
Dikediaman Pradipa.
Rei tengah mondar-mandir di dalam kamarnya. Perasaannya gelisah. Sudah dini hari tapi Jeff tidak ada mengantarkan Haura pulang. "Kurang ajar kau Jeff!" Geram Rei sambil mengepalkan tangannya.
"Ya ampun, Mas. Kamu belum tidur juga?" Zanna yang terbangun dari tidurnya langsung terkejut saat melihat suaminya masih terjaga.
"Aku tidak bisa tidur. Anak sialan itu mengingkari janjinya. Bahkan ia tidak mengantarkan Haura pulang." Hardik Rei dengan mata menyala.
"Hm. Sudahlah Mas. Kamu itu terlalu over protektif terhadap Haura. Biarkan dia mencari kehidupannya sendiri. Kita tidak perlu mengekangnya, Mas." Zanna turun dari atas ranjang untuk menghampiri sang suami. Lalu mendudukkannya di tepi ranjang. "Mas. Kita sudah berjanji akan membuat Haura bahagia dan menuruti semua keinginannya. Kebahagiaan Haura ada pada Jeff. Aku yakin Jeff sangat tulus mencintai Haura. Mereka sudah sama-sama dewasa, jadi wajar jika mereka tidak pulang malam ini." Zanna mengelus lengan sang suami untuk meredakan emosinya.
"Tapi tetap saja aku tidak rela jika Jeff berani menyentuh Haura sebelum mereka menikah." Benar apa yang dikatakan oleh Rei. Sebagai seorang ayah tentunya ia sangat khawatir jika putrinya diperlakukan buruk ataupun dilecehkan oleh laki-laki manapun. Termasuk Jefferson.
"Makanya restui hubungan mereka supaya mereka cepat menikah." Zanna malah menyalahkan sang suami yang tak kunjung memberikan restu untuk putrinya menikah.
"Itu sudah perjanjian antara aku dan Jefferson." Rei tidak ingin kalah dengan pemojokan yang Zanna lakukan terhadapnya.
"Apa kamu tidak kasihan melihat Haura terpuruk setelah mengalami keguguran? Sekarang putri kita kembali ceria setelah bersama dengan Jefferson, Mas. Aku mohon jangan membuat ulah lagi. Biarkan mereka menikmati hubungan yang sudah direstui ini, meskipun belum restu ke jenjang pernikahan." Zanna sangat memohon kepada Rei agar tidak memarahi Jeff lagi.
Rei menghelas nafas berat. Apa dikatakan oleh istrinya memang benar. Apakah ia terlalu egois jika harus mengekang Haura lagi? Rei hanya takut terjadi hal buruk terhadap Haura. Ia menatap sang istri yang sejak tadi menatap penuh permohonan kepadanya. "Baiklah aku tidak akan mengekang Haura lagi. Tapi jika Jeff berani menyakiti Haura, maka aku tidak akan tinggal diam." Ucap Rei akhirnya mengalah.
"Thank you, Dad. Cup!" Zanna mengecup pipi Rei dengan mesra. Bahkan ia sampai memanggil sang suami dengan sebutan yang melelehkan hati Reinaldo.
"Ulangi sekali lagi, Sayang." Jantung Rei seakan berlarian saat sang istri menggodanya. Ya bagaimana tidak menggoda, para suami pasti akan berbunga-bunga jika dipanggil Daddy oleh istrinya sendiri. Rei merasa dipermainkan oleh Zanna saat Zanna malah menaiki kasur lalu menutup dirinya menggunakan selimut.
Rei memasuki selimut hingga membuat Zanna terpekik kaget. "Mas!" Tubuh Zanna sudah dikunci oleh sang suami di dalam sana.
"Kamu sangat nakal, Sayang." Rei mulai menciumi wajah sang istri dengan gemas. Namun saat tangannya mulai melucuti kain di tubuh sang istri tiba-tiba sebuah klason berbunyi beberapa kali di halaman rumah. Membuat dirinya kesal karena terganggu.
"Mas, itu pasti Haura yang datang." Zanna langsung mendorong tubuh Rei hingga terjengkang ke belakang. Ia langsung berlari keluar kamar untuk menyambut Haura dan Jeff.
Benar saja yang datang adalah Jeff dan Haura. Mereka sampai di rumah tepat jam 5 pagi. Matahari masih belum menampakkan dirinya. Mungkin ia merasa malu terhadap dua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu.
"Haura, Jeff." Zanna menyapa kedua pasangan itu yang masih berpegangan tangan. Sedangkan Rei berdiri dibelakang sang istri sambil menatap tajam ke arah Jeff. Ia memang tidak berbicara. Namun tatapannya begitu menusuk direlung hati Jeff. Membuat nyali laki-laki tersebut menciut.
"Maff Om, Tante. Aku telat membawa Haura pulang." Jeff menundukkan kepala karena takut restu yang ia dapat dari Rei dicabut kembali.
"Jangan diulangi lagi. Gunanya ponsel kalian apa? Seharusnya mengabari kami jika akan menginap di suatu tempat." Rei mengomeli Jeff dan Haura karena tidak memberikan kabar, bukan karena telat pulang.
Jeff tertegun saat mendengar ucapan calon mertuanya. Ia kira Om Rei akan memukulnya lagi. "Sekali lagi maaf Om." Jeff tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Mungkin lain kali ia harus mengatakannya dari awal kalau mau menginap bersama Haura di suatu tempat.
Mereka semua memasuki kediaman Pradipa. Kali ini Jeff memasang eksperi serius. Sepertinya ia akan menyampaikan sesuatu hal penting terhadap Rei, Zanna, dan Haura. "Aku ingin menyampaikan informasi penting mengenai kasus penculikan kakak Haura pada 21 tahun yang lalu." Kata Jeff to the point.
Semua orang sangat antusias menunggu kabar dari Jeff. Mereka menatap Jeff dengan penasaran. "Informasi apa Jeff? Cepat katakan." Perintah Rei tidak sabar.
"Begini Om, Tante, Haura. Aku sudah menyelidiki mobil yang menculik Flora waktu itu. Ternyata mobil tersebut milik perusahaan Mahendra. Mobil keluaran terbaru pada tahun 1998." Ungkap Jeff sambil menunjukkan data penting yang ada di ponselnya.
"Jadi, kecurigaan aku benar? Mahendra ada sangkut pautnya dengan penculikan Kakak." Haura ikutan menyela ucapan Jeff.
"Awas saja jika Mahendra adalah dalang di balik semua ini. Aku tidak akan memaafkannya." Geram Rei mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang membuncah.
"Aku akan menyelidikinya lagi sampai menemukan dalangnya, Om. Untuk saat ini kita tidak boleh gegabah. Kita harus. Mengumpulkan bukti-bukti yang kuat agar bisa menangkap sang pelaku. Tidak mudah mengorek kembali kasus penculikan yang telah lama ditutup. Apalagi dengan masa 21 tahun yang lalu." Jeff kembali mengingatkan apa saja yang harus mereka persiapkan.
"Aku percayakan semuanya padamu, Jeff. Aku harap kamu tidak mengecewakan kita semua." Rei sangat percaya bahwa calon menantunya sangat bisa diandalkan.
"Pasti Om. Tunggu saja. Aku sudah meminta Arvin untuk melacak semua bukti yang kita punya melalui rekamanan CCTV." Jeff masih menunggu kabar dari Arvin.
"Ya sudah lebih baik kalian istirahat dulu. Ini masih pagi. Mommy mau masak untuk persiapan sarapan pagi nanti." Zanna melihat wajah Haura dan Jeff tampak kelelahan. Entah mereka datang darimana dan habis melakukan apa sehingga jelas sekali wajahnya yang kusut. Ia tidak tahu saja kalau Haura dan Jeff baru selesai meronda.
"Ya udah aku ke kamar dulu ya Mom, Dad." Haura berdiri dari posisi duduknya dan meninggalkan Jeff yang masih duduk di sofa.
"Kenapa kamu masih di sini? Cepat susul calon istrimu ke kamar." Ucapan Rei seperti angin segar yang masuk ditelinga Jeff. Wajahnya langsung berseri. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut calon mertuanya itu.
"Memangnya boleh Om?" Lirih Jeff yang masih bertanya.
"Ya sudah kalau tidak mau. Pulang sana." Rei kesal sendiri dengan sikap Jeff yang berpura-pura bodoh di depannya.
Tanpa menjawab, Jeff langsung berdiri dan berlari menaiki anak tangga untuk menyusul sang pujaan hati. Dalam hati Jeff bersorak-sorai. Ia akan memberikan hadiah kepada calon mertuanya yang sudah berbaik hati membiarkannya memasuki kamar Haura.
"Baby, I'm coming."
Haura terkejut saat Jeff tiba-tiba memasuki kamarnya. "Jeff! Kenapa kamu ada disini?" Haura menatap Jeff yang tersenyum penuh arti. "Jangan aneh-aneh. Nanti dimarahin Daddy." Haura memperingati calon suaminya itu agar berhati-hati.
"Daddy kamu sendiri yang nyuruh aku buat ngikutin kamu." Jeff menghempaskan diri ke atas kasur. Rasanya sangat nikmat sekali.
"Jangan bohong. Mana mungkin Daddy membiarkan kamu masuk ke dalam kamarku." Haura masih tidak percaya dengan ucapan Jeff.
"Kamu pikir aku akan berani masuk ke kamar kamu jika bukan Om Rei sendiri yang menyuruhku? Yang ada aku dihabisi sama daddy kamu." Jeff berkata sambil memejamkan mata. Ia sangat ngantuk sekali. Sebab ia hanya beristirahat 30 menit setelah menggempur Haura habis-habisan.
Jika dipikir-pikir perkataan Jefferson benar juga. Haura tak ingin mempermasalahkannya. Ia menyusul Jeff yang sudah terbaring di atas kasur. Haura menatap wajah Jeff yang sangat tampan. Ia tersenyum saat mengingat sikap manis Jeff terhadapnya. Ia tidak menyangka bahwa cintanya akan bersambut. Haura mencium kening Jeff sangat dalam untuk mencurahkan rasa cinta dan sayangnya terhadap laki-laki tersebut.
"Terimakasih untuk semuanya, Jefferson Kingston." Kata Haura lembut.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibir Haura. Ia sampai membulatkan mata sempurna. "Ka--"
"Shuuut! Tidurlah Baby." Jeff menarik tubuh Haura masuk ke dalam pelukannya. Bibirnya tersenyum samar. Hatinya berbunga-bunga saat mendengar perkataan Haura. Ya sejak tadi Jeff memang belum tidur. Ia hanya lelah dan memejamkan mata. Siapa sangka ia akan mendapatkan ungkapan serta perlakuan manis dari sang pujaan hati.
Haura mendengar dengan jelas suara detak jantung Jeff yang seolah berlarian. Tangannya melingkar di pinggang Jeff lalu mengeratkan pelukannya. Nyaman! Itulah yang Haura rasakan. Begitu juga dengan Jeff, ia sangat nyaman berada di posisi seperti itu. Rasanya Jeff tidak ingin melepaskan pelukannya terhadap Haura. Ia berharap selamanya bisa seperti ini bersama Haura. Akhirnya mereka sama-sama terlelap menuju ke alam mimpi.
Di kediaman Mahendra.
Laki-laki paruh baya yang masih terlihat muda tengah mondar-mandir dalam perasaan gelisah. Pikirannya sangat kacau. Tubuhnya seakan lemas saat pemilik tempat penghancuran mobil menghubunginya, dan mengatakan bahwa ada seorang laki-laki muda yang bertanya soal mobil milik perusahaan Mahendra yang dihancurkan pada tahun 1998. Bahkan orang tersebut seperti sedang menyelidiki kasus besar. Sebab pemilik tempat penghancuran mobil tersebut diinterogasi sangat lama.
"Siapa orang itu? Kenapa dia mengorek informasi pada kejadian 21 tahun silam? Apa jangan-jangan orang itu suruhan Reinaldo? Sebab tidak mungkin orang tersebut menanyakan seluk-beluk mengenai mobil yang dihancurkan itu jika tak ada hubungannya dengan kejadian 21 tahun yang lalu. Karena mobil itu langsung aku hancurkan satu hari setelah penculikan Flora. Ini tidak bisa dibiarkan! Reinaldo tidak boleh tahu kalau aku yang sudah menculik anaknya dulu. Bisa hancur reputasi ku jika sampai itu terjadi." Monolog Mahendra ketakutan.
Ya, dugaan Haura terhadap Mahendra memang tepat sasaran. Dalang di balik penculikan Flora memanglah Mahendra. Ia sangat membenci Reinaldo karena sudah mengalahkannya dan memenangkan tender yang akan bekerjasama dengan perusahaan Volens. Akhirnya Mahendra menyuruh para anak buahnya untuk menculik Flora saat itu juga. Saat dirinya pulang dari kota B dengan tangan kosong.
Mahendra bersumpah akan membuat keluarga Pradipa terpuruk dengan cara kehilangan putri satu-satunya. Semuanya berjalan lancar, sebab Mahendra memanglah manusia licik. Ia akan menghalalkan segala macam cara demi mewujudkan semua keinginannya. Mahendra langsung memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Flora saat itu juga, dan membuang mayatnya ke jurang.
Namun siapa sangka ternyata salah satu anak buah Mahendra yang bernama Dito merasa kasihan terhadap Flora. Di usianya yang masih satu tahun harus mati dengan cara mengenaskan. Ia jadi teringat dengan anaknya sendiri di rumah yang seusia dengan Flora. Akhirnya Dito memiliki sebuah rencana. Ia mengambil alih tugas tersebut untuk membunuh Flora dengan tangannya sendiri.
Teman-teman Dito tidak keberatan. Mereka malah senang, karena tidak perlu mengotori tangan mereka dengan membunuh anak yang tak berdosa. Dito membawa Flora ke sebuah panti asuhan lalu menitipkannya di sana. Ia meminta kepada ibu panti asuhan untuk mengganti pakaian Flora dengan yang baru, dan memberikan bekas pakaian Flora kepadanya. Tak lupa Dito juga meminta sebagian aksesoris yang dipakai oleh Flora di kepalanya untuk melancarkan rencananya.
Dito pergi dari panti asuhan dengan tergesa-gesa. Ia takut rencananya ketahuan oleh teman-temannya yang memilih bersenang-senang di gudang tempat penyekapan Flora tadi. Dito menuju ke sebuah rumah sakit besar. Entah apa yang dia katakan kepada petugas rumah sakit dan kepada dokter di sana yang ternyata adalah temannya sendiri. Hingga akhirnya Dito membawa seorang mayat anak kecil yang seumuran dengan Flora keluar dari rumah sakit.
Dito membawa mayat anak kecil itu ke tepi jurang. Dengan perasaan bersalah, dalam hati Dito bedoa untuk ketenangan anak kecil tersebut. Lalu Dito membakar anak kecil itu hingga hangus. Dito meletakkan barang-barang Flora di tubuh mayat anak kecil itu yang awalnya sudah dipakaikan baju milik Flora. Dito bernafas lega karena teman-temannya datang pada waktu yang tepat setelah semua rencananya berjalan dengan lancar.
Setelah kejadian itu Dito mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia tidak ingin bekerja lagi dengan Mahendra yang menurutnya sangat jahat. Waktu itu Dito masih baru jadi anak buah Mahendra. Ia kira pekerjaannya hanya akan mengawal Mahendra saja. Ternyata Dito salah, ia justru ditugaskan untuk menculik dan membunuh anak kecil. Karena itulah Dito memilih mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain.
Dito juga sering mengunjungi Flora di panti asuhan itu. Ia berencana ingin memberitahukan keberadaan Flora kepada keluarga Pradipa. Namun, Dito takut suatu hal buruk terjadi lagi dan lebih membahayakan untuk keselematan dirinya berserta keluarganya. Akhirnya Dito memilih diam saja. Ia meminta kepada ibu panti asuhan untuk mengganti nama Flora menjadi Olivia. Nama pemberiannya, sebab ia sudah menganggap Flora seperti anaknya sendiri.
Dito tak lagi mengunjungi Flora setelah ia pulang kampung ke kota C. Ia dan keluarganya mencari tempat aman yang tidak bisa dilacak oleh Mahendra. Sebab Dito yakin kalau Mahendra tidak akan tinggal diam jika suatu saat semuanya terbongkar. Dito hanya berharap semoga Flora baik-baik saja di pantai asuhan.
Mahendra sangat puas karena rencananya berjalan dengan mulus. Keluarga Pradipa sangat terpuruk atas kepergian anaknya. Dengan kekuasaannya Mahendra berhasil membuat pihak berwajib dan pihak rumah sakit agar tidak melakukan otopsi terhadap mayat Flora. Mahendra tidak ingin ketahuan bahwa dirinya lah dalang di balik penculikan itu. Namun, Mahendra masih kesal karena perusahaan Pradipa malah semakin berkembang dan melengserkan kedudukannya menjadi perusahaan terbesar di kota itu.
"Sialan!"