
Pyaaar!
Zanna tidak sengaja menjatuhkan gelas yang dia pegang hingga berserakan di atas lantai. Zanna sangat shock mendengar perkataan Haura yang berada di luar nalar. Bagaimana mungkin Haura menerima lamaran dari laki-laki yang tidak dia cintai. Zanna tahu betul siapa yang Haura cintai. Bahkan Haura sangat ingin menikah dengan laki-laki yang dia cintai, yaitu Jeff.
Kenapa Haura bisa berkata seperti itu? Apa yang harus mereka katakan untuk menanggapi ucapan Haura? Bahkan Jeff tidak kalah terkejutnya dari semua orang di sana. Meskipun Jeff sudah berencana untuk membuat Haura menerima lamaran Keanu, tapi tidak secepat ini. Jeff harus bisa menemui Olivia terlebih dahulu sebelum Haura benar-benar bertunangan dengan Keanu. Apalagi sampai ke jenjang pernikahan.
"Kenapa kalian semua jadi tegang? Apa ada yang salah dengan perkataan aku?" Haura bertanya dengan wajah polosnya. Membuat semua orang mendadak bingung.
"Mom, Dad! Benar 'kan kalau aku dan Keanu akan menikah?" seru Haura lagi.
"Eemm ... Apa kamu benar-benar yakin ingin menerima lamaran Keanu?" tanya Rei perlahan. Ia harus memastikan lagi ucapan Haura. Sebab Rei takut kalau Haura cuma bermimpi.
"Tentu saja, Dad. Lagian tidak ada alasan untuk aku tidak menerima lamaran dari laki-laki sebaik Keanu." Haura menatap Keanu dengan mata berbinar. Membuat Jeff semakin panas olehnya.
"Huf! Baiklah kalau itu keinginan mu, daddy akan segera mengatur pertunangan kalian dulu, dan untuk pernikahannya kita pikirkan lagi setelah acara pertunangan. Tapi setelah kamu sembuh total, Baby. Keadaan kamu sekarang bahkan masih seperti ini." Kata Rei bersyarat. Ia menuruti saja keinginan putri tercintanya. Seperti janji dia saat Haura masih kritis. Apapun akan Rei lakukan dan Rei berikan kepada Haura, asalkan putrinya itu kembali melihat dunia.
Keputusan Rei semakin membuat orang di sana tercengang. Namun, mereka juga tidak bisa berkomentar apapun. Apalagi saat melihat aura kebahagiaan yang terpancar di wajah Haura. Semua orang tidak bisa menyela nya.
"Thank you, Dad." Haura berkata dengan tulus. Bahkan dia tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya.
Orang yang paling bahagia di situ adalah Mahendra. Ia tidak menyangka bahwa keinginannya akan segera terwujud. Dirinya akan terlihat unggul setelah ber besanan dengan keluarga Pradipa. Bahkan Mahendra yakin kalau dirinya bisa menggeser posisi Kingston yang selalu terlihat unggul.
Jeff keluar dari dalam ruangan itu tanpa pamit. Ia benar-benar marah, kesal, kecewa, dan sakit hati semuanya bercampur aduk. Entah kenapa Jeff merasa tidak rela jika Haura benar-benar menikah dengan Keanu suatu saat nanti. Padahal dari awal ia tidak pernah ada rasa cinta sedikitpun untuk Haura.
"Sialan! Kenapa aku jadi seperti ini! Tidak! Tidak mungkin aku mencintai Haura 'kan? Cintaku hanya untuk Olivia, bahkan sekarang sudah tidak ada rasa cinta lagi di dalam hatiku. Semuanya sudah mati. Di dunia ini tidak ada cinta!" Ucap Jeff frustasi. Sejak tadi ia memukul-mukul stir mobil. Ya, Jeff memilih pulang ke apartemennya.
Di tengah-tengah rasa frustasinya, Jeff kembali melampiaskannya kepada seorang wanita panggilan. Malam ini Jeff meminta Arvin untuk memanggil kan wanita kriterianya. Walaupun awalnya Arvin menentang keinginan Jeff karena ia takut Arvin melakukan hal yang sama seperti apa yang sudah Jeff lakukan terhadap Haura.
Namun, Jeff tetap bersikeras memerintahkan Arvin untuk secepatnya mengirim wanita itu. Hingga tepat jam 8 malam, wanita itu datang ke apartemen Jeff. Tak banyak basa-basi Jeff memasang posisinya seperti biasa dia lakukan ketika bersama para wanita j*lang.
Wanita panggilan tersebut langsung melakukan tugasnya dengan lihai. Membuat Jeff menge**ng saat benda pusakanya di lahap oleh wanita tersebut. Jeff sedang membayangkan bermain tanam-tanaman bersama Haura, seperti saat berada di dalam kamarnya. Jeff menekan kepala wanita itu untuk memperdalam his****nya.
Akan tetapi, saat akan mencapai pelepasan, di pikiran Jeff terbayang wajah sedih Haura saat Jeff mengusirnya dari dalam kamar. Terbayang juga saat Haura terbaring di atas ranjang rumah sakit. Membuat gairah Jeff menurun, dan senjatanya loyo seketika. Jeff mendorong wanita panggilan itu hingga terjungkal di atas lantai.
"Akh! Tuan, kenapa anda mendorong saya?" tanya wanita itu sambil meringis. Netranya tertuju ke arah tongkat sakti milik Jeff yang menggantung dalam keadaan lemas tak berdaya.
"Kau tidak becus! Bahkan milikku tidak bereaksi dengan sempurna saat kau memainkannya. Padahal wanita lain sangat mampu membuatnya berperang." Hardik Jeff frustasi. Sebab ia masih ingin mengeluarkan racun di dalam ular kobra nya. Tapi, semuanya malah gagal. Tentu saja Jeff menyalahkan wanita itu untuk melindungi reputasinya sebagai laki-laki perkasa.
"M-maaf, Tuan. Saya akan mencobanya lagi. Mungkin karena ini masih yang pertama bagi saya, makanya saya masih kurang ahli."
"Halah, alasan! Sudahlah, lebih baik kamu pergi dari sini." Jeff langsung mengusir wanita itu dengan kasar. Suasana hatinya benar-benar buruk.
Tenang, seorang Jefferson tidak sejahat itu. Ia tetap akan membayar wanita panggilannya meskipun tidak bisa memuaskan dirinya. Jeff memberikan cek dengan nominal yang lumayan banyak kepada wanita itu. Lalu mengusirnya keluar dari dalam apartemen.
"Ada apa denganku? Kenapa benda pusaka milikku tidak berfungsi? Padahal kemarin aku bermain sangat ganas, tapi sekarang kenapa jadi seperti ini? Ah, sial! Padahal hasratku sudah di ubun-ubun tadi." Ucap Jeff kesal.
Jeff terpaksa bermain solo karir di dalam kamar mandi. Sebab kepalanya akan terasa pusing jika tidak menuntaskan apa yang seharusnya di tuntaskan. Yah, kembali dengan cara yang sama. Jeff membayangkan percintaannya bersama Haura waktu itu. Membuatnya ingin mengulang lagi dan lagi.
Jeff merasa lega saat merasakan pelepasan. Ia jadi kepikiran dengan keadaan Haura yang begitu menyedihkan untuknya. Jeff sangat bingung kenapa Haura hanya tidak mengingat dirinya dan juga kedua orang tuanya. Sedangkan dengan yang lain Haura bisa mengingatnya. Apakah benar apa yang di katakan oleh dokter Dimas, bahwa Haura juga mengalami Amnesia Disosiatif?
Apa Haura merasakan trauma dengan apa yang telah terjadi diantara mereka? Tapi, itu 'kan salah Haura sendiri bukan salah Jeff. Aaaakh! Jeff semakin pusing memikirkannya. Ingin rasanya Jeff tidak percaya bahwa Haura tidak mengingatnya, tapi mendengar penjelasan dari dokter membuatnya tidak bisa berkutik. Mau tidak mau Jeff harus percaya dengan fakta itu.
Ting!
Jeff mendapatkan notif pesan dari Keanu. Sebuah pesan yang mengirimkan sebuah lokasi tempat Olivia berada. Keanu benar-benar menepati janjinya saat Haura menerima lamaran itu. Walaupun bukan karena Jeff yang memintanya, melainkan atas permintaan Haura sendiri.
Jeff harus segera menemui Haura besok pagi. Ia tidak ingin menundanya lagi. Sebab Jeff harus menyelesaikan masa lalunya bersama Olivia terlebih dahulu. Setelah itu Jeff akan membuat Haura mengingat semuanya, dan tidak jadi bertunangan dengan Keanu.
Pagi harinya ...
Jeff sudah terlihat rapi, ia akan pergi menemui mantan kekasihnya. Jeff melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Beberapa saat kemudian ia sampai di depan sebuah apartemen yang cukup mewah. Jeff menekan bell di depan pintu apartemen Olivia. Hingga tak berselang lama pintu itu terbuka.
Ceklek!
Seorang wanita cantik muncul dari balik pintu. Atensi keduanya bertemu. Mereka saling tatapan, dan mengunci tatapan itu satu sama lain. Keduanya terlihat tegang, setelah sekian tahun tidak bertemu. Namun, Jeff jauh lebih tegang dibandingkan dengan Olivia yang terlihat sedikit santai.
"Hai, silahkan masuk," ucap Olivia akhirnya. Ia lebih dulu memutus kontak mata dari Jeff, lalu mengajaknya masuk ke dalam.
Jeff tidak menanggapi ucapan Olivia. Ia hanya mengikutinya masuk ke dalam apartemen. Jeff masih marah atas apa yang sudah Olivia lakukan di masa lalu. Yang tega meninggalkan dirinya tanpa kabar.
"Silahkan duduk." Olivia berkata dengan suara lembut. Sama seperti dulu yang selalu bertutur kata lembut terhadap Jeff dan juga semua orang. Itulah yang Jeff suka dari Olivia. Gadis yang baik dan lembut.
Lagi-lagi Jeff hanya patuh, dan tidak menjawab ucapan Olivia, atau hanya sekedar mengucapkan terimakasih. Jeff menatap Olivia tanpa henti. Ia meneliti setiap inci tubuh wanita tersebut hingga membuat Olivia merasa tidak nyaman. Ia sangat gugup mendapatkan tatapan menelisik, dan juga menusuk dari sorot mata Jeff.
"Mau minum apa?" Olivia menawarkan minum untuk mengindari tatapan dari Jeff.
"Tidak perlu!" Jawab Jeff singkat. Ia tidak akan berbasa-basi, dan akan bertanya langsung pada intinya. "Kamu pasti sudah tahu apa maksud kedatangan ku kemari. Kalau begitu jelaskan semuanya." Tandas Jeff tegas, dan penuh penekanan.
Olivia menjadi sangat gugup. Ia bingung harus menjelaskannya dari mana. Namun, Olivia tetap harus menjelaskannya. Karena Jeff sudah membantu Keanu agar bertunangan dengan Haura. Olivia juga harus menuruti perkataan Keanu, agar semuanya baik-baik saja.
"A-ku ... Eungh ...." Olivia kesusahan untuk melanjutkan perkataannya. Ia sangat takut melihat tatapan tajam yang begitu mengintimidasi dirinya. "M-ma-afkan a-ku, Jeff." Ucap Olivia akhirnya. Ia menundukkan kepala tak berani menatap laki-laki yang pernah ia lukai.