
Aaaaakh! Sssst!
Haura!
Semua orang menyerukan nama Haura saat mendengar suara rintihan kesakitan dari mulut Haura. Wajah Haura terlihat sangat pucat. Ia memegang perut bagian bawahnya yang terasa sakit. Mungkin karena ia terlalu lama berada dalam posisi duduk.
"Aku tidak apa-apa, kalian tidak perlu khawatir. Aku akan tetap melanjutkan ceritaku hingga selesai. Jika kalian ingin marah, marah lah kepadaku setelah aku selesai bercerita." Haura berpura-pura terlihat baik-baik saja di saat perutnya terasa sakit. Ia harus menuntaskan masalah ini sekarang juga. Sebab ia tidak mau semuanya kacau jika ceritanya putus ditengah jalan.
Haura melepaskan tangan Jeff yang sempat menggenggam tangannya karena merasa khwatir. "Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu yang harus berpisah dengan anak kandungnya sendiri karena sebuah ancaman. Aku pun tidak tega. Maka dari itu aku ingin menyatukan cinta mereka di pesta pernikahan ku. Kalian bisa lihat ini, dan dengarkan nama siapa yang sebutkan pada saat pengucapan ikrar suci pernikahan." Haura menyerahkan ponselnya yang berisi sebuah rekaman CCTV saat acara pernikahan itu berlangsung.
Rei yang memegang ponsel tersebut, sedangkan para orang tua yang lain mendekat kearah Rei untuk melihat rekaman itu secara bersama. Benar saja, nama yang disebut saat pengucapan janji suci pernikahan adalah nama Olivia, bukan Haura. Semua orang tidak mendengar pengucapan nama tersebut karena bertabrakan dengan suara microphone yang bedeging. Para orang tua merutuki kebodohannya yang membiarkan acara tersebut tetap berjalan. Seharusnya mereka meminta sang mempelai untuk mengucapakan ikrar suci pernikahan sampai para orang tua mendengar secara jelas.
Karena para orang tua hanya mendengar saat Keanu mengucapkan janji suci pernikahan, sedangkan saat giliran mempelai wanita yang akan mengucapkannya, terjadilah suara microphone yang sengaja Haura buat bersama dengan anak buah Keanu. Ternyata mereka telah tertipu oleh rencana anak-anak mereka. Mungkin karena mereka terlalu bahagia atas pernikahan putra dan putri mereka hingga tidak menghiraukan masalah seperti yang ternyata adalah sebuah masalah besar.
"Jika kalian bertanya dimana aku waktu itu, lihatlah keruangan paling ujung. Di sana ada seorang wanita yang menggunakan masker. Itu adalah aku." Haura berkata dengan santainya. Ia seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
Rei mengeratkan genggamannya pada ponsel Haura. Amarahnya memuncak. Ia tidak menyangka bahwa putri yang ia cintai dan ia sayangi berani mempermainkannya.
Praaang!
Rei melempar ponsel Haura ke atas lantai hingga hancur berkeping-keping. Semua orang ketakutan saat melihat amarah yang Rei tunjukkan. Para orang tua kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Dada Rei naik-turun. Matanya memerah. Tangannya mengepal kuat. Ia menatap Haura dengan tajam. Tatapan pertama yang ia layangkan kepada sang putri tercinta.
"Jika ingin marah, marah lah nanti." Lagi-lagi Haura memperingati semua orang di sana. Ia tahu sang daddy marah besar terhadapnya. Namun, Haura tidak perduli dengan itu. Yang penting ia sudah mempertanggung jawabkan kesalahannya.
Brak!
"Cukup Haura!" Rei menggebrak meja yang ada didepannya. Kesabarannya sudah habis. Rei tidak mau mendengar apapun lagi dari mulut Haura.
Semua orang kembali terkejut dengan tindakan Rei. Mereka bergidik ngeri saat melihat amarahnya. Sedangkan Haura meremas ujung rok yang ia kenakan untuk melampiaskan rasa sakit hatinya saat dibentak oleh sang daddy. Seumur hidup Rei tidak pernah membentak Haura, baru sekarang Rei membentak nya. Bahkan Rei melupakan janjinya saat Haura mengalami kritis, bahwa dia tidak akan pernah menyakiti sang putri, dan akan menuruti keinginannya.
"Mas! Jangan marah. Kita dengarkan dulu penjelasan dari putri kita." Ucap Zanna kepada sang suami. Apa yang dilakukan putrinya memang sangat keterlaluan. Tapi tidak seharusnya Rei membentaknya. Apalagi jika dia tahu apa yang dialami Haura selama ini. Rei pasti akan menyesal sudah membentaknya.
"Aku tahu kalian semua marah atas apa yang sudah aku lakukan. Aku yang memulainya, dan aku juga yang akan mengakhirinya. Aku akan menerima konsekuensi atas perbuatanku. Aku akan dengan senang hati jika aku dikeluarkan dari daftar keluarga Pradipa. Karena aku cukup bangga dengan perbuatan jahat ku terhadap kalian, tapi aku bisa mewujudkan impian seorang anak kecil dengan menyatukan kedua orang tua mereka." Haura menahan air matanya yang sejak tadi mendesak ingin keluar.
Zanna menangis saat mendengar Haura ucapan Haura tersebut. "Sayang ...." Zanna berdiri ingin memeluk Haura. Namun di tahan oleh Rei yang masih tampak marah.
"Om mahendra tenang saja. Meskipun aku gagal menjadi menantu di keluarga Mahendra, Om tetap tidak akan rugi. Karena aku akan membayar uang kompensasi untuk masalah ini, dan bisa Om jadikan modal untuk bisnis Om yang sempat bangkrut agar kembali berjaya lagi. Daddy juga tenang saja, uang itu uang aku sendiri. Uang dari hasil kerja kerasku selama ini. Jadi, uang keluarg Pradipa tidak berkurang sedikitpun." Tegas Haura tak terbantah.
Haura terlanjur kecewa dengan sikap sang daddy yang sudah menyimpulkan masalah ini dengan segala macam pikirannya sendiri, tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Hanya sang mommy yang dapat mengerti dengan posisinya sekarang ini.
"Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Mommy, Daddy, Tante Zanna, Om Robert, Tante Sonya, dan Om Mahendra. Maaf sudah mengecewakan kalian semua. Kalian boleh membenci ku setelah ini." Haura terpaksa harus menyudahi semuanya saat itu juga. Sebab perutnya benar-benar terasa sakit. Haura tidak boleh terlihat lemah di depan semua orang.
"Bukan cuma Haura salah tapi aku jauh lebih bersalah dalam hal ini. Semuanya terjadi gara-gara keegoisanku." Ucap Jefferson dengan lantang. Cukup! Sudah cukup bagi Jeff menahan diri sejak tadi. Ia tidak tahan melihat Haura terintimidasi oleh para orang tua yang ada disana. Jeff tidak akan egois lagi. Ia akan melakukan apapun untuk melindungi Haura.
"Jangan ikut campur kamu!" Bentak Rei tak terima. Ia tak ingin mendengar pembelaan dari seorang Jefferson.
"Tentu saja aku harus ikut campur dalam hal ini, Om. Karena--"
"Jeff! Stop!" Potong Haura dengan cepat. Ia tidak mau Jeff mengungkapkan kebenaran mengenai dirinya yang ternyata adalah ayah biologis dari anak yang ia kandung. Haura tidak ingin menambah beban terhadap kedua orang tuanya. Terutama sang daddy yang sejak dulu sangat tidak menyukai Jefferson.
"Aku tidak terima wanita ini menikah dengan putraku." Sela Mahendra dengan suara lantang. Ia menujuk Olivia dengan tatapan menghina. "Aku akan menerima anak kalian di keluargaku, tapi tidak dengan wanita murahan ini." Mahendra tidak segan menghina Olivia di depan semua orang.
Olivia hanya bisa menangis. Inilah yang ia takutkan. Dirinya tetap tidak akan diterima di keluarga Mahendra. Amarah Keanu terpancing saat sang papa menghina istri tercintanya. "Terserah Papa. Yang penting Olivia akan tetap menjadi istriku." Bantah Keanu penuh penekanan.
Keadaan di ruangan tersebut menjadi panas karena amarah yang ada ditubuh mereka masing-masing. Haura berdiri dari posisi duduknya. Ia ingin memperingati Mahendra lagi. Namun tiba-tiba tubuh Haura ambruk di atas lantai.
Bruk!
Haura!
Semua orang mendadak panik saat melihat Haura yang tiba-tiba pingsan. Zanna menangis histeris melihat keadaan Haura yang seperti itu. Matanya membulat kala melihat darah yang mengalir dari pangkal paha sang putri. "Darah!" Teriak Zanna kembali histeris.
Tanpa aba-aba Jeff langsung menggendong Haura, memasukkannya ke dalam mobil, lalu membawanya ke rumah sakit. Zanna dan Rei dengan sigap mengikuti mobil Jeff dari arah belakang. Keadaan benar-benar kacau. Belum beres masalah pernikahan palsu, kini Haura mengalami pendarahan hebat. Padahal dokter Dimas sudah menyarankan agar Haura menjaga kandungannya dengan baik agar tidak lagi mengalami kendarahan untuk yang kedua kalinya.
Robert, Kinara, Keanu, dan Olivia juga mengikuti mobil Jeff. Begitu juga dengan Sonya yang langsung menarik tangan sang suami untuk mengikuti Haura yang dilarikan ke rumah sakit. Semua orang sangat tegang. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing yang tengah kacau akan masalah yang dialami saat ini.
Setelah sampai di rumah sakit, Haura langsung ditangani oleh dokter dan beberapa perawat. Zanna masih menangis histeris. Hatinya begitu hancur saat ini. Pasti Haura sangat tertekan dengan apa yang terjadi sekarang, hingga membuatnya drop. Zanna merasa bersalah karena tidak bisa membantu Haura menyelesaikan masalahnya.
Semua orang menunggu di depan ruang UGD dengan harap-harap cemas. Yang paling merasa bersalah adalah Jeff dan Rei. Jeff merutuki dirinya yang begitu bodoh, sudah menjadi laki-laki pecundang yang membiarkan Haura menyelesaikan masalahnya sendiri. Sedangkan Rei menyesal sudah membentak dan berkata kasar kepada sang putri.
"Jeff! Ikut Tante sekarang!" Perintah Zanna kepada keponakannya. Ia harus berbicara empat mata sama Jeff. Namun, Jeff menolak dengan halus.
"Maaf Tante. Aku tidak akan pergi sebelum melihat bagaimana kondisi Haura." Jeff tidak mungkin meninggalkan Haura sekarang. Ia sangat mengkhawatirkan sang kekasih dan juga calon anaknya.
"Tapi Jeff, ada yang harus Tante bahas sama kamu. Ini penting." Ucap Zanna yang berhasil membuat semua orang penasaran dengan apa yang ingin Zanna bahas dengan Jeff.
"Nanti saja, Tante. Setelah kita mengetahui bagaimana kondisi Haura. Aku janji akan mengungkapkan semua kebenaran yang belum Haura jelaskan. Tapi, kali ini hanya untuk Tante, Om, Mommy, dan Daddy." Jeff berkata dengan wajah memelas.
Terpaksa Zanna menuruti keinginan Jeff. Benar kata Jeff, mereka harus menunggu kabar dari dokter Dimas mengenai kondisi Haura setelah selesai menanginya. Tak berselang lama dokter Dimas keluar dari dalam ruang UGD.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Zanna dengan cepat.
Dokter Dimas menghembuskan nafas kasar. Membuat semua orang takut kalau mereka akan mendapatkan kabar buruk. "Keadaan pasien sangat lemah. Ia mengalami tekanan mental yang sangat kuat hingga membuat dirinya drop. Kemarin saya sudah mewanti-wanti supaya pasien tidak kecapean dan tertekan. Berusahalah membuat suasana ibu hamil menjadi baik. Tapi, sepertinya pasien tidak menjalankan saran dari saya. Hingga sekarang ...." Dokter Dimas menjeda ucapannya sebentar untuk mengambil nafas.
"Pasien mengalami keguguran." Ucap dokter Dimas singkat dan jelas.
Semua orang begitu shock mendengar pernyataan dari dokter Dimas. Jeff merasakan hancur. Hatinya begitu sakit. Calon anak yang dia nanti-nantikan kini telah tiada. Bahkan Jeff belum sempat menatap wajahnya. Tubuh Jeff seakan tak bertulang. Ia lemas seketika. Hal yang sama dirasakan oleh Zanna. Ia menutup mulut seolah-olah tak percaya dengan vonis dokter Dimas.
"Tidak mungkin Haura keguguran, Dok." Bantah Zanna tak terima.
"Tapi itu kenyataan, Nyonya. Bersabarlah, mungkin Tuhan ada rencana lain untuk kebahagiaan pasien di masa depan." Setelah mengatakan itu, dokter Dimas langsung pergi.
Dengan cepat Jeff memasuki ruang UGD. Ia menggenggam tangan Haura yang terasa dingin. Menciumnya dengan linangan air mata. "Maafkan aku, Haura. Gara-gara kebodohanku, anak kita menjadi korban. Sekarang kita kehilangannya. Bahkan kita tidak sempat melihat wajahnya barang sedetikpun. Maafkan aku Haura. Maaf." Jeff menangis tersedu-sedu sambil menciumi tangan Haura.
"Apa maksud kamu Jefferson!" Geram Rei yang kembali terpancing amarahnya setelah mendengar ucapan Jeff yang mengatakan bahwa anak yang dikandung Haura adalah anaknya.
Jeff sadar apa yang sudah dia katakan membuat semuanya penasaran. Jeff akan jujur mengenai semuanya, dan akan menceritakannya dari awal hingga akhir. "Sebelumnya maafin aku, Om, Tante, Mommy, dan Daddy." Jeff menatap keempat orang tua tersebut. Hanya ada mereka berlima disana, kecuali Haura yang tengah terbaring lemah diatas brankar dalam keadaan terlelap.
Sedangkan keluarga Mahendra dan Olivia menunggu diluar ruangan. Mereka ingin memberikan waktu privat untuk keluarga inti dari Pradipa dan Kingston.
"Sebenarnya aku yang sudah menghamili Haura." Tandas Jeff yang berhasil membuat keempat orang tua tersebut membulatkan mata sempurna.
Buk! Buk! Buk!
"Kurang ajar kamu bajing*n. Bedeb*h, pecundang. You Bastard Jefferson Kingston." Geram Rei meluapkan amarahnya. Ia menghajar wajah Jeff sebanyak tiga kali. Sebab setelah itu diganti oleh Robert yang menghajar putranya secara bertubi-tubi.
Buk! Buk! Buk!
"Anak tak tahu diri. Tak tahu malu. Tak tahu diuntung. Sangat memalukan." Hardik Robert tak kalah emosinya dengan Rei.
"Mas, sudah. Dengarkan dulu penjelasan putra kita." Kinara menarik sang suami yang hampir melayangkan pukulan lagi di wajah sang putra.
Jeff kembali pada posisi tegaknya. Ia mulai menceritakan bagaimana kejadian yang sesungguhnya dimana ia merenggut kesucian Haura di dalam kamarnya sendiri, di kediaman Kingston. Jeff mengatakan yang sejujurnya tanpa dikurangi sedikitpun. Bahkan ia juga mengatakan ancamannya terhadap Haura, dan kecelakaan yang Haura alami juga gara-gara dirinya pada saat setelah Haura mendengar percakapannya bersama Arvin di dalam ruang kerja. Ya Jeff memang sudah melihat rekaman CCTV tersebut.
Kinara sangat shock. Ia tidak menyangka putra yang dia sayangi begitu teganya berbuat bejat terhadap adik sepupunya sendiri, dan lagi-lagi Jeff mendapatkan pukulan telak dari Rei dan juga Robert.
Buk! Buk! Buk!
Jeff diam saja. Ia tidak melawan. Sebab ia memang salah, dan ia pantas mendapatkan pukulan yang tak seberapa sakitnya dibandingkan dengan rasa sakit yang Haura rasakan selama ini. Kedua laki-laki tersebut berhenti menyerang Jeff saat dokter Dimas memasuki ruang UGD. Ia melerai Rei dan Robert agar berhenti memukuli Jefferson. Dokter Dimas memang tidak tahu pokok permasalahannya. Namun, ia tetap harus melerai mereka agar tidak mengganggu ketenangan pasien.
"Pergi kamu dari sini. Mulai saat ini, keluarga Pradipa dan keluarga Kingston tidak memiliki ikatan saudara sedikitpun!" Ucap Rei dengan tegas.
"Mas. Jangan berlebihan. Yang salah Jeff bukan keluarganya." Kata Zanna memperingati sang suami yang tengah diselimuti api amarah.
"Aku tidak perduli siapa yang salah. Yang jelas, siapapun yang bersangkutan dengan laki-laki bajing*n ini, aku anggap mereka musuh. Jangan coba-coba untuk menghalangi perintahku, Zanna." Rei benar-benar tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga Kingston. Ia sangat menyesal sudah membentak dan memarahi Haura tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Sekarang Rei sangat menyesal setelah mengetahui fakta bahwa Haura hanya korban dari kebejatan kakak sepupunya sendiri.
Zanna tidak lagi mengeluarkan satu kata pun. Jika Rei sudah menyebutkan namanya ketika marah. Maka Rei tidak main-main dengan ucapannya. Zanna tidak bisa berbuat apa-apa sekarang ini selain mengikuti perintah sang suami.
Keluarga Kingston pergi dengan perasaan bersalah. Robert dan Kinara merasa gagal menjadi orang tua yang baik untuk Jefferson. Sebab mereka tidak bisa mendidik Jeff agar menjadi laki-laki sejati dan bertanggung jawab. Bahkan putra mereka tega menodai adik sepupunya sendiri.
"Jangan pernah menginjakkan kaki di kediaman Kingston lagi!"