Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 10.



Sayang, sarapannya sudah siap. Ayo turun kita makan bersama." Teriak Zanna memanggil sang putri yang masih berada di dalam kamarnya.


Tak lupa Zanna juga memanggil sang suami untuk sarapan bersama. Kebetulan sekarang adalah hari weekend, jadi mereka sekeluarga akan pergi liburan ke pantai.


Haura bergelayut manja di lengan sang daddy, mereka bersamaan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang makan. Haura memang sangat di manja oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu Haura tumbuh menjadi anak yang energik.


"Wah, wangi sekali. Mommy masak apa?" tanya Haura saat berada di meja makan.


"Mommy masak menu favorit kalian. Cumi asam manis dan udang krispi," ujar Zanna yang ditujukan kepada putri dan suaminya. Ia mengambilkan nasi untuk mereka berdua, serta dilengkapi lauk kesuksesan mereka.


Ya, Rei dan putrinya sama-sama menyukai cumi asam manis sama udang krispi. Apalagi hasil masakan sang istri, pasti rasanya akan semakin lezat. Bakat memasak Zanna menurun kepada Haura. Dua wanita cantik itu sama-sama jago memasak. Maka dari itu Rei selalu betah di rumah.


"Thank you, Mom." Haura langsung menyantap makanannya dengan lahap. Zanna dan Rei tersenyum melihat putri mereka begitu ceria. Mereka berharap putri kecilnya itu selalu bahagia, sebab mereka tidak akan rela melihat Haura bersedih.


"Mom, Dad. Kenapa kalian lihatin aku? Why?" Ucap Haura yang merasa di perhatikan.


"Nothing, Baby. Daddy sangat senang melihat kamu yang salalu ceria," ungkap Rei sambil tersenyum lembut. Hanya Haura dan Zanna yang bisa membuat seorang Rei begitu hangat dan lembut.


"Ah, sosweet. Aku lebih bahagia mempunyai orang tua sebaik kalian, Mom, Dad. Kalian my precious." Haura mengatakannya dengan mata yang menganak sungai.


Namun Haura tahan agar air mata itu tidak tumpah. Yang ada mereka tidak jadi sarapan paginya. Pasti akan menjadi suasana haru di meja makan itu. "Kita makan dulu ya Mom, Dad. Aku gak mau nangis, kasian nasinya kalau tidak di makan," tutur Haura kembali menyantap makanannya.


Rei dan Zanna dibuat melongo dengan tingkah nyeleneh sang putri. Mereka hanya bisa tertawa di dalam hati, lalu juga melanjutkan sarapannya.


Mereka bertiga sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke pantai terindah di kota J. Rei sengaja tidak meminta sopir untuk mengantarkan mereka, karena Rei ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga tanpa adanya seorang sopir.


"Bagaimana hari-hari mu bekerja di perusahaan Kingston, Baby? Apakah Jeff bersikap baik sama kamu?" tanya Rei seolah mengintimidasi sang putri.


"Tentu saja Kak Jeff sangat baik sama aku, Dad. Dia juga sering antar-jemput aku ke rumah. Dia juga terkadang membelikan aku makan siang khusus dari restoran saat berada di kantor. Dia juga se--"


"Maksud daddy bukan itu, Baby," potong Rei dengan cepat. Ia tidak suka mendengar cerita Haura yang selalu menyanjung Jefferson. "Kamu tidak mengalami kesulitan 'kan dalam mengerjakan tugas-tugas di perusahaan itu," lanjutnya.


"Ah, kalau itu sih tidak ada, Dad. Aku 'kan pintar, jadi mana mungkin aku kesulitan dalam bekerja," ucap Haura dengan sombongnya.


"Cih! Sombong sekali putri daddy ini." Rei menggusal rambut Haura dengan gemas.


"Daddy! Stop! Rambut ku jadi berantakan 'kan. Bagaimana kalau nanti aku terlihat jelek," sungut Haura memanyunkan bibirnya.


"Mana ada putri daddy jelek. Kamu tetap cantik dalam keadaan apapun." Rei tidak akan terima jika putri tercintanya dikatakan jelek.


"Oh, cuma putri kita nih yang cantik?" sindir Zanna yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan antara ayah dan anak itu.


"Mommy itu wanita paling cantik. Buktinya bisa melahirkan gadis secantik aku."


Ucap Rei dan Haura bersamaan. Membuat Zanna terkekeh geli. "Masa sih begitu?" tanya Zanna sekali lagi.


"Tentu saja," lagi-lagi ayah dan anak itu kompak mengatakannya.


"Baiklah, mommy percaya." Zanna berkata dengan mengangkat dagunya untuk menyombongkan dirinya.


"Lihatlah, Dad. Sudah tahu 'kan sifat sombongku menurun dari siapa? Hahaha," ucap Haura tertawa tebahak-bahak.


"Shuuut! Jangan tertawa, nanti ada yang marah. Hehehehe." Rei berbisik di telinga sang putri sambil terkekeh kecil.


Zanna menggelengkan kepalanya melihat tingkah ayah dan anak itu yang selalu bersikap hangat dan lucu. Tidak masalah meskipun posisinya sekarang tergantikan oleh Haura yang duduk kursi sebelah kemudi. Asalkan bukan wanita lain yang menggantikannya.


Selang berapa lama akhirnya mobil yang ditumpangi oleh mereka bertiga telah sampai di sebuah pantai yang indah. Haura keluar lebih dulu dari dalam mobil. Dengan cepat ia berlari ke bibir pantai. Suasana di pantai sudah ramai akan pengunjung membuat Haura semakin ceria.


Semua orang yang ada di sana hanya menatap kagum terhadap Haura. Bahkan mereka merasa iri saat melihat pasangan suami-istri yang terlihat begitu romantis tengah menghampiri Haura di bibir pantai.


Semua orang di sana sangat tahu betul siapa ketiga orang tersebut. Keluarga Pradipa yang sangat berpengaruh di kota itu. Jadi, semua orang yang ada di sana tidak berani mengusik ketenangan mereka. Karena tidak ingin mendapatkan masalah jika tanpa sengaja menyinggung keluarga itu.


Apalagi saat melihat tatapan tajam dari Rei, membuat nyali semua disana menciut. Rei yang sadar sedang di perhatian oleh orang-orang di sekitar pantai, dengan cepat mengedarkan pandangannya lalu melayangkan tatapan tajam kepada orang-orang di sana. Hingga akhirnya mereka semua tidak berani lagi menatap kearahnya.


Jika bukan demi sang putri, Rei tidak akan mau pergi ke pantai yang ramai akan pengunjung. Bisa saja Rei me reservasi tempat itu agar tidak ada pengunjung lain yang datang. Namun, Rei tidak ingin membuat sang putri sedih. Sebab Haura berkata ingin pergi ke pantai yang indah dan juga ramai akan pengunjung. Yang katanya suasana itu akan terlihat berbeda.


Mau tidak mau Rei mengabulkan permintaan sang putri. Kapan lagi mereka bisa pergi dan berbaur dengan orang-orang asing jika bukan sekarang. Sebab Rei tidak akan lagi mau pergi ke tempat umum seperti itu. Harus dengan sedikit paksaan dari Haura dan sang istri.


Pyur! Pyur!


Haura mencipratkan air ke wajah sang daddy yang terlihat enggan memasuki air asin itu. Ia menjulurkan lidah untuk meledek sang daddy.


Rei yang awalnya merasa kesal karena terciprat air asin, akhirnya meluluh saat melihat wajah berseri dari sang putri dan juga istrinya yang tengah menunggu dirinya di air asin itu.


"Awas kalian! Daddy akan membuat perhitungan!" Rei pun memasuki air asin itu dengan terburu-buru. Ia ingin memberikan perhitungan terhadap istri dan anaknya yang sudah berani mengerjainya.


Hap!


Rei menangkap tubuh sang istri lebih dulu karena posisinya yang lebih dekat dengannya. Rei menggelitik pinggang sang istri yang berada di dalam air. Membuat Zanna tertawa geli dan memohon agar di lepaskan. Namun, Rei tidak akan membiarkan itu terjadi.


Sedangkan Haura, ia memilih menghindar dari hukuman sang daddy. Haura berenang hingga jauh dari kedua orang tua mereka. Ia sangat menikmati kegiatan berenangnya. Tanpa ia sadari ada seseorang yang mengikutinya dari arah belakang.