Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 4.



1 minggu telah berlalu ...


Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Haura. Hari dimana ia akan menyandang gelar sarjana. Namun, yang paling dia tunggu bukanlah itu melainkan seorang laki-laki tampan yang sejak lama ia dambakan.


Matanya berbinar kala netranya menangkap sosok laki-laki tampan, tubuh tegap, badan kekar, rahang tegas, bibir sensual, alis tebal, tengah berjalan kearahnya. Haura mengembangkan senyuman indah di bibirnya.


"Kak Jeff!" Seru Haura begitu girangnya.


"Hai baby girl. Happy graduation." Jeff memberikan satu buket uang yang jumlahnya begitu fantastis.


"Terimakasih, Kak. Akan aku simpan hadiah dari kakak."


Jeff tersenyum menatap Haura, ia merangkul pinggang sang adik begitu mesra membuat Haura ketar-ketir. Jeff tidak menyadari bahwa dirinya dan Haura menjadi tatapan semua orang yang ada di sana termasuk mommy dan daddy-nya Haura.


Jeff memerintahkan seorang fotografer untuk memfoto dirinya dan Haura. Ia ingin memberikan kenangan yang indah untuk Haura. Jeff yakin kalau Haura sangat senang mendapatkan perlakuan manis darinya.


Haura menegang, ia benar-benar dibuat Spechlees oleh Jeff. Bahkan detak jantungnya sampai terdengar di telinga Jeff. Membuat Jeff tersenyum samar.


Rei dan Zanna menemui putri dan keponakan mereka setelah selesai berfoto. Mereka melihat aura kebahagiaan terpancar di wajah Haura ketika bersama Jeff. Rei menatap tak suka kepada keponakannya itu yang terbilang lancang memeluk pinggang Haura.


Rei sangat tahu laki-laki macam apa Jeff itu. Kedua orang tua Jeff mungkin bisa dibodohi oleh putranya yang ternyata seorang bastard. Namun, tidak dengan Rei. Sejak mengetahui perasaan putrinya terhadap Jeff, Rei diam-diam menyelidiki kehidupan Jeff setiap harinya. Hingga ia menemukan fakta bahwa Jeff bukanlah pria baik-baik.


Rei juga mengetahui pergaulan Jeff yang begitu bebas di kota kelahirannya. Hingga ia menjadi tidak rela memberikan putri satu-satunya kepada pria seperti Jeff. Namun, Rei tidak berani mengungkap kebusukan Jeff kepada Haura. Biarlah Haura mengetahui fakta itu dengan sendirinya.


"Jeff!" Panggil Zanna yang membuat Jeff dengan cepat melepaskan pelukannya.


"Tante, Om." Jeff sedikit membungkukkan badannya di depan om dan tantenya sebagai tanda hormat.


Tidak banyak perbincangan diantara mereka, sebab ada rasa canggung di dalam diri masing-masing saat akan memulai obrolan. Meskipun Jeff adalah anak dari kakak sendiri, Zanna tidak terlalu dekat dengannya. Mungkin karena Jeff besar di kota A.


"Mom, Dad, aku pulangnya ikut Kak Jeff saja, ya," ucap Haura senang.


"Tid--" ucapan Rei terpotong gara-gara sang istri yang langsung menyela nya.


"Tentu saja, Sayang. Kalau begitu mommy dan daddy pulang duluan," ujar Zanna dengan cepat. Sebelum suaminya berkata tidak boleh Zanna lebih cepat mengizinkannya. Ia tahu apa yang diinginkan oleh Haura, dan ia juga tahu apa yang diinginkan oleh suaminya.


Zanna masih belum tahu sifat asli dari keponakannya itu, jadi ia tetap mendukung Haura bersama Jeff. Zanna menarik tangan Ri agar keluar dari dalam tempat pemotretan. Lalu membawanya memasuki mobil agar cepat pulang ke rumah.


"Kamu apa-apaan sih, Sayang. Kita tidak boleh membiarkan Haura pulang bersama Jeff," tegas Rei yang tidak dihiraukan oleh Zanna.


"Kamu ini kenapa sih, Mas? Kenapa kamu tidak menyukai keponakan kita? Salah dia apa? Jefferson itu pria baik-baik, jadi tidak masalah bukan jika dia menjalin kasih dengan putri kita?" sentak Zanna kesal.


"Sayang, bukan begitu maksud aku. Ada hal yang belum kamu ketahui tentang Jeff. Aku melarang Haura untuk berdekatan dengan Jeff itu bukan tanpa alasan," ujar Rei dengan tatapan sendu.


"Memangnya apa yang tidak aku ketahui, Mas?" tanya Haura penuh selidik.


"Huf! Sudahlah suatu saat kamu akan tahu dengan sendirinya, Sayang." Rei tetap memilih bungkam. Ia takut menimbulkan masalah jika mengadukan kelakuan Jeff selama ini kepada istrinya. Apalagi kedua orang tua Jeff belum tahu mengenai hal itu.


Hari ini Haura berencana akan mengungkapkan perasaannya kepada Jeff. Ia sudah tidak tahan dengan rasa cintanya yang begitu menggebu. Haura ingin menjadi milik Jeff seutuhnya.


"Em, Kak!" Panggil Haura ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"What happen, baby girl?" Jeff masih memfokuskan tatapannya ke arah jalanan dengan keadaan menyetir.


"Katakan saja, baby girl."


"Janji Kak Jeff tidak akan marah setelah aku mengatakan semuanya," pinta Haura sendu. Sebenarnya Haura sangat gugup hanya saja dia menahannya agar tidak terus terbebani dengan rasa cinta yang tiada hentinya menggerogoti hatinya.


"Kenapa aku harus marah?" tanya Jeff mengerutkan keningnya.


"Kak Jeff janji saja kalau tidak akan marah." Haura menjulurkan jari kelingkingnya ke hadapan Jeff sebagai tanda perjanjian.


Jeff tersenyum geli melihat tingkah Haura yang begitu kekanak-kanakan di matanya. Namun, Jeff tetap menyambut uluran tangan dari Haura. Ia menautkan jadi kelingkingnya dengan jari kelingking milik Haura.


Haura menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia menatap Jefferson dengan tatapan yang begitu dalam.


"Kak! I love you," ungkap Haura dengan singkat dan jelas.


Ckiiiiiit!


Jeff menghentikan mobilnya secara mendadak. Ia sangat terkejut dengan apa yang Haura ucapkan.


"What?" pekik Jeff terkejut.


"I really love you, Jefferson Kingston." Haura kembali menekankan ucapannya.


Jeff terbelalak kaget, ia tidak menyangka bahwa Haura akan seberani itu. Sosok wanita yang terkenal pemalu, saat ini dengan beraninya mengungkapkan isi hatinya terhadap Jeff.


"No! Haura! This is wrong!"


"Love is not a mistake. Aku tulus mencintaimu, Jeff. Rasa cinta seorang perempuan terhadap laki-laki bukan cinta antara kakak dan adik."


"But, i can't! There is no love in this world, Haura!"


"Why? Cinta itu ada, Jeff. Cinta itu nyata."


"No! I don't believe in love. Kau hanya akan merasakan sakit jika berhubungan denganku, Haura."


"I will be happy with you, Jeff." Haura tetap bersikukuh dengan keputusannya. Haura memang keras kepala, ia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Huf! Dengar! Aku akan menyayangimu tanpa harus menjalin kasih denganmu, Haura. promise!"


"Jeff, izinkan aku memiliki mu seutuhnya," ucap Haura memohon. Baru kali ini ia merendahkan harga dirinya di depan laki-laki hanya karena sebuah cinta.


Tanpa menunggu jawaban dari Jeff, Haura melepaskan set belt yang melingkar di tubuhnya. Lalu dengan cepat menarik tengkuk Jeff dan melabuhkan ciuman di sana.


Jeff terhenyak dengan tindakan Haura yang begitu mendominasi. Jeff dibuat membeku karenanya. Jeff yakin kalau ciuman itu adalah yang pertama bagi Haura. Sebab Haura hanya menempelkan bibirnya saja tanpa ******* bibir Jeff.


Jeff yang tak bisa berpikir jernih, ia malah membalas ciuman Haura dengan sebuah ******n. Kali ini Haura yang dibuat terkejut oleh Jeff. Haura tidak menyangka bahwa Jeff akan menyambut dan membalas ciumannya. Hati Haura berbunga-bunga mendapatkan ciuman dari Jeff meskipun dirinya tidak tahu cara berciuman yang benar.


Jeff terus *******, menyes*p, bahkan mengabsen setiap inci di dalam mul*t Haura. Hingga membuat Haura meleng*h dan mendes*h di sela-sela ciumannya.


Eungh! Aahh!