Kingston Is My Life

Kingston Is My Life
bab 15.



"Haura! Kamu mau kemana?" Panggil Kinara yang kebetulan ada di ruang tengah.


"Tante. Maafkan aku. Aku lupa kalau sekarang ada janji sama anak-anak alumni kampus. Aku harus pergi sekarang juga, lain kali mungkin aku bisa bermalam disini," tutur Haura panjang lebar.


Kinara sangat kecewa mendengar Haura tidak bisa bermalam di rumahnya. Namun, mau bagaimana lagi ia tidak bisa menahan Haura yang jelas-jelas ada janji di luar. "Ya sudah kamu hati-hati. Oiya, tante panggilkan Jeff dulu ya biar dia yang mengantarkan kamu."


"Tidak usah Tante. Aku sudah pesan taksi online, itu sudah di depan." Haura menolak dengan halus. Ia menunjuk taksi yang memang berada di depan gerbang kediaman Kingston.


"Baiklah, hati-hati, Sayang." Kinara menatap kepergian Haura hingga hilang dari pandangnya. Entah mengapa perasaannya jadi tidak enak. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Haura.


"Sayang, kamu ngapain di sana?" tanya Robert kepada sang istri.


"Tidak ada. Aku hanya melihat kepergian Haura," jawab Kinara dengan jujur.


Robert mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. "Pergi? Bukannya Haura akan bermalam di sini?"


"Rencananya sih iya, Mas. Tapi ternyata dia ada janji sama teman alumni kampusnya. Jadi dia buru-buru pergi."


"Hm, ya sudah. Mungkin lain kali dia bisa bermalam di sini."


"Kata Haura sih iya, Mas. Tapi, aku merasa ada yang aneh dengan sikap Haura deh."


"Aneh kenapa, Sayang?" Robert bertanya sambil berjalan menuju ke ruang tengah, dan mendaratkan bokongnya di sofa.


"Ya tidak seperti biasanya." Kinara bingung mengatakannya bagaimana, sebab ia hanya mempunyai feeling bahwa Haura sedang tidak baik-baik saja.


"Palingan cuma perasaan kamu saja, Sayang. Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kita pikirkan gaya apa yang cocok buat nanti malam," bisik Robert tepat di telinga sang istri.


Kinara membulatkan mata sempurna. Tangannya reflek mencubit pinggang sang suami dengan gemas.


"Aw, aw, aw. Sakit, Sayang." Robert mengadu kesakitan.


"Pikiran kamu kotor sekali, Mas. Bahkan kita baru saja selesai berolahraga, tapi sudah memikirkan yang nanti malam. Gak ada yang nanti malam, aku capek." Kenara memasang wajah cemberut nya yang semakin membuat Robert jatuh cinta.


"Hahahah ... Baiklah untuk nanti malam aku tidak akan memintanya. Tapi, besok pagi aku tidak janji ya." Robert berkata dengan entengnya.


"Mas!" Kinara memekik tertahan. Ia benar-benar dibuat jengah dengan tingkah sang suami.


"Khem!" Jeff berdehem saat melihat kedua orang tuanya bercanda tawa. Dalam hati ia merasa senang memiliki keluarga yang begitu harmonis.


"Jeff! Kamu kemana saja dari tadi? Kenapa baru turun?" todong Kinara kepada sang putra.


"Aku ketiduran, Mom." Jeff menjawab dengan santainya. Ia duduk di sofa yang berseberangan dengan kedua orang tuanya.


"Seharusnya tadi kamu mengantarkan Haura pulang. Kasihan dia harus pulang naik taksi," ujar Kinara dengan sedikit kesal.


"Pulang?" Jeff menaikkan salah satu alisnya tanda tak mengerti.


Jeff terdiam. Pikirannya bercabang kemana-mana. Apa mungkin Haura pergi karena marah terhadapnya? Atau memang karena ada janji sama teman-temannya? Ah, kenapa Jeff malah memikirkan itu. Lebih baik dia bersikap biasa saja agar kedua orang tuanya tidak curiga.


Jeff tidak ingin mommy dan daddy-nya marah dan kecewa atas apa yang sudah dia lakukan. Belum lagi jika mereka tahu kelakuan bastard-nya selama ini, pasti Jeff tidak akan mendapatkan ampun dari mereka.


Sedangkan di sebuah apartemen mewah, Haura tengah duduk termenung di atas balkon kamarnya. Sesekali ia menghembuskan nafas kasar. Pikirannya berkelana jauh. Dadanya begitu sesak saat mengingat kembali setiap kata yang terlontar dari mulut Jeff.


"Apa aku harus menyerah setelah aku memberikan segalanya kepada Jeff?" Gumam Haura bimbang. Di satu sisi ia sangat mencintai Jeff. Di sisi lain Haura sangat takut melihat ekspresi Jeff ketika marah. Haura sadar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Namun, apakah Haura salah jika memperjuangkan cintanya untuk Jeff? Haura menjadi tidak bersemangat untuk menjalani kehidupannya.


"Tidak! Aku harus memperjuangkan cintaku kepada Jeff. Aku akan berusaha membuatnya mencintai ku. Aku harus tetap semangat. Besok aku akan tetap bekerja seperti hari-hari sebelumnya." Ucap Haura menyemangati dirinya sendiri.


Haura akan menguatkan hatinya dan berusaha baik-baik saja di depan Jeff seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak akan menyerah selama Jeff tidak memilih seorang kekasih. Namun, jika sampai itu terjadi maka Haura akan mundur.


Haura sangat mendambakan sosok Jeff yang begitu rupawan. Bahkan Jeff terkenal dengan sosok laki-laki yang tidak pernah bermain wanita. Membuat Haura semakin gencar ingin mendapatkannya. Entahlah apa yang Haura rasakan itu. Apakah memang cinta atau hanya sebuah obsesi semata.


Sedangkan di kediaman Pradipa, Zanna dan Rei tengah bercengkrama di ruang tengah sambil menonton televisi. Rei memeluk tubuh sang istri dari belakang, menyandarkan kepala Zanna di dada bidangnya. Sesekali Rei mengecup puncak kepala sang istri untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya.


"Mas, kenapa perasaan ku tidak enak ya. Aku terus kepikiran dengan putri kita," ucap Zanna berdi suara resah.


"Kamu terlalu berlebihan, Sayang. Itu hanya perasaan kamu saja. Dia pasti baik-baik saja di kediaman Kingston. Lagipula ada kak Kirana yang akan menjaga Haura. Jadi, kamu tenang saja." Kata Rei menenangkan.


"Mungkin karena aku tidak bisa jauh dari Haura, Mas. Jadi aku terlalu berlebihan memikirkan putri kita."


"Lebih baik kita istirahat saja ini sudah malam." Rei berdiri dari posisi duduknya, lalu mengangkat tubuh sang istri menggunakan kedua tangannya. Menggendong Zanna ala bridal style.


Zanna tersenyum menatap sang suami yang masih terlihat gagah dan tampan di usianya yang sudah tak lagi muda. Zanna mengalungkan tangannya di leher sang suami. Menyenderkan kepalanya di dada bidang Rei. Sandaran ternyaman menurutnya.


Rei membaringkan sang istri di atas ranjang king size. Menatapnya penuh damba. Begitu juga dengan Zanna yang menatap Rei sangat dalam. Entah siapa yang memulainya bibir mereka telah menempel. Rei menyes** bibir sang istri dengan lembut.


Tangannya sangat aktif membuka pakaian yang melekat di tubuh indah sang istri dan juga dirinya. Hingga keduanya kini sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.


Rei menelusuri setiap inci tubuh sang istri menggunakan lid**nya. Membuat Zanna kian mendes**. "Aahh! Rei!" Zanna meliuk-liukkan tubuhnya layaknya cacing kepanasan. Membuat Rei tidak sabar ingin memasukinya.


Setelah cukup lama melakukan foreplay, Rei langsung memposisikan dirinya untuk memasuki lembah surgawi yang terdapat di tengah-tengah hutan belantara.


Bless!


Aahh!


Rei memaju-mundurkan pinggulnya dengan irama sedang. Namun sangat pasti dan dalam. Hingga suara erotis memenuhi ruang kamar itu. Rei terlihat sangat gagah dan perkasa dalam membajak sawah milik sang istri yang masih terasa begitu sem***.


1 jam kemudian, tubuh mereka sama-sama menegang, dan terjadilah pelepasan.


Aahh! Zanna!


Aahh! Rei!