
Zanna menangis di balik tembok yang terhubung ke taman. Ia tidak sengaja mendengar percakapan Haura dan Jeff. Ia tidak menyangka bahwa putri tercintanya akan mengalami hal serumit itu. Zanna merasa gagal menjadi orang tua yang baik karena tidak bisa melindungi putrinya. Ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangan agar tangisannya tak terdengar oleh Haura dan Jeff.
Setelah keluar dari dalam kamar, Zanna sempat mencari Haura di kamarnya. Namun tidak ada. Ia turun ke lantai bawah untuk mencari keberadaan sang putri. Bukan Haura yang dia dapatkan, tapi sang suami yang terlihat kesal. Zanna menanyakan keberadaan Haura kepada sang suami, setelah mendapatkan jawaban Zanna mencari keberadaan sang putri.
Zanna tidak berniat untuk menguping pembicaraan Haura dan Jeff. Ia hanya ingin memastikan keadaan Haura baik-baik saja. Karena Zanna takut Jeff berbuat hal buruk lagi. Akan tetapi, fakta yang ia dengar jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat melihat Haura terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Yang setiap lukanya bisa disembuhkan dengan penanganan dokter. Tapi jika luka batin yang Haura rasakan maka akan sangat sulit untuk menyembuhkannya.
Pasti Haura sangat hancur. Zanna benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia kecewa terhadap Jefferson yang sudah berani menodai adik sepupunya sendiri. "Jefferon, bastard." Hardik Zanna dalam hati. Terlanjur basah lebih baik mencebur saja. Rasanya tanggung jika hanya mendengar setengah-setengah. Zanna ingin mendengar semuanya secara tuntas.
"Haura, forgive me please." Jeff menggenggam tangan Haura dan terus mengucapkan kata maaf. Ia sangat menyesal dengan kelakuan bej*d yang sudah membuat Haura hancur.
"Aku sudah memaafkan mu, jadi pulanglah dan tepati janjimu." Haura berkata sangat dingin. Ia berdiri hendak pergi dari sana. Namun tiba-tiba ....
Bruk!
Jeff berlutut di depan Haura sambil menundukkan kepala. "Maafkan aku Haura. Tolong berikan aku kesempatan satu kali lagi untuk menebus kesalahanku dengan cara membahagiakanmu." Jeff berkata dengan suara parau. Ia berharap Haura mau kembali bersamanya.
"Aku sudah memaafkan mu. Tapi ... Jika untuk hidup bersamamu, maaf aku tidak bisa. Perlu kamu ingat! Jangan lupakan status kita adalah kakak beradik, dan gak lebih dari itu. Setelah kecelakaan aku benar-benar ingin menganggap mu sebagai kakak. Namun, saat kamu memasuki kamarku dengan cara menyelinap waktu di hotel, dan melecehkan aku hingga berhasil membuatku seperti wanita jal*ng. Aku tidak lagi ingin menjadi adikmu. Anggap saja kita adalah orang asing yang tak saling mengenal."
"Tidak Haura. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kamu." Jeff menentang keputusan Haura yang terlalu berlebihan menurutnya.
"Bisa! Pasti bisa! Lupakanlah seperti kamu melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita." Haura berjalan melewati Jeff yang masih berlutut di atas rumput taman itu.
"Apa anak yang kamu kandung adalah anakku?" ucap Jeff dengan suara sedikit lantang yang sukses membuat langkah Haura terhenti. Jeff berdiri lalu menatap Haura dari arah belakang.
Cukup lama Haura terdiam hingga akhirnya ia menjawab pertanyaan Jeff. "Bukan! Dia anak Keanu." Haura berkata tegas seolah tak ada keraguan saat melontarkan ucapannya.
Jeff kecewa, semuanya tidak sesuai dengan harapan. Ia sangat berharap Haura hamil anaknya. Dengan begitu Jeff tidak akan kehilangan Haura lagi. "Jangan bohong Haura. Aku adalah orang pertama yang melakukan itu sama kamu. Aku yakin bayi itu adalah anakku." Jeff tidak mau kalah, ia terus saja memaksakan kehendaknya.
Haura membalikkan badan menatap Jeff dengan tajam. "Dengar! Kamu memang orang pertama yang merenggut kesucian ku. Tapi, bukan berarti kamu adalah ayah dari anak yang aku kandung. Aku tidak bodoh Jefferson. Mana mungkin aku membiarkan diriku hamil dari laki-laki tak bertanggungjawab seperti kamu," pungkas Haura dengan dada bergemuruh.
"Aku tidak perduli dia anak siapa, asal kamu mau menikah denganku, aku akan menerima anak itu dengan senang hati, Haura."
"Heh!" Haura tersenyum sinis. Ia tidak menyangka Jeff bisa berkata demikian. "Kamu pikir aku wanita apaan! Dengar ya Jefferson Kingston. Jangan sampai membuat pernikahan ku dengan Keanu hancur. Kejarlah cinta pertama mu itu, jangan pernah melirik wanita seperti ku yang tidak ada harganya di matamu." Kesabaran Haura benar-benar habis.
Mood ibu hamil yang satu ini sedang kacau. Jadi jangan coba-coba menyinggung perasaannya jika tidak ingin mendapatkan amarah darinya. Salah bicara sedikit saja maka akan berakibat fatal. Jeff semakin kalang kabut saat Haura kembali marah. Ia takut Haura menarik kembali permintaan maaf darinya.
"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Olivia. Dia hanya masa lalu bagiku, Haura. Sekarang wanita yang aku cintai hanya kamu." Jeff menatap Haura sangat dalam.
"Cinta? Bukankah kamu tidak percaya dengan yang namanya cinta? Kenapa sekarang kamu gampang sekali mengucapkan kata cinta? Apa semua itu hanya bualan semata, huh?" Lagi-lagi Haura tidak mempercayai ucapan Jeff.
Jeff tidak tahu lahi harus mengungkapkan rasa cintanya dengan apa. Haura susah sekali untuk percaya hingga membuatnya benar-benar pusing. Jeff sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya yang tak terpuji. Dulu Haura yang mengejar cintanya. Sekarang Jeff harus bersusah payah mengejar cinta Haura yang sebentar lagi akan menjadi istri dari seorang Keanu Mahendra.
"Itu karena--"
"Sudahlah Kakak Jefferson Kingston. Jangan bahas masalah ini lagi. Anggap saja kita tidak pernah bertemu, dan lupakan masa lalu. Kembali ke poin awal seperti ucapan Kakak. JANGAN SAMPAI KEDUA ORANG KITA TAHU TENTANG HAL INI. JIKA SAMPAI ITU TERJADI MAKA AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN MU." Ucap Haura penuh penekanan.
Jleb!
Ucapan Haura tembus ke jantung Jefferson. Ia seolah tertampar dengan ucapan Haura yang pernah ia ucapkan dulu. Jeff tidak menyangka bahwa karma akan secepat ini. Ia sudah menuai apa yang ditanam. Haura membencinya. Haura mengancamnya, dan Haura tidak mau memberikan kesempatan untuknya. Jeff hanya diam, ia tidak bisa berkata apapun saat ini.
"Ingat Kak. Kita ini hanya saudara sepupu. Tidak lebih!" Desis Haura tepat di hadapan Jeff. Hembusan nafasnya terasa begitu hangat menerpa wajah tampan kakak sepupunya tersenyum. Jeff memejamkan mata untuk meresapi nafas hangat milik Haura yang mampu menenangkan jiwanya.
Haura pergi meninggalkan Jeff seorang diri di taman belakang. Zanna yang melihat Haura akan melewati tempat ia berada dengan cepat ia bersembunyi di balik dinding paling ujung dari dinding penghubung, hingga Haura tidak bisa melihat keberadaannya.
Haura menaiki lift yang terhubung ke kamarnya. Ia tidak menghiraukan tatapan sang daddy yang seolah mengintimidasinya. Haura ingin segera sampai ke dalam kamar. Setelah sampai di dalam kamarnya. Tangisan Haura pecah seketika itu juga. Air mata yang ia tahan sejak pergi dari taman kini telah membasahi kedua pipi mulusnya.
Haura menangis sejadi-jadinya, dadanya terasa begitu sesak. Jika boleh jujur ia tidak ingin melupakan Jeff, dan ingin hidup bersamanya. Namun, rasa kecewa lebih mendominasi yang akhirnya membuat Haura mengambil keputusan berat itu.
Haura tidak munafik, ia hatinya begitu senang saat mendengar kata cinta dari Jefferson. Tapi, ia takut terluka untuk yang kedua kalinya. Apalagi ada janin yang harus ia jaga agar tumbuh kembangnya sempurna. Semoga saja keputusan yang Haura ambil adalah jalan terbaik untuk masa depannya.
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
"Maafkan aku, Jeff. Maaf. Rasanya begitu sakit di sini." Haura memegang dadanya yang terasa sesak bagaikan dihimpit ribuan batu.