
Aa--Emph ... Emph ...
Haura ingin berteriak namun mulutnya lebih dulu dibekap oleh seseorang yang telah menyentuh wajahnya.
"Shuuut! Jangan teriak, nanti ada yang dengar." Bisik Jeff tepat di telinga Haura.
Ya, orang yang masuk ke dalam kamar Haura adalah Jeff. Lagi-lagi yang menyelinap ke kamar Haura adalah Jeff. Hal itu berhasil membuat Haura marah sekaligus kesal. "Dari mana kamu tahu kalau akau ada di kamar ini?" tanya Haura mengintimidasi.
"Kamu lupa siapa aku?" Jeff berkata dengan sombongnya. Siapa yang tidak tahu kalau Jeff sangat berkuasa.
"Mentang-mentang kamu pemilik hotel ini, bukan berarti bisa sembarangan masuk ke kamar pelanggan. Dimana atika kamu sebagai pemilik hotel ini yang tidak tahu aturan." Haura meluapkan rasa kesalnya.
"Jangan marah, Baby girl. Kasian baby kita di dalam sana. Pasti dia sangat terkejut mendengar kamu memarahi daddy-nya." Jeff berkata tanpa merasa bersalah.
Rasanya Haura ingin muntah mendengar ucapan serta ekspresi Jeff yang begitu memuakkan. "Cepat keluar. Aku mau mandi. Jangan kurang ajar kamu ya!" Haura menutup dadanya menggunakan kedua tangan. Ia takut Jeff berbuat hal hajat lagi. Apalagi saat ini dirinya bertelanj*ng bulat, dan hanya ditutupi busa yang ada di bathtub.
"Baiklah aku tunggu di kamar." Jeff beranjak dari sana lalu menuju ke kamar. Ia paham pasti Haura masih trauma dengan tindakannya waktu itu yang telah melecehkan, dan hampir mencelakai buah hatinya. Jeff tidak ingin hal itu terulang lagi.
Haura buru-buru menyelesaikan ritual mandinya. Ia meraih bathrobe yang terletak di atas closed, lalu memakainya. Perlahan Haura membuka pintu kamar mandi. Alangkah terkejutnya ia saat berada di dalam kamar. Matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan indah di depan matanya yang mampu membuatnya membeku.
"Surprise! Happy valentine, Baby. Maaf aku terlambat mengucapkan hari kasih sayang ini. Tapi percayalah tiada hari tanpa rasa sayang di hatiku untuk kamu. Namun, hari ini adalah hari yang tepat untuk aku mengucapkannya. Karena apa ... Tepat di hari valentine, kamu memberikan hadiah terindah buat aku. Yaitu buah cinta kita yang tumbuh di rahim kamu." Ucap Jeff dengan mata yang berbinar.
Hiasan bunga mawar di atas ranjang yang bertuliskan 'Happy Valentine, My Precious'. Di atas lantai juga dipenuhi dengan taburan bunga mawar merah. Bahkan ditangan Jeff ada satu buket bunga mawar berwarna putih dengan ukuran jumbo yang ditengahnya ada coklat batang bertuliskan 'I Love Haura Malvia Pradipa'.
Entah sejak kapan Jeff menyiapkan surprise itu. Padahal satu jam yang lalu sebelum Haura memasuki bathroom, kamarnya masih bersih sesuai dengan tatanan hotel. Namun, setelah Haura selesai membersihkan diri, kamar itu sudah berubah sedemikian rupa. Sungguh Haura dibuat speechless oleh kejutan dari Jefferson.
Jeff melangkah mendekati wanita yang sangat ia cintai. Ia memberikan satu ikat bunga mawar putih kepada Haura yang ia pegang sejak tadi. Haura masih bergeming ditempatnya. Otaknya seolah blank, Jeff mampu mengobrak-abrik hatinya.
Tangan Haura menerima pemberian bunga dari Jeff. Padahal Haura sudah berniat menolak bunga tersebut. Tapi, tangannya nakal sekali berani mengambil bunga itu tanpa seizin darinya. Membuat Haura merasa malu. Haura masih setia menutup rapat bibirnya tak mengeluarkan satu patah katapun.
"Baby ... I love you so much." Jeff bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Cinta di dalam hatinya menggebu-gebu seolah memberontak ingin dilepaskan kepada pawangnya. Namun, sang pawang masih enggan memberikan kesempatan terhadapnya. Membuat Jeff harus bersabar lagi.
"Emm ... Terimakasih," ucap Haura terbata. Sungguh Haura sangat gugup. Ia senang sekaligus malu terhadap Jeff yang sudah memberikan kejutan indah. Baru kali ini Haura mendapatkan kejutan dari seseorang yang sangat ia cintai. Namun, semuanya tak seindah kenyataan yang menyadarkannya akan suatu hal. Yaitu, Jeff bukan lagi miliknya.
Jeff tersenyum bahagia. Walaupun Haura belum bisa menerima cintanya, ia akan tetap berusaha memperjuangkan cintanya terhadap Haura, dan meyakinkan Haura bahwa dirinya sudah berubah tidak bastard seperti dulu.
Haura kembali terkejut saat Jeff berpindah tempat ke belakang tubuhnya, hingga sebuah kalung melingkar indah dileher jenjang milik Haura. "Jef ...." Ucapan Haura tercekat ditenggorokan. Lagi-lagi Jeff memberikannya kejutan, hingga Haura tidak dapat berkomentar satu kata pun.
"Ini hadiah buat kamu karena sudah berbaik hati mengandung anakku." Jeff mengecup singkat tengkuk Haura yang membuat wanita cantik itu semakin menegang. Hembusan nafas Jeff terasa hangat menerpa tengkuknya. "A-aku ... Aku harus g-ganti baju dulu Jeff." Ucap Haura terbata. Ia menundukkan wajahnya yang sudah semerah tomat. Membuat Jeff merasa gemas melihatnya.
"Kenapa harus ganti baju, Baby? Bahkan kami terlihat sangat seksi dengan pakaian itu." Jeff sengaja menggoda Haura. Ia sampai mendengar detak jantung Haura yang berlarian. Sebab posisi mereka sangatlah intim. Bahkan Jeff dengan beraninya melingkarkan tangannya di perut Haura.
"Jeff!" Pekik Haura yang terkejut dengan tindakan Jeff.
"Hanya sebentar! Biarkan seperti ini dulu. Aku sangat merindukanmu Haura. Aku merasa nyaman saat memelukmu. Andaikan dulu aku tidak bodoh maka aku bisa setiap hari merasakan pelukan hangat darimu. Apalagi ada buah cinta kita di dalam sini." Jeff mengusap perut bagian bawah, Haura.
Haura hanya diam. Ia membiarkan Jeff memeluk dirinya dari belakang. Bukan hanya Jeff yang merasa nyaman dengan pelukan itu, Haura juga merasakan hal yang sama. Rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Moment yang sejak dulu Haura inginkan, hanya saja waktu sedikit terlambat. Hingga Haura tak sebahagia dulu.
Jeff kembali menciumi tengkuk Haura, membuat Haura meremang karenanya.
Bruk!
Bunga mawar putih itu terlepas dari tangan Haura, dan terjatuh ke atas lantai. Haura memejamkan mata kala Jeff menghis*p kecil pundaknya. Memberikan tanda kepemilikan di sana. Suara desah*an lolos begitu saja dari mulut Haura.
Aahh!
Lidah Jeff terus menelusuri tubuh Haura. Yang awalnya hanya bermain di tengkuk dan pundak, kini beralih ke punggung wanita cantik itu. Haura tidak menolak sentuhan dari Jeff, ia seperti terhipnotis dengan sentuhannya. Ingin rasanya Haura mengatakan stop kepada Jeff, tapi tubuhnya malah merespon setiap sentuhan dari Jeff.
Ya, Haura menikmati sentuhan itu. Bahkan tanpa malunya ia kembali mendes*h. Tangan Jeff dengan nakalnya membuka tali bathtobe yang melekat diperut Haura. Membukanya secara perlahan lalu tangannya bergerilya kemana-mana. Sentuhan yang begitu memabukkan bagi Haura.
Haura menggigit bibir bawahnya saat Jeff merem*s kedua buah kenyalnya. Jeff sangat lihai sekali dalam permainannya. "Jangan ditahan, Baby. Keluarkan lah suara indah mu." Kata Jeff dengan suara serak yang telah diliputi kabur gair*h.
"Aahh! Jeff!" Seru Haura di sela-sela desah*nnya. Ia membiarkan Jeff melahap salah satu buah kenyalnya dari arah samping. Haura merem*s rambut Jeff guna memperdalam hisap*nnya.
Jeff semakin menggila kala mendapatkan lampu hijau dari Haura. Ia pikir Haura tidak akan mau lagi bersentuhan dengannya. Namun, ternyata cinta Haura lebih mendominasi dibandingkan rasa bencinya hingga ia merespon setiap sentuhan dari Jeff.
Jeff mengangkat tubuh Haura, membaringkannya di atas tumpukan kelopak mawar yang bertabur di atas ranjang. Jeff ******* bibir seksi Haura dengan lembut. Ia ingin malam ini menjadi malam special bagi mereka yang tidak akan pernah Haura lupakan. Sentuhan Jeff memang berbeda dari sentuhan waktu pertama dan kedua mereka melakukannya. Kali ini Jeff melakukannya karena sebuah cinta yang begitu besar untuk Haura.
Jeff mulai melucuti kain yang melekat di tubuhnya. Hingga keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Jeff menghujani ciuman di tubuh indah Haura. Ia semakin candu dengan tubuh wanita cantik itu.
Haura merasakan ada ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutnya saat bibir Jeff menyentuhnya. Ciuman Jeff semakin turun ke bawah hingga berhenti tepat di hutan belantara yang tidak rimbun.
Jeff membuka kedua kaki Haura lebar-lebar agar ka lebih leluasa bermain di hutan belantara tersebut. Benar saja Jeff langsung menenggelamkan wajahnya di sana. Lidahnya mulai memasuki goa yang berwarna pink itu. Mengobrak-abrik isi di dalamnya dengan gerak maju-mundur cantik.
Haura tidak tahan lagi. Kedua tangannya mencengkram sprei dengan kuat, seolah membuktikan berapa nikmatnya permainan Jeff di bawah sana. Jeff semakin mempercepat gerakan lid*hnya di goa itu. Hingga ia merasakan tubun Haura menegang karena. Tak berselang lama suara lolongan panjang keluar dari mulut Haura bersamaan dengan banjirnya cairan bening di bawah sana yang tumpah ke mulut Jeff.
Aahh! Aahh!
Tubuh Haura lemas seketika setelah merasakan pelepas**. Nafasnya memburu dengan dada yang naik-turun. Jeff berhasil membuatnya merasakan kembali surga dunia. Itulah hebatnya seorang Jefferson Kingston.
Jeff membiarkan Haura mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum ia memasukkan tongkat saktinya ke dalam goa surgawi. Jefferson mulai memposisikan tongkat saktinya ke arah goa nan lembab tersebut. Namun, belum juga masuk tiba-tiba Haura menahan gerakannya.
"Why, Baby?" tanya Jeff dengan suara berat.
"Ini salah, Jeff. Kita tidak seharusnya mengulang kesalahan yang sama." Kata Haura pelan.
Jeff terpaksa menghentikan gerakannya, ia menatap Haura dengan intens. Jeff paham apa yang Haura rasakan saat ini. Apalagi dengan statusnya yang masih belum ada kepastian. "Apa yang kamu takutkan? Lagipula sekarang kamu sedang mengandung anakku. Bukankah tidak masalah bagi kita jika melakukannya lagi?"
Haura bangkit dari posisi tidurnya, ia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang telah polos tanpa sehelai benang pun. "Waktu pertama kali kita melakukannya, itu semua atas keinginan ku. Yang kedua kalinya kamu melakukannya secara paksa, bahkan sampai menyakiti ku. Setelah itu aku sadar bahwa semua yang kita lakukan adalah kesalahan besar. Sekarang kita juga hampir melakukannya lagi di saat aku belum yakin jika di hatimu benar-benar ada namaku." Ungkap Haura panjang-lebar.
Jeff tersenyum, ia paham betul apa yang sedang Haura takutkan sekarang. Mungkin karena ia terlalu dalam menorehkan luka dihati wanita cantik tersebut hingga membuatnya tak percaya dengan ketulusan cinta yang Jeff tunjukkan. "Baby ... Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya bahwa aku benar-benar tulus mencintai kamu, dan bukan hanya ingin menikmati tubuh mu saja." Jeff menggenggam tangan Haura dengan lembut.
Haura menatap manik mata Jeff dengan sangat dalam. Ia mencari kebohongan di sana. Namun, Haura tidak menemukannya. Ia rasa Jeff benar-benar serius dengan ucapannya. "Apa kamu tidak berbohong?" tanya Haura ragu.
Jeff meletakkan tangan Haura tepat di dadanya. "Rasakan lah detak jantungku, Baby. Bahkan dia tidak pernah berdetak sekencang ini saat bersama dengan wanita lain. Hanya bersamamu ia menunjukkan irama yang begitu indah nan menggebu. Bibir mungkin bisa berbohong, tapi mata dan hati tidak bisa berbohong. Maka dari itu tataplah mataku dan rasakan debaran di jantungku. Jika kamu menemukan kebohongan dari salah satunya, maka saat ini juga aku akan pergi dari kehidupanmu." Jeff berkata dengan sangat serius. "Tanyakan juga pada hatimu, apakah di dalam sana masih bertakhta namaku, atau sudah kau hapus tak tersisa." Lanjutnya yang semakin membuat Haura dilema dengan perasaannya.
Haura merasakan detak jantung Jeff yang sama seperti detak jantungnya. Berdebar saat mereka berdekatan. Bahkan hanya sekedar saling tatap saja jantung Haura sudah tak karuan. Apakah itu tandanya Jeff benar-benar mencintainya? Apakah cintanya telah bersambut? Kenapa cinta itu datangnya terlambat? Apa yang harus Haura lakukan.
"Bagaimana, apa kamu menemukan kebohongan di sana?" tanya Jeff setelah mereka cukup lama terdiam.
Haura menggeleng pelan, ia memang tidak menemukan kebohongan di sana. Ya, Haura percaya bahwa Jeff benar-benar mencintainya. Haura dapat merasakan cinta itu. Cinta yang sejak dulu ia tunggu.
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu terhadap ku. Apakah masih ada cinta untukku?" tanya Jeff lagi. Ia sangat menunggu jawaban kali ini. Sebab jika Haura sudah tak lagi mencintainya, maka perjuangan Jeff akan terasa sia-sia.
Lagi-lagi Haura mengangguk. Tubuhnya terlalu jujur hingga tak bisa di kompromi untuk menjawab tidak atas apa yang Jeff tanyakan. Haura memang terlalu lemah jika berurusan dengan cinta. Padahal ia sudah membulatkan tekadnya untuk pergi dari kehidupan Jeff, dan juga melupakannya. Namun, semuanya berubah disaat Jeff menyatakan cinta kepadanya yang disertai dengan perjuangan.
Jeff tersenyum puas saat mendapatkan jawaban dari Haura. Tentunya jawaban yang sangat ia nantikan. Tanpa ba-bi-bu, Jeff ******* kembali bibir Haura yang sempat berhenti karena pertanyaan tadi. Kali ini Haura tidak diam saja, ia membalas ciuman Jeff, menyambutnya dengan hangat. Lid*h mereka saling membelit, meny*sap, dan mengeskplor setiap inci di dalam mul*t mereka.
Haura mendes*h saat ciuman Jeff turun ke leher. Meninggalkan banyak jejak kepemilikan di sana. Jeff membuat selimut yang menutupi tubuh Haura secara ngasal. Ia memposisikan. Tubuhnya di tengah-tengah kedua pah*, Haura. Jeff mulai menggesek senjatanya ke dinding goa milik Haura. Membuat wanita yang berada di bawah kungkungannya menjer*t nikmat.
Jleb!
Aaahh!
Akhirnya senjata Jeff masuk dengan sempurna di goa surgawi tersebut hanya dengan sekali hentakan. Jeff memaju mundurkan pinggulnya dengan sangat pelan, sebab ia takut menyakiti calon anaknya yang bersemayam di dalam perut Haura. Jeff mengangkat kedua kaki Haura lalu menaruhnya di atas pundak.
Kedua tangan Haura mencengkram sprei dengan kuat. Ia dibuat melayang oleh sentuhan Jeff. Meskipun Jeff bergerak dengan pelan, tapi gerakan tersebut mampu membuat Haura melayang tinggi. Sebab Jeff terus menekan tongkat saktinya ke dalam goa itu hingga menembus ke dinding terdalam. Jeff menganga kala miliknya semakin dijep** oleh goa Haura.
Suara erotis memenuhi ruang kamar tersebut. Kelopak mawar yang tertata rapi di atas kasur, kini telah berhamburan ke atas lantai yang di sebabkan oleh goncangan kedua sejoli tersebut. Mereka benar-benar sedang dimabuk cinta hingga melupakan masalah apa yang pernah menimpa keduanya.
Aahh ... Jeff ...
Yeah ... Baby ...
Keduanya saling menyebutkan nama seolah membuktikan betapa nikm*tnya permainan tersebut. Hingga tubuh kedua menegang saat Jeff mempercepat gerakannya, dan keluarlah lahar hangat di bawah sana.
Aahh ... Aahh ...
Nafas keduanya terengah-engah saat merasakan pelepas*n. Jeff mengecup kening Haura sangat dalam lalu membisikkan sesuatu yang sangat indah di telinga Haura. "I love you, Haura." Jeff mengungkapkan cintanya yang begitu memggebu di dalam jiwa. Membuat Haura tersenyum bahagia saat mendengar ungkapan tersebut.
Jeff membaringkan tubuhnya di samping Haura, dan memeluknya dari arah belakang. "Love you, Baby." Lagi-lagi Jeff mengungkapkan perasaannya.
"Teruslah mengatakan itu sampai kamu lelah." Ledek Haura terkekeh kecil.
"Akan aku lakukan. "Love you, Baby. Love you, Baby. Love you, Baby. Love you, Baby." Jeff benar-benar mengatakannya berulang kali.
Cup!
Haura yang tidak tahan mendengar ungkapan cinta dari langsung membukam bibir Jeff menggunakan bibirnya. Usahanya berhasil, laki-laki tersebut langsung diam tak mengeluarkan suara lagi. Namun, saat Haura akan melepaskan ciumannya, tiba-tiba Jeff menekan tengkuknya, dan mencium balik bibir Haura. Melum*tnya, menyes*pnya, dan menggig**nya.
Aahh!
Haura kembali mendes*h. Ia menikmati ciuman dari Jeff. Padahal dia hanya ingin membuat Jeff diam, tapi Haura justru termakan oleh senjatanya sendiri. Bahkan Jeff kembali mengungkungnya. "Kau memancing ku, Baby. Jangan salahkan aku jika aku melakukannya lagi." Ucap Jeff penuh ga*rah. Haura tak dapat menolak, dan akhirnya terjadilah gempa susulan di atas ranjang panas tersebut.