
Jeff keluar dari rumah sakit dalam keadaan marah. Wajahnya terlihat sangat menyeramkan, kedua bola mata yang merah menyala, tangan terkepal kuat, rahang mengeras, dan langkahnya sangat cepat. Membuat siapa saja yang berpapasan dengannya berasa ingin kencing di celana.
Jeff mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tujuannya adalah kediaman Pradipa. Ia harus bertemu dengan Haura, dan meminta penjelasan darinya mengenai kebohongan itu. Jeff tidak terima Haura melupakan dirinya dengan sengaja bukan karena amnesia. Enak saja ingin melupakan dirinya setelah Haura berhasil memporak-porandakan hati dan jiwanya.
Jeff jadi berpikir, mungkinkah Haura hamil anaknya? Jika sampai itu benar, maka Jeff tidak akan membiarkan Haura menikah dengan Keanu. Jeff akan melakukan apapun agar Haura menjadi miliknya. Meskipun harus melawan Om Rei yang jelas-jelas akan menentang keputusannya nanti. Kalau perlu Jeff akan menculik Haura, lalu membawanya pergi jauh agar tidak ada satu orang pun yang menemukan keberadaan mereka.
Dada Jeff bergemuruh saat menginjakkan kaki dikediaman Pradipa. Ia mencoba untuk meredahkan amarahnya di depan keluarga Pradipa. Jeff mengangkat tangannya ke arah bell yang terdapat di dekat pintu rumah itu lalu menekannya. Hingga Jeff menunggu sedikit lama.
Jeff menekan kembali tombol bell rumah karena tidak ada tanda-tanda pintu tersebut akan terbuka. Jeff mendadak kesal dan tidak sabar. Ingin rasanya ia menerobos masuk ke dalam, mencari Haura lalu meminta penjelasan darinya. Namun, Jeff harus tahu sopan-santun saat bertamu ke rumah calon mertuanya. Ya, kali ini Jeff yang berspekulasi bahwa dirinya akan menjadi menantu di keluarga Pradipa.
Pantas saja tidak ada yang membukakan pintu rumah untuk Jefferson. Sebab hari ini para maids di rumah itu mendadak di liburkan oleh Zanna. Ia ingin meng-handle semua pekerjaan rumah untuk dua hari kedepan. Entah apa alasannya hanya Zanna yang tahu.
Zanna dan Rei tengah berolahraga siang di dalam kamarnya. Mereka tidak mendengar suara bell rumah yang berbunyi berkali-kali. Dunia seolah milik mereka berdua, bahkan angin pun tak berani menggerakkan gorden di kamar bernuansa abu-abu itu karena takut mengganggu dua sejoli yang tengah dimabuk cinta.
Dinginnya AC tak mampu mendinginkan tubuh keduanya yang telah mengkilap akan keringat dari hasil percintaan mereka. Desah*n dan erang*n memenuhi kamar itu, berpadu dengan suara lato-lato yang tengah bermain di bawah sana.
Aahh! Aahh!
Ough! Yeah!
Rei mengangkat tubuh sang istri hingga berada di atas pangkuannya. Tangannya memegang memegang pinggang Zanna untuk membantunya bergerak di atas sana. Rei meng*ng* kala Zanna menggerakkan pinggulnya dengan liat. Merasa tak tahan Rei melah*p salah satu buah kenyal milik sang istri yang berada tepat di depan wajahnya.
Zanna menjer*t saat lid*h Rei memainkan pit***nya. Menj***nya layaknya iklan oreo. Zanna dibuat melayang oleh sentuhan Rei yang begitu memabukkan jiwa. Zanna merem*s rambut Rei dengan kuat lalu menekannya untuk memperdalam his**** itu.
Aahh ... Rei ....
Zanna terus memanggil nama Rei saat ia merasakan tubuhnya seperti disengat listrik. Mendengar suara desah*n Zanna yang begitu seksi di telinganya. Rei semakin bersemangat dalam aksinya. Hingga Zanna benar-benar tidak tahan, dan akhirnya menarik tubuh Rei agar berada di atasnya. Zanna tidak sabar ingin mengeluarkan sesuatu yang mendesak di bawah sana.
Rei memacu dirinya dengan kecepatan tinggi, membuat tubuh Zanna tergoncang ke atas dan ke bawah. Kedua tangan Zanna mencengkam sprei dengan kuat sebagai ungkapan betapa nik**nya permainan itu. Hingga tubuh keduanya menegang bersamaan dengan sesuatu yang banjir di bawah sana.
Aahh! Aahh!
Akhirnya mereka telah mencapai pada puncak permainan tersebut. Tubuh Rei ambruk di atas tubuh sang istri. Kulit mereka tampak licik akibat dari peluh permainan itu. Mereka masih tidak menyadari jika ada Jefferson yang akan bertamu ke sana, dan tengah menunggu sang tuan rumah di depan pintu rumah.
Sedangkan Haura yang menjalani masa bed rest hanya berbaring di atas ranjang yang berukuran king size. Ia tidak bisa memejamkan mata karena terganggu dengan suara bell rumah yang sejak tadi terus berbunyi. Haura merasa kesal, kenapa tidak ada satu orang pun yang membukakan pintu untuk sang tamu. Kemana mommy dan daddy-nya? Apakah mereka istirahat? Haura jadi bertanya-tanya.
Haura terpaksa harus turun dari atas ranjang untuk membukakan pintu rumah. Ia jadi penasaran dengan tamu tersebut yang sepertinya tidak sabar ingin segera memasuki rumahnya. Haura turun menggunakan lift, ia masih dilarang naik-turun tangga karena takut berdampak buruk bagi kesehatan janinnya jika Haura sampai kelelahan.
Ceklek!
Haura membuka pintu rumah dengan pelan. Tubuhnya seolah membeku kala melihat tamu siapa yang datang. Orang yang sangat ia hindari, dan tak ingin ia lihat. "Mau apa kemari?" tanya Haura to the point dengan ekspresi dinginnya. Ia tidak ingin bersikap hangat lagi terhadap Jeff yang jelas-jelas sudah melukainya begitu dalam.
"Ada yang perlu kita bahas." Jeff menjawab tak kalah dinginnya. Ia masih kecewa dengan keterangan dokter Dimas yang di berikan kepadanya mengenai kesehatan Haura. Ia kecewa karena Haura berani membohonginya.
"Apakah sangat penting hingga kamu berani datang ke rumah ku?" Haura sangat muak dengan keadaan ini. Kenapa takdir selalu mempertemukan dia dengan Jefferson.
"Lebih dari kata penting itu sendiri." Desis Jeff tepat di depan wajah Haura yang hampir tidak ada jarak diantara keduanya, sebab Jeff semakin mendekatkan diri kepada Haura.
Haura reflek memundurkan wajahnya supaya hidung Jeff yang sangat mancung tidak menabrak hidungnya. "Cepat katakan, aku capek maj istirahat," ucap Haura malas. Bahkan ia tidak menyuruh Jeff masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kamu berbohong tentang amnesia yang kamu alami?" tanya Jeff to the point. Ia tidak mau bertele-tele.
Haura membulatkan kedua mata sempurna. Ia tidak tahu apa maksud dari perkataan Jefferson yang terdengar ambigu. Haura sangat gugup, ia takut Jeff sudah mengetahui kebohongannya. Namun, Haura tetap berusaha setenang mungkin agar Jeff tidak curiga.
"Maksud kamu apa?" Haura berkata dengan ketus. Ia tidak lagi memanggil Jeff dengan sebutan kakak. Sebab Haura masih sangat membencinya karena hampir membuatnya kehilangan sang calon buah hati.
"Jangan berpura-pura bod*h Haura. Aku sudah tahu semuanya! Tentang kebohongan kamu mengenai amnesia yang kamu alami. Kenapa kamu tega melakukan itu terhadap aku dan juga kedua orang tuaku, huh?" Jeff mengungkapkan semuanya dengan kedua mata yang menganak sungai.
Jleb!
Jantung Haura bagaikan di tusuk ribuan panah. Ia tidak menyangka bahwa Jeff sudah mengetahui kebenaran itu. Apa yang harus Haura lakukan. Mengelak pun tidak bisa.
"Jawab Haura!" Teriak Jeff tanpa sadar membuat air mata Haura menetes seketika. Sebab baru kali ini ada yang membentaknya dengan suara lantang.
"Haura!"
*****
Haura segera menghapus air matanya agar tidak ketahuan oleh sang daddy jika dirinya menangis. Sebenarnya Jeff tidak terlalu membentak Haura, hanya saja karena suasana di sana sangat sepi, jadi suaranya terdengar begitu lantang. Membuat Haura terkejut dan menangis seketika.
"Mau apa kamu kemari, huh! Masih punya muka menginjakkan kaki dirumah ini! Tidak tahu malu! Menjijikkan!" Hardik Rei dengan amarah yang membuncah. Ia tidak akan pernah memaafkan Jeff yang jelas-jelas sudah melecehkan putri tercintanya.
"Aku ada perlu sama Haura, Om." Jeff berkata dengan jujur. Ia tidak akan berbohong supaya cepat mendapatkan penjelasan dari Haura.
"Tidak boleh! Lebih baik kamu pulang. Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" Rei menentang keras keinginan Jefferson. Ia tidak segan-segan untuk mengusirnya.
"Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan penjelasan dari Haura, Om." Jeff sama sekali tidak menyerah dengan keinginannya.
Rei sudah siap melayangkan bogeman mentah ke wajah laki-laki yang sangat brengs*k menurutnya. Namun, ditahan oleh Haura. "Dad, biarkan aku berbicara dengannya," ucap Haura dengan lembut.
"Tap--"
"Hanya sebentar Dad. Setelah itu aku janji tidak akan bertemu lagi dengannya." Haura menatap sang daddy dengan tatapan memohon.
"Huf! Baiklah." Akhirnya Rei mengalah dan membiarkan Haura berbicara empat mata dengan Jeff.
"Kita bicara di taman belakang." Haura berjalan mendahului Jeff lalu menuju ke taman belakang.
Jeff menatap Haura yang kini duduk di sampingnya dengan tatapan lurus kedepan. Mereka tengah duduk di kursi taman belakang rumah. "Jelaskan!" Ucap Jeff lembut tapi penuh penekanan. Ia tidak akan mengulang kembali apa maksud dan tujuannya ke sana.
Haura menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab serta menjelaskan semua kebohongannya. "Aku hanya mengabulkan keinginan mu." Ujar Haura dengan posisi yang sama.
Jeff merasa tak mengerti dengan ucapan Haura itu. "Maksud kamu apa?"
"Bukankah kamu tidak mencintai ku, dan hanya mencintai Olivia?"
Jeff terhenyak saat mendengar ucapan Haura. "Darimana kamu tahu tentang Olivia?" tanya Jeff. Ia terlihat gugup saat mendengar nama Olivia terucap dari bibir Haura.
"Darimana aku tahu itu tidak penting. Yang jelas semua keinginan kamu sudah terwujud. Jadi, tidak ada lagi yang perlu kita bahas." Haura hendak pergi dari sana, tapi di tahan oleh Jeff.
"Penjelasan macam apa itu? Jelaskan dengan benar, Haura. Jika hanya itu alasan kamu pura-pura amnesia sangatlah tidak masuk akal." Jeff merasa tidak puas dengan Jawab Haura yang begitu singkat.
"Jika aku menjelaskan semuanya apakah kamu akan berhenti mengganggu ku?" Haura menatap Jeff dengan penuh harap.
Cukup lama Jeff berpikir sebelum akhirnya menyetujui ucapan Haura. "Baiklah aku tidak akan menganggu mu lagi asalkan jelaskan semuanya dengan benar." Tegas Jeff penuh penekanan. "Tapi tidak dengan hatiku, Haura. Maafkan aku jika aku menjadi laki-laki pembohong setelah ini. Aku terpaksa menyetujui permintaan mu yang tak sejalan dengan pikiran ku." Batin Jeff berkhianat.
Haura kembali pada posisinya. Tidak ada alasan lagi bagi Haura untuk berbohong. Mungkin jujur lebih baik agar Jeff tidak lagi mengganggunya. Sebenarnya Haura sangat berat melepaskan cinta pertamanya. Namun, mau bagaimana lagi, sejak awal memang dirinya yang salah karena terlalu memaksakan perasaannya terhadap Jeff.
"Pertama-tama aku mau mengucapkan terimakasih karena kamu sudah mengizinkan aku untuk mencintai kamu walaupun hanya cinta sepihak. Terimakasih sudah memberikan ragamu untukku walaupun di hatimu hanya ada nama wanita lain. Terimakasih sudah memberikan harapan yang tak akan pernah terwujudkan. Terimakasih sudah menjadi cinta pertama untukku. Terimakasih juga sudah ...." Haura menggantung ucapannya karena sadar apa yang akan ia katakan bisa menggagalkan pernikahannya dengan Keanu.
Jeff dengan setia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Haura. Hatinya begitu teriris, ingin rasanya Jeff menyela ucapan Haura. Namun, ia harus menahannya untuk mendengarkan sebuah kebenaran dari Haura secara langsung.
"Kamu sangat tahu seperti apa perasaan aku sama kamu. Aku sangat mencintai kamu, Jefferson. Bahkan aku rela memberikan sesuatu yang paling berharga dalam diriku hanya untuk kamu. Aku sangat bahagia bisa melakukannya denganmu, aku juga berharap kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintai kamu. Tapi ... Setelah itu kamu mematahkan impianku dengan sebuah ancaman yang begitu menusuk relung hatiku." Haura menjeda ucapannya ketika air mata membasahi kedua pipinya.
"Aku mencoba untuk bersabar dan menerima keputusan kamu yang meminta ku supaya tutup mulut tentang apa yang telah kita lakukan. Aku akui memang aku yang salah. Hingga aku berusaha kuat walaupun hatiku begitu hancur. Aku mencoba untuk meluluhkan hati kamu dengan cara patuh dengan setiap ucapanmu, dan perintahmu. Namun, sebuah fakta membuatku tak berdaya. Untuk sekedar bernafas pun rasanya begitu sesak." Haura memegang dadanya yang kembali sesak saat mengingat semua ucapan Jeff.
"Aku mendengar dengan jelas saat kamu mengatakan akan menukar aku dengan Olivia kepada Keanu. Tidak ada yang lebih sakit dari semua itu, Jeff. Aku memang murahan, sudah berlaku seperti jal*ng di depan kamu. Tapi, tidak seharusnya kamu memperlakukan ku layaknya barang ataupun sampah yang seenaknya kamu buang. Cukup katakan 'menjauhlah dari hidupmu' maka aku akan menjauh, Jeff." Air mata Haura semakin deras berjatuhan ke atas pangkuannya.
"Aku marah saat mengalami kecelakaan, tapi nyawaku masih terselamatkan. Padahal aku sangat berharap tidak bisa membuka mataku agar tak lagi mengingatmu. Hingga terlintas sebuah ide untuk melupakan kamu dengan cara pura-pura amnesia. Aku ... Aku ...." Ucapan Haura terpotong karena tangisannya mendadak pecah saat itu juga.
Hatinya begitu hancur. Haura tak dapat menahan lagi air mata yang telah lama ia tahan. Jeff memeluk tubuh Haura dengan erat. Tak terasa air matanya pun menetes, membasahi puncak kepala Haura yang berada dalam dekapannya.
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
Haura tergugu dalam tangisannya. Ia lelah harus berpura-pura melupakan Jeff serta cintanya yang begitu besar.
"Maafkan aku, Haura. Maaf! Aku benar-benar menyesal." Jeff semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya semakin teriris saat mendengar tangis pilu Haura. Ia tidak menyangka bahwa Haura sangat tertekan selama ini. Jeff begitu egois membiarkan Haura merasakan sakit seorang diri. Jeff benar-benar brengs*k sudah lari dari tanggung jawab hanya demi cinta masa lalunya. Kini ia benar-benar menyesal sudah menyakiti Haura.
Haura melepaskan diri dari pelukan Jeff lalu menatap manik mata yang selalu ia damba. "Aku sudah menjelaskan semuanya. Tidak ada sedikitpun kebohongan yang aku lontarkan. Jadi, aku mohon jangan pernah ganggu aku lagi. Biarkan aku menghapus rasa cinta ini, Jefferson Kingston."
Deg.
Jantung Jeff seolah akan berhenti berdetak kala mendengar ucapan serius yang terlontar dari mulut Haura. Bagaimana mungkin dirinya menjauh dari kehidupan Haura di saat hatinya sudah memilih wanita tersebut.