
Jeff mengerutkan keningnya saat melihat laki-laki yang bersama Olivia di dalam mall. Hatinya begitu panas melihat tangan laki-laki tersebut memeluk pinggang mantan kekasihnya itu.
"Bukankah dia pemimpin di perusahaan Mahendra?" Ucap Jeff saat melihat foto itu melalui ponsel Arvin.
"Benarkah? Pantas saja wajahnya tidak asing, seperti pernah melihatnya. Ternyata dia Keanu," tandas Arvin manggut-manggut.
"Jadi namanya Keanu?" Jeff menatap Arvin sambil menaikkan satu alisnya.
"Iya, aku beberapa kali bertemu dengannya, Jeff." Arvin berkata dengan serius. Ia tidak lagi berbicara formal kepada Atasannya itu, sebab sekarang mereka tengah berada di luar waktu jam kerja. Jadi, Arvin berbicara sebagai seorang sahabat.
"Kalau begitu cepat kamu selidiki ada hubungan apa diantara Olivia dan laki-laki itu," titah Jeff dengan tegas.
"Santai Jeff. Besok aku akan menyelidikinya. Untuk hari ini tolong izinkan aku beristirahat sebentar saja aku sangat lelah, Jeff."
"Cih! Alasan! Lagipula lelahmu aku bayar!"
"Iya aku tahu. Aku juga harus merelaksasi pikiran, Jeff. Apa kau tega melihat ku pusing gara-gara tidak bisa menyalurkan hasratku." Arvin merengek agar mendapatkan hari libur nanti malam.
Bukan hanya Jeff yang menginginkan penyaluran hasrat. Namun Arvin juga merasakan itu, bahkan ia lebih bastard daripada Jeff. Arvin tidak merasa puas jika hanya menggunakan mul**. Ia lebih suka memasuki lembah surgawi secara langsung.
Akan tetapi, Arvin melakukannya hanya dengan satu wanita meskipun tanpa ikatan pernikahan. Ia takut mengalami penyakit menular jika terus bergonta-ganti pasangan. Apalagi sering memasuki goa yang sudah banyak di masuki buaya lainnya. Arvin bergidik ngeri jika memikirkan itu.
"Baiklah, untuk malam ini kau bebas mau melakukan apa. Asalkan besok kamu bisa mendapatkan informasi yang aku perintahkan."
"Wow, thankyou brother." Jeff menonjok pelan bahu Jeff. Iq begitu senang akhirnya malam ini bisa berbuka puasa bersama Jeni, sang kekasih. Karena sejak Arvin di tugaskan untuk mencari Olivia, ia jarang menemui Jeni sang kekasih di apartemennya.
"Kak Jeff," panggil Haura dari meja yang tidak jauh dari tempat Jeff berada. Kebetulan Haura juga makan siang di restoran tempat Jeff dan Arvin ketemuan.
Ya, Jeff meninggalkan Haura di perusahaan saat jam kerja berlangsung, dan memutuskan untuk bertemu dengan Arvin. Sebab ia tidak sabar ingin mengetahui informasi mengenai Olivia. Tak di sangka ternyata Haura malah makan siang di restoran yang tidak jauh dari perusahaan Kingston. Jeff kira Haura akan makan siang di kantin perusahaan.
"Hai, baby girl." Jeff menyambut kedatangan Haura sambil tersenyum hangat.
"Ada Kak Arvin juga ternyata." Haura tersenyum manis kearah sahabat kakaknya itu. Sekaligus seniornya di tempat bekerja.
"Hai, Cantik." Arvin mengedipkan sebelah matanya menggoda Haura. Membuat Jeff menggeram kesal karenanya.
"Pergilah, bukankah kau ada urusan penting." Jeff mengusir Arvin dengan kasar.
"Baiklah, aku pergi dulu ya Cantik." Arvin hendak menyentuh puncak kepala Haura, tapi langsung di tepis kasar oleh Jeff. Ia sangat senang melihat kekesalan di wajah sahabatnya itu.
Haura juga merasa senang saat melihat Jeff yang terlihat cemburu kepada Arvin. Ia terus memandangi wajah tampan yang menjadi suami idamannya selama ini.
"Kak Jeff sudah makan?" tanya Haura dengan suara yang sangat lembut.
"Belum," jawab Jeff dengan datar. Namun tatapannya tidak lepas dari wajah cantik sang adik. Andaikan Jeff lebih dulu mengenal Haura sebelum ia mengenal Olivia, pasti Jeff akan dengan senang hati menerima cinta Haura. Sayangnya Jeff baru dekat dengan Haura setelah ia pulang dari kota A. Bahkan di dalam hatinya sudan bertakhta nama Olivia.
"Sama, aku juga belum makan, tapi aku sudah memesan makanan tadi, Kak. Kalau begitu kita makan bersama saja." Haura mengambil buku menu yang tersedia di atas meja. Ia memberikannya kepada Jeff untuk memesan makanan juga.
Haura memanggil salah satu pelayan, lalu memberitahukan apa saja yang dia pesan. Tidak lupa Haura juga meminta kepada pelayan itu agar pesanan yang di meja nomor 8 di bawa ke meja itu juga.
"Kamu naik apa kesini?" tanya Jeff sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Aku naik taksi, Kak. Nanti balik ke kantor aku ikut Kak Jeff saja ya. Sekalian pulang dari kantor aku bareng Kak Jeff lagi," pinta Haura penuh semangat.
Jeff dibuat melongo oleh permintaan Haura. Mau bagaimana lagi ia tidak bisa menolak permintaan sang adik. "Boleh. Oiya, apa ada kesulitan di dalam bekerja?"
"Tidak ada, Kak. Aku sudah mengerti semuanya. Nanti kalau ada yang tidak aku pahami, pasti akan bertanya kepada Kak Jeff."
"Good, girl." Jeff menggusal puncak kepala Haura. Ia harus bersikap biasa saja seperti sebelumnya, dan melupakan apa yang pernah terjadi diantara mereka. Meskipun Jeff selalu terbayang akan lembutnya bibir Haura.
Perasaan Haura menghangat kala mendapatkan sentuhan dari Jeff. Ia harus bisa lebih dekat lagi dengannya supaya bisa membuat Jeff jatuh cinta kepadanya. Namun, Haura harus menjaga sikap di depan para karyawan kantor agar tidak menimbulkan desas-desus aneh.
Haura tidak ingin dikatakan kalau dirinya menjadi sekretaris karena adanya bantuan orang dalam. Padahal Haura memang sangat pantas berada di posisi itu dengan kecerdasannya. Bahkan Haura lebih cocok menjadi CEO di perusahaannya sendiri.
Setelah pesanan diantar dan di tata rapi oleh para pelayan. Haura langsung menyantap makan itu dengan sangat lahap. Membuat Jeff tersenyum simpul melihat tingkah lucu Haura.
Tiada hentinya Haura terus berceloteh di dalam mobil saat menuju ke perusahaan Kingston. Membuat Jeff begitu jengah dengan tingkah adik sepupunya itu. Entah sejak kapan Haura berubah menjadi begitu cerewet, padahal Jeff mengenal Haura sebagai gadis yang pendiam dan pemalu. Namun sekarang Haura berubah sejak mengungkapkan perasaannya.
Cup!
Haura memberikan kecupan singkat di pipi Jeff sebelum turun dari dalam mobil. "I love you, Jefferson." Setelah mengatakan itu Haura dengan cepat keluar dari dalam mobil. Ia memasuki perusahaan dengan langkah tergesa-gesa karena takut di marahi oleh Jeff.
Jeff memegang pipi sebelah kirimya bekas ciuman Haura. Ia merasakan ada getaran aneh di dalam hatinya. "Ada apa dengan hatiku? Kenapa rasanya berbeda?" Gumam Jeff. Ia sangat kesal dan marah terhadap tindakan Haura yang begitu kurang ajar menurutnya.
Akan tetapi, Jeff tidak bisa memarahi Haura. Hatinya seolah tidak mengizinkannya untuk marah sedikitpun terhadap Haura.
"Akan aku pastikan sebentar lagi kau akan bertekuk lutut kepadaku, Jefferson." Ucap Haura penuh tekad dan ambisi.
*****
Di sebuah ruangan bernuansa putih, dua insan tengah memadu kasih dengan begitu ganasnya. Mereka telihat sangat berg**rah hingga ruangan itu terisi dengan suara-suara erotis yang begitu menggelitik telinga.
Aahh! Arvin!
Yeah ... Jeni ...
Arvin terus menggempur sang kekasih yang berada di bawah kungkungannya. Ia menggila karena telah lama tidak memasuki hutan belantara milik Jeni. Bahkan rasanya terasa semakin se**** yang disebabkan terlalu lama tidak di gempur.
Suara desah** dan erang** saling bersahutan hingga memenuhi ruangan itu. Berbagai gaya telah mereka coba, Arvin kehilangan kendali karena terus merasa kecanduan dengan tubuh Jeni. Tak terhitung berapa kali Arvin menyemburkan bibir terongnya di goa itu.
Arvin tidak sedikitpun merasa lelah dengan aktvitasnya. Bahkan ia sampai melupakan waktu saat ini yang ternyata sudah dini hari. Arvin menghentikan permainan itu saat melihat Jeni ketiduran di tengah-tengah permainan mereka. Arvin tersenyum puas, ia merasa sangat perkasa karena sudah membuat Jeni tak berdaya dengan gempuran yang begitu membahana.
Arvin menggulingkan tubuhnya di samping sang kekasih. Ia mendekap tubuh Jeni dari arah belakang sambil memerikan kecupan di pundak sang kekasih. Hingga membuat Jeni terusik dalam tidurnya. "Eungh! Berhenti Arvin, kau membuat ku geli." Jeni membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah Arvin.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang." Arvin membawa Jeni ke dalam pelukanya.
Jeni melepas pelukan itu lalu menatap manik mata Arvin dengan serius. "Kapan kamu akan menikahi aku, Arvin?" tanya Jeni dengan tatapan mengintimidasi.
Wajah Arvin yang semula ceria kini mendadak layu. Ia paling tidak suka dengan pembahasan itu. Sebab Arvin masih tidak ingin menikah. Meskipun usianya sudah 25 tahun ia masih merasa butuh kebebasan. Ya, menurut Arvin pernikahan itu adalah sebuah ikatan yang penuh dengan pengekangan. Jadi, Arvin masih belum siap untuk menikah.
"Sebentar lagi matahari akan terbit. Lebih baik kamu istirahat." Arvin membenarkan selimut untuk menutupi tubuh Jeni.
Hati Jeni terasa teriris setiap kali Arvin di tanya kapan menikahnya. Pasti dia akan mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya Jeni sangat tahu kalau Arvin tidak serius dengan dirinya. Hanya saja Jeni terlalu naif dalam urusan cinta. Ia rela hanya di jadikan pelampiasan hasrat oleh Arvin meskipun tanpa status pernikahan.
Jeni menatap Arvin yang tengah memejamkan mata. "Sampai kapan kamu akan menjadikan aku wanita rahasia mu, Arvin? Ternyata kau sama saja dengan Jefferson si bastard!" batin Jeni menimpali.
Jeni memang tahu siapa Jefferson sebenarnya, sebab Arvin sering menceritakannya di saat ada waktu untuk bersama. Karena Arvin sangat percaya kalau Jeni tidak akan pernah membocorkan rahasia itu kepada siapapun.
Sebenarnya Arvin tidak benar-benar tidur. Ia hanya berpura-pura tidur saja untuk menghindari pertanyaan Jeni. Pikirannya berkecamuk, ia masih bimbang harus memilih jalan yang seperti apa. Di satu sisi Arvin sangat mencintai Jeni, tapi di sisi lain ia masih ingin bebas tanpa ada kekangan.
Oleh sebab itu Arvin menyembunyikan statusnya bersama Jeni dari anggota keluarganya. Sebab jika kedua orang tuanya tahu maka Arvin akan dipaksa untuk menikahi Jeni sekarang juga. Arvin hanya berharap bahwa Jeni tidak hamil. Beruntung ia selalu menyuruh Jeni untuk mengkonsumsi pill kontrasepsi.
Arvin memilih tidur saja, besok pagi ia harus mencari tahu informasi mengenai hubungan Olivia dan Keanu. Arvin juga penasaran dengan mereka, makanya ia begitu bersemangat untuk melaksanakan tugas dari Jeff.
*****
Jeff tidak bisa memejamkan mata. Ia terus teringat dengan ciuman dan ungkapan cinta dari Haura. Hari ini Haura memberikan tiga kali ciuman di pipi Jeff dengan cara dadakan. Membuat Jeff begitu frustasi. Bahkan ia kesulitan untuk menidurkan adik kecilnya yang sudah berdiri tegak.
"Sial! Kenapa hanya membayangkan bibir Haura menempel di pipiku, tongkat sakti mandraguna ini sudah berdiri tegak." Jeff mengusap-usap tongkat saktinya dengan perlahan berharap tongkat itu akan kembali tertidur. Namun usahanya sia-sia, sebab Jeff semakin menggila dengan pikirannya yang berkeliaran kemana-mana.
Ingin menghubungi Arvin agar mengirimkan satu wanita steril tidak bisa. Sebab malam ini Jeff sudah berjanji akan memberikan waktu libur untuk sahabatnya itu. Hasrat Jeff sudah berada di ubun-ubun, tapi tidak ada yang bisa menuntaskannya.
Ting!
Satu notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Jeff. Denga cepat Jeff meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia berharap pesan itu dari Arvin yang akan mengabarkan informasi tentang Olivia. Namun, harapannya musnah ketika membuka pesan itu yang ternyata dari wanita yang sejak tadi berada di dalam pikirannya.
Kedua mata Jeff membulat kala melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh Haura. Di sana terlihat jelas bahwa Haura tengah duduk bersandar di headbord dengan kain tipis yang melekat di tubuhnya. Membuat Jeff semakin panas-dingin karenanya. Di sana juga tertera ucapan selamat malam dari adik kecilnya itu.
Baby girl : "Selamat malam Kakak tampan. Semoga mimpi indah bersamaku."
Jeff menyimpan kontak Haura dengan nama 'Baby girl'. Ia selalu menganggap bahwa Haura hanyalah gadis kecil yang begitu imut. Namun sekarang berubah menjadi ganas yang berhasil membuat tubuhnya terbakar oleh api gairah.
Padahal Haura tidak memakai piyama yang bahannya tipis. Mungkin karena pikiran Jeff sudah terkontaminasi oleh bayangan kenikmatan, jadi Jeff menganggap Haura hanya memakai lingerie.
Terpaksa Jeff memasuki kamar mandi untuk melakukan senam lima jari. Seumur-umur Jeff tidak pernah menggunakan cara itu untuk menuntaskan hasratnya. Ia pasti akan menyewa wanita steril untuk menuntaskannya. Hanya Haura yang bisa membuatnya melakukan hal itu.
Jeff menggunakan satu tangannya untuk bersolo karir, sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk memegang ponsel. Jeff memperhatikan wajah dan sebagian tubuh Haura yang berada di dalam foto tadi. Ia membayangkan sedang bermain dengan Haura hingga Jeff bisa mengeluarkan bibit kecebong nya di lantai kamar mandi.
Setelah lima belas menit waktu yang Jeff gunakan untuk bersolo karir, akhirnya ia bisa bernafas lega. Tentunya di sertai dengan ritual mandi malam, agar tubuhnya kembali fresh, dan bisa tidur dengan nyenyak.
"Kasihan sekali bibit-bibitku yang paling berharga harus masuk ke dakam saluran air kotor ini." Ucap Jeff saat menyiram bibit terongnya di lantai kamar mandi.
Biasanya akan ada banyak wanita yang akan suka rela menel*n bibitnya ke dalam mul** mereka. Namun, malam ini bibit-bibit itu terbuang sia-sia. Jeff sangat menyayangkan hal itu terjadi. Mau bagaimana lagi, Jeff tidak ada pilihan lain selain membuangnya.
Sedangkan di tempat lain. Haura tidur dengan nyenyak tanpa merasa bersalah karena sudah membuat calon suaminya menderita. Bibirnya mengulaskan sebuah senyuman manis di saat ia tertidur lelap. Mungkin Haura tengah bermimpi indah hingga membuat wajahnya tampak berseri.
"I love you, Haura. Menikahlah denganku. Jadikan aku milikmu seutuhnya agar kamu tidak berpaling dariku."