
Setelah penuh perjuangan, akhirnya Jeff mendapatkan izin dari Om Rei untuk mengajak Haura makan malam di luar. Jeff sudah me reservasi restoran Muara untuk ia tempati berdua dengan Haura. Ia menyiapkan kejutan di sana, dan berharap Haura akan menyukainya.
Jeff membukakan pintu untuk sang pujaan hati, kemudian merangkul pinggangnya saat memasuki restoran. Haura menatap takjub dengan dekorasi di dalam sana. Ada banyak bunga mawar merah dan mawar putih yang berjejeran di atas lantai, serta dilengkapi dengan lilin putih berbentuk love. Cahaya lampu dibiarkan temaram guna membuat suasana menjadi romantis.
Jeff menarik kursi di meja yang akan mereka tempati. Lalu mendudukkan Haura di sana. Jeff memilih tema outdoor yang terletak di dekat kolam. Tak lupa di atas kolam juga terdapat hiasan indah bertuliskan I LOVE YOU HAURA. sungguh Haura dibuat tak berkedip menatap hiasan tersebut. "Jeff ...." Haura menatap Jeff penuh rasa haru.
"Why Baby? Apa kamu menyukainya?" Jeff membelai pipi Haura dengan lembut.
Haura menganggukkan kepala berkali-kali. "Sangat! Sangat menyukainya!" Jawab Haura penuh semangat.
Jeff tersenyum senang. Tak ingin larut dalam suasana haru, Jeff menepuk kedua tangan sebagai isyarat kepada para pelayan supaya membawakannya menu special di restoran itu. Setelah semua makanan dihidangkan semua, dan di tata rapi di atas meja, Jeff mempersilahkan Haura untuk menyantapnya.
"Selamat menikmati, Baby." Jeff menatap Haura penuh cinta.
"Thank you, Jeff." Haura mulai menyantap makanan tersebut satu persatu. Meskipun Haura sudah sering memakan menu tersebut, sebab restoran Muara adalah restoran favoritnya. Namun, kali ini sangat berbeda. Makanan yang ia makan terasa jauh lebih nikmat disaat bersama dengan seseorang yang sangat ia cintai.
Usai menyantap menu makanan. Jeff mengajak Haura untuk berdansa. Ia mengulurkan tangannya kepada sang pujaan hati sambil membungkukkan badannya. Tentu saja Haura langsung menyambut uluran tangan tersebut. Mereka menuju ke pinggir kolam, dan berdansa di sana. Alunan musik mendayu sangat merdu.
"Kamu cantik sekali, Baby." Jeff memuji kecantikan sang pujaan hati yang memang terlihat seperti seorang Dewi.
"Thank you, Jeff. Kau juga terlihat tampan. Bahkan wajahmu tampak berseri." Haura tak ingin kalah. Ia juga memuji ketampanan Jefferson yang berhasil membuat sang pujaan hati wajahnya memerah karena malu.
Jeff memeluk Haura dari belakang. Mencium tengkuknya untuk menghirup aroma parfum yang membuatnya candu. Cukup lama mereka dengan posisi seperti itu. Hingga Jeff melepaskan pelukannya, lalu berlutut dihadapan Haura. Haura tertegun saat melihat Jeff memegang satu kotak kecil yang berisi cicin permata.
"Will you marry me, Haura Malvia Pradiba?" Ucap Jeff dengan wajah serius dan penuh harap.
Tak terasa Haura menitikkan air mata. Ia tak menyangka kalau Jeff akan melamarnya saat itu juga. Hatinya sangat berbunga-bunga. Haura tak mampu untuk berkata. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan Jeff. Haura mengulurkan tangannya supaya Jeff memakaikan cincin berlian itu di jari manisnya. Tentu saja Jeff dengan senang hati melakukan hal tersebut.
Tak ingin membuang waktu, Jeff langsung menarik tengkuk Haura, lalu mencium bibirnya. Melu-matnya begitu dalam, sampai Haura terbuai dengan ciuman itu. Suara tepukan tangan berhasil membuyarkan pikiran mereka hingga ciumannya terlepas. Momen indah itu memang sudah dipersiapkan secara matang oleh Jeff. Ternyata di sana sudah ada Zanna, Rei, Kirana, dan juga Robert. Mereka menyaksikan bagaimana romantisnya anak-anak mereka.
Adegan romantis Haura dan Jeff direkam oleh salah satu pelayanan di restoran itu atas permintaan Jeff. Para orang tua mendekati anak-anak mereka yang masih terlihat kebingungan. Lebih tepatnya Haura yang kebingungan. Sebab hanya dia yang tidak tahu akan rencana Jeff yang akan mendatangkan kedua orang tua mereka.
"Mommy, Daddy, Om, Tante. Kenapa kalian ada di sini?" tanya Haura kebingungan. Bukankah Om dan Tantenya tersebut masih marah sama Jeff? Lalu kenapa mereka terlihat kompak sekali datang ke sana dengan wajah bahagia. Bahkan sang Daddy yang awalnya membenci Jefferson, kini ikut hadir di sana.
"Surprise buat calon menantu Tante." Ucap Kirana sambil mengusap puncak kepala Haura. Sungguh Haura dibuat speechless oleh surprise yang Jeff berikan.
Haura tidak tahu kalau Jeff sudah mendapatkan maaf dari kedua orang tuanya. Setelah sekian lama berjuang. Akhirnya Jeff mengutarakan maksud dan tujuannya untuk melamar Haura malam ini. Tentu saja Kirana dan Roberto langsung menyetujui permintaan Jeff. Hingga mereka juga meminta bantuan kepada Zanna dan Rei supaya ikut serta dalam memberikan surprise untuk Haura.
"Jeff!" Haura menatap Jeff seolah menuntut penjelasan darinya.
"Nanti aku jelaskan di kamar." Bisik Jeff tepat di telinga Haura. Ucapan Jeff membuat Haura membulatkan kedua mata sempurna. Mendengar kata kamar, pikiran Haura sudah berkelana jauh. Ia jadi membayangkan hal enak-enak maksudnya hal aneh-aneh yang akan Jeff lakukan terhadapnya.
"Thank you Mom, Dad, Om, dan Tante. Kalian sudah mau hadir di sini." Kata Jeff dengan tulus. Bahkan ia tidak menyangka kalau kedua orang tua serta Om dan Tantenya benar-benar akan datang ke sana.
"Ingat! Kamu tidak boleh menikahi Haura sebelum persyaratan kamu selesai. Semuanya tergantung dengan hasil kerja keras kamu." Rei memberikan peringatan kepada laki-laki yang akan menjadi menantunya kelak.
"Siap, Om. Aku pasti mendapatkan apa yang Om cari selama ini." Jeff berkata sangat serius. Apalagi Arvin sudah melacak informasi yang ditemukan kemarin. Sepertinya tidak akan lama lagi Jeff akan mengetahui dalang di balik penculikan Flora.
Rei mempercayakan semuanya kepada Jeff. Ia yakin Jeff tidak akan mengecewakannya. Hingga sang istri menarik tangannya agar pergi dari sana. "Lebih baik kita ke dalam saja. Jeff sudah menyiapkan pesanan makanan buat kita di ruang VIP." Zanna juga mengajak kakak dan kakak iparnya. Ia ingin memberikan waktu bebas untuk putri dan keponakannya. Ralat! Calon menantunya.
Setelah kepergian para orang tua dari sana. Jeff menggendong menuju ke mobilnya yang berada di depan restoran. Jeff mendudukkan Haura di dalam mobil, lalu dirinya ikut menyusul ke dalam. Haura menurut saja walaupun dalam hati ia sangat penasaran, kemana Jeff akan membawanya.
Jeff menggusal puncak kepala Haura dengan gemas. Lalu memberikan kecupan singkat di bibir manisnya. "I love you, Baby." Lagi-lagi Jeff mengungkapkan isi perasaannya terhadap Haura. Ia benar-benar menjadi budak cinta sekarang.
"Love you too, Jefferson." Haura membalas ungkapan cinta dari laki-laki yang sangat ia cintai sejak dulu.
Jeff melajukan mobilnya, membelah jalanan yang lumayan padat. Ia terlihat sangat tenang. Satu tangannya Jeff gunakan untuk menggenggam tangan Haura. Ia sesekali menciumi tangan Haura yang terasa sangat lembut dan wangi. Bahkan Jeff ingin sekali menggigitnya karena gemas. Haura tersenyum geli melihat tingkah bucin (budak cinta) dari seorang Jefferson.
Jeff memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah megah dan mewah. Ia membukakan pintu mobil untuk sang pujaan hati. "Silahkan turun Tuan Putri." Jeff sedikit membungkukkan badannya sambil mengulurkan tangan kepada Haura.
Haura tersenyum bahagia saat diperlakukan begitu manis oleh Jeff. "Thank you, Jeff." Haura menatap takjub pada bangunan raksasa yang berada di hadapannya. "Jeff, ini rumah siapa?" Haura menatap Jeff seolah menunggu jawabannya.
"Rumah masa depan kita." Jeff langsung menggendong Haura untuk memasuki rumah.
"Maksud kamu?" Haura tidak mengerti dengan ucapan Jeff. Ia mengeratkan pelukannya dileher sang kekasih.
"Rumah ini aku bangun khusus untukmu. Lebih tepatnya untuk kita tempati setelah menikah nanti." Jeff mendudukkan Haura di sofa ruang tengah.
Cup!
Bukannya menjawab. Jeff malah memberikan kecupan hangat di bibir Haura. "Apa kamu suka dengan rumahnya? Kita bisa melihat-lihat dulu isi di dalamnya." Jeff kembali menggendong tubuh Haura, lalu membawanya ke dalam lift yang terhubung ke lantai dua dan tiga.
Rumah yang dibangun Jeff kali ini terdapat tiga lantai. Di lantai pertama terdiri dari empat kamar. Di lantai dua ada lima kamar, dan lantai tiga ada 2 kamar. Kamar utama yang akan ditempati oleh Jeff dan Haura. Sedangkan kamar yang satunya dipersiapkan untuk calon anak mereka kelak.
Masih ada banyak lagi ruangan-ruangan megah di rumah tersebut yang tak bisa diungkapkan. Sebab rumah Jeff sangatlah besar. Lebih tepatnya sebuah Mansion, bukan rumah. Karena rumah itu seperti istana Raja.
"Jeff, apa rumah ini tidak terlalu besar? Yang akan tinggal di sini 'kan hanya kita berdua?" protes Haura yang merasa Jeff terlalu berlebihan.
"Kata siapa kita hanya akan tinggal berdua saja? Kita akan membuat anak yang banyak agar rumah ini ramai seperti taman anak-anak," terang Jeff dengan santainya.
"Jeff!" Pekik Haura membulatkan kedua matanya saat mendengar ucapan Jeff yang sangat absurd.
Cup! Cup! Cup!
Jeff mencium bibir Haura secara bertubi-tubi. Ia membawa Haura memasuki kamar utama di lantai tiga. "I love you, Baby. Aku sangat, sangat mencintaimu." Jeff membisikkan kalimat itu di samping telinga Haura. Membuat Haura merasa tersentuh karenanya.
"Aku jauh lebih mencintaimu, Jefferson." Haura mengalungkan tangannya dileher Jefferson. Dengan begitu beraninya ia memagut bibir calon suaminya tersebut. Kali ini Haura ingin memberikan servis terbaik kepada Jeff setelah sekian lamanya tak bercumbu.
Jeff tak ingin kalah. Ia menekan tengkuk Haura guna memperdalam ciumannya. Jeff ingin melakukannya dengan penuh cinta dan segenap jiwa. Ia tidak ingin menyakiti Haura lagi. Tangan Jeff mulai bergerak nakal hingga menelusup ke dalam baju Haura. Memainkan dua buah kenyal yang selalu menjadi candu baginya.
Aaahh!
Haura men-desah saat tangan Jeff memil** put**nya dengan gemas. Haura tidak akan membiarkan Jeff memperdaya nya. Ia ingin saat ini dirinya yang memegang kendali. Haura membalikkan posisi hingga berada di atas tubuh Jeff. Nafasnya terengah-engah saat ciuman mereka terlepas.
"Izinkan aku yang memegang kendali, Jeff." Pinta Haura manja. Tanpa menunggu jawaban dari sang kekasih. Haura langsung membuka resleting celana Jefferson. Ia mengeluarkan burung dari sangkarnya. Tak ingin menunggu lama, Haura langsung melahap ice cream yang berukuran jumbo. Menji****nya berkali-kali seperti permen lolipop.
Ough! Haura!
Jeff dibuat tak bedaya oleh Haura. Ia tak menyangka bahwa Haura akan bermain di bawah sana. Haura tak berhenti di situ saja. Ia mulai menggera**** tubuh Jeff dengan begitu seksinya. Menciumi perut sixpacknya, melucuti pakaiannya, dan juga melepaskan pakaiannya sendiri. Kini tubuh kedua sama-sama tanpa sehelai benang pun.
Haura memposisikan dirinya di atas tongkat sakti Jefferson yang sudah mengacung. Kemudian Haura mengarahkan tongkat tersebut ke dalam goa miliknya.
Jleb!
Aahh!
Akhirnya mereka melakukan penyatuan untuk yang ketiga kalinya. Haura benar-benar hebat. Entah ia belajar darimana servis terbaik itu hingga membuat Jeff kalangkabut dan tak berdaya. Haura memompa dirinya keatas dan kebawah mengikuti ritme yang diciptakannya layaknya menunggangi kuda.
Tangan Jeff memegang kedua buah kenyal yang menggantung di atas wajahnya. Ia melahap salah satunya secara bergantian. Membuat Haura menambah laju kecepatannya di atas sana. Cukup lama Haura memegang kendali hingga mereka sama-sama mencapai puncaknya.
Haura ambruk di atas tubuh Jeff dalam keadaan basah akan keringat. Jantungnya berpacu sangat cepat dengan dada yang naik-turun. Bibirnya terangkat membentuk sebuah keangkungan indah. Menampilkan deretan gigi putihnya. Ia mendapatkan kecupan bertubi-tubi di puncak kepalanya.
Jeff tak ingin merasakan puas seorang diri. Ia membalikkan tubuh hingga Haura berada di bawahnya. Perlahan Jeff mengeluarkan senjatanya dari dalam goa Haura yang masih basah akan banjir yang berasal dari tongkat saktinya. Jeff membuka kaki Haura lebar-lebar lalu menenggelamkan wajahnya di sana.
Aaah! Jeff!
Haura menjerit saat mendapatkan serangan mendadak dari Jeff yang bergerak liar di bawah sana. Haura mencengkram rambut Jeff supaya memperdalam hi***nya.
Jeff tidak merasa jijik sedikitpun. Ia membersihkan sisa percintaannya di area milik Haura hingga bersih tak tersisa. Setelah itu Jeff langsung memasukkan kembali tongkat saktinya ke dalam goa tersebut.
Blas!
Keduanya sama-sama mendes** saat milik mereka menyatu. Jeff menggerakkan pinggulnya dengan cantik. Seperti lagu syahrini yang berjudul maju-mundur cantik. Namun versi Jeff dan Haura sangat berbeda. Yang mereka lakukan adalah menciptakan sensasi baru pada permainan mereka.
Mereka merasakan sesuatu yang berbeda dari permainan yang sebelumnya. Kali ini mereka melakukan dengan penuh cinta yang membara. Saling menjujung tinggi perasaan masing-masing, saling memuaskan, bekerjasama, dan yang paling penting mereka melakukannya karena sama-sama menginginkannya. Tidak ada unsur pemaksaan di dalamnya. Apalagi cinta mereka sudah direstui oleh kedua orang tua mereka masing-masing.
Tak terhitung mereka mencapai pelepasan yang keberapa kali. Entah gaya apa saja yang mereka lakukan. Hingga tiga jam lamanya Jeff masih terus memompa tubuh Haura dari arah belakang. Jeff seolah lupa dengan pesan Om Rei yang menyuruhnya untuk mengantarkan Haura sebelum jam 10 malam. Malahan sekarang sudah lewat dari jam 12 malam. Persetan dengan amarah Om Rei, yang penting Jeff dan Haura sama-sama puas saat melepaskan rindu.
Jeff mengganti posisi lagi, tentunya dengan gaya baru. Ia tidak sadar kalau kedua mata Haura sudah terpejam karena ngantuk. Haura sudah tidak bertenaga lagi untuk mengimbangi permainan Jeff. Ia langsung tertidur pada saat posisi terlentang. Entah sampai kapan Jeff menggempur nya, Haura tidak tahu. Biarkan saja Jeff mencumbunya sampai puas meskipun Jeff tidak akan puas, ia akan selalu kurang, kurang, dan kurang.
Sepertinya hingga dini hari Jeff baru menyudahi olahraga sepihak nya. Ia kasihan juga terhadap Haura yang digempur dalam keadaan tertidur. Jeff mencabut miliknya dengan pelan. Ia membersihkan goa milik Haura. Setelah itu menyelimuti tubuh Haura agar tidak kedinginan. "Selamat beristirahat, Baby. I love you so much." Jeff mengecup kening Haura sangat dalam, sebelum akhirnya ia menyusul Haura ke alam mimpi.