
"Mas, bagaimana keadaan Haura?" tanya Olivia saat bersama Keanu yang tengah mengunjunginya.
"Keadaannya sudah membaik. Dia ingin bertemu dengan kamu dan berbicara empat mata. Apa kamu setuju?" Keanu menatap wanita yang sangat ia cintai.
"Boleh saja. Aku juga ada perlu sama dia. Lebih tepatnya banyak yang harus kita bahas."
"Baiklah nanti aku akan mengatakannya kepada Haura. Dia wanita baik, jadi jangan cemburu sama dia, Sayang." Keanu memeluk Olivia dari arah belakang. Ia mengecup singkat tengkuk Olivia.
"Gak mungkin aku cemburu sama wanita sebaik Haura yang dengan suka rela ingin menyatukan cinta kita, ya meskipun dengan cara seperti itu," ucap Olivia dengan hembusan nafas berat. Ia tidak terlalu yakin rencana Haura akan berjalan dengan lancar. Namun, itu adalah salah satu cara agar dirinya bisa memiliki ikatan yang pasti bersama Keanu.
Keanu membalik tubuh Olivia agar menatapnya. "Sayang, aku pun melakukan itu demi kebaikan kita serta untuk masa depan anakk kita, Marvel." Keanu mengusap wajah cantik sang kekasih.
"Aku sudah merindukan Marvel, Mas. Kapan kita menjenguknya? Dia pasti sangat kesepian di sana," tutur Olivia dengan wajah sendu.
"Aku juga merindukan Marvel, Sayang. Tapi mau bagaimana lagi, hanya di sana tempat yang aman untuk Marvel dari tinjauan papaku." Keanu tidak punya pilihan lain, menempatkan sang putra di luar negeri adalah jalan satu-satunya untuk melindungi Marvel agar tidak terendus oleh sang papa.
Olivia hanya mengangguk pelan. Ia tahu Keanu sangat mencintainya dan juga mencintai Marvel. Karena Mahendra sangat menentang keras hubungan mereka, terpaksa Keanu membuat Olivia hamil agar tidak pergi dari hidupnya dengan alasan diancam oleh sang papa. Keanu bukanlah laki-laki yang tak bertanggungjawab, hanya saja ia tidak menikahi Olivia karena takut akan tindakan papanya yang bisa saja mencelakai Olivia.
Keanu harus menjaga ketat Olivia serta Marvel agar tidak ketahuan oleh sang papa jika Keanu masih berhubungan dengannya bahkan telah mempunyai anak yang sudah berumur 2 tahun. Keanu dan Olivia harus berjauhan dengan Marvel demi keselamatannya. Berjauhan dengan sang buah hati membuat mereka merasakan rindu yang teramat dalam.
Marvel tinggal dengan dua pengasuh serta empat bodyguard untuk menjaga keselamatannya. Beruntung Marvel adalah anak yang penurut, jadi dia bisa mengerti dan tidak rewel meskipun tinggal berjauhan dengan kedua orang tuanya. Mereka selalu melakukan video call untuk melepas rasa rindu mereka. Sebenarnya Olivia dan Marvel pernah tinggal satu rumah selama satu tahun di kota A. Setelah itu Olivia ikut pindah ke kota J atas permintaan Keanu, dan membiarkan Marvel tinggal di kota A.
Olivia dan Keanu akan berkunjung ke kota A dalam waktu satu bulan 2 kali. Marvel tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pintar. Meskipun ia tidak bisa tinggal dengan kedua orang tuanya seperti anak-anak yang lain. Namun, ia sangat bahagia mempunyai kedua orang tua seperti Keanu dan Olivia yang selalu bersikap lembut dan manis terhadapnya. Semua perhatian Keanu dan Olivia dilimpahkan kepada putra tercintanya walaupun dari jarak jauh.
Keanu pamit kepada sang kekasih untuk menemui Haura. Ia melajukan mobilnya ke kediaman Pradipa. Setelah sampai di sana, ia berpapasan dengan Jefferson yang terlihat murung dan tak bersemangat. Keanu hendak menyapa Jefferson, tapi langsung ditatap tajam oleh Jefferson yang membuat nyalinya menciut. Tatapan Jeff memang tajam layaknya elang.
Jeff sangat tidak senang melihat rivalnya yang selalu mengunjungi Haura. Posisinya sekarang telah tergantikan oleh seorang Keanu yang tidak ada bagusnya sama sekali. Jeff memindai penampilan Keanu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Jeff tersenyum sinis melihat Keanu dengan percaya dirinya berpose di depannya.
"Mau bergaya seperti apapun penampilan dan juga wajahmu akan tetap jelek." Jeff menghina Keanu yang tengah membenarkan dasinya.
"Benarkah? Berarti Haura beserta keluarganya menyukai orang jelek seperti ku daripada kamu yang terlihat sok tampan," cibir Keanu dengan nada mengejek.
"Kurang ajar! Tutup mulut sampah mu itu!" Suara Jeff naik satu oktaf saat Keanu mencibirnya. Ingin rasanya Jeff merobek mulut Keanu yang begitu kotor. Baru kali ini ia mendapatkan cibiran dari orang yang masih kalah jauh dengannya.
"Soporto ono moksodmo." Keanu menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Membuat suaranya tidak jelas saat berbicara, dan itu membuat Jeff semakin kesal dengan tingkahnya yang begitu menjijikkan.
Tak ingin semakin frustasi, Jeff melangkah pergi dari tempat itu agar tidak tercemari oleh orang gila seperti Keanu. Ia tak habis pikir kenapa Keanu sangat menyebalkan. "Bisa-bisanya dia bertingkah seperti itu di depanku! Hiiii ... Membuat bulu kuduk ku meremang." Gumam Jeff saat berada di dalam mobil. Dengan cepat Jeff melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Kingston. Ia ingin membicarakan suatu hal terhadap Arvin.
Sepeninggalan Jeff, Keanu tertawa terpingkal-pingkal. Ia senang sekali membu Jeff marah seperti tadi. Keanu sendiri tidak menyangka kenapa dirinya bisa bersikap seperti tadi. Tak ingin terlalu banyak berpikir, Keanu menekan bell rumah sebanyak dua kali. Seorang wanita paruh baya yang masih trlihat cantik datang membukakan pintu untuk Keanu.
Keanu disambut hangat oleh Zanna, membuat Keanu merasa tidak enak hati karena sudah membohonginya. Bagaiamana jika keluarga Pradipa tahu nanti tentang kebenarannya, pasti mereka bakan sangat kecewa. Keanu tidak bisa berbuat apa-apa ia hanya bisa pasrah mengikuti permainan yang Haura mainkan. Karena atulah Keanu masih memanggil Zanna dan Rei sebagai Om dan Tante, sebab ia masih belum siap memanggil mereka mama dan papa walaupun statusnya adalah menantu mereka.
"Haura mana Tante?" tanya Jeff to the point.
"Dia ada di kamarnya. Sebentar tante panggilkan." Zanna tersenyum lembut kearah Keanu lalu menuju ke kamar sang putri.
Zanna mengetuk kamar Haura dengan pelan. Ia tahu pasti Haura tengah menangis. Tapi Zanna akan berpura-pura tidak tahu. Sebab ia harus menyelidiki semuanya dari awal sebelum ia membongkar kebohongan itu di depan semua anggota keluarganya.
Tok! Tok! Tok!
"Sayang. Ada Keanu di bawah. Temuin gih, kasian dia," ucapan Zanna lembut, jauh lebih lembut dibandingkan kemarin-kemarinnya.
"Iya Ma, sebentar lagi aku turun." Sahut Haura dari dalam. Ia harus menggunakan make up agar tidak ketahuan kalau dia habis menangis.
Zanna langsung pergi setelah mendapatkan jawaban dari sang putri. Ia turun kembali untuk menemui Keanu. Sedangkan Rei ada di ruang kerjanya unt mengurus pekerjaan Kantor dari rumah. Sebab Rei tidak mau kecolongan jika membuat perusaan tanpa memantaunya meskipun dari rumah.
Haura turun menggunakan lift, lagi. Ia tersenyum begitu melihat Keanu duduk di sofa ruang tamu. Rasa sakit yang di torehkan oleh Jeff tadi, kini sudah mulai membaik setelah melihat Keanu. Haura tidak boleh sedih di depan siapapun. Ia harus terlihat kuat agar tidak ada yang tahu kalau sebenarnya ia sangat rapuh. Hatinya begitu remuk gara-gara seorang Jefferson Kingston.
*****
Restoran Muara.
Di ruang VVIP yang telah di pesan khusus oleh Haura untuk pertemuannya dengan Olivia. Haura dan Olivia duduk berhadapan di sofa dalam ruangan itu. Aneka makanan telah tersaji di atas meja yang terlihat menggoda selera. Haura tersenyum hangat kepada wanita cantik yang lebih tua 2 tahun darinya.
"Silahkan di makan, Kak. Aku pesan menu spesial buat Kak Olivia," ucap Haura sopan. Ia memanggilnya dengan sebutan kakak supaya terkesan sebagai keluarga.
"Makasih, Haura." Olivia juga melemparkan senyuman hangat kepada Haura yang tengah menatapnya.
Akhirnya mereka menyantap makanan itu dengan lahap. Tidak ada percakapan selama acara makan malam itu berlangsung. Kedua tampak canggung, mungkin karena sekarang adalah pertemuan pertama bagi mereka yang masih belum mengenal satu sama lain.
"Sebelum mengatakan maksud dan tujuanku mengajak Kak Olivia makan malam bersama, aku mau mengucapkan minta maaf terlebih dahulu," tutur Haura dengan suara lembutnya.
Haura tersenyum sebelum kembali berkata. "Kak ..., aku benar-benar minta maaf harus meminjam calon suami Kak Olivia untuk dijadikan suami sementara buat aku."
"Haura, Haura. Kamu itu sangat lucu. Aku sudah tahu akan hal itu. Tapi, niat kamu 'kan baik. Malahan aku yang harus berterimakasih sama kamu karena sudah mau menyatukan aku dan Keanu dengan cara seperti itu." Olivia menatap Haura dengan mata yang berbinar.
"Apa Kak Olivia tidak marah atau cemburu sama aku?"
"Aku tidak marah sama sekali. Kalau cemburu itu hal wajar yang dimiliki oleh sepasang kekasih. Asalkan kamu tidak ada rasa sama Keanu, aku tidak akan cemburu Haura."
"Tentu saja tidak, Kak. Sedikitpun tidak ada rasa di hatiku untuk Keanu. Kak Olivia pasti tahu cintaku untuk siapa." Haura menatap dalam manik mata Olivia seolah sedang mencari sesuatu.
"Ya aku tahu itu. Maaf kamu harus merasakan sakit yang teramat dalam karena kesalahanku di masa lalu terhadap Jefferson. Sekarang kamu yang jadi tempat pelampiasannya." Olivia sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Dari saking cintanya terhadap Keanu ia rela mengorbankan cinta seorang Jefferson. Hingga dia jatuh cinta teramat dalam terhadap dirinya yang membuat Jefferson tidak pernah bisa mencintai wanita lain. Haura lah yang menjadi korban pelampiasannya.
"Itu bukan salah Kak Olivia. Bukan salah Jefferson juga. Tapi ... Akulah yang salah karena terlalu naif akan cinta. Padahal sejak awal aku sangat tahu kalau Jefferson tidak pernah mencintai ku, dan hanya mencintai Kakak." Haura tersenyum kecut saat mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Aku rasa sekarang Jefferson benar-benar mencintai kamu, Haura. Aku dapat melihat dari tatapannya saat bertemu denganku. Tidak ada lagi cinta di sana. Ia tidak lagi menatap ku dengan tatapan memuja." Olivia berusaha mengatakan apa yang dia lihat di mata Jeff.
"Sudahlah Kak. Aku tidak ingin membahasnya. Aku mengajak Kak Olivia makan malam bersama karena ingin menjelaskan rencanaku saat menikah nanti." Haura mukai berkata dengan serius. Ia memang harus berunding dengan Olivia akan hal itu.
Olivia pun mendengarkan Haura secara serius. Ia tidak ingin mengecewakan Haura yang bela-belain mengajaknya makan malam hanya demi masa depannya bersama Keanu.
Cukup lama Haura menjelaskan rencananya nanti. Akhirnya Olivia setuju dengan rencana tersebut. Ia sama sekali tidak keberatan. Hanya saja Olivia sedikit takut, bagaimana jika rencana Haura gagal, dan ketahuan oleh semua orang terutama Mahendra? Pasti Olivia akan langsung di bunuh saat itu juga. Akan tetapi, Olivia mempercayakan semua itu terhadap Haura. Ia yakin Haura dan Keanu bisa melindunginya dari siapapun termasuk juga Mahendra.
"Semoga saja rencana kita berhasil, Haura." Ucap Olivia dengan perasaan was-was.
"Pasti, Kak. Kalau begitu mari kita pulang bersama." Di rasa percakapan mereka sudah selesai, Haura langsung mengajak Olivia pulang dari restoran Muara.
"Kami duluan saja, aku masih ada janji sama Keanu." Olivia menolak halus ajakan Haura.
"Baiklah kalau begitu. Aku pulang duluan Kak. Persiapkan diri Kakak untuk acara minggu depan."
"Oke siap." Olivia berkata dengan tegas sambil tersenyum sumringah.
Haura datang ke restoran Muara menggunakan mobil sendiri tanpa diantar oleh sopir pribadinya. Ia sempat adu mulut dulu dengan kedua orang tuanya yang tak mengizinkannya untuk mengendarai mobil sendirian. Karena mereka takut kejadian buruk itu terulang kembali. Apalagi keadaan Haura masih belum sembuh total. Namun, Haura bersikukuh ingin pergi sendirian tanpa ada yang mengawal. Akhirnya mau tidak mau Zanna dan Rei mengizinkan Haura menyetir mobil sendirian dengan syarat tidak bole melaju dengan kecepatan diatas 40 km.
Haura mau-mau saja, tidak masalah menurutnya meskipun mengendarai mobil dengan kecepatan rendah. Asalkan ia bisa pergi sendirian ke restoran Maura. Sebab tidak boleh ada yang tahu jika dirinya tengah ketemuan dengan Olivia.
Haura mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba mobilnya berhenti di tengah jalan. Haura menjadi panik dengan keadaan tersebut. Ia turun dari dalam mobil untuk mengecek keadaan mobilnya. "Yah ... Kenapa harus mogok sih, mobil apaaan ini. Baru juga dipakai sebentar malah langsung mogok," gerutu Haura dengan kesal.
Haura mondar-mandir sambil berpikir bagaimana cara menyalakan mobil itu kembali. "Ah, lebih baik aku pesan taksi online saja deh, daripada nunggu mobil ini nyala sendiri." Haura mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya. Ia mengutak-atik benda pipih tersebut untuk memesan taksi. Namun, belum sempat ia menekan tulisan order, tiba-tiba sebuah mobil Rolls-Royce Boat Tail berhenti tepat di samping mobilnya.
Muncullah sosok laki-laki tampan dari mobil tersebut. Membuat jantung Haura berdetak sangat cepat. Namun dengan cepat Haura menetralkan kembali perasaannya itu. Ia sudah bertekat akan melupakan cintanya terhadap Jefferson. Ya, laki-laki yang mengendarai mobil mewah tersebut adalah Jefferson.
"Kenapa?" tanya Jeff saat turun dari dalam mobil.
"Mogok," jawab Haura singkat.
"Ya udah pulang bareng aku saja," tawar Jeff dengan senyuman indah yang menghiasi bibirnya.
"Tidak usah. Aku sudah pesan taksi online." Haura menolak ajakan Jeff. Ia tidak mau terperangkap lagi dengan mulut manis Jeff. Apalagi nama Jefferson masih tersimpan rapi di dalam hatinya.
"Yakin? Di sini sepi loh. Bagaimana kalau ada orang jahat yang macam-macam sama kamu." Jeff sengaja menakut-nakuti Haura agar mau ikut bersamanya pulang ke rumah.
Haura melihat sekeliling jalanan itu. Ternyata benar, di sana memang sepi. Haura bergidik ngeri saat membayangkan ada preman yang mengganggunya.
"Gimana, mau ikut bareng aku enggak?" tanya Jeff lagi. Kali ini ia benar-benar menyebalkan di mata Haura.
"Ya udah kalau kamu maksa." Haura berjalan kearah mobil Jefferson yang terletak di samping mobilnya.
Jeff tersenyum senang. Ia buru-buru membukakan pintu mobil untuk wanita yang sangat ia cintai. Ternyata rencananya berjalan dengan lancar. Sebelum memasuki mobil, Jeff lebih dulu merogoh ponselnya yang berada di dalam saku jas bagian depan. Ia mengirim sebuah pesan kepada asisten pribadinya.
Arvin : "Sukses! Thank you brother."
Senyumam di bibir Jeff terus mengembang. Ia sangat berterimakasih kepada Arvin yang mau membantunya. Ya, mobil Haura tidak mogok. Semua itu atas rencana Jeff dan Arvin waktu berada di restoran Maura. Ia tidak sengaja melihat Haura datang sendiri ke restoran tersebut. Tak ingin kepo dengan urusan Haura yang datang ke sana. Jeff memilih merencanakan sesuatu bersama Arvin agar ia bisa mendekati Haura lagi.
Akhirnya sebuah ide muncul di benak keduanya dengan rencana yang sama, yaitu membuat mobil Haura mogok di pertengahan jalan. Semuanya Arvin yang ngurus, ia sedikit mengutak-atik kabel di dalam mobil milik Haura agar tidak berfungsi dengan baik, dan rencananya berjalan dengan lancar. Kini Jeff bisa mengantarkan Haura pulang.
"Yes, langkah awal sudah dimulai. Tunggu aku baby girl. Aku akan mendapatkan cinta serta kepercayaan mu lagi." Gumam Jeff penuh semangat.