
Hari ini Jeff dan Arvin mulai menyelidiki kasus 21 tahun silam. Jeff memperhatikan layar komputer yang diutak-atik oleh Arvin untuk melacak nomor plat mobil yang dipakai waktu menculik Flora.
"Dapat!" Arvin bersorak saat mendapatkan apa yang dia cari. Sebuah mobil Toyota Kijang SGX Kapsul keluaran terbaru pada tahun 1998. Mobil mewah pada masanya, dan hanya orang terpandang yang memiliki mobil tersebut. "Mobil ini milik perusahaan Mahendra yang berjaya pada masa itu. Namun, langsung dihancurkan pada tahun 1999 yang tak tahu karena apa. Perusahaan Mahendra tiba-tiba menghancurkannya." Terang Arvin dengan ekspresi serius. Ia menjelaskan mengenai apa yang ia dapatkan dari hasil pencariannya.
Jeff manggut-manggut sambil menyimak penjelasan dari Arvin. Pikirannya mulai menerka-nerka bahwa ucapan Haura memanglah benar. Kalau Mahendra ada sangkut pautnya dengan kasus penculikan Flora. "Aku rasa ucapan Haura ada benarnya." Ucap Jeff dengan sorot mata yang tajam.
"Maksud kamu?" Arvin tidak mengerti akan maksud dari perkataan Jefferson. Pasalnya sahabat sekaligus atasannya tersebut belum bercerita mengenai percakapannya dengan Haura. Jeff hanya menjelaskan secara singkat tentang kakak Haura yang diculik saat berusia satu tahun.
"Haura curiga kalau Mahendra adalah dalang dari penculikan tersebut." Jeff melipat kedua tangannya di dada. Lalu ia menceritakan apa dibicarakan oleh Haura kepada Arvin.
"Bisa jadi. Kita sendiri sangat tahu orang seperti apa Mahendra itu. Dia sangat licik! Bermain curang saja dalam hal bisnis dia mahir. Apalagi menculik seorang anak kecil hanya untuk kepentingan bisnisnya. Pasti dia sangat bisa melakukannya." Arvin semakin memprovokasi Jeff dalam hal itu.
"Cepat selidiki lebih dalam lagi, Arvin. Kita hanya punya waktu dua minggu untuk menangkap pelakunya," titah Jeff kepada sahabatnya.
"Siap, Tuan Jefferson." Arvin menjawab tak kalah tegas. Ia harus mendapatkan bukti yang jelas untuk menangkap sang pelaku. Bukan hanya karena tugasnya dari sang atasan, tapi Arvin melakukan semua itu juga untuk membalas budi terhadap Haura yang sudah berbaik hati memberikan tempat tinggal kepada Jeni.
Jeff merogoh ponselnya yang berada di saku jas bagian depan. Ia mengirim pesan untuk sang pujaan hati. Jeff sangat merindukan Haura. Padahal baru kemarin ia bertemu dengan Haura, tapi sudah seperti bertahun-tahun Jeff tak bertemu dengannya.
"Baby, kamu sedang apa? Aku sangat merindukanmu." Tulis pesan Jeff yang terdengar lebay (berlebihan).
"Aku juga merindukanmu Jeff."
Kedua mata Jeff berbinar saat mendapatkan balasan pesan dari Haura. Ia sampai mengabaikan Arvin yang sejak tadi menatapnya jengah.
"Pulang dari kantor, aku akan mampir kesana. Kamu mau dibawakan apa?" tulis Jeff lagi.
"Bawakan saja hatimu, Jeff. Aku mencintaimu."
Jantung Jeff seakan meleleh mendapatkan gombalan dari Haura. Ingin rasanya Jeff menari-nari saking senangnya. Namun ia tahan. Tidak mungkin Jeff melakukan hal memalukan di depan Arvin. Ah, ia baru ingat kalau ada Arvin di sana. Sudahlah, Jeff tak ingin menghiraukannya. Ia hanya ingin fokus berbalas pesan dengan Haura.
"Hatiku hanya untukmu, Baby. Apa kamu tidak ingin yang lain?" Jeff membalasnya dengan ambigu. Kali ini Jeff ingin sedikit nakal terhadap Haura.
"Aku menginginkan semua yang ada pada dirimu, Jefferson." Di seberang sana Haura tak kalah bahagianya. Sejak tadi ia senyum-senyum sendiri sambil berguling-guling di atas kasur saat membalas pesan dari Jeff. Ah, rasanya Haura ingin sekali memeluk tubuh kekar Jeff.
Jeff sudah tak sabar ingin menikahi Haura, agar ia bisa setiap hari mengurungnya di dalam kamar. Jeff kembali memainkan jemarinya di benda pipih tersebut.
"Benarkah? Apa kamu juga menginginkan sesuatu yang ada di bawah sana?" Jeff ingin lihat jawaban apa yang akan Haura katakan.
"Aku tidak munafik, Jeff. Tentu saja aku menginginkannya."
Jeff menelan saliva nya kasar. Ia tidak menyangka bahwa Haura akan menjawab seperti itu. Membuat celananya terasa sesak. "Astaga. Sejak kapan dia senakal ini. Bahkan hanya berbalas pesan saja, adik kecilku sudah meronta ingin memasukinya." Gumam Jeff yang masih bisa didengar oleh Arvin.
"Hahahahaaaaaa." Tawa Arvin pecah seketika itu juga. Ia tidak bisa menahannya lagi setelah mendengar gerutuan Jefferson. "Kasihan sekali kau Brother. Pasti senjatamu sudah karatan karena terlalu lama tidak diasah." Kata Arvin di sela-sela tawanya.
Buk!
Jeff menimpuk kepala Arvin menggunakan berkas yang ada di atas meja kerjanya. "Sialan! Cepat kerjakan tugasmu. Jangan menguping pembicaraan Boss. Nanti gajimu bulan ini aku potong." Ancam Jeff yang berhasil membuat Arvin terdiam.
Arvin langsung kembali fokus pada pekerjaannya. Ia tak ingin gajinya dipotong oleh Jeff. Apalagi minggu depan ia akan menikah dengan Jeni. Yang pastinya akan membutuhkan dana yang banyak meskipun hanya mengadakan acara kecil-kecilan.
"Aku jauh lebih menginginkan milikmu, Baby. Apakah nanti boleh?" Tangan Jeff nakal sekali. Bisa-bisanya ia menulis pesan cabul terhadap Haura. Pikirannya sudah terkontaminasi oleh bayangan-bayang percintaan panasnya bersama Haura.
"Dasar mesum!" Wajah Haura memerah saat membaca pesan dari Jeff. Padahal Jeff yang berkata mesum. Tapi, malah dirinya yang merasa malu sendiri.
"Aku pria normal, Baby. Jadi, perkataan ku itu sangatlah wajar bukan? Pria normal yang bertemu dengan cinta sejatinya, maka dia akan bersikap mesum." Jeff terkekeh kecil saat tangannya kembali nakal.
"Terserah kau saja lah, Jeff. Asalkan jangan macam-macam di rumah ini, jika tidak ingin babak belur ditangan Daddy."
"Aku rela babak belur demi kamu, Baby. Love you, Haura." Jeff memang relah terluka demi memperjuangkan cintanya terhadap Haura. Jangankan cuma babak belur. Nyawa pun akan Jeff kasih, jika itu akan membuat Haura bahagia.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan konsetrasi Haura saat membaca balasan pesan dari Jefferson. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas tanpa membalas lagi pesan dari laki-laki yang sangat ia cintai.
Ceklek!
"What happen, Mom?" tanya Haura saat melihat sang Mommy berada di depan pintu kamar.
"Ada Keanu dan Olivia di bawah. Cepat temui mereka." Ujar Zanna.
Wajah Haura yang awalnya memang ceria karena berbalas pesan dengan Jeff, kini bertambah bersinar saat mendapatkan kabar kalau Olivia tengah berkunjung ke rumahnya. "Oky Mom. Aku ganti baju dulu." Haura menutup kembali pintu kamarnya. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya yang hanya menggunakan piyama.
"Kak Olivia!" Teriak Haura saat menuruni anak tangga. Ia sangat senang bisa bertemu lagi dengan Olivia.
"Haura, kamu sudah sehat?" Olivia memeluk Haura dengan lembut. Mereka sudah seperti kakak beradik yang saling menyayangi satu sama lain.
Entah mengapa perasaan Zanna menghangat saat melihat Haura dan Olivia berpelukan. Tiba-tiba ia ingin menangis karena teringat dengan putri pertamanya yang masih belum ditemukan. Jika Flora masih ada pasti usianya sudah seperti Olivia.
Tes!
Satu tetes air mata melunjur bebas di pipi Zanna. Ia sangat terharu melihat adegan itu. Ia jadi membayangkan bahwa Haura tengah berpelukan dengan kakak kandungnya, Flora.
"Mommy kenapa menangis?" tanya Haura yang menyadari bahwa sang Mommy tengah menangis.
"Tidak apa-apa. Mommy hanya teringat dengan kakak kamu." Zanna menghapus air matanya, kemudian ia tersenyum.
"Haura punya Kakak?" ucap Olivia pernuh tanda tanya. Begitu juga Keanu yang menatap Zanna dengan penasaran.
Zanna, Haura, Olivia, dan Keanu duduk di sofa ruang tamu. Mereka menunggu cerita dari Zanna. Entah mengapa Olivia dan Keanu sangat tertarik dengan kisah kakak kandung Haura. Pasalnya mereka tidak tahu kalau Haura memiliki seorang kakak.
Zanna mulai menceritakan kisah masa lalu Flora yang hilang diculik. Namun, Zanna tidak menceritakan soal kecurigaannya terhadap papanya Keanu. Ia takut Keanu akan salah paham terhadapnya.
"Semoga kakak Haura masih hidup, Tante." Olivia menggenggam tangan Tante Zanna dengan lembut. "Tante yang sabar ya." Olivia merasakan sesuatu yang aneh saat menyentuh tangan Tante Zanna. Hatinya menghangat, sama seperti saat dirinya berpegangan tangan dengan Om Rei waktu di atas altar pernikahan.
"Terimakasih, Olivia." Zanna mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Olivia. Hal yang sama ia rasakan. Hatinya juga menghangat. Jantungnya berdebat saat ia bersentuhan dan juga menatap Olivia. Namun, Zanna tidak tahu itu karena apa.
Di tengah-tengah suasana haru yang terjadi diantara Zanna dan Olivia. Tiba-tiba Jefferson datang memasuki kediaman Pradipa sambil membawa satu ikat bunga mawar merah yang dicampur dengan bunga mawar putih. Bunga kesukaan Haura.
"Jeff." Sapa Haura saat melihat sang pujaan hati memasuki rumah. Ia menyambut kedatangan Jeff dengan perasaan senang. Membuat sang mommy geleng-geleng kepalanya melihatnya.
Keanu dan Olivia bertanya-tanya, apakah Jefferson sudah mendapatkan maaf dari kedua orang tua Haura? Hingga sekarang dia bebas memasuki kediaman Pradipa? Ah, sudahlah mereka tidak ingin ikut campur urusan Jefferson dan keluarga Pradipa.
Jeff memberikan bunga yang ada digenggaman tangannya kepada Haura. "Untukmu Baby." Jeff mencium kening Haura sangat dalam. Ia tidak malu sedikitpun terhadap Zanna, Olivia dan juga Keanu.
"Thank you, Jeff." Haura mencium dalam-dalam bunga tersebut guna meresapi nya.
"Sore, Tante." Tak lupa Jeff menyapa calik mertuanya. Namun, ia melupakan kedua tamu yang duduk di hadapannya.
"Sore, Jeff." Zanna sudah kembali bersikap hangat kepada keponakannya itu. Yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.
"Tante, bolehkah aku membawa Haura makan diluar, nanti malam? " tanya Jeff hati-hati. Ia takut Tante Zanna tidak mengizinkannya.
"Boleh. Tapi jangan lupa izin juga sama Om kamu." Zanna tidak ingin Rei marah lagi kalau tahu Jeff membawa Haura tanpa izin meskipun hanya sekedar makan malam diluar.
"Oke Tante." Jeff langsung menyetujui ucapan Zanna. Sebab memang sudah seharusnya Jeff meminta izin kepada Om Rei. Jika tidak, maka kesempatannya yang terakhir akan gagal.
"Kenapa kita tidak makan malam bersama saja?" usul Olivia kepada Jefferson.
"Tidak bisa!" Jeff menjawab dengan cepat. Mana mungkin ia makan malam bersama mantan kekasih jahatnya itu. Ia memang sudah tidak ada rasa sama sekali terhadap Olivia. Hanya saja ia ingin menghargai perasaan Haura yang bisa saja cemburu, walaupun itu tidak akan pernah terjadi. Lebih tepatnya Jeff hanya ingin makan malam berdua saja dengan Haura.
"Baiklah tidak apa-apa. Mungkin lain kali kita bisa makan bersama." Olivia sedikit kecewa karena Jeff menolak ajakannya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.
"Kenapa kamu menolaknya?" bisik Haura tepat di telinga Jeff.
"Enak saja dia mau mengganggu acara makan malam kita. Biarkan saja dia makan bersama suaminya." Bukannya berbisik, Jeff malah sengaja mengeraskan suaranya. Hingga satu cubitan mendarat di pahanya.
"Aw, sakit, Baby." Jeff meringis sambil mengusap bekas cubitan sang kekasih.
Haura memelototi Jeff dengan tajam. Ia benar-benar dibuat jengah dengan tingkah laki-laki yang sangat ia cintai itu. "Maaf ya Kak Olivia. Jefferson memang seperti itu orangnya." Haura merasa tidak enak terhadap Olivia.
"Tidak apa-apa, Haura. Santai saja. Mungkin Jeff ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu, dan mungkin juga ada hal penting yang ingin Jeff bicarakan secara empat mata." Olivia dapat mengerti dengan keinginan Jefferson.
Sedangkan Keanu dan Zanna hanya menjadi pendengar uang baik tanpa mau menyelanya. Sampai Keanu berani angkat bicara, dan mengutarakan maksud dari tujuannya berkunjung kesana.
"Ekhem! Maaf aku menyela sebentar. Aku ingin mengatakan maksud kedatangan kami kesini." Ucap Keanu akhirnya. "Kami ingin mengucapkan terimakasih kepada Haura yang sudah menyatukan cinta kami, dan kami juga minta maaf gara-gara kami Haura mengalami hal sulit. Bahkan keluarga Pradipa dan keluarga Kingston jadi terpecah belah. Sekali lagi maafkan kami." Ucap Keanu dengan tulus.
"Kami bersedia membantu kalian mempersatukan dua keluarga itu." Sambung Olivia sambil menatap Haura, Tante Zanna, dan juga Jeff secara bergantian.
"Kak Olivia dan Keanu tidak usah khawatir. Kalian juga tidak perlu meminta maaf. Kita lupakan semuanya, dan mulailah dari awal. Aku hanya berharap kalian hidup bahagia agar perjuanganku tidak sia-sia." Kata Haura tulus.
"Terimakasih Haura. Tapi, kami sangat serius. Jika kalian butuh bantuan atau apa pun itu, katakan saja kepada kami." Olivia memang ingin membalas kebaikan Haura tapi tidak tahu harus dengan apa.
"Kalau begitu, aku tidak akan segan meminta bantuan kepada Keanu." Jeff tiba-tiba buka suara setelah cukup lama diam saja. Entah apa yang dia pikirkan kenapa bisa berkata seperti itu.
"Tentu saja." Keanu dengan sigapnya menjawab perkataan Jefferson.
"Besok datanglah ke perusahaanku. Ada hal penting yang ingin aku bahas secara pribadi denganmu." Sorot mata Jeff begitu tajam saat menatap Keanu. Perkataannya membuat semua orang yang ada di sana merasa penasaran. Namun, tak ada yang berani bertanya.
"Oke." Keanu menatap Jeff tak kalah seriusnya. Walaupun dalam hati ia juga sangat penasaran apa yang akan Jeff bahas dengannya besok.
"Hm, Haura. Sebenarnya aku juga mau pamit sama kamu." Olivia menatap Haura yang juga menatapnya.
"Memangnya Kak Olivia mau kemana?" tanya Haura sambil mengerutkan keningnya.
"Aku mau ke kota A." Entah kenapa Olivia merasa berat saat mengatakannya.
"Kakak ingin menemui Marvin?" Haura seperti tidak rela jika Olivia pergi ke kota A, dan pergi meninggalkannya.
"Iya. Lebih tepatnya aku akan tinggal di sana bersama Marvin," lirih Olivia dengan kedua mata yang menganak sungai. Sungguh hatinya terasa perih saat lagi-lagi mengatakan rencananya.
"Jadi, Kakak tidak akan kembali ke kota ini lagi? Padahal aku merasa nyaman saat bersama Kak Olivia. Aku seperti menemukan sosok Kakak pada diri Kakak." Haura yang tidak tahan langsung meneteskan air matanya.
"Kamu boleh berkunjung ke sana. Pasti Marvin akan senang bisa mempunyai Aunty seperti kamu." Olivia berusaha menghibur Haura yang berhasil membuatnya ikutan menangis.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan sering-sering mengunjungi Kakak kesana." Haura menggenggam tangan Olivia dengan erat.
"Bolehkah Tante ikut berkunjung ke sana?" sela Zanna yang juga merasa berat ditinggalkan Olivia. Entah mengapa hatinya seolah tak rela jika Olivia pergi jauh. Padahal Zanna baru mengenal Olivia.
"Tentu saja boleh Tante. Aku akan sangat senang jika kalian semua berkunjung ke sana." Olivia berkata sambil tersenyum.
Mendadak ruangan itu menjadi suasana haru yang diciptakan oleh ketiga wanita cantik tersebut. Jeff dan Keanu ikutan terharu, tapi sama-sama gengsi ingin meneteskan air mata. Bisa runtuh harga dirinya sebagai laki-laki gagah perkasa.