
"Why?" tanya Jeff dengan suara yang sangat berat. Hasratnya sudah di ubun-ubun ia sampai melupakan bahwa dirinya tidak akan pernah menyentuh wanita, bahkan Haura sekali pun.
"I'm scared, Jeff." Haura berkata sangat pelan. Ini adalah pengalaman pertamanya, Haura yakin rasanya pasti akan sangat sakit.
"Baby." Jeff mengusap wajah Haura untuk menenangkan nya. "Dont be afraid. Relax don't stress. I'll take it slow," ucap Jeff dengan lembut. Ia harus membuat Haura merasa nyaman dan tidak takut agar hasratnya tersalurkan.
Jeff tidak memikirkan konsekuensi atas perbuatannya nanti. Ia sudah diselimuti oleh kabut gairah, hingga otaknya terkontaminasi. Bahkan dalam benaknya tidak terlintas sedikitpun nama Olivia. Ia hanya ingin menikmati surgawi yang sesungguhnya dari adik sepupunya itu.
Ah, sepertinya kali ini Jeff benar-benar akan menjadi bastard yang sesungguhnya. Jika dulu kehidupan bastard-nya hanya sekedar bermain lollipop. Namun, sekarang akan berenang di sungai yang terdapat di tengah-tengah hutan belantara yang tak pernah dia jamah.
Mendengar ucapan Jeff yang begitu lembut dan menenangkan, akhirnya Haura mengangguk pasrah. Ia meyakinkan dirinya bahwa semua itu demi cinta yang akan ia gapai bersama seorang Jefferson. Mungkin inilah saatnya bagi Haura untuk memiliki Jeff seutuhnya. Begitu juga sebaliknya, Haura akan menjadi milik Jeff seutuhnya.
Sebelum memulai aksinya, Jeff lebih dulu mengunci pintu kamar agar tidak ada yang mengganggu aktivitas mereka nanti. Jeff kembali meraup bibir Haura dengan lembut. Selembut ciumannya dulu saat bersama Olivia. Jeff menggesekkan lagi ujung tombaknya ke dinding goa yang sudah memba***.
Haura lagi-lagi mendes**, dan seakan melayang oleh sentuhan Jeff. Hingga Jeff menekan pinggulnya untuk menerobos masuk ke dalam goa itu. Namun, usahanya tidak berjalan mulus karena itu adalah yang pertama bagi dirinya dan juga Haura, maka rasanya terasa sangat sulit menembus benteng pertahanan itu.
"Aakh! Sakit, Jeff." Haura mendesis tertahan. Padahal itu hanya ujungnya saja yang masuk, dan belum masuk semuanya. Tapi, Haura sudah merasa kesakitan.
"Rileks, Baby. Aku sedang berusaha, sebentar lagi akan masuk semua," tutur Jeff sambil berusaha menekankan pinggulnya lagi.
Dengan usahanya yang keras, akhirnya tepat di dorongan kelima Jeff bisa menerobos masuk.
Jleb! Aahh!
"Aaaaaaaakh! S-sakit!" Haura menjerit kala miliknya seperti terkoyak di bawah sana. Tak terasa cairan bening meluncur dari kedua sudut matanya karena merasakan sakit yang luar biasa.
Bahkan Haura yang terkejut dengan rasa sakit di area intinya, tangannya refleks mencengkram punggung Jeff hingga kuku panjangnya menancap sempurna. Menimbulkan luka dan darah yang keluar dari kulit di punggung Jeff akibat cakaran itu. Namun, bagi Jeff rasa sakit itu tidak seberapa, sebab langsung hilang tergantikan dengan sebuah kenikmatan yang luar biasa.
Jeff memejamkan mata kala tongkat saktinya berhasil menerobos masuk ke lembah surgawi itu. Rasanya seperti di rem**-rem** membuat Jeff menggeram tertahan. Ia menatap Haura yang masih berlinangan air mata. Jeff menghapus air mata itu lalu mencium kelopak mata Haura dengan lembut.
Di sela-sela sakit yang Haura rasakan. Ia tersenyum bahagia karena sekarang Jeff dan dirinya sudah menjadi satu dengan penyatuan yang mereka lakukan. Haura berharap setelah ini Jeff akan menikahinya.
Jeff tidak langsung menggempur Haura. Ia lebih dulu mendiamkan tongkat saktinya untuk beradaptasi di dalam sana. Dirasa milik Haura sudah rileks dan mulai berke*** di bawah sana. Jeff mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Hingga rasa sakit yang Haura rasakan kini mulai memudar.
Haura mencoba untuk mengimbangi gerakan Jeff meskipun masih kaku. Ia hanya mengikuti nalurinya saja agar membuat Jeff merasa senang dan puas. Haura tidak ingin Jeff berpaling ke lain hati. Cukup dirinya yang menjadi wanita pertama dan yang terakhir buat Jeff.
Ah, Haura tidak akan melepaskan laki-laki sebaik Jeff. Bahkan di usianya yang ke-25 tahun, Jeff baru pertama kali melakukannya dengan Haura. Itulah yang membuat Haura merasa bangga. Walaupun Jeff dulu tinggal di kota A, tapi Jeff sangat menjaga dirinya dari pergaulan bebas, itu juga yang membuat Haura kagum. Haura selalu percaya dengan apa yang Jeff katakan. Jadi, sampai saat ini Jeff di mata Haura tetaplah laki-laki yang baik dan sangat menjaga seorang wanita.
Hingga sekarang Haura lah meruntuhkan pertahanan Jeff yang tak pernah tersentuh oleh wanita mana pun. Haura akan membuktikan kepada Jeff bahwa cinta itu ada dan nyata. Buktinya Jeff sangat menikmati permainan itu dengan Haura yang artinya Jeff juga mencintai dirinya. Menurut Haura sepasang kekasih tidak akan bercinta jika tidak saling jatuh cinta. Namun, kenyataannya banyak di luaran sana yang bercinta tanpa adanya cinta.
Aahh! Jeff!
Yeah, Haura!
Suara desah** dan erang** memenuhi ruangan kamar yang kedap suara. Jika tidak maka suara erotis itu akan terdengar keluar kamar, yang otomatis akan ketahuan oleh kedua orang tua Jeff. Beruntung mereka juga melakukan olahraga sore di dalam kamarnya, jadi Kirana dan Robert tidak tahu apa yang terjadi antara putra dan keponakannya.
Meskipun ini adalah pengalaman pertama bagi Jeff, tapi tidak membuatnya kaku dan bingung dalam mencoba beberapa gaya di dalam bercinta. Jeff adalah laki-laki biasa, ia bisa mengetahuinya dari sebuah video **** yang selalu Jeff tonton di saat malam hari.
"Jeff, aku mau p*p*s lagi,* seru Haura di ketika Jeff menggempurnya begitu dalam.
"Ough! Yeah! Bersama Baby!" Jeff semakin mempercepat gerakannya hingga tubuh keduanya menegang. Bahkan tongkat saktinya juga semakin tegang, dan goa itu juga terasa kian menjep**. Membuat keduanya melolong panjang.
Aahh! Aahh!
Akhirnya mereka telah mencapai pelep**. Jeff seketika ambruk di atas tubuh Haura dengan nafas yang tersengal-sengal. Tubuh keduanya tampak mengkilap akan keringat dari hasil berolahraga sore.
Karena kelelahan Haura langsung terlelap tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Jeff menggulingkan tubuhnya di samping Haura. Ia memandangi wajah lelah Haura. Ada perasaan bersalah di dalam diri Jeff. Namun, ia mencoba untuk menyadarkan dirinya bahwa semua itu bukan salahnya melainkan salah Haura sendiri yang dengan suka rela menyerahkan tubuhnya.
Salah Haura sendiri yang menggoda Jeff hingga berakhir di atas ranjang. Andaikan Haura tidak menggodanya maka Jeff tidak akan hilang kendali. Jeff beranjak dari tempat tidurnya lalu menuju kearah kamar mandi. Jeff ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Meskipun tadi ia sudah mandi, tapi dengan keringat di tubuhnya Jeff tidak akan bisa beristirahat.
Bruk! Bruk! Bruk!
"Semuanya gara-gara Haura! Kenapa dia menggoda ku! Dasar wanita sialan!" Jeff benar-benar marah dan terus menyalahkan Haura. Ia harus berbuat sesuatu agar Haura tidak membocorkan tentang apa telah terjadi kepada kedua orang tua mereka.
Ceklek!
Jeff keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dengan cepat Jeff memakai pakaiannya. Setelah itu ia membangunkan Haura yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Haura, bangun!" Jeff menggoncang tubuh Haura agar ia segera bangun. Benar saja, Haura langsung mengerjapkan mata.
"Jeff!" Haura tersenyum menatap Jeff yang sudah berpakaian rapi.
"Cepat bangun, dan kembalilah ke kamar sebelah. Aku tidak mau mommy dan daddy curiga dan mengetahui apa yang telah terjadi di antara kita," tandas Jeff yang membuat senyuman di bibir Haura memudar.
"Maksud kamu apa, Jeff?" tanya Haura tak mengerti.
"Dengar! Jangan sampai kedua orang tua kita tahu apa yang terjadi hari ini. Jika sampai itu terjadi aku tidak akan memaafkan mu," ancam Jeff dengan wajah dingin.
"Tapi, kenapa? Bukankah kita melakukannya karena saling mencintai?"
"Cinta? Aku sudah mengatakannya dari dulu bahwa aku tidak percaya dengan yang namanya cinta. Lagipula kamu sendiri yang menggodaku, dan memaksa ku agar menyentuhmu," ucap Jeff penuh penekanan.
Blass!
Sakit! Hati Haura sangat sakit mendengar penuturan Jeff yang begitu mengoyak hati. Harapan Haura musna seketika itu juga. Ia kira dengan menyerahkan tubuhnya Jeff akan mencintainya. Tapi, Jeff menolaknya mentah-mentah, bahkan menyuruhnya untuk tutup mulut. Namun, apa yang dikatakan oleh Jeff memang benar adanya. Dirinya lah yang menggoda Jeff lebih dulu.
Sekuat tenaga Haura menahan dirinya untuk tidak menangis di depan Jeff. Tangannya mengepal dengan sempurna untuk menguatkan hatinya. Haura berusaha tersenyum di depan Jeff, lalu dia berkata ...
"Kakak tenang saja. Aku janji tidak akan ada satu orang pun yang tahu tentang kejadian ini, termasuk kedua orang tua kita." Haura beranjak dari tempat tidur lalu memakai bathrobe yang dia kenakan tadi.
Ssst! Aw!
Haura meringis saat merasakan sakit di are intinya ketika ingin melangkah pergi dari kamar itu. Jeff dengan reflek memegang tangan Haura. Ia merasa kasihan melihat Haura yang tampak kesakitan.
"Kamu baik-baik saja, baby girl?" tanya Jeff dengan suara lembutnya, tidak seperti tadi yang bersikap dingin.
Haura melepaskan pegangan tangan Jeff dengan lembut. Ia kembali tersenyum dan berkata lagi ...
"Aku baik-baik saja Kak. Kakak tidak perlu khawatir. Oiya, aku akui semuanya memang salah ku yang menggoda kakak terlebih dahulu. Tapi, seharusnya kakak bisa menahan diri agar kejadian ini tidak terjadi, jika kakak benar-benar tidak mencintai ku." Ucap Haura tersenyum getir.
Jeff tercengang mendengar ucapan Haura yang seolah menampar dirinya. Seharusnya ia tidak menyalahkan Haura sepenuhnya dalam hal ini. Bahkan dirinya ikut andil dalam kejadian ini.
"Ma--"
"Satu lagi. Tolong panggil namaku dengan benar, Kak. Haura! Namaku Haura! Bukan baby girl! Jangan sampai panggilan itu membuat ku salah mengartikan sikap Kakak terhadap ku!" Pungkaa Haura dengan telak. Setelah itu Haura keluar dari dalam kamar Jeff dengan langkah tertatih-tatih.
Sedangkan Jeff mematung di tempatnya. Ia tidak menyangka bahwa Haura akan mengatakan semua itu. Hatinya kembali merasa bersalah saat netranya tertuju kearah sprei yang terdapat bercak darah di sana. Tentu saja darah kehormatan milik Haura yang ia renggut secara cuma-cuma.
"Aaaarrgh! Sial! Kenapa jadi kacau seperti ini!" Jeff mengusap wajahnya kasar. "Kenapa aku harus merasa bersalah? Haura lah yang salah. Bahkan dia sendiri mengakuinya tadi. Terserah dia mau bagaimana. Yang penting tidak ada yang tahu akan kejadian ini." Jeff kembali menguatkan diri dan berusaha tidak perduli dengan Haura.
Haura menangis sejadi-jadinya di balik pintu kamar yang ia tempati. Haura tidak menyesal sudah memberikan kehormatannya kepada Jeff, laki-laki yang sangat dia cintai. Namun, Haura merasa sakit saat mengingat ucapan Jeff yang seolah-olah tidak menginginkan dirinya, bahkan merasa terpaksa melakukan itu. Padahal, Haura tidak memaksa sama sekali. Ia juga sudah berkata takut, tapi Jeff yang meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Haura mengusap air matanya dengan kasar. Ia mencari pakaian di dalam lemari yang memang sudah tersedia di sana. Haura memakai pakaian sweeter yang kerahnya menutupi leher, hingga bekas mahakarya dari Jeff tidak terlihat. Ia memasukkan pakaiannya yang kotor ke dalam keranjang baju kotor yang terdapat di dalam kamar mandi. Haura tidak membersihkan diri lagi, ia terlalu terburu-buru ingin segera pergi dari rumah itu.
Haura akan memikirkan kembali tujuannya yang akan membuat Jeff mencintainya. Sekarang ia hanya butuh ketenangan. Dengan cepat Haura keluar dari kamar itu. Ia berjalan seperti biasa menahan rasa sakit yang mendera di area intinya. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat Jeff menolak cintanya ketika dirinya sudah menyerahkan semuanya.
Haura menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru. Untuk saat ini ia tidak ingin bertatap muka dengan Jeff. Malu, sakit, hancur, semuanya bercampur aduk. Haura merasa dirinya sangat lah tidak berharga di mata Jeff. Namun, ia tidak menyalahkan Jeff tentang apa yang dia rasakan.
"Haura! Kamu mau kemana?"