu ada untuk kamu." Batin Rei menyemangati sang putri tercinta.
"Mas, kamu terlalu berlebihan kepada putra kita. Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu." Protes Kinara setelah sampai ke rumah.
"Dia pantas mendapatkannya," jawab Robert dingin. Ia tidak akan mentolerir kesalahan Jeff yang sangat fatal. Apalagi ia harus kehilangan calon cucunya yang belum sempat Robert lihat.
"Tapi Jeff sudah mengakui kesalahannya dan dia sangat menyesal, Mas. Berikan kesempatan untuk putra kita agar memperbaiki kesalahannya. Dia sudah berani mengaku di depan kita dan kedua orang tua Haura. Bahkan Jeff tidak melawan dan tidak mengelak waktu kamu dan Rei menghajarnya habis-habisan." Kinara memang melihat penyesalan di dalam mata Jeff saat mengungkapkan kebenaran tersebut.
Walau bagaimana pun seorang ibu tetap akan maafkan kesalahan anaknya terlepas dari apa yang dia perbuat. Hanya saja Kinara sangat kecewa terhadap perbuatan tak terpuji yang dilakukan oleh putranya. Kinara memang kecewa, tapi tidak pada batas membenci dan ingin mengusir Jeff dari kediaman Kingston. Kenara sangat marah terhadap Jeff. Namun, seorang ibu tidak akan tega mengusir anaknya dari rumah.
"Sudahlah, biarkan dia merenungi kesalahannya. Jika dia benar-benar menyesal, dia pasti berubah. Kita lihat saja seberapa besar perjuangannya untuk mendapatkan maaf dari keluarga Pradipa." Robert akan melihat perjuangan Jeff setelah ini. Ia mengusir Jeff dari rumah bukan tanpa alasan. Robert hanya ingin melihat kesungguhan dari penyesalan yang Jeff rasakan atas perbuatan bej*tnya.
"Terserah Mas saja. Yang penting aku akan tetap menemui Jeff di apartemennya. Aku yakin Jeff pasti ada di sana." Kinara pergi dari rumah untuk menemui sang putra. Ia terpaksa menyetir mobil sendiri. Sebab Kinara sangat buru-buru ingin secepatnya bertemu dengan Jefferson.
"Dasar, wanita. Selalu saja bersikap tidak tegaan. Bagaimana bisa dia melatih anak agar menjadi kuat, jika dia terus memanjakannya. Ckckckck." Robert hanya bisa menggelengkan kepala. Lebih baik dia istirahat saja untuk merelaksasi pikirannya yang dibuat mumet oleh putranya sendiri.
Di rumah sakit Medika.
Haura sudah bangun dari tidurnya. Namun ia hanya diam saja dengan tatapan kosong. Rasanya Haura tak punya semangat hidup lagi setelah kepergian calok anaknya. Padahal ia sudah membayangkan bagaimana dirinya merawat anaknya setelah besar nanti. Tapi ... Tuhan berkehendak lain, dengan mengambil calon anaknya sebelum lahir kedunia. Entah apa yang Tuhan rencanakan terhadapnya sehingga membuat Haura begitu kehilangan.
"Sayang, makan dulu ya. Mommy suapin." Zanna menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Haura. Namun sang putri tercinta sama sekali tidak membuka mulutnya. Hal itu membuat Zanna semakin khawatir dengan keadaannya. "Sayang, makanlah meskipun sedikit. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Mommy tahu apa yang kamu rasakan, bahkan Mommy lebih terpuruk daripada kamu." Ucapan Zanna berhasil mengalihkan perhatian Haura sehingga menatapnya penuh tanda tanya.
"Mommy pernah keguguran juga?" tanya Haura penasaran.
"Bukan keguguran, Sayang. Tapi ... Mommy kehilangannya." Zanna seakan tak sanggup menceritakan bagaimana ia bisa kehilangan Flora. Bahkan sekedar menyebutkan namanya saja, hatinya sangat sakit, dan kedua matanya pun mengembun.
"Apa aku punya saudara kandung, Mom?" Haura merasa sang Mommy tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Zanna mengangguk pelan. "Mommy akan menceritakan semuanya sama kamu. Tapi kamu harus janji, setelah ini kamu harus kembali semangat menjalani kehidupan kamu. Jangan hanya larut dalam kesedihan." Zanna membelai wajah Haura dengan lembut. Haura hanya diam saja tanpa mau menjawab ucapan sang Mommy.
"Sebenarnya kamu mempunyai seorang kakak perempuan. Sayangnya dia harus pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Tapi, Mommy yakin kalau kakak kamu masih hidup."
"Apa! Bagaimana bisa? Siapa namanya? Kenapa Mommy tidak pernah bercerita? Apa kakak aku sakit dan meninggal? Lalu dimana makamnya?" tanya Haura beruntun. Ia sangat antusias menunggu sang Mommy untuk bercerita.
"Namanya Flora Kania Pradipa. Dia adalah anak yang cantik, sama seperti kamu. Karena keegoisan Mommy dan Daddy yang hanya mementingkan pekerjaan, dan menitipkan Flora kepada pengasuhnya yang bernama Lili." Zanna menjeda ucapannya untuk menghirup udara banyak-banyak karena merasa sesak saat mengingat kebodohannya.
"Waktu itu perusahaan Daddy tidak jaya seperti sekarang. Bahkan perusahaan Pradipa adalah perusahaan paling kecil di kota J. Mommy dan Daddy berjuang bersama dalam mengembangkan bisnis dalam perusahaan kita. Hingga suatu ketika Mommy dan Daddy pergi keluar kota untuk sebuah bisnis yang akan bekerjasama dengan perusahaan ternama dari luar negeri. Kami terpaksa meninggalkan Flora kepada Lili di rumah."
"Di kota B, Mommy dan Daddy berhasil melakukan kerjasama dengan perusahaan Volens, perusahaan terbesar di kota A. Tentu saja kami sangat senang karena perusahaan Pradipa mengalahkan perusahaan Mahendra." Zanna perlahan menceritakan semuanya dari awal.
"Wait, wait. Mom, perusahaan Mahendra yang Mommy maksud apakah perusahaan papanya Keanu?" Sela Haura yang semakin penasaran.
"Iya, Sayang. Dulu perusahaan Pradipa masih berada di bawah perusahaan Mahendra. Tapi, sejak kami memenangkan tender di kota B, dan mengalahkan perusahaan Mahendra. Perusahaan Pradipa berkembang dengan pesat, sehingga perusahaan kita menjadi perusahaan terbesar di kota J. Yang berahasil melengserkan kedudukan perusahaan Mahendra waktu itu." Terang Zanna dengan singkat. Sebab ia masih ingin menceritakan bagaimana ia sampai kehilangan Flora.
"Kita kembali ke cerita awal." Zanna terlihat sangat serius sekali. "Namun, setelah kami dalam perjalanan pulang dari kota B, Mommy dan Daddy mendapatkan telepon dari Lili yang mengatakan bahwa Flora diculik. Mommy dan Daddy sangat terkejut dengan kabar itu. Hingga Daddy kamu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di kota J. Karena faktor ekonomi yang masih pas-pasan kami terpaksa mengendarai mobil sendiri, dan tidak menggunakan sopir."
"Setelah sampai dirumah, Daddy sangat marah. Ia menyalahkan Lili yang tao becus menjaga Flora. Sedangkan Mommy hanya menangis tak tahu harus bagaimana. Yang ada dalam pikiran Mommy hanyalah Flora. Bagaimana keadaannya, dan siapa yang menculiknya. Kami sudah berusaha mencari keberadaan Flora dengan bantuan polisi. Namun, kami tetap tidak menemukannya. Hingga 2 hari kemudian kami melihat berita di televisi yang mengabarkan ada penemuan mayat anak kecil yang usianya setara dengan Flora. Dia ditemukan hangus terbakar di dekat hutan di kota B."
"Mommy dan Daddy sangat terpuruk waktu itu, Sayang. Bahkan Mommy tidak punya semangat untuk hidup. Tapi Daddy kamu setiap saat selalu menemani Mommy. Mensuport Mommy, dan menghibur Mommy dengan segala caranya. Lambat laun kondisi Mommy sudah membaik. Hingga satu tahun kemudian, Mommy dinyatakan hamil oleh dokter. Tentu saja Mommy sangat senang. Semangat untuk hidup kembali bangkit dalam diri Mommy. Tapi, sampai saat ini Mommy masih belum percaya kalau Flora sudah meninggal. Mommy yakin kalau dia masih hidup." Entah mengapa hati Zanna berkata bahwa Flora masih hidup.
"Kenapa Mommy berpikir bahwa Kak Flora masih hidup?" Haura semakin penasaran dengan isi hati sang Mommy.
"Kamu percaya 'kan bahwa feeling seorang ibu tak akan pernah meleset, dan ikatan batin anatara ibu dan anak sangatlah kuat. Sejauh apapun mereka berpisah, tapi hati kita tetap bersatu. Feeling Mommy mengatakan bahwa Flora masih hidup. Hanya saja Mommy tidah tahu di mana keberadaannya."
"Apa yang membuat Mommy yakin kalau Kak Flora masih hidup?" Lagi-lagi Haura bertanya.
"Saat Mommy menyentuh tubuh dan wajah Flora yang hangus terbakar, Mommy rasa dia bukan Flora. Mommy tahu persis bagaimana bentuk tubuh Flora. Tubuh yang selalu Mommy gendong sangat berbeda dengan tubuh anak kecil yang hangus terbakar itu."
"Lalu apakah Daddy juga merasakan hal yang sama?"
"Iya, Daddy juga merasakan hal yang sama. Namun, saat kami ingin melakukan otopsi terhadap mayat tersebut, para polisi dan para dokter melarangnya dengan segala macam alasan. Terpaksa Mommy dan Daddy menyerah dan percaya bahwa Flora sudah tiada."
"Kenapa Mommy dan Daddy tidak memberikan dana lebih untuk petugas polisi dan para dokter itu agar mau melakukan otopsi? Bukankah dengan uang, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan?"
"Sayang, waktu itu keadaan ekonomi rumah tangga Mommy dan Daddy masih pas-pasan. Mana ada yang untuk membayar mereka. Bahkan para polisi langsung menutup kasus penculikan itu tanpa mau mencari siapa penculik Flora dan siapa yang sudah membunuhnya."
"Pada saat perusahaan sudah jaya, kenapa Mommy dan Daddy tidak mengupas kembali kasus penculikan itu. Bisa saja Daddy memerintahkan semua anak buahnya untuk menyelidiki kasus di masa lalu."
"Sejak perusahaan jaya, Mommy dan Daddy sampai melupakan tentang Flora, dan hanya fokus kepada kamu. Karena kehadiran kamu membuat kami sangat bahagia. Tapi, sekarang Daddy sudah menyelidiki kasus itu."
"Aku berharap Kak Flora masih hidup, Mom. Semoga dia baik-baik saja. Sejak kecil aku memang menginginkan seorang Kakak. Kenapa Mommy baru menceritakannya sekarang?" Haura baru sadar. Kenapa dia tidak menanyakan itu sejak tadi.
"Itu karena kami tidak ingin membuat kamu sedih. Maafkan Mommy dan Daddy karena sudah merahasiakan semua dari kamu." Zanna mengusap puncak kepala Haura dengan lembut. "Sayang, maafkan Daddy ya. Dia tidak bermaksud untuk membentak dan memarahi kamu."
Haura tidak menjawab. Jujur saja ia sangat kecewa dengan sikap dang Daddy terhadapnya. Namun, Haura sadar bahwa Rei tidak akan memarahinya jika ia tidak berbuat salah. Bahkan kesalahan yang Haura perbuat sangatlah fatal. "Aku sudah memaafkan Daddy, Mom. Yang seharusnya minta maaf itu aku. Karena aku sudah membuat semuanya kacau."
"Shuuut! Lupakanlah lebih baik kamu istirahat. Besok kamu sudah diperbolehkan pulang. Jangan sedih lagi, oke. Percayalah Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang indah buat kamu di masa depan. Hum." Zanna tidak lupa memberikan semangat untuk putri tercintanya.
"Thank you, Mom. Setelah pulang banyak yang akan aku tanyakan sama Mommy." Haura masih penasaran dengan cerita sang Mommy mengenai perusahaan Mahendra yang kalah tender dengan perusahaan keluarganya. Ia merasa ada yang janggal dengan semua itu.
"Oke, Sayang." Zanna menyelimuti tubuh Haura sebatas dada. Lalu mengusap kepalanya sampai Haura benar-benar terlelap.